Warning: include(/home/yusril/public_html/yusril/wp-content/plugins/different-posts-per-page/defines.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/yusril/public_html/yusril/wp-settings.php on line 2

Warning: include(): Failed opening '/home/yusril/public_html/yusril/wp-content/plugins/different-posts-per-page/defines.php' for inclusion (include_path='.:/usr/lib/php:/usr/local/lib/php') in /home/yusril/public_html/yusril/wp-settings.php on line 2
MBAH MARIDJAN TELAH WAFAT | Yusril Ihza Mahendra
|

MBAH MARIDJAN TELAH WAFAT

Niat hati saya untuk bersilaturrahmi dengan Mbah Maridjan beberapa tahun yang lalu tidak kesampaian, walau saya sudah datang ke Yogyakarta. Beliau konon sedang ke luar daerah, entah ke mana. Ketika itu Mbah Maridjan menjadi kesohor namanya karena berani “mbaleo” (membangkang) terhadap titah perintah Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengkubuwono X,  Sultan Ngayogyakarta Hadiningrat.  Syahdan, debu letupan Gunung Merapi sudah membahana ke seluruh lembah dan ngarai. Namun Mbah Maridjan tak sedikitpun mau beranjak  meninggalkan Lereng Merapi yang sudah ditutupi “wedhus gembel” alias awan panas. Mbah Maridjan mengatakan, tugas beliau sebagai “Kuncen” (Juru Kunci) Gunung Merapi, seperti diamanatkan oleh Ngarso Dalem  Almarhum Sri Sultan Hamengkubuwono IX, adalah menjaga dan mengamankan Gunung Merapi agar tidak “mengamuk” dan membinasakan seluruh apa saja yang ada di wilayah kesultanan. Tugas beliau, bukan hanya berhubungan dengan alam nyata, tetapi juga   dengan alam ghaib, yang dipercaya mengendalikan Gunung Merapi.

Sri Sultan Hamengkubuwono X telah bertitah agar Mbah Maridjan meninggalkan lereng Merapi. Situasinya sudah sangat berbahaya. Namun Mbah Maridjan bersikeras tidak mau pergi meninggalkan tugas. Waktu saya ngobrol dengan Sri Sultan di Istana Yogyakarta, beliau mengemukakan kebingungannya menghadapi Mbah Maridjan. “Saya katakan, saya perintahkan turun”, Mbah Maridjan menjawab “Wong saya ini  diangkat  sama  Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Saya hanya tunduk pada beliau” kata Mbah Maridjan enteng, seolah meremehkan Sri Sultan Hamengkubuwono X.  Padahal Sri Sultan Hamengkubowono IX sudah lama wafat. Sri Sultan Hamengkubuwono X gagal memerintahkan Mbah Maridjan turun gunung. Mbah Maridjan malah nekad mendaki mendekati puncak Merapi. Di sana dia bersemedi dan konon mendapat “wangsit” bahwa Merapi hanya batuk-batuk dan tidak berbahaya. Masyarakat menganggap Mbah Maridjan mampu mengendalikan amuk Merapi. Gunung api  paling aktif di Jawa itu tak jadi meletus. Nama Mbah Maridjan makin tersohor ke seantro negeri. Bukan saja “kesaktiannya”  menggagalkan Merapi meletus. Tapi juga keberaniannya “mbalelo” sama Sri Sultan Hamengkubuwono X.  Padahal dia seorang “abdi dalem”  — tugas utamanya memimpin upacara kesultanan di Lereng Merapi —  yang seharusnya mengerti “toto kromo” dan senantiasa mengucapkan “sembah Dalem Gusti” kepada segala titah perintah sang Sultan. Tapi Mbah Maridjan punya logika berpikir sendiri.

Ketika berbincang dengan Sri Sultan Hamengkubuwono X  di Yogyakara itu, sambil berseloroh saya mengatakan kepada beliau: “Mungkin Ngarso Dalem kurang dapat memahami alam pikiran Mbah Maridjan ketika memberi perintah”. Sri Sultan agak heran  dan kaget dengan perkataan saya itu. Beliau berkata “Mestinya bagaimana Pak Yusril”. Saya katakan kepada beliau “Mestinya Ngarso Dalem katakan, saya sudah tiga malam berturut-nurut mimpi bertemu arwah ayah saya, Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Beliau  pesan kepada saya, bilang sama Mbah Maridjan, saya perintahkan beliau agar turun gunung”. Kalau begitu pendekatannya, saya yakin Mbah Maridjan akan patuh. Sri Sultan tertawa, dan bilang kepada saya “Lain kali, bisa saya coba. Rupanya Pak Yusril ini paham juga soal perklenikan”  kata beliau sambil terkekeh-kekeh.  “Oh kalau soal mimpi-memimpi dan takwil-takwilnya, saya cukup lama berguru sama Gus Dur dan Mbah Lim” kata saya berseloroh.

Sri Sultan Hamengkubuwono X adalah sahabat baik saya. Saya sungguh menghormati beliau dengan segala jabatan dan kesederhanaan hidupnya. Saya bahkan pernah meminjam  sehelai baju batik warna hijau kepunyaan beliau, ketika saya lupa membawa batik dan harus menghadiri acara di Istana Yogyakarta. Waktu acara sudah begitu mepet, sehingga saya tak semoat pergi ke toko membeli batik. Sri Sultan dengan senang hati meminjamkan sehelai baju. “Ukuran badan kita sama, Pak Yusril” katanya. Ketika baju batik  itu saya kembalikan kepada beliau, saya katakan “Ngarso Dalem, untung tadi saya nggak terus ke Parang Tritis. Kalau ke sana, barangkali pakai batik hijau ini, saya bakal dimarahi Nyi Roro Kidul”.  Sri Sultanpun tertawa “Wah, saya sendiri kurang paham dengan hal-hal demikian. Menurut ceritanya konon begitu” kata Sri Sultan tertawa.

Masih soal Mbah Maridjan, suatu hari saya bertanya kepada Gus Dur (Almarhum)  ikhwal kesaktian Mbah Maridjan. Gus Dur tertawa terkekeh-kekeh. “Mbah Maridjan itu, Bang Yusril” kata Gus Dur “jelek-jelek dia itu  orang NU”  “Bukannya beliau itu mbahnya klenik, Gus” kata saya. Gus Dur bilang, “Nggak, wong dia rajin solat dan puasa Senin Kemis. Bener dia itu pengurus NU. Tapi tingkat kecamatan” kata Gus Dur sambil ngakak tertawa. “Oh, rupanya Mbah Maridjan itu anak buah Panjenengan juga” kata saya pada Gus Dur. Saya memang sering ngobrol segala macam soal klenik dan soal lucu-lucu dengan Gus Dur. Obrolan begini dengan Gus Dur memang mengasyikkan dan tak terlupakan.

Satu lagi tokoh yang banyak bicara klenik dan mimpi-mimpi dengan saya ialah Mbah Lim.  Beliau ini termasuk juru takwil mimpi-mimpi Gus Dur. Konon dia seorang Cina muallaf dan menjadi kiyai. Kemampuannya memberi takwil kepada mimpi-mimpi dalam pandangan saya agak ‘luar bisa’. Saya sendiri, sesungguhnya tidak percaya dengan hal-hal seperti itu. Tapi Mbah Lim sangat serius dengan ‘ilmunya’ itu.

Akibat ketenarannya, Mbah Maridjan sempat menjadi bintang iklan, mungkin iklan obat kuat kuku bima, kalau saya tak salah. Gambar Mbah Maridjan berdampingan dengan gambar Ade Rai, seorang binaragawan di pajang di dinding bis kota di Jakarta. Pernah juga saya lihat Mbah Maridjan tampil dalam iklan televisi.

Kini Mbah Maridjan sudah wafat. Jenazahnya ditemukan dalam keadaan bersujud, memakai sarung, berbaju batik dan berkopiah putih. Dapat dipastikan beliau wafat sedang mengerjakan shalat ketika malaikatul maut datang menjemputnya. Mungkin tak henti-hentinya Mbah Maridjan berdoa memohon ke hadirat Allah SWT, agar Merapi tidak meletus dan membahayakan ribuan warga. Keteguhan hati Mbah Maridjan mengabdi kepada masyarakat sebagai “kuncen” Gunung Merapi atas dasar amanah yang diberikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX, sungguh menakjubkan. Beliau menepati janjinya takkan meninggalkan Merapi, walau apapun yang terjadi. Beliau wafat dalam menjalankan tugas dan amanah. Tugas tanpa pamrih dengan gaji ala kadarnya sebagai abdi dalem Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, yang status kerajaannya dan sumbangsihnya dalam mempertahankaan Negara RI, sekarang seolah ingin dilupakan oleh para politisi dan Pemerintah Pusat di Jakarta. Tentu saja hal ini membuat Sri Sultan murka dan minta referendum.

Di tengah dunia yang makin sekular dan masyarakat semakin tidak perduli dengan semangat pengabdian di tengah kehidupan yang serba materi, Mbah Maridjan masih menyisakan contoh keluhuran nilai-nilai tradisional bangsa kita, yang patut kita teladani. Mbah Maridjan patut dianugerahi Bintang Mahaputra atau setidak-tidaknya Bintang Jasa Utama oleh Presiden RI atas pengabdian dan keteladannya kepada masyarakat.

Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah dan mengampuni segala kesalahan Mbah Maridjan. Allahummaghfirlahu, warhamhu, wa’afihi wa’fu’anhu…

Cetak artikel Cetak artikel

Short URL: http://yusril.ihzamahendra.com/?p=456

Posted by on Oct 27 2010. Filed under Personal. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

42 Comments for “MBAH MARIDJAN TELAH WAFAT”

  1. Mbah Maridjan emg sang pemberani ..sangat patut jadi panutan…buat kita semua….selamat jalan Mbah Maridjan…

  2. Selamat Jalan Mbah… Semoga Allah menemberikan tempatkan yang layak di sisiNya,
    dengan jiwa Jihad mu yang berani dan sangat patut di contoh..

  3. mudah2an niatan beliau ikhlas lillahi taala , bukan karena mencoba ritual mengarah kemusrikan…Insya Allah…dia mendapat maghfirah ilahi (sebagaimana doa bang YIM dan kita semua, tetapi kalau bukan Karena Allah keberadaannya di kaki merapen itu) Wallaho alam bissawab….;
    Atas keteguhan dan keberaniannya emang kita patut teladani……

  4. Jika melihat dengan kacamata dunia, saya yakin Mbah Maridjan benar2 ikhlas menjaga amanah. Dari tidak punya apa-apa sampai “kaya-raya”, Mbah Maridjan tetap tidak berubah dengan kesederhanaan dan keteguhan menjaga amanah. Ini keteladanan yg sudah sangat langka di bumi tercinta kita.

  5. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un.
    Laa haula wa laa quwwata illa billah.
    Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi’ mad-khalahu, wa jannatan maswahu, bi rahmatika Yaa arhamarrahimiin.

  6. tanpa mengurangi rasa hormat saya atas dedikasi mbah marijan ,sepertinya perhatian dan pemberitaan lebih banyak ke merapi dan meninggalnya mbah marinjan,korban akibat merapi lebih disebabkan karena “kebandelan” dengan korban lebih kurang 30 orang,sementara pada saaat yang sama, bencana lebih dahsyat juga terjadi di Mentawai Sumatera Barat dengan korban yang lebih banyak bahkan lebih dari 300 orang, semoga kita juga memberikan perhatian yang lebih untuk saudara-saudara kita di mentawai Sumatera barat.

  7. Selamat jalan mbah Marijan, semoga segala amal ibadahnya diterima Allah Swt, dan menjadi contoh pengabdian pejabat bangsa ini. Amin…….

  8. mbah marijan dan gunung merapinya telah mengalihkan perhatian pada bencana yang lebih besar, MENTAWAI,mungkin akan lain ceritanya jika mbah marijan tinggal di mentawai.

  9. ingat pesan simbah ketika waktu itu akan mengadakan acara di Bebeng (jauh sebelum erupsi 2006) :
    “ojo sembrono yen neng kono” (jangan bertingkah sembarangan jika berada disekitar Merapi)

  10. Setuju dan Semoga Amal Ibadahnya di terima ALLah swt serta dapat membuka hati pemerintah untuk tidak melupakan jasa ngayogyakarta.

  11. Mudah-mudahan bukan sedang sujud menyembah gunung merapi…
    Oya, ngomong-ngomong pengabdian si Mbah utk masyarakatnya yang mana ya..?

  12. bukan beraninya yg paling patut diteladani dari si mbah, karena banyak orang berani tidak seperti si mbah. Tapi yang paling dari si mbah adalah kata hatinya yg muncul di permukaan tidak diawang-awang. Moga si mbah Qusnul Qotimah di mata ALLOH.

  13. Allaahummaghfirlahu warhamhu dst…,. aamien
    Semoga alm telah bertobat sebelum ajalnya dijemput Izrail, atas ritual-ritual musyrik yang masih dikerjakan/ditradisikan para abdi dhalem selama ini.
    Wah, kalau nanti Boss jadi profesor klenik atau ahli ta’bir mimpi, panggilannya jadi “MBAH YIM” donk, kalau cuma jadi “pakar” mah, tidak apa-apa, “pakar” khan kepanjangan dari “pandai kelakar” puga’, Boss hehehehe………

  14. diawal sy mengatakan bahwa mbah parijan ini bukan seorang pahlawan tetapi seoran panutan yg tdk sayang sama warganya, terbukti dia biarkan orang yng tdk turun gunung sa’at sirine gawat darurat gn merapi berbunyi. karena masih ada beberapa penduduk yg tdk turun gunung dengan keyakinan merapi ora bakal meletus, karn mabha marijan toh masih di atas, bahkan saya mengatakan mbah marijan setengahnya bunuh diri. tetapi saya kemudian berpikir kembali,bahwa apapun yg terjadi di muka bumi ini adalah kehendak allah swt, maka sy pun menganggap itu bagian dari takdir yg di berikan allah kepada mbah marijan. selamat jalan mbah, semoga merapi baik baik saja sepeninggal mbah parijan.

  15. Bang Yusril sy boleh dibilang pada akhirnya bersyukur acara diskusi bang yusril di yogya tdk berlangsung tgl 30 okt 2010, kenapa begitu, sebab kalau acara itu tetap berlangsung, maka kita tdk mendapatkan apa apa, sebab yogya sedang di guyur abu merapi apalagi di ugm abunya amat tebal. yg tadinya sy menyesal terpaksa menunda acara tersebut, sekarang tdk kecewa. ternyata Allah menjawab do’a saya, setelah sy mendapat konfirmasi tgl 30. UC UGM dapat di gunakan untuk acara diskusi tentang sismimbakum, sy sempat shalat istiharoh, kemudia sy juga shalat hajat. dan meminta yg terbaik untuk acara yg akan kami selenggarakan. mudah mudah ini rejeki yg allah berikan buat saya dan teman teman di yogya juga buat bang yusril. dan semoga bang yusril selalu mendapat rahmat, berkah, dan kelancaran dalam segala urusan, serta lindungan dr Allah atas ketentuan buruk NYA. amin 27 x

  16. Tadinya saya berharap Bpk. Prof. Yusril yang pimpinan partai Islam dan dikelilingi para ulama seperti dari Persis & Muhammadiyyah di Partainya, menulis kritikan/nasihat syari’ah ttg peristiwa “bunuh diri” Mbah Maridjan, bukan mengusulkannya dianugerahi bintang.

    Terus terang Prof, saya malah khawatir jika si Mbah dijadikan teladan oleh masyarakat.

    Saya malah menemukan nasihat yang mendidik di sini:
    http://hidayatullah.com/kolom/opini/opini/13940-mbah-maridjan-dan-perahu-nabi-nuh
    Mohon maaf, semoga menjadi sarana tawashau di antara kita.

  17. nna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un.
    Allahummaghfirlahu, warhamhu, wa’afihi wa’fu’anhu…

  18. Sekedar contoh apabila kita membaca sebuah headline di surat kabar: “Seorang Anak Berzina dengan Ibu Kandungnya”, badan serasa bergetar dan hati menjadi kaget mengingkari kemaksiatan tersebut. Tapi apabila kita membaca pada sebuah kolom di salah satu harian yang beredar, “Mbah Marijan Memimpin Ritual Ke Puncak Merapi”, kebanyakan kita membacanya sebagai sebuah informasi yang menghibur. Padahal kesyirikan adalah dosa yang paling besar, pelaku kesyirikan terancam kekal di neraka jahannam dan dengan kesyirikan amalan ibadah sepanjang umur menjadi gugur serta kerugian-kerugian lainnya.
    ———————————————————————-
    Bukan Sekedar Ritual
    ———————————————————————-

    Indonesia sebagai sebuah negara muslim terbesar ternyata masih menyimpan sejumlah kebudayaan yang menurut kacamata agama sangat bertolak belakang dengan nilai-nilai fundamental di dalam Islam. Lihat saja seperti acara Grebeg Suro yang setiap tahunnya selalu berulang di berbagai tempat di tanah air. Acara yang selalu diisi dengan pelepasan sesaji, kapala kerbau, nasi tumpeng atau yang lainnya ini menurut banyak kalangan “hanya sebuah ritual” atau “upaya melestarikan budaya leluhur”.

    Padahal apabila setiap muslim mau mengevaluasi kembali dan mencocokkannya dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menurut pemahaman yang benar (shahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in), pasti mereka akan mendapati dengan jelas penyimpangan yang nyata dari acara-acara tersebut terhadap syari’at yang suci ini.

    Grebeg Suro berikut acara pelepasan sesajiannya dengan maksud apa pun adalah pelanggaran yang besar terhadap ajaran Islam. Umumnya para penyelenggara dan peserta berharap kepada Sang Pencipta bahwa dengan acara ini mereka diberi keselamatan, kesejahteraan dan kemakmuran serta maksud-maksud yang lainnya. Dan tidak sedikit juga -dari mereka- yang mengharapkan hal serupa dari para leluhur??! (KOMPAS 21.1.07).

    Ritual lain yang tidak kalah hebat adalah upacara persembahan yang biasanya diadakan selang terjadinya suatu musibah gunung meletus, banjir, atau musibah lainnya, seperti yang terjadi beberapa waktu belakangan ini di Porong Sidoarjo. Alih-alih mencetuskan teknologi mutakhir untuk menghentikan semburan lumpur panas, yang terjadi malah mengadakan upacara pemberian sesaji, sekian ekor kerbau rencananya akan dikurbankan guna menghentikan bencana nasional ini?! Belum lagi acara serupa yang mewarnai upaya pencarian korban penumpang KM Senopati Nusantara, Pesawat Adam Air dan serentetan musibah lainnya.

    Di dalam Islam tidak dibenarkan (baca: haram) memberikan ibadah apapun kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam kondisi sempit maupun lapang. Ketika seseorang dalam keadaan terjepit seperti tertimpa musibah, penyakit atau yang lainnya atau dalam keadaan senang, sehat wal a’fiat, aman dan tentram. Kalau ada yang mengatakan “acara-acara tersebut diselenggarakan bukan dalam rangka ibadah!” Ketahuilah ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridha’i Allah apakah berupa perkataan atau perbuatan yang terlahir maupun tersembunyi. Inilah pengertian ibadah menurut Islam.

    Kapan suatu perbuatan tersebut dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala seperti ada perintah untuk mengerjakannya, diantara contohnya seperti berkurban, “Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah”. (QS. Al Kautsar: 2), atau adanya pujian seperti berdoa, cemas, harap dan khusyu’ (khidmat), “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami. (Qs. Al Anbiya’: 90) serta indikasi lainnya yang mengisyaratkan perbuatan tersebut adalah ibadah, maka haram hukumnya diperuntukkan kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

    Maka janganlah kamu beribadah kepada yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang di’azab”. (Qs. Asy-Syu’araa: 213)

    Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Rabb kepadamu. Dan janganlah kamu mengadakan sesembahan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah)”. (Qs. Al Israa’: 39)

    Kembalinya kesyirikan kepada ummat seperti yang memfenomena di zaman ini persis seperti yang pernah dikabarkan Nabi yang mulia Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada salah satu sabdanya,

    “Tidak akan pergi siang dan malam sampai diibadahinya kembali Latta dan Uzza”.

    Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah di dalam risalahnya Al Qawaidul Arba’ dan yang lainnya menerangkan bahwa kesyirikan yang terjadi di zaman ini lebih dahsyat daripada kesyirikan yang dahulu dilakukan oleh orang-orang musyrikin generasi pertama. Alasannya –menurut beliau- ada dua:

    Yang pertama kesyirikan musyrikin terdahulu hanya pada kondisi aman, tentram tapi apabila mereka terjepit karena suatu musibah atau yang lainnya mereka tidak lagi menyeru apa dan siapa pun selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata dan lenyaplah dari mereka semua yang selalu mereka seru (ibadahi) selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

    Hal ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala nyatakan di dalam Al Qur’an pada ayatnya,

    Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia adalah selalu tidak berterima kasih. (Qs. Al Israa’: 67)

    Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa hanya kepada Allah semata; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah), (Qs. Al Ankabut: 65)

    Sedangkan orang-orang sekarang kesyirikan mereka kontinyu di saat lapang dan susah. Di saat lapang mereka biasa menyekutukan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan di saat susah kesyirikan mereka semakin menjadi-jadi. Apabila ada yang sakit mereka pergi ke dukun meyembelih ayam cemani, apabila ada bencana kepala kerbau adalah syarat yang tidak boleh ditinggalkan untuk sebuah persembahan. Hasbunallahu wani’mal wakiil.

    Yang kedua, kalau dahulu kesyirikan musyrikin generasi pertama hanya dalam perkara ibadah (uluhiyyah) saja dan untuk urusan rububiyyah (penciptaan, kepemilikan dan pengaturan) mereka memurnikannya untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

    “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi”, niscaya mereka menjawab:”Allah”.
    (Qs. Az-Zumar: 38)

    Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar)”. (Qs. Al Ankabuut: 61)

    Sedangkan orang-orang sekarang kesyirikan mereka lengkap, dalam perkara uluhiyyah dan rububiyyah. Dalam perkara ibadah (uluhiyyah) mereka menyekutukan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan dalam perkara rububiyyah mereka juga menyekutukan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sehingga kita mengenal ditengah-tengah mereka istilah “penguasa laut selatan”, “penunggu merapi” serta istilah lainnya yang menandakan kesyirikan mereka yang sampai kepada taraf rububiyyah, padahal Abu Jahal dan orang-orang musyrikin terdahulu tidak pernah sampai terjatuh ke dalamnya.

    Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. Al Maidah: 120)

    Banyak orang mulai menyadari bahwa musibah dan bencana yang silih berganti menimpa belakangan ini berkaitan erat dengan semakin maraknya kemaksiatan di berbagai tempat di tanah air, apa pun alasannya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
    َ
    “Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka diantara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan diantara mereka ada yang ditimpa suara keras yang menguntur, dan diantara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan diantara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri”. (Qs. Al Ankabut: 40)

    Sehingga banyak orang mulai mengingkari perzinaan, prostitusi, pornografi, korupsi, kolusi, judi, serta kemaksiatan lainnya. Tapi tragisnya sedikit saja yang mengingkari kesyirikan yang merebak di tengah-tengah ummat Islam, pemujaan-pemujaan kepada jin, kepercayaan-kepercayaan kepada dukun, tukang tenung, paranormal dan “orang pintar”.

    Hal ini terjadi akibat rusaknya standar keimanan kebanyakan ummat Islam sehingga hatinya tidak lagi berfungsi dalam menilai sebuah penyimpangan. Sekedar contoh apabila kita membaca sebuah headline di surat kabar: “Seorang Anak Berzina dengan Ibu Kandungnya”, badan serasa bergetar dan hati menjadi kaget mengingkari kemaksiatan tersebut. Tapi apabila kita membaca pada sebuah kolom di salah satu harian yang beredar, “Mbah Marijan Memimpin Ritual Ke Puncak Merapi”, kebanyakan kita membacanya sebagai sebuah informasi yang menghibur. Padahal kesyirikan adalah dosa yang paling besar, pelaku kesyirikan terancam kekal di neraka jahannam dan dengan kesyirikan amalan ibadah sepanjang umur menjadi gugur serta kerugian-kerugian lainnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

    “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya:”Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (Qs. Lugman: 13)

    Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”. (Qs. Al Maidah: 72)

    Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu:”Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”. (Qs. Az-Zumar: 65)

    Apalagi ternyata kesyirikan adalah sumber utama terjadinya berbagai macam bencana. Bukankah bencana-bencana yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala timpakan kepada ummat terdahulu adalah akibat dari penolakan mereka untuk meninggalkan kesyirikan?!

    Kemudian Kami utus (kepada umat-umat itu) rasul-rasul Kami berturut-turut. Tiap-tiap seorang rasul datang kepada umatnya, umat itu mendustakannya, maka Kami perikutkan sebagian mereka dengan sebagian yang lain (kami binasakan mereka sebagaimana yang lain). Dan Kami jadikan mereka buah tutur (manusia), maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang tidak beriman. (Qs. Al Mu’minun: 44)

    “Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. (Qs. Maryam: 90-91)

    Apabila kita telah mengetahui ini semua, masih pantaskah seorang muslim menganggap remeh dosa yang seperti ini ancaman dan akibatnya?! Dengan mengatakan “Sebagai upaya menjaga warisan leluhur”, atau “Ini adalah sumber devisa dalam bidang pariwisata”.

    Ketahuilah ini semua bukan sekedar ritual semata!! Tapi ritual yang akan berujung kepada kesengsaraan dunia dan akhirat kita. Wallahua’lam bis Shawab.

    (Dikutip dari email Tim Ahlussunnah Jakarta, judul asli Bukan Sekedar Ritual, tulisan Al Ustadz Ja’far Shalih, Jakarta)

  19. HB IX TIDAK MENYURUH MBAH MARIDJAN UNTUK MENJAGA MERAPI
    http://wiseislam.blogspot.com/2010/10/hb-ix-tidak-menyuruh-mbah-maridjan.html

    Tentu semua orang tahu siapa Raja Jawa Hamengkubuwono IX itu. Tak mungkin seorang raja memerintahkan sesuatu yang tidak masuk akal. Merapi tidak perlu dijaga, yang perlu dijaga adalah keselamatan penduduk yang ada di lereng merapi itu. Kalau memang HB IX pernah menyuruh Mbah Maridjan untuk menjaga merapi pasti bukan menjaga supaya tidak meletus. Makna menjaga tentu lebih ke arah menjaga keselamatan warga. HB IX berharap……….

    Mbah Maridjan bisa mengenali Merapi dengan lebih cermat sehingga bisa memberikan peringatan lebih awal kepada warga agar tidak jatuh korban. Mengenai bertahan di lokasi dan menjadi orang yang paling terakhir mengungsi itu bagus tetapi tentu harus aktif menyuruh masyarakat untuk secepatnya menyelamatkan diri kalau perlu Mbah Maridjan memberi contoh dengan turun ke pengungsian.
    Jadi sebenarnya yang patuh pada perintah HB IX itu justru para petugas yang aktif memberikan warning dan menyuruh warga untuk menyelamatkan diri secepatnya. Cobalah berpikir jernih,.. kalau seluruh masyarakat mencontoh mengikuti apa yang dilakukan Mbah Maridjan,… berapa banyak generasi masa depan Indonesia yang mati sia sia, padahal kesempatan menyelamatkan diri terbuka lebar?

  20. Kematian,Rezeki,Jodoh,Kesehatan,bencana semua ditangan ALLAH SWT. tak sepatutnya kita sesama muslim saling mengomentari yang sudah terjadi pada korban bencana alam yang diberikan Allah SWT dinegeri yang kita cintai, yang penting marilah kita tingkatkan persatuan dan kesatuan sesama umat beragama saling hormat menghormati tinggalkan perpecahan karena 10 Nopember 1945 hanya empat kalimat Merdeka atao mati Allohuakbar!!!!!Semoga semua korban bencana baik di Wasior,Padang, Aceh, Mentawai, Sleman arwahnya diterima disisi ALLAH SWT. dan Keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan Iman.Amien 3X

  21. @Soepono !Semoga semua korban bencana baik di Wasior,Padang, Aceh, Mentawai, Sleman arwahnya diterima disisi ALLAH SWT. dan Keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan Iman.Amien 3X.
    san: semoga MUSLIMIN yang mendapat musibah meninggal mendapatkan ampunan dari Allah subhanahuwata’ala, dan mereka yang selamat/keluarga yg ditinggalkan tetap bersabar dan semakin mendekatkan diri kepada Allah subhanahuwata’ala.

    Untuk orang-orang kafir/musyrik, maka tak layak didoakan keselamatan karena kezaliman mereka kepada sang pencipta Allah subhanahuwata’ala adalah sebuah dosa yang tak berampun.
    Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan Nabi Ibrahim ‘Alaihissalaam memintakan ampun (keselamatan) bagi orang-orang yang mereka cintai, namun Allah tidak menerimanya bahkan memberikan teguran kepada nabi-Nya.

    Jangan sampai alasan persatuan dan kesatuan menjadikan kita tidak pandai menempatkan diri dan aqidah kita sebagai muslimin akan terkotori karenanya.

  22. “Hidupku hanya untuk Merapi”..itulh kata-kata setia terhadap tanggung jwbmu.
    engkau lebih dari sekedar pahlawan negeri ini”.
    pengabdianmu terhadap negeri ini,,kami sangat hargai
    Kembalilah…panggilan Illahi tlah memanggilmu..di tempat yang abadi sana,,engkau tersenyum bahagia dengan tempat yang layak yang sesuai dengan pengabdia,ketulusan,serta pengorbananmu..
    “Selamat jalan PahlawankU..

  23. Amin ya Rabbal Alamin..

  24. saya sebetulnya ingin melihat perspektif anda, dan mengomentari fenomena ini dengan pandangan keilmuan agama anda… toh menurut saya mbah hanya manusia biasa… tak usah dibesar2 kan seperti yang sudah sudah… karena dengan ini seolah2 korban yang lain menjadi tidak penting. justru mbha marijan menjadikan masyrakat di kita cenderung tahayul dengan petuah2 dan kebijakannya… entahlah

  25. supaya tidak jadi sumber fitnah, saya usul..gimana kalo coba berdoa minta ketemu arwah Si Mbah, di alam kubur bagaimana?…khan bisa lewat mimpi to?. Silahken coba bagi yang merasa perlu atau berkepentingan dan sanggup menemui. Entah untuk kepentingan umat atau keluarga atau yang lain..pesan saya adalah hati-hati terhadap segala jenis tipu daya Iblis laknatullah. ( aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk ).

  26. Yth. Bapak San-manggar….Bapak paham betul tentang agama, Negara kita bukan negara agama Pak, jadi kalau terlalu fanatik juga akan menjadikan negara kita tercerai berai….Tolaransi Umat beragama juga perlu. Bagimu agamamu dan bagiku agamaku.Kita lihat perjalanan Islam di indonesia yang dulu banyak beragama Hindu tapi melalui perjuangan wali songo dengan berbagai cara termasuk memadukan budaya lokal agar mereka tertarik untuk masuk Islam dan hasilnya bisa kita nikmati sekarang ini…..Ini yang perlu kita contoh di era sekarang ini bagaimana Umat non muslim tertarik ke Agama islam dan menganut Agama Islam…Mohon maaf apabila ada kata kata yang salah.

  27. Bismillaahirrahmaanirrahiim,

    Buat bung Bool, agar lebih banyak kita belajar pengertian Toleransi dari Sudut Islam, jgn menggunakan tolak ukur diluar Islam, nanti akan tampak penyimpangan makna toleransi yang sebenarnya.
    Anda sepertinya harus tahu primbonnya Sunan Kalijogo yang telah dikutip oleh bapak Mahrus Ali dalm buku beliau ketika terjadi diskusi antara Sunan Kalijogo dan Sunan Bonang intinya adalah agar Kaum Muslimin setelah mereka bisa memahami bahwa pendekatan pengajaran yg dulu mereka adopsi dari Agama Hindu itu harus ditinggalkan, bukan dipertahankan atas nama Toleransi dan yg semisalnya.
    Semua juga tahu (dari kabar berita) bahwa Mbah Marijan Sujud menghadap ke Selatan….padahal Kiblat arahnya Barat (laut).
    Oh ya, dengan Toleransi salah kaprah, maka orang-orang di luar Islam (termasuk kaum muslimin yg Fujur, diantara mereka yg telah menzalimi Sdr kita abang YIM) merajalela di Negeri kita dan mereka membuat kerusakan…..Silahkan buktikan sendiri…

  28. BP.San-Manggar…..Nggak boleh suudzon Pak….anda belum pernah ketemu mbah marijan kan, bagaimana beliau itu…rumahnya itu dekat mushola dan beliau adalah Rois Syuriah (Dewan Penasehat-red) Nahdlatul Ulama (NU) Ranting Desa Umbulharjo dan Mbah Maridjan juga salah satu Wakil Ketua MWC (Majelis Wakil Cabang) NU Kecamatan Cangkringan. Saran buat Bapak jangan suka suudzon…dosa Pak.

  29. Bismillaahirrahmaanirrahiim..

    He3x, bung Bool, saya kenal banyak dengan orang NU tulen, bahkan yg diancam sama PKI mau dibunuh, saya hormat dengan mereka, tapi sayang mereka itu percaya sama DUKUN, acara2 dan adat Istiadat yang berbau kesyirikan dll. Bukan saya suuzdan dengan mbah Marijan, karena yang tahu persis keimanan beliau adalah Allah ta’ala, tapi setiap penyimpangan sebagaimana pemaksaan makna toleransi yg salah kaprah harus dikritisi dan diluruskan agar tidak terus menerus menjadi tradisi menyimpang pada bangsa ini. Saya yakin bahwa bencana demi bencana yg terjadi penyebab pokoknya adalah bahwa kaum Muslimin Indonesia melakukan kedzaliman terbesar yaitu “Syirik” sadar atau tidak sadar, bahkan sebagiannya dibela. Bacalah ulang artikel diatas agar tidak “salah kaprah” spt pejabat kejagung yang suka salah kaprah (karena gak pinter) dan memaksakan kehendak.

  30. QS. Al-An’am : 108

    “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan Setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.”

    Tafsir Ibn Kasir Karangan Al-Imam Abdul Fida Ismail Ibn Kssir A-Dimasyqy:

    Allah Swt berfirman, melarang Rasul-Nya dan orang-orang mukmin memaki sesembahan orang-orang musyrik, sekalipun dalam makian itu terkandung maslahat, hanya saja akan mengakibatkan kerusakan yang lebih besar daripada itu. Kerusakan yang dimaksud ialah balasan makian yang dilakukan oleh orang-orang musyrik terhadap Tuhan kaum mukmin.

    Abdur Razaq telah meriwayatkan dari Ma’mar dari Qtadah, bahwa dahulu orang-orang muslim sering mencaci maki berhala-berhala orang-orang kafir, maka orang-orang kafir balas mencaci maki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Maka turunlah ayat ini. (hlm. 472)

    QS. Al-Baqarah : 256

    “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut[162] dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”.

    [162] Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah SWT

    Tafsir Al-Maraghi karangan Ahmad Musthafa Al-Maraghi:

    Kata “ar-Rusydu” mengandung arti petunjuk dan semua kebaikan lawan dari kata “Al-Ghyayyu” yang mengandung arti sama dengan “Al-Jahlu”. Hanya, kata “Al-Ghayyu” menunjukkan arti yang bertaut dengan keyakinan (I’tikad), sedangkan kata “Ar-Rusydu” berkaitan dengan masalah kelakuan (perbuatan). Karenanya dikatakan, hilangnya kebodohan itu dengan ilmu, dan hilangnya “Al-Ghayyu” dengan “Ar-Rusydu”.

    Kata “Adz-Zdulumat” berarti kesesatan-kesesatan yang melanda manusia dalam fase-fase kehidupannya, seperti bid’ah, hawa nafsu, yang keduanya dapat menghalangi manusia dalam menjalankan perintah-perintah agamanya. Kedua hal tersebut bila menguasai diri manusia, dapat menghalangi mereka dari pengertian agama yang sebenarnya.

  31. Naskah Hadits

    عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : «لاَ تَسُبُّوا اْلأَمْوَاتَ, فَإِنَّّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلىَ مَا قَدَّمُوْا». رَوَاهُ اْلبُخَارِيّ

    “Dari ‘Aisyah radhiallaahu ‘anha, dia berkata: Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘janganlah kalian mencela orang-orang yang sudah mati, karena mereka itu sudah sampai kepada apa yang telah mereka lakukan’ “. (HR: al-Bukhâriy)

    Beberapa Pelajaran Yang Dapat Diambil Dari Hadits Diatas

    Hadits diatas menunjukkan bahwa haram hukumnya mencaci maki atau mencela orang-orang yang sudah mati. Hadits tersebut bersifat umum sehingga mencakup kaum Muslimin dan orang-orang kafir juga.

    Hikmah dari pelarangan tersebut adalah sebagaimana yang disebutkan pada bagian akhir hadits tersebut, yaitu karena mereka itu sudah sampai kepada apa yang telah mereka lakukan.

    Maksudnya adalah bahwa mereka telah mencapai perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan baik berupa perbuatan yang shalih atau sebaliknya.

    Tidak ada gunanya mencela, mencacimaki, menjelek-jelekkan kehormatan, mengungkit-ungkit kejahatan dan perbuatan-perbuatan mereka sebab hal itu terkadang berimplikasi terhadap keluarganya yang masih hidup, yaitu menyakiti hati mereka.

    Ibnu al-Atsîr berkata di dalam kitabnya Usud al-Ghâbah : “Ketika ‘Ikrimah bin Abu Jahal masuk Islam, banyak orang-orang yang berkata: ’wah!, ini adalah anak musuh Allah, Abu Jahal’. Ucapan ini menyakiti hati ‘Ikrimah karenanya dia mengadukan perihal tersebut kepada Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam, lantas beliau bersabda: “Janganlah kalian mencela ayahnya karena mencela orang yang sudah mati, akan menyakiti orang yang masih hidup (keluarganya)”.

    Imam an-Nawawiy berkata: “Ketahuilah, bahwa ghibah (membicarakan kejelekan orang lain ketika orangnya tidak ada di tempat) dibolehkan bila dimaksudkan untuk tujuan yang benar dan disyari’atkan dimana tidak mungkin untuk ditempuh selain dengan cara itu…”. Kemudian beliau menyebutkan: “diantaranya; untuk memperingatkan kaum muslimin dari suatu kejahatan dan untuk menashihati mereka. Hal ini dapat ditempuh melalui beberapa sisi, diantaranya (seperti di dalam ilmu hadits-red); boleh men-jarh (mencacati) para periwayat dan para saksi yang dikenal sebagai al-Majrûhîn (orang-orang yang dicacati karena riwayat yang disampaikannya tidak sesuai dengan kriteria riwayat yang boleh diterima baik dari sisi individunya, seperti hafalannya lemah, dan lain sebagainya-red); maka, hal seperti ini secara ijma’ kaum Muslimin adalah dibolehkan bahkan wajib hukumnya. Diantaranya lagi, dengan tujuan memperkenalkan seseorang bila dia dikenal dengan julukan tertentu seperti al-A’masy (si picak), al-A’raj (si pincang), al-Ashamm (si tuli), dan sebagainya. Sedangkan bila julukan itu dilontarkan untuk tujuan merendahkan maka haram hukumnya. Oleh karena itu, lebih baik lagi menghindari penggunaan julukan semacam itu sedapat mungkin”.

    Di dalam menyikapi orang-orang yang sudah mati, mazhab Ahlussunnah wal Jama’ah adalah bahwa kita berharap agar orang yang berbuat baik dari mereka diberi ganjaran pahala oleh Allah, dirahmati dan tidak disiksa olehNya. Sedangkan terhadap orang yang berbuat buruk, kita mengkhawatirkan dirinya disiksa karena dosa-dosa dan keburukan yang diperbuatnya. Kita juga tidak bersaksi terhadap seseorang bahwa dia ahli surga atau ahli neraka kecuali orang yang sudah dipersaksikan oleh Rasululloh Shallallâhu ‘alaihi wasallam dengan hal itu.

    Diharamkan berburuk sangka terhadap seorang Muslim yang secara lahirnya adalah lurus, berbeda dengan orang yang secara lahirnya memang fasiq maka tidak berdosa bila berburuk sangka terhadapnya.

  32. mengutip dari kiriman antum:
    Imam an-Nawawiy berkata: “Ketahuilah, bahwa ghibah (membicarakan kejelekan orang lain ketika orangnya tidak ada di tempat) dibolehkan bila dimaksudkan untuk tujuan yang benar dan disyari’atkan dimana tidak mungkin untuk ditempuh selain dengan cara itu…”. Kemudian beliau menyebutkan: “diantaranya; untuk memperingatkan kaum muslimin dari suatu kejahatan dan untuk menashihati mereka. Hal ini dapat ditempuh melalui beberapa sisi, diantaranya (seperti di dalam ilmu hadits-red); boleh men-jarh (mencacati) para periwayat dan para saksi yang dikenal sebagai al-Majrûhîn (orang-orang yang dicacati karena riwayat yang disampaikannya tidak sesuai dengan kriteria riwayat yang boleh diterima baik dari sisi individunya, seperti hafalannya lemah, dan lain sebagainya-red); maka, hal seperti ini secara ijma’ kaum Muslimin adalah dibolehkan bahkan wajib hukumnya. Diantaranya lagi, dengan tujuan memperkenalkan seseorang bila dia dikenal dengan julukan tertentu seperti al-A’masy (si picak), al-A’raj (si pincang), al-Ashamm (si tuli), dan sebagainya. Sedangkan bila julukan itu dilontarkan untuk tujuan merendahkan maka haram hukumnya. Oleh karena itu, lebih baik lagi menghindari penggunaan julukan semacam itu sedapat mungkin”.

    Ana kira tampak nyata bahwa orang-orang tidak memahami beberapa kekeliruan yang dilakukan oleh mbah Maridjan sehingga harus memakan korban yang lainnya yg ikut tinggal di tempat mbah Maridjan. Hal ini harus dijelaskan sebagaimana perkataan ulama diatas agar tidak diikuti oleh generasi berikutnya. Apa yang antum sampaikan disini tidak ada yang salah tapi antum kurang dapat mengambil pelajaran dari peristiwa merapi dan apa yang antum cantumkan di sini.

    Semoga ALlah memberikan hidayah kepada kita dan menjauhkan diri kita dari Kesyirikan yang telah merajalela pada ummat ini.

  33. Imam an-Nawawiy berkata: “Ketahuilah, bahwa ghibah (membicarakan kejelekan orang lain ketika orangnya tidak ada di tempat) dibolehkan bila dimaksudkan untuk tujuan yang benar dan disyari’atkan dimana tidak mungkin untuk ditempuh selain dengan cara itu…”.Ini adalah bagi orang yang memang sudah diketahui secara umum misalnya Firaun dengan jelas jelas menyembah berhala sedangkan pada kasus Mbah Marijan….ini kan masih katanya katanya …..kata si anu..menurut si anu……menurut acara ini …acara itu…….Kecuali Pak San-Manggar melihat sendiri Mbah Marijan menyembah batu lain perkaranya
    (Hanya Allah Yang Maha Tahu, Pak)
    Berikut ini Al-Qur’an berdasarkan surat An-Nuur ayat 15 yang berbunyi sebagai berikut :
    Artinya : “(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah benar”.

  34. ZINDIQ [MADRASAH ORIENTALIS ATAU YAHUDI GAYA BARU]
    Oleh
    Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat

    Ini sebuah tulisan tentang sebuah gerakan orientalis yang berpakaian dengan pakaian Islam dan dari nasab atau keturunan kaum Muslimin. Akan tetapi, hakekatnya ruh, badan, akal dan pikiran mereka seperti Yahudi, atau mengambil istilah saya, Yahudi gaya baru. Mereka telah diasuh dan disusui dengan baik oleh Yahudi di negeri-negeri yang dikuasai oleh Yahudi seperti Amerika dan negeri kafir lainnya. Usai belajar, mereka pun pulang ke negeri masing-masing, seperti Mesir, Syiria, Sudan, Pakistan, Malaysia. Indonesia dan lain-lain. Sekarang mereka menjadi guru di negeri mereka untuk mendidik kaum Muslimin agar mereka menjadi Yahudi walaupun nama dan pakaiannya tetap Islam. Mereka mendirikan dan membuka madrasah–madrasah (pusat kajian) dengan kajian-kajian Islamnya dalam berbagai macam acara seperti diskusi atau seminar dan lain-lain.

    Mungkin ada pertanyaan, bukankah yang dimaksud dengan orientalis ialah orang-orang non-Muslim yang mempelajari Islam untuk merusak Islam dan mengajarkan kerusakan itu kepada kaum Muslimin ?! Jawabannya, “Ya, Itu dulu. Sekarang, cara kerja mereka berbeda. Tokoh-tokoh orientalis zaman ini tidak lagi terjun langsung, akan tetapi lewat perantara anak didik mereka yang terdiri dari manusia– manusia munafik yang ada di dalam Islam untuk merusak Islam dan kaum Muslimin dari dalam. Dengan Islam yang demikian menurut para bapak orientalis lebih mengenal dan berhasil merusak aqidah, ibadah, mu’amalat dan ahklak kaum muslimin tanpa dicurigai dan disadari oleh sebagian kaum muslimin. Bahkan sebagian dari kaum pergerakan seperti Ikhwanul Muslimin dalam sebagian manhajnya sangat terpengaruh dengan ajaran ini, meskipun mereka selalu berteriak tentang bahaya Ghazwul fikr (perang intelektual) dan pentingnya Fiqhul Waaqi’ (fiqih realita)!!! Hal ini disebabkan kebodohan dan penyimpangan mereka terhadap manhaj yang haq, manhaj Salafush Shalih. Bagaimana mungkin mereka sanggup menerangi umat dan mengalahkan Yahudi, padahal baru melangkahkan kaki saja, mereka telah terperangkap oleh tipu daya yahudi?!. Tahu atau tidak tahu. Kemudian, sebagian dari ajaran dari Yahudi mereka jadikan asas dalam manhaj mereka, yang mereka perjuangkan dengan sebenar–benarnya jihat kebatilan. Oleh karena itu, menurut pendapat saya bahwa orientalis pada hari ini yang bergentayangan di negeri–negeri Islam ialah mereka yang berpakaian dengan pakaian Islam, akan tetapi ruh, badannya dan akal pikirnya Orientalis Tulen. Mereka inilah salah satu kelompok yang dimaksud oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan predikat para da’i yang berada di pintu-pintu jahannam di dalam Hadits shahih. [Lihat Hadits riwayat al-Bukhari no. 3606, 3607 & 7084 dan Muslim no. 1847]

    POKOK-POKOK KESESATAN MEREKA
    Kalau saudara bertanya lagi, “Apakah sebenarnya hakekat ajaran mereka, ushul dan furu’nya?

    Saya menjawab :
    1. Mereka mengajarkan kepada kaum Muslimin wihdatul adyaan (kesatuan agama-agama), bahwa semua agama sama , sama baiknya, satu tujuan kepada-Nya!?
    Anehnya mereka ajarkan keyakinan yang kufur ini hanya kepada kaum Muslimin saja, tidak kepada penganut agama–agama yang selain Islam!!!.

    2. Mereka memasukkan keraguan (tasykik) ke dalam hati dan pikiran kaum Muslimin akan kebenaran agama Islamnya.

    3. Mereka masukan ajaran-ajaran di luar Islam ke dalam Islam agar diyakini dan diamalkan oleh kaum Muslimin.

    4. Mereka memberikan tafsiran–tafsiran terhadap Islam yang sesuai dengan tujuan mereka yaitu membatalkan syari’at.

    5. Mereka memasukkan sesuatu yang batil (kebatilan) dan hal-hal yang haram bahkan kekufuran dan kesyirikan bersama sejumah bid’ah i’tiqadiyyah (keyakinan) dan amaliyyah ke dalam persoalan khilafiyah atau masalah yang masih di perselisihkan oleh Ulama menyalahi kenyataannya. Tujuannya, agar kaum Muslimin yang awam atau jahil terhadap kaidah–kaidah agama akan mengira dengan persangkaan kebodohan, bahwa masalah tersebut yang dilemparkan dan dimasukkan oleh kaum zindiq adalah masalah–masalah khilafiyyah!? Bukan sebagai suatu masalah yang telah disepakati kebatilannya dan keharamannya!!!

    6. Setelah selesai masalah di atas (poin No. 5), kemudian mereka pun memberikan kebebasan sebebas–bebasnya kepada kaum Muslimin untuk menerjemahkan dan menafsirkan Islam sesuai kehendak, tujuan dan masudnya masing–masing dengan alasan toleransi dalam berbeda tafsiran. Inilah hakekat mempermainkan dan mengolok –olok agama Allah Azza wa Jalla.

    7. Setelah berhasil dalam masalah di atas (point no. 6), mereka mengatakan pada kaum Muslimin bahwa kebenaran bersifat nisbi (relatif), kita tidak bisa mengatakan bahwa agama kita Islam yang haq sedangkan yang selainnya batil. Demikian juga kita tidak boleh mengatakan bahwa selain dari agama kita Al Islam adalah kufur dan syirik. Oleh karena itu, kebenaran bersifat nisbi (relatif), maka di dunia ini kita belum tahu agama siapa yang benar dan yang salah. Bisa jadi agama kita yang benar dan agama yang lain salah atau sebaliknya. Kita tidak tahu dengan pasti karena nisbinya kebenaran itu sebelum kita sampai pada pengadilan Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, menurut pendapat kami (baca: para syaithan) bahwa semua agama itu sama benar dan baiknya (poin no. 1). Tidak perlu kita mengatakan agama kami yang benar dan agamamu yang salah. Dengan demikian kita dapat menyelesaikan perselisihan dan peperangan antar umat beragama. Demikianlah seruan sesat mereka.

    Maka katakanlah kepada mereka, “Wahai kaum zindiq, kalau kebenaran itu sifatnya nisbi, yang maknanya bahwa seseorang itu tidak dapat memastikan sesuatu itu benar atau salah, maka berdasarkan kaidahmu wahai zindiq. bahwa para pembunuh, perampok, koruptor dan pencuri dan lain-!ain tidak bisa disalahkan, karena bisa jadi perbuatan mereka yang benar dan kita yang salah atau sebaliknya. Bagaimana menurut pendapatmu wahai kaum zanaadiqoh?

    Kalau engkau mengatakan perbuatan mereka itu salah karena telah membunuh dan seterusnya, maka jadilah engkau sedungu–dungu manusia ketika engkau menyalahkan seorang pembunuh atau pencuri, tetapi engkau membenarkan agama– agama yang batil dan kufur yang mengajarkan kesesatan yang maha besar kepada manusia, bukankah engkau tidak menimbang kecuali dengan timbangan iblis!!!

    Saya perlu menjelaskan kepada para pembaca yang terhormat agar tidak terjadi kesamaran atau saya menyembunyikan apa yang saya ketahui sejak dua puluh tahun lebih yang lalu. Ketahuilah wahai saudara – saudaraku! Salah satu madrasah mereka di negeri kita ini yaitu kelompok Paramadina dengan ‘kitab suci’nya Fiqih Lintas Agama.

    Telah terbit sebuah kitab dengan judul FIQIH LINTAS AGAMA (!?) yang ditulis oleh salah satu sekte dalam Islam yang sangat sesat dan menyesatkan, yaitu kelompok Paramadina, yang diketuai Nurcholish Madjid [1]. Kitab di atas sangatlah sesat dan menyesatkan kaum Muslimin, para penulisnya telah memenuhi kitabnya tersebut dengan berbagai macam kerusakan [2]. Di antara bahayanya:

    Kesesatan dan kerusakannya yang dapat saya simpulkan ialah :
    1. Mengajak kepada Wihdatul adyaan (kesatuan agama –agama). Bahwa semua agama -apa saja– sama di sisi Allah Azza wa Jalla, semua diterima oleh Allah Azza wa Jalla, meskipun ajaranya dan caranya berbeda.

    2. Semua agama baik dan mengajarkan kebaikan kepada umatnya masing-masing. Oleh karena itu, apabila umat manusia menjalankan agamanya dengan baik dan benar -karena semua agama itu baik dan benar- maka mereka akan mendapat pahala dan masuk surga.

    3. Orang yang kafir ialah orang yang tidak menjalankan ajaran agamanya atau yang tidak beragama atau yang menentang agama. Selama mereka mengamalkan ajaran agamanya, maka mereka tidak dicap sebagai orang kafir. Orang Yahudi tidak kafir selama mereka mengamalkan agamanya. Orang Nashara tidak kafir selama mereka mengamalkan agamanya. Orang Majusi tidak kafir selama mereka mengamalkan agamanya dan begitulah seterusnya.

    4. Dipenuhi dengan berbagai macam kebohongan–kebohongan besar dengan mengatasnamakan Allah Azza wa Jalla, Rasul-Nya , para nabi dan rasul, Islam, al-Qur`an, Taurat dan Injil dan seterusnya.

    5. Talbis mereka seperti talbisnya iblis dengan mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan.
    6. Tipu muslihat dan kelicikan mereka dalam menulis.
    7. Menghilangkan amanah ilmiyyah.
    8. Kejahilan mereka terhadap Dinul Islam yang sangat murakkab (berlipat-ganda), walaupun mereka berlagak alim sebagaimana kebiasaan orang-orang munafiqun.
    9. Celaan dan penghinaan mereka terhadap para Sahabat, Taabi’in dan Taabi’ut taabi’in sebagai tiga generasi terbaik di dalam umat ini.
    10. Mereka telah merubah makna ayat–ayat al-Qur’an sebagaimana yang pernah dilakukan guru besar mereka ketika mereka merubah Taurat dan Inji!
    11. Celaan dan penghinaan mereka kepada Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, seorang Sahabat besar.
    12. Celaan dan penghinaan mereka kepada Imam -Syafi’i rahimahullah.
    13. Menyembunyikan ilmu
    14. Memenggal kemudian merubah sabda Nabi yang mulia .
    15. Mendahulukan akal dari wahyu aI-Qur’an dan Sunnah.
    16. Mereka bermanhaj dengan manhaj filsafat batiniyyah (kebatinan).
    17. Mereka menterjemahkan dan menafsirkan Islam sesuai dengan manhaj kaum zindiq.
    18. Mereka menyamakan dan mempertemukan Islam dengan agama-agama yang lain yang menjadi ciri-ciri khas kaum zindiq.
    19. Mereka memuliakan dan meninggikan agama – agama selain Islam persis seperti kebiasaan kaum munafikun.

    Mereka menamakan buku mereka dengan nama yang rancu, “FIQIH LINTAS AGAMA(!?)” Nama yang tidak pernah dipergunakan oleh para Ulama dalam menamakan kitab-kitab mereka. Sebuah nama yang menunjukkan isi dan kesesatan para penulisnya. Antara judul dan isinya sangat bertentangan. Mereka menamakannya Fiqih Lintas Agama, yang dimaksud adalah bertemunya agama-agama dalam satu titik. Anehnya, mereka sodorkan ini kepada Islam dan kaum Muslimin tidak kepada yang lain. Kenapa ?

    Jawabannya :
    Pertama : Agama-agama yang lain tidak mempunyai fiqih seperti fiqih Islam. Manakah fiqih mu’amalat agama-agama selain Islam ? Padahal kita tahu bagian mu’umalat sangat luas sekali yang mengatur hubungan antar manusia, baik yang seagama atau berbeda agama. Berbeda dengan agama Islam, bagian mu’amalat diatur dengan sangat sempurna. bahkan ayat yang terpanjang dalam al-Qur’ân berbicara tentang mu’amalat [al-Baqarah/2:282].

    Lalu, apa maksud dan tujuan dari penulisan buku Fiqih Lintas Agama, kalau kenyataannya agama-agama lain yang ingin disamakan dengan Islam tidak memiliki fikih ?

    Maka saya jawab. “Mengambil istilah fiqih maqaashid-nya sekte Paramadina, yaitu fiqih dengan melihat kepada maksud dan tujuannya. maka saya pribadi tidak ragu lagi, secara kontextual tujuan mereka ingin menghapus syari’at Islam yang dibawa oleh Nabi yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Kedua : Agama-agama yang tersebut di atas, masing-masing meyakini bahwa agama merekalah yang benar, yang lain salah, batil, kufur dan seterusnya.

    Apakah Yahudi mau mengakui dan menyatakan bahwa agama Kristen adalah benar atau sebaliknya?

    Apakah mereka semua mau beriman kepada Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sailam?

    Kalla tsumma kalla!!! (Tidak, sama sekali tidak)

    Tim penulisnya terdiri dari orang-orang yang sudah diketahui oleh kaum Muslimin, -khususnya ahli ilmu- kesesatan dan penyimpangan mereka dalam memahami, mengamalkan dan menda’wahkan Islam walaupun mereka mengatasnamakan Islam.

    Nurcholish Madjid, guru besar mereka pernah mengganti kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallah (tidak ada satu pun ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allâh) menjadi : Tidak ada tuhan melainkan Tuhan.

    Barangkali sangat tepat dan bagus, kalau saya memberikan salah satu contoh dari murid terbaik sekaligus yang terdungu dari mereka yaitu Ulil Abshar dalam makalahnya menyegarkan kembali pemahaman Islam (!”). Sebuah makalah kecil yang berisi kekufuran dan kemunafikan yang menjadi ciri khas kaum zindiq. Dalam makalah kecilnya, dia mengatakan :

    – Hukum Allah tidak ada !
    – Semua agama sama dalam kebaikan dan kebenarannya!
    – Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai tokoh historis yang harus dikaji dengan kritis, sehingga tidak hanya menjadi mitos yang dikagumi saja, tanpa memandang aspek-aspek beliau sebagai manusia yang juga banyak kekurangannya, sekaligus panutan yang harus diikuti (qudwah hasanah)!

    Kalau tidak ada lagi perkataan lain selain yang tersebutkan di atas, maka dengan meminjam ungkapannya, “Dengan tanpa rasa sungkan dan kikuk, saya mengatakan .. bahwa, orang ini adalah budak kecilnya kaum zindiq, yang hanya demi meraih kenikmatan duniawi, dia menjual agamanya.”

    Dalam makalah kecilnya sering diulang-ulang kalimat fikir, memikirkan, akal, hasil diskusi dan seterusnya. Yang menunjukan bahwa makalah ini hanyalah akal-akalan dan fikir-fikiran kelompok Paramadina dengan akal dan jalan fikiran mereka yang sakit dan kacau bukan sebagai bahasan ilmiyyah. Akal yang seperti ini tentu selalu bertentangan dengan wahyu al-Qur’an dan as-Sunnah atau dengan seluruh ajaran Islam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan dalam dua buah kitab beliau rahimahullah dalam membantah filsafat Yunani yaitu Dar’u Ta’ârudhil Aqli wan Naqli dan ar-Raddu ‘alal Manthiqiyyin.

    Akal ada dua macam:
    Pertama : Akal yang shahih dan sharih. yaitu yang sehat dan memiliki ketegasan.
    Kedua : Akal yang saqim dan idhthirâb, yaitu yang sakit dan kacau.

    Akal yang shahih dan sharih tidak akan pernah bertentangan dengan wahyu al-Qur’ân dan Sunnah. Akal yang seperti ini selalu tunduk dan patuh terhadap keputusan wahyu dan membenarkannya, tidak melawannya, baik keputusan wahyu itu dapat dicernanya atau tidak. Karena mereka lebih mendahulukan wahyu daripada akal-akal mereka, bukan sebaliknya. Akal hanya mereka jadikan sebagai perangkat untuk memahami wahyu dengan benar. Karena akal itu memiliki keterbatasan, sempit, dangkal dan berbeda-beda antara akal yang satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, mustahil kalau kita menjadikan akal sebagai asas dari wahyu, atau dengan kata lain mendahulukan akal daripada wahyu.

    Kalau akal yang kita dahulukan, akan ada pertanyaan, “Akal siapakah yang akan kita pakai ?” Apakah akal tim penulis buku ini, ataukah akal seorang tukang semir sepatu (misalnya) yang lebih mendahulukan wahyu dari akalnya dan berjalan di atas manhaj yang haq ?

    Kalau kita timbang dengan dalil-dalil akal, maka akal si tukang semir yang kita pakai, dengan beberapa pertimbangan dan alasan mendasar, diantaranya :

    – Dia lebih mendahulukan wahyu daripada akalnya yang sangat terbatas
    – Akalnya sehat dan memiliki ketegasan. Akal yang sehat dan memiliki ketegasan (Shahih dan Sharih) selamanya tidak akan bertentangan dengan wahyu dan dengan apa yang dibawa oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akal ini selalu menyetujui dan membenarkan wahyu, sebagaimana ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah [4]

    Kalau kita memilih dan memakai akal tim penulis buku yang sesat dan menyesatkan ini, maka bisa menimbulkan keruskan pada akal dan cara berfikir, pada ilmu, Agama dan dunia. Mereka ini layak dijadikan contoh dari jenis akal yang kedua, yaitu akal yang saqim dan idhthirâh, (sakit dan kacau), akal yang selalu menyelisihi, menetang dan melawan wahyu.

    – Ketika wahyu menegaskan bahwa Islam satu-satunya agama yang sah disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka mengatakan, “Semua agama sah, baik dan benar.”
    – Ketika wahyu menegaskan bahwa Yahudi, Nashara, Majusi adalah orang-orang kafir. Mereka mengatakan, tidak kafir, yang kafir adalah orang yang tidak menjalankan agamanya. Surat al-Kâfirûn khusus untuk kafir Quraisy.
    – Ketika wahyu menegaskan, bahwa perempuan Muslimah tidak boleh nikah dengan laki-laki non-Muslim. Mereka mengatakan, “Itu boleh.” Ayat tadi khusus untuk orang-orang kafir zaman itu. Dan begitulah seterusnya.

    Mereka berdalil dengan al-Qur’an dan hadits
    Ada yang mengatakan, “Bukankah mereka telah mengemukakan banyak dalil al-Qur’ân dan hadîts?”

    Syubhat ini kita jawab dengan :
    Pertama : Betul, bahkan seluruh sekte yang ada dalam Islam juga melakukan hal yang sama, berdalil dengan al-Qur’an dan Hadits. Tidak ada satu pun sekte yang berani mengatakan kami tidak berpegang dan berdalil dengan keduanya. Sampai sekte yang mengingkari Hadits sebagai hujjah dan hanya berpegang dengan aI-Qur’an saja pun tidak sanggup secara mutlak mengatakan kami hanya berpegang dengan al-Qur’an saja. Pada tahun 1983, saya pernah berdialog dengan dua tokoh inkârus sunnah. Saya bertanya, “Atas dasar apa saudara mengingkari Hadits sebagai hujjah dalam Islam setelah al-Qur’an ?” Mereka menjawab, “Bukankah ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha pernah menerangkan bahwa akhlak Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah al-Qur’an ?” Saya katakan, “Ya, dan bukankah yang saudara bawakan itu Hadits riwayat Imam Muslim ? Mengapa saudara mengingkari Hadits tapi berdalil dengan hadits ?”

    Kedua : Mereka menafsirkan al-Qur’an dan Hadits sesuai dengan tafsiran mereka, sesuai dengan hawa nafsu dan ra’yu (pikiran) mereka. Mereka arahkan tafsirannya semau mereka. Singkat kata, al-Qur’ an dan Hadits mereka paksakan untuk mengikuti kemauan mereka. Salah satu contohnya, mereka membawakan sebuah hadits shahih riwayat Imam al-Bukhâri dan Muslim. Mereka berkata (hlm. 38), “Dalam sebuah hadits terkenal, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa setiap anak dilahirkan dalam fitrah (kesucian), namun kedua orang tuanyalah yang dapat membuat anak itu menyimpang dari fitrah…”

    Saya katakan, “Mereka telah memotong atau memenggal hadits itu sehingga maknanya rusak dan rancu. Kemudian mereka ganti kalimat yang mereka potong dengan kalimat lain yang semakin membingungkan dalam memahami hadits tersebut sesuai dengan maksud Nabi n dengan benar”.

    Kenapa mereka tidak melanjutkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas dengan, “.. namun kedua orang tuanyalah yang menjadikannya YAHUDI, NASHARA ATAU MAJUSI.”

    Kenapa mereka menyembunyikan bagian terpenting dari hadits di atas ?
    Kenapa mereka hilangkan lafazh Yahudi, Nashara dan Majusi ?
    Kenapa mereka sangat takut sekali diketahui orang bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan kekafiran Yahudi, Nashara dan Majusi ?

    Saya kira para pembaca sudah tahu jawabannya Insyâ’ Allah. Dan masih banyak hadits yang sangat mengerikan dan menakutkan mereka tentang kekafiran Yahudi dan Nashara serta tentang segala sesuatu yang sangat tidak mereka inginkan diketahui apalagi diyakini kaum Muslimin.

    Ketiga : Dalam memahami dan menafsirkan al-Qur’an dan Hadits mereka tidak mengikuti pemahaman dan tafsir para Sahabat Radhiyallahu anhum dan Tâbi’în. Ini merupakan ciri tafsir ahli bid’ah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menegaskan, “Barangsiapa yang berpaling dari madzhab Sahabat dan Tâbi’in serta tafsir mereka kepada penafsiran yang menyelisihinya, maka dia telah salah bahkan termasuk ahli bid’ah (mubtadi’). Karena para Sahabat dan Tâbi’in itu lebih mengetahui tentang tafsir al-Qur’an dan makna-maknanya, sebagaimana mereka lebih mengetahui tentang kebenaran yang menjadi tujuan Allah mengutus Rasul-Nya”. [Dinukil Imam Suyuthi dalam al-Itqân fi ‘ulûmil Qur’ân, 2/178, bagian ilmu Qur’ân yang ke-78]

    Dalam muqaddimah buku Fiqih Lintas Agama, tim penulis (hlm. 1) membawakan tiga perkataan dari tiga Imam mujtahid mutlak yaitu Syafi’i, Imam Abu Hanifah dan Ibnu Hazm. Akan tetapi, mereka tidak menerangkan dari kitab apa mereka menukilnya agar kita dapat memeriksa langsung teks aslinya dan keshahihannya?

    Oleh karena itu, kalau mereka tidak mau dituduh telah berbohong atas nama para imam di atas atau paling tidak merubah makna dan maksud yang sebenarnya, maka seharusnya menyertakan maraaji’nya (referensinya)! Ini yang pertama!

    Yang kedua !
    Jika ada yang bertanya, “Apakah maksud dan tujuan dari tim penulis mengutip perkataan Imam Syafi’iy rahimahullah, Abu Hanifah rahimahullah dan Ibnu Hazm rahimahullah ?”

    Jawabnya adalah, Untuk menyatakan bahwa :
    1. mereka adalah para mujtahid yang sedang berijtihad.
    2. apa yang mereka tulis adalah benar, dan merupakan kebenaran yang telah hilang dan merekalah mujaddidnya.
    3. apa yang telah dikatakan dan ditulis oleh para Ulama termasuk ketiga Imam di atas adalah salah, dan merupakan kesalahan yang diikuti terus menerus.

    Saudaraku, betulkah mereka itu para mujtahid yang kaidah-kaidah dan syarat-syaratnya telah dijelaskan oleh para Ulama ?

    Saya jawab, “Kalla tsumma kalla (Sama sekali tidak)! Ustadz Hartono Ahmad Jaiz bercerita kepada saya pada hari sabtu pagi, bulan Pebruari 2004, di pengajian shahih Bukhâri yang saya pimpin, “Salah seorang dari mereka tidak fasih dan salah dalam membacakan salah satu ayat aI-Qur’ân saat dalam perdebatan. Tetapi saya tidak ragu dan sepakat dengan mereka, kalau mereka itu adalah para mujtahid yang sedang berijtihad -menurut istilah mereka- dalam satu masalah besar yaitu Menghapus syari’at Robbul ‘alamin!!!”

    Yang ketiga!
    Para pembaca, inilah teror yang sesungguhnya!
    Mereka ini teroris yang sebenarnya. Serangan yang mereka lancarkan adalah sebentuk teror yang canggih dan berbahaya pada zaman ini. Jauh lebih berbahaya dan merusak daripada teror dan penghancuran secara fisik. Mereka ini merusak hati yang pada gilirannya nanti akan menjalarkan kerusakan fisik sebagaimana telah ditegaskan oleh Nabi yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Yang keempat!
    Perkataan para Imam tentang ijtihad dan taqlid, salah dan benarnya pendapat seorang mujtahid, banyak sekali dan sangat masyhur dikalangan ahi ilmu dan penuntut ilmu. Intinya mereka mengajak kembali kepada aI-Qur’ân dan sunnah menurut pemaham salaf dan menyalahkan atau meluruskan perkataan atau pendapat orang yang menyalahi dua dasar hukum Islam di atas atau menyimpang dari manhaj salaf. Adapun sekte Paramadina berusaha keras mengajak kaum muslimin untuk meninggalkan al-Qur’ân dan Sunnah dan manhaj salaf.

    Kemudian mereka mengajak kaum musllmin untuk mengikuti manhaj mereka yang sesat dan menyesatkan yaitu manhaj bâthiniyyah. Di bawah ini saya bawakan, beberapa contoh agar kita mengetahui berdasarkan hujjah yang kuat dan benar.

    Pertama : Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata:

    إِذَا صَحَّ الْحَدِيْثُ فَهُوَ مَذْهَبِي

    Apabila sebuah hadits telah sah maka itulah madzhabku

    لاَ يَحِلُّ ِلأَحَدٍ أَنْ يَأْخُذَ بِقَوْلِنَا مَالَمْ يَعْلَمْ مِنْ أَيْنَ أَخَذْنَاهُ

    Tidak halal bagi seseorang mengambil perkataan kami selama dia belum tahu darimana kami mengambilnya

    حَرَامٌ عَلَى مَنْ لَمْ يَعْرِفْ دَلِيْلِي أَنْ يُفْتِيَ بِكَلاَمِي

    Haram bagi orang yang tidak tahu dalilku untuk berfatwa dengan pendapatku

    فَإِنَّنَا بَشَرٌ نَقُوْلُ الْقَوْلَ الْيَوْمَ وَنَرْجِعُ عَنْهُ غَدًا

    Sesungguhnya kami ini manusia biasa, kami menetapkan satu pendapat pada hari ini dan (mungkin) besok kami ruju’

    Kedua : Imam Mâlik bin Anas rahimahullah berkata:

    إِِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أُخْطِئُ وَأُصِيْبُ ، فَانظُرُوْا فِي رَأْيِي ؛ فَكُلُّ مَا وَافَقَ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ فَخُذُوْهُ ، وَكُلُّ مَالَمْ يُوَافِقِ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ فَاتْرُكُوْهُ

    Aku hanya seorang manusia yang bisa salah dan benar, maka perhatikanlah pendapatku, setiap yang sesuai dengan al-Qur’ân dan Sunnah ambillah, dan setiap yang menyalahi al-Qur’ân dan Sunnah, tinggalkanlah.

    لَيْسَ أَحَدٌ بَعْدَ النَّبِي صلى الله عليه وسلم إِلاَّ وَيُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيُتْرَكُ إِلاَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم

    Tidak ada seorangpun sesudah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan perkataannya bisa diambil dan ditinggalkan kecuali Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

    Ketiga : Imam asy-Syâfi’i rahimahullah :

    إِذَا صَحًّ الْحَدِيْثُ فَهُوَ مَذْهَبِي

    Apabila sebuah hadits telah sah maka itulah madzhabku

    إِذَا وَجَدْتُمْ فِي كِتَابِي خِلاَفَ سُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقُوْلُوْا بِسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَدَعُوْا مَا قُلْتُ

    Apabila kalian dapati dalam kitabku sesuatu yang menyalahi Sunnah Rasululluh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka peganglah. Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tinggalkanlah perkataanku

    أَجْمَعَ الْمُسْلِمُوْنَ عَلَى أَنَّ مَنْ اسْتَبَانَ لَهُ سُنَّةٌ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم لَمْ يَحِلَّ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ

    Kaum Muslimin telah berijma’ bahwa orang yang telah jelas baginya Sunnah Rasualullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkan Sunnah tersebut karena mengikuti pendapat seseorang

    كُلُّ مَسْأَلَةٍ صَحَّ فِيْهَا الْخَبَرُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – عِنْدَ أَهْلِ النَّقْلِ بِخِلاَفِ مَا قُلْتُ ؛ فَأَنَا رَاجِعٌ عَنْهَا فِي حَيَاتِي وَبَعْدَ مَوْتِي

    Setiap masalah yang telah sah haditsnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menurut pemeriksaan ahli hadits yang menyalahi pendapatku, maka aku ruiu’ dari pendapat tersebut dimasa hidupku dan sesudah aku mati

    Keempat: Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata :

    لاَ تُقَلِّدُنِي وَلاَتُقَلِّدْ مَالِكًا وَلاَ الشَّافِعِيَّ وَلاَ الأَوْزَاعِيَ وَلاَ الثَّوْرِي ، وَخُذْ مِنْ حَيْثُ أَخَذُوْا

    Janganlah kamu taqlid kepadaku, dan janganlah kamu taqlid kepada Mâlik. Syâfi’i, al-Auzâ’i dan ats Tsauri ! Dan ambillah darimana mereka mengambil.

    لاَتُقَلِّدْ دِيْنَكَ أَحَدًا مِنْ هَؤُلاَءِ مَا جَاءَ عَنِ النَّبِي صلى الله عليه وسلم وَأَصْحَابِهِ فَخُذْ بِهِ

    Jangan kamu taqlidkan agamamu kepada seorangpun juga dari mereka itu. Apa yang datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya, maka pegangilah. [5]

    Sekte Paramadina dalam kitab sesat mereka (hlm. 9-12) membawakan perkataan Imam asy- Syâthibi rahimahullah, namun fiqih maqâshid mereka tidak ada hubungannya dengan Fiqih maqâshid Syâthibi rahimahullah, bahkan bertentangan. Mereka berkata (hlm. 9), “Diantara Ulama klasik yang sangat menonjol dalam mengembangkan fiqih maqâshid adalah Abu Ishâq asy-Syâthibi (790 H). Beliau menulis sebuah buku amat menarik, yaitu al-Muwâfaqât Fi Ushûlis Syarî’ah (Beberapa konsensus dalam dasar-dasar Syari’at). Buku tersebut bisa dipandang sebagai kerangka metodologis dalam memahami syari’at dan bukannya kesimpulan-kesimpulam hukum (istinbâthul ahkâm)”

    Saya jawab :
    Pertama : Ini bukti ketidak tahuan mereka. Mereka tidak bisa membedakan antara fiqih dengan ushûl fiqih, mana yang kitab fiqih dan mana yang kitab ushul fiqih. Kitab Syâthibi rahimahullah di atas telah dikenal sebagai kitab ushûl fiqih bukan kitab fiqih.

    Kedua : Apakah mereka akan tetap berpegang dengan perkataan Syâthibi rahimahullah dengan memuliakan kitabnya al-Muwâfaqât ketika Syâthibi mengatakan :

    وَقَدْ وَجَدْنَا وَسَمِعْنَا أَنَّ كَثِيْرًا مِنَ النَّصَارَى وَالْيَهُوْدَ يَعْرِفُوْنَ دِيْنَ الإِسْلاَمِ وَيَعْلَمُوْنَ كَثِيْرًا مِنْ أُصُوْلِهِ وَفُرُوْعِهِ وَلَمْ يَكُنْ ذَلِكَ نَافِعًا لَهُمْ مَعَ البَقَاءِ عَلَى الكُفْرِ بِاتِّفَاقِ أَهْلِ الإِسْلاَمِ

    “Dan sesungguh kita telah mendapati dan mendegar bahwa kebanyakan orang-orang Nashara dan Yahudi mengenal agama Islam dan mengetahui kebanyakan dari ushul dan furu’nya, akan tetapi yang demikian itu tidak ada manfa’atnya bagi mereka, selama mereka tetap dalam kekufuran menurut kesepakatan ahlul’ Islam”. [al- Muwâfaqât, 1/34].

    Perkataan Syâthibi rahimahullah ini laksana petir yang menyambar kemudian membakar dan menghanguskan mereka. Syâthibi rahimahullah dengan tegas mengatakan bahwa Yahudi dan Nashara itu kafir menurut kesepakatan kaum muslimin. Padahal mereka tidak mengkafirkan Yahudi dan Nashara. Apakah mereka akan merima perkataan Syâthibi rahimahullah ini atau sudah saatnya untuk meninggalkan dan mencela Syâthibi rahimahullah?

    Sekte Paramadina sangat benci sekali dengan perkataan musyrik, murtad dan kafir. Mereka. Berkata, “Ada beberapa istilah yang selalu dianggap musuh dalam fiqih klasik, yaitu musyrik, murtad dan kafir. Bila khazanah fiqih berpapasan dengan komunitas tersebut, maka sudah barang tentu fiqih akan memberikan kartu merah sebagai peringatan keras dalam menghadapi kalangan tersebut.”

    Saya katakan :
    Pertama : Istilah musyrik, murtad dan kafir berasal dari al-Qur’ân dan Hadits atau al-Kitâb dan Sunnah bukan dari fiqih. Fiqih hanya mengambil dari al-Qur’ân dan hadits. Kemudian fiqih menetapkan apa yang telah dikatakan oleh keduanya. Apakah mereka tidak tahu ataukah mereka pura-pura tidak tahu ? Kemungkinan yang kedua lebih tepat karena hal ini sudah sama-sama diketahui sampai oleh guru-guru besar mereka dari keturunan orang-orang yang pernah dirubah oleh Allâh menjadi babi dan kera. Al Qur’ân dan Hadits penuh dengan penjelasan kufur, syirik dan murtad. Ataukah mereka masih takut mengatakan dengan tegas bahwa ada beberapa istilah yang selalu dianggap musuh dalam al-Qur’ân.

    Inilah sifat kaum munâfiqûn yang selalu tidak berani terang-terangan menyatakan apa yang sebenarnya mereka yakini.

    Kedua : Perkataan mereka di atas telah membantah seluruh isi al-Qur’ân dan Hadits yang dipenuhi penjelasan mengenai kekufuran, syirik dan murtad. Demikian juga dengan ijma’ dan qiyas yang shahih. Imam Syâthibi rahimahullah dengan tegas telah mengatakan ijma’ kaum Muslimin tentang kekufuran Yahudi dan Nashara.

    Ketiga : Perkataan mereka di atas menunjukkan dengan jelas kepada kita akan talbîs dan penipuan mereka kepada kaum Muslimin dengan mengatakan bahwa lafazh kafir, musyrik dan murtad adalah istilah-istilah fiqih!?

    Keempat : Mereka sangat benci sekali istilah kafir, musyrik dan murtad tetapi mereka tidak memberikan penjelasan kepada kita siapakah sebenarnya orang yang kafir, musyrik dan murtad itu ? Inilah yang dimaksud dengan melemparkan perkataan atau penjelasan yang bersifat umum untuk sesuatu yang khusus tanpa adanya penjelasan secara detail. Cara seperti inilah yang mereka terapkan di dalam buku yang diagung-agungkan oleh mereka, Fiqih Lintas Agama.

    Barangkali inilah yang dapat saya jelaskan kepada kaum Muslimin tentang madrasah orientalis secara umum dan Paramadina secara khusus sebagai salan satu madrasah orientalis atau Yahudi gaya baru yang ada di ditengah kita ini. Dan saya kira telah mewakili dan cukup bagi orang yang diberi petunjuk oleh Allah Azza wa Jalla. Hanya satu kalimat dari kita umtuk mereka yaitu bahwa mereka telah mengikuti ajaran kaum zindiq.

    [Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04-05/Tahun XIV/1431/2010M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-7574821]
    ________
    Footnote
    [1]. Madrasahnya madrasah orientalts, bahkan lebih orientalis dari orientalis itu sendiri.
    [2]. Salah satu contonya dari sekian banyak contoh kesesatan mereka ialah mereka berpeganmg dengan kitab rasan-il ikhwasananush shafaa. Kitah ini telah disusun oleh beberapa orang zindiq ataa dasar filsafat yunani dan batiniyyah (kebatinan) yang di dalamnya penuh dengan kekufuran sebagaimana telah ditegaskan Oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah : “ … di dalamnya terdapat kekufuran dan kebodohan yang sangat banyak sekali…” (Majmu’ fatawa lbnu Taimiyyah : jilid 4 hal. 79) Anehnya Nircholis Madjid dan kawan – kawannya merasa bangga sekali dan bermanhaj dengan manhaj dengan para penulis Rasa-il di atas dan mereka telah memuliakannya.
    [3]. Lafadz tuhan yang pertama dengan huruf kecil (tuhan), sedangkan yang kedua dengan huruf besar (Tuhan), sebagai pengganti nama Allah.
    [4]. Lihat, ar-Raddu ‘alal Manthiqiyyîn (hlm. 260)
    [5]. Lihat Sifat Shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam, hlm. 45-53 oleh Imam aI-Albâni rahimahullah

    __._,_.___

  35. sewaktu mahasiswa sy kenal baik dgn mhah marijan..seiring dgn pendakian sering sebelum mendaki ke lereng merapi..kita sering ngabrol dgn beliau..sy lihat dr kacamata sy..beliau org tawadu’..imam masjid, sering bersama anak2 ngajar ngaji(rmhnya utk TPA)..kadang saat subuh saya makmum dgn mbah marijan..yg saya heran..disekitar merapi, dusun2 sekelilingnya memang nuansa klenik sangat kental..tapi justru di dusun kinahrejo, nuansa klenik, sesajen justru sangat minim,,saat itu sy berfikir karna seringnya interaksi dgn beberapa mahasiswa yg hobby mendaki dengan masyarakat sekitar yg dpt mewarnai nuansa kinahrejo..tetapi justru peran mbah marijan keseharian yg membuat masyarakat minim terhadap klenik dan pola seperto itu..subhanallah..bagi org yang sering mendaki dari kinahrejo akan merasakan hal seperto itu..memang satu sisi beliau seorang abdi kraton yg nuansa kleniknya tinggi tetapi sisi yg lain ternyata sosok mbah marijan adalah sosok seorang yg taat beragama..bahkan puasa senin kemis kerap beliau lakukan…innalillahi wa inna ilaihi rojiun..semoga Allah menempatkan beliau sesuai dengan amal yang beliau lakukan di dunia dan diampuni segala dosa2nya..amiin

  36. Pak Yusril ini benar-benar orang yg bijak. Saya beberapa kali bertemu dan menyambangi tempat mbah marijan. beliau memang orang tua yg memiliki tauladan yg baik. sulit diungkapkan dg kata-kata krn begitu banyaknya ilmu yg dpt diserap sbg ilmau dan tauladan.

    sering kita banyak menggali buku2 teks dalam berbagai sumber namun mbah marijan adalan implementasi ilmu2 dan kebajikan. bagaimana menselaraskan manusia dg lingkungan. contoh yg kecil yg dpt di bandingkan: banyak hutan kita meski dijaga oleh pasukan bersenjata api namun masih saja terjadi penjarahan bahkan sistemik. bandingkan dg merapi, sangat jarang ditemukan pencurian kayu dan penggundulan hutan. tidak usah jauh2 bs kita lihat di grobogan menyusuri rel ke arah semarang. hutan gundul total dg luas yg sebegitu hebat padahal jelas2 area itu sangat terjangkau aparat. memotong kayu pun jelas kedengeran dari mana saja.

    bagaimana itu bs terjadi? ilmu itu diterapkan dan diamalkan tidak hanya dibolak2i dari buku.

    Salut dg pak yusril yg bs begitu jernih melihat suatu keadaan. ini menunjukkan kedalaman ilmu shg diberi suatu kewasesaan. mudah2an Tuhan memberkati anda dan menambahkan ilmu serta kebajikanya pada anda Bung Yusril.

    Ya terima kasih

  37. Salam bang yusril, smoga Allah memberkati anda

  38. Mbah Maridjan sudah berpulang, sekarang tugas beliau “menjaga” Merapi di amanatkan pada anak ke-3 beliau…

  39. San manggar…. Kamu sakit jiwa ya??? Kita gak butuh dalil…. Kalo mau dakwah bukan disini tempatnya…. Masalahnya lo kan wahabi…m hahahahahah

  40. Intro:
    Jika demikian maka saya berhak bertanya kepada saudaraku yang berjuluk “setanjail” (hiii..ada setan di blog bang Yusril) ini, juga yang lainnya dari orang yang menggunakan istilah wahhabi untuk menyebut orang yang menyalahi tradisinya –meski tradisi itu menyalahi agama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

    Bukankah kata wahhabi itu nisbat kepada Al-Wahhab (Allah Yang Maha memberi, menganugerahi? seperti rahmani nisbat kepada Al-Rahman, Rabbani nisbat kepada al-Rabb, ilahi nisbat kepada al-Ilah? Bolehkah kata rahmani, rabbani, ilahi dan wahhabi untuk gelar cacian dan celaan, atau untuk menjadi julukan bagi kelompok sesat? Kalau tidak boleh, kenapa diteruskan, diwariskan dan dilestarikan?!
    Kalau madzhab yang dinisbatkan kepada nama para imam saja (seperti madzhab Hanafi, madzhab Maliki, madzhab Syafi’i dll) mendapatkan tempat dan terpuji, lalu madzhab yang dinisbatkan kepada Al-Wahhab (wahhabi) atau nisbat kepada Nabi Muhammad (muhammadi) ditolak dan dicela? Jika nama imam digunakan untuk makna positif, lalu kenapa nama Allah atau Muhammad digunakan untuk makna negatif? Apakah kita umat Islam ridha terhadap istilah yang rancu ini?

    Jika Anda inshaf (adil), lebih bagus mana nisbat kepada Allah: ilahi, rahmani, rabbani, wahhabi ataukah nisbat kepada kain wol (shuf), yaitu shufi?

    Jika yang Anda anggap sesat itu Muhammad Putra Syaikh Abdul Wahhab, lalu kenapa Allah (al-Wahhab) yang dicela? Bukankah seharusnya kelompoknya disebut muhammadi atau muhammadiyyah? Kenapa itu tidak dilakukan?

    Jika yang salah itu anaknya yang bernama Muhammad, lalu kenapa hujatan itu menggunakan nama bapaknya yang bernama Abdul Wahhab? Sementara bapaknya tidak ikut-ikutan, bahkan menurut Syaikh Ahmad Zaini Dahlan ayahnya itu adalah seorang ahli ilmu yang juga memvonis sesat putranya? Kenapa justru nama bapaknya dijadikan simbol kesesatan itu?!

    Jadi, istilah wahhabi kalau digunakan untuk menghujat syaikh Muhammad maka larinya justru kepada Allah dan kepada ayahnya, sementara beliau selamat dari celaan itu. Maka apakah kalian mencela Allah al-Wahhab atau ayah syaikh Muhammad yang bernama Abdul Wahhab?

    Kalau kenyataannya rancu seperti ini, lalu siapa yang pertama kali membuat istilah celaan itu? Apakah ahli ilmu ahlussunnah? Ataukah musuh sunnah? Ataukah orang jahil (setanjahil)? Wallahu a’lam.

    Maksud saya kalau mau mencela ajaran Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab jangan menggunakan wahhabi, tapi gunakanlah istilah lain, agar kita tidak mewarisi kebodohan.
    Tetapi kalau kata wahhabi digunakan untuk makna positif, untuk menyebut pengikut sunnah Nabi Muhammad shallallaahu’alaihi wasallaam yang memberantas bid’ah maka aku katakan seperti yang diucapkan Mulla Imran seorang penyair syi’ah yang sudah taubat kepada sunnah:
    إِنْ كاَنَ تَابِعُ أَحْمَدَ مُتَوَهِّبًا****فَأَنَا الْمُقِرُّ بِأَنَّنِيْ وَهَّابِي “Jika pengikut Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam disebut wahhabi, maka aku akui bahwa aku adalah wahhabi.”

  41. ,,,,T_________T…..

  42. Bro, Terima kasih, Telah ambil waktu untuk berbagi mengenai pengabdian pada bangsa. Pengabdian pada negara. Ditunggu tulisan2 selanjutnya. YIM for President.

Leave a Reply


Warning: include_once(/home/yusril/public_html/yusril/wp-content/themes/Transcript/ads/innerpage_300x250.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/yusril/public_html/yusril/wp-content/themes/Transcript/innerWideSidebar.php on line 11

Warning: include_once(): Failed opening '/home/yusril/public_html/yusril/wp-content/themes/Transcript/ads/innerpage_300x250.php' for inclusion (include_path='.:/usr/lib/php:/usr/local/lib/php') in /home/yusril/public_html/yusril/wp-content/themes/Transcript/innerWideSidebar.php on line 11