|

ALMUKARROM MUHAMMAD AMARI

Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Al Mukarrom Muhammad Amari adalah pejabat tinggi yang paling ngotot untuk mendakwa saya ke pengadilan. Di zaman Marwan Effendi menjadi Jampidsus, dia menyadari peran saya dalam Sisminbakum, yang disebutnya sebagai “primus interpares”. Penunjukan PT SRD dan Koperasi untuk melaksanakan proyek Sisminbakum, saya lakukan dalam  posisi Menteri Kehakiman dan HAM selaku Pembina Utama Koperasi Pengayoman. Jabatan Pembina Utama Koperasi adalah jabatan ex-officio, jabatan otomatis yang tak pernah ada serah terima, dan tak ada pula dalam struktur organisasi koperasi yang resmi. Pejabat eks-officio tidak mempunyai kewenangan apapun kecuali memberikan legitimasi atas suatu keadaan, berdasarkan permintaan yang disampaikan oleh Ketua Koperasi.

Sebagai pejabat pemberi legitimasi dan seremonial, jabatan itu ex-officio itu lebih kurang sama dengan jabatan Presiden sebagai Kepala Negara, atau Raja sebagai Kepala Negara yang “can do no wrong” atau jabatan Penghulu/Kepala KUA.  KPU mengirimkan daftar nama mereka yang terpilih menjadi anggota DPR dan meminta Presiden untuk mensahkannya, Maka Presiden menerbitkan Keputusan Presiden tentang pengesahan mereka menjadi anggota DPR. Tindakan itu adalah tindakan legitimasi belaka. Presiden melakukannya karena perintah undang-undang dan diminta oleh KPU. Presiden tidak memikul tanggungjawab apapun atas apa yang dilakukan anggota DPR yang keanggotaannya diresmikannya.  Demikian pula Penghulu dan Kepala KUA. Urusan keabsahan ijab-qabul adalah kewenangan wali nasab. Ada dua calon mempelai, ada wali, ada saksi dan ada ijab-qabul, maka sahlah nikah. Penghulu atau Kepala KUA tinggal melegitimasi pernikahan itu  dan menerbitkan surat nikah. Kalau pasangan suami-istri itu di kemudian hari berantam satu dengan lainnya, Penghulu dan Kepala KUA tidak  dapat disalahkan karena dia tidak memikul tanggungjawab apapun dalam pernikahan itu kecuali memberikan legitimasi saja. Sebab itu, Marwan tak pernah mau menyatakan saya sebagai tersangka. Ada benarnya juga logika wong kito Marwan itu.

Apalagi  Marwan  membaca dengan cermat putusan perkara Romly Atmasasmita yang  meskipun terbukti melakukan tindak pidana penyalahgunaan wewenang, namun tidak terbukti melakukan penyalahgunaan wewenang  itu bersama-sama dengan saya. Demikian putusan PN Jakarta Selatan dan PT Jakarta.  Namun ini belum final.  Kalau besok Mahkamah Agung membebaskan Romly, maka ini bisa menjadi aib besar bagi Al-Mukarrom, karena dia telah bekerja dengan sembrono. Surat Perjanjian yang diteken Romly dengan Ali Amran Jannah selaku ketua Koperasi yang menjadi sumber penyalahgunaan wewenang itu ditanda-tangani tanggal 25 Juli 2001, saat Menteri Kehakiman dan HAM dijabat oleh Prof Dr  Mahfud MD SH, Ketua MK sekarang ini, bukan saya. Mahfud juga belum tentu salah. Mungkin dia tidak tahu Romly dan Amran menandatangani perjanjian itu karena suasana sedang kisruh menjelang kejatuhan Presiden Gus Dur ketika itu. Mahfud menjadi Menteri Kehakiman dan HAM sekitar tiga minggu saja dalam situasi kabinet yang hampir demisioner.

Belakangan, Romly sendiri membantah keabsahan perjanjian itu. Dia mengatakan surat perjanjian yang dijadikan jaksa sebagai barang bukti di persidangan hanyalah fotocopy belaka. Jaksa gagal menunjukkan aslinya. Romly balik menuduh penyidik di Kejaksaan Agung merekayasa perjanjian itu bekerjasama dengan Basoeki, pengurus Koperasi yang ditakut-takuti penyidik. Tanda tangan Romly dalam perjanjian tanggal 25 Juli 2001 itu menurut Romly adalah palsu. Dia melapor ke Polda Metro dan polisi telah menyatakan Basoeki sebagai tersangka. Keadaan ini membuat runyam. Kita lihat saja nanti apa putusan Mahkamah Agung. Saya yakin Romly tidak bersalah.

Ketika Al-Mukarrom Amari dilantik jadi Jampidsus oleh Hendarman, mulailah saya diputuskan menjadi tersangka. Sejak itu berbagai kehebohan mulai terjadi, sampai akhirnya Hendarman terjungkal dari posisinya. Al-Mukarrom adalah sisa-sisa Lasykar Pajang pengikut setia Hendarman, yang terus ngotot memaksakan maunya sendiri. Entah ada target apa secara politis di balik semua itu. Kalau dia mengincer jabatan Jaksa Agung ketika Hendarman mulai goyah, saya bisa maklum. Saya bisa dijadikan seperti barang mainan untuk unjuk muka dan unjuk prestasi. Tapi sekarang, Jaksa Agung defenitif sudah dilantik, namun Almukarrom masih ngeyel juga. Secara pribadi saya tak kenal  Al-Mukarrom Amari. Secara ideologis nampaknya saya tak punya sejarah permusuhan dengannya. Beda dengan Adnan Buyung Nasution misalnya, yang memang masih memendam permusuhan ideologis sisa-sisa PSI dan Masyumi. Al-Mukarrom Amari konon adalah seorang santri dari Kediri. Di masa muda dia aktivis HMI. Dia kuliah di IAIN dan Universitas Islam Syekh Yusuf (UNIS), Tangerang.

Saya tak pernah punya persoalan dengan Al-Mukarrom, sampai saya dinyatakan sebagai tersangka, dan dia diduga memerintahkan anak buahnya di Kejaksaan Agung untuk menggembok saya. Status Al-Mukarrom  kini adalah terlapor melakukan berbagai tindak pidana secara berlapis dalam insiden penggebokan itu.  Bisa saja suatu hari Bareskrim menyatakan dia sebagai tersangka. Kini  dia sedang disidik oleh Bareskrim Mabes Polri  karena diduga melakukan tindak pidana menghilangkan kemerdekaan orang, melanggar Pasal 338 KUHP dengan ancaman pidana maksimum 8 tahun penjara. Selain itu dia juga sedang disidik dengan dugaan melakukan penyalahgunaan wewenang, tindak kekerasan dan perbuatan tidak menyenangkan. Saya tidak akan menjadikan status Amari ini sebagai “bargaining posistion”. Biar perkara berjalan sendiri-sendiri, dan saya ingin melihat ke mana ujung dari semua ini. Kalau saya diadili dalam perkara Sisminbakum dan terbukti bersalah, Amari boleh santai minum kopi menepuk dada.

Tapi kalau perkara ini tidak cukup bukti sehingga penuntutannya dihentikan,  atau saya diadili namun tidak terbukti, maka giliran saya untuk menuntut Amari melanggar Pasal 9 UU No 48 Tahun 2009 tentang Pokok-Pokok Kekuasaan Kehakiman. Pasal itu menyatakan “Setiap orang yang  ditangkap, ditahan, dituntut atau diadili tanpa alasan berdasarkan undang-undang atau karena kekeliruan mengenai orangnya atau hukum yang diterapkannya, berhak menuntut ganti kerugian dan rehabilitasi” (Ayat 1). “Pejabat yang dengan sengaja melakuan perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana sesuai dengan ketentuan ketentuan peraturan perundangan-undangan”. Saya tinggal mencari pasal-pasal undang-undang mana saja yang terkait dengan ketentuan ini untuk mempidanakan Al-Mukarrom. Biar ini nantinya jadi pelajaran bagi semua jaksa dan polisi agar jangan sembarangan melakukan tindakan hukum terhadap seseorang.

Ngototnya Al-Mukarrom Amari semakin terlihat dalam dua statemennya di bulan Desember ini. Tanggal 14 Desember yang lalu di memberikan keterangan pers yang mengatakan “sejumlah kekurangan pada berkas perkara Yusril Ihza Mahendra sudah diperbaiki sehingga diharapkan sudah bisa dilimpahkan pertengahan Desember 2010 ke Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan”.  Amari juga memberikan laporan yang sama kepada Jaksa Agung Basrief. Amari nampaknya memang  mbalelo tidak mau melakukan gelar perkara sebagaimana diminta Basrief sejak awal dia dilantik menjadi Jaksa Agung.  Sampai berulangkali Basrief meminta bawahannya agar pemberkasan perkara diselesaikan untuk segera digelar, Al-Mukarrom tetap mbalelo.  Apakah mbalelonya Al-Mukarrom  ini sama seperti mbalelonya almarhum Mbah Maridjan terhadap Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengkubuwono X, karena merasa diangkat oleh HB IX, wallahu’alam. Statemennya yang kedua yang menimbulkan reaksi dari Jurhum Lantong, ialah dia mengatakan penyidik telah mempunyai bukti saya menerima suap. Padahal bukti dimaksud tak lebih dari kuitansi kelas warung belaka yang tak punyai nilai sebagai alat bukti.

Namun lain Amari lain Basrief. Jaksa Agung yang baru  ini tetap meminta gelar perkara dilakukan di hadapan Jaksa Agung dan seluruh Jaksa Agung Muda, biar semua pihak dapat menilai kasus ini layak atau tidak untuk diteruskan ke pengadilan. Kalau yang mempresentasikan perkara dalam gelar tersebut adalah Jampidsus Amari, saya terus terang ragu dalam tiga hal. Pertama ragu atas kemampuannya memahami berkas perkara dan kedua ragu dengan nawaitu Amari dalam menyampaikan persentasi itu dan ketiga ragu dalam kaitannya dengan hutang budi pada Hendarman yang telah berjasa mengajukannya menjadi Jampidsus kepada Presiden. Dari berbagai statemen Amari kepada publik, saya dapat menyimpulkan bahwa Amari tidak pernah mendalami perkara Sisminbakum ini. Dia sangat tergantung pada laporan anak buahnya melalui Direktur Penyidikan. Dulu dijabat Arminsyah dan sekarang dijabat Djasman Pandjaitan yang statemen-statemennya ke publik sering sama ngawurnya dengan Kapuspenkum Kejagung Babul Khoir Harahap. Keraguan kedua adalah kemampuan Amari sendiri dengan melihat latar belakang pendidikannya dan pengalamannya menangani perkara. Amari lebih banyak berkarier di jajaran birokrasi kejaksaan daripada sebagai jaksa dalam menangani perkara. Kasus besar apa yang pernah ditangani Al-Mukarrom Amari, untuk menilai prestasinya sehingga diangkat menjadi Jampidsus?

Hal terakhir yang menjadi kerisauan saya ialah, mengingat ketegangan saya dengan Hendarman, mulai dari polemik sampai putusan MK yang menyatakannya sebagai Jaksa Agung Illegal. Di kalangan korps Adhyaksa saya mensinyalir adanya suara-suara ketersinggungan ketika saya mempersoalkan keabsahan Hendarman. Mereka yang ngotot membela keabsahan Hendarman hingga kini masih bercokol di Kejaksaan Agung, minus Basrief tentunya. Bahkan setelah MK memutuskan ketidaksahan Hendarman pun, masih ada petinggi Kejagung yang tetap bersikukuh dan tanpa tedeng aling-aling mengatakan “Hendarman adalah Jaksa Agung Sah Dunia Akhirat”. Rupanya  bagi petinggi itu, bukan hanya di dunia fana ini Hendarman jadi Jaksa Agung. Di akhiratpun dia tetap Jaksa Agung, walau Hendarman  dikenal sebagai putra Dr. Supandji, mbahnya aliran kebatinan Paguyuban Ngesthi Tunggal alias Pengestu. Siapa tahu nanti Hendarman dengan bermodalkan ngelmu kasampurnaning uripnya (ilmu tentang kesempurnaan hidup) Pengestu bisa menjadi Jaksa Penuntut Umum bagi jutaan arwah yang berbaris di Padang Mahsyar untuk memutuskan siapa yang bakal masuk surga atau masuk neraka.

Kalau sudah begitu suasana kebatinan   korps Adhyaksa, wa bil khusus suasana batin Al Mukarrom Muhammad Amari yang dikenal selalu manut miturut sama Hendarman, masih adakah obyektifitas mereka dalam menangani perkara saya ini? Mbok ya eling,  al-Mukarrom,  jangan terbawa arus jaman edan.  Kalau grusa-grusu (terbawa hawa nafsu), nanti bukannya kedhuman (kebagian), malah ciloko. Bukannya dapat jabatan lebih tinggi, malah tersingkir. Makanya kata Raden Mas Ngabehi Ronggowarsito sak bejo-bejone wong edhan, isik bejo sing eling lan wospodo (seuntung-untungnya orang yang ikut gila-gilaan, masih lebih untung orang yang selalu ingat dan waspada). Eling lan wospodo itu kata almarhum Zahid Hussein artinya “zikrullah dan taqwa”. Mudah-mudahan apa yang saya tulis ini menjadi tausiyah bagi Almukarrom. Watawa saubil haqq watawa saubishhabr…

Cetak artikel Cetak artikel

Short URL: http://yusril.ihzamahendra.com/?p=497

Posted by on Dec 21 2010. Filed under Politik. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

17 Comments for “ALMUKARROM MUHAMMAD AMARI”

  1. Dan sdh selayaknya jika Al-Mukarram M.Amari sungguh-sungguh mengedepankan penegakkan hukum tanpa ditumpangi kepentingan2 lain, dalam proses penyidikan Al-Mukarrom harus pula fair dgn memanggil saksi2 yg meringankan yg diajukan Prof. Saya haqqul yakin ke-4 orang yg diminta Prof mereka akan hadir, apatah lagi Presiden SBY- wong Presiden SBY diminta oleh BePe menyaksikan laga Indonesia dan Filipina saja Bliau mau hadir, apatah lagi diminta oleh Kejaksaan Agung demi tegaknya hukum-! Timbul pertanyaan kenapa pihak Kejagung (wa bil khusus Al-Mukarrom M.Amari) tdk mau memanggil Bliau-Bliau para tokoh bangsa yg kita semua mafhum komitmennya terhadap penegakan hukum. Demi adilnya proses ini, Adil itu sesungguhnya sederhana saja : “Berikan yang Haq kepada yang ber-Haq, dan cabut Haq-nya kepada yang tidak ber-Haq”. Jazza kumullah khairan kasiroh.

  2. Dan sdh selayaknya sebelum dilukukan gelar perkara dan diteruskan kepada Kejari Jakarta Selatan untuk selanjutnya ke Pengadilan, Al-Mukarram M.Amari sungguh-sungguh mengedepankan penegakkan hukum tanpa ditumpangi kepentingan2 lain, dalam proses penyidikan kasus ini harus dikaji ulang dan Al-Mukarrom harus pula fair dgn memanggil saksi2 yg meringankan yg diajukan Prof. Saya haqqul yakin ke-4 orang yg diminta Prof mereka akan hadir, apatah lagi Presiden SBY- wong Presiden SBY diminta oleh BePe menyaksikan laga Indonesia dan Filipina saja Bliau mau hadir, apatah lagi diminta oleh Kejaksaan Agung demi tegaknya hukum-! Timbul pertanyaan kenapa pihak Kejagung (wa bil khusus Al-Mukarrom M.Amari) tdk mau memanggil Bliau-Bliau para tokoh bangsa yg kita semua mafhum komitmennya terhadap penegakan hukum. Demi adilnya proses ini, Adil itu sesungguhnya sederhana saja : “Berikan yang Haq kepada yang ber-Haq, dan cabut Haq-nya kepada yang tidak ber-Haq”. Jazza kumullah khairan kasiroh.

  3. khas yusril. bila datang waktunya maka ia membalas dengan yang sepadan, berdasar, telak, ringkas tapi berspektrum luas, dan tetap ada terselip sense humor khasnya yang kaya daya khayal… dalam segenap keseriusan tetap saja kita dapat tersenyum… menghibur saat dirinya sesungguhnya lebih pantas untuk dihibur, mendapatkan sebatrang objektifitas .. Allah swt memudahkan anda yang tak sungkan memudahkan..

  4. Ass. Wr.Wb

    Hajar Bung YIM, Insya Allah anda menang, karena amari sudah kepalang basah, jadi dia mencari Justifikasi seolah2 yang dibuatnya adalah kebenaran. Dengan bahasa Bung YIM yang yang pedas kecuali yang baca orang yang budek seperti amari, mungkin kalau orang lain sudah minta ampun. Kebenaran tidak pernah mati dan tinggal menunggu waktu. Selamat berjuang bung YIM

  5. Mannntaaaap, Bang YIM. Ulasan yang menukik dan tajam serta akurat. Bang YIM, punya banyak info tentang latar belakang “lawan”. Mannntaaaap.

  6. Mannntaaaap, Bang YIM. Ulasan yang menukik dan tajam serta akurat. Bang YIM, punya banyak info tentang latar belakang “lawan”, mannntaaap. By the way, Bang YIM gmn perkembangan permohonan uji tafsir ke MK (koq sepi aja pemberitaan ya???????) kapan ya kira2 pembacaan putusan ?. Jazakallah khairan katsira.

  7. Mantaaap Bang Mobo, sambil menunggu jadwal sidang permohonan uji materiil Prof YIM di MK, kita bermunajat kepada Allah Azza Wa Jalla kiranya PK dari Prof Romli segera diputuskan dan mengabulkan PK Prof Romli, sehingga semakin membuka tabir Rekayasa pihak-pihak yg sengaja meng-kriminalisasi Prof YIM dan mematikan karir politik Bliau, termasuk tokoh2 yg mengaku sebagai tokoh2 Islam Indonesia, yg sesungguhnya bermain pula agar karir politi YIM dimatikan sehingga peluang mereka semakin besar! Nauzubillahi min dzalik, tokoh2 Islam yg demikian ini sesungguhnya yg mematikan Perjuangan Islam. Kita bisa lihat untuk kasus BitChan semua tokoh Islam bicara/membela mati2an tapi dalam kasus yg melilit YIM mereka diam! padahal dalam menjatuhkan regim orba mereka cukup terbantukan dgn peran Prof YIM. Itulah tabiat hakiki dari tokoh2 Islam apatah lagi Model si Amien Rais, Din, dll prinsipnya cuma SDM (Selamatkan Diri Masing2), yg lebih cilaka lagi ilmuwan penjilat Azyumardi Azra, bela tidak malah menohok dgn pernyataannya! mengunting dalam lipatan. Orang IAIN juga dia bahkan sempat jadi rektor jadi-jadian!

  8. maju terus bang YUSRIL,kami mendukung anda.

  9. Tulisan yang pas dan mumpuni, ternyata tinjauan dari klenik juga bisa. Hukum di Indonesia tambah membingungkan saja.

  10. Luarrrr biasa…
    Analogi, dalil, dan bukti yang anda paparkan membuat saya semakin yakin kalau anda layak jadi pemimipin negeri ini. Bicara tidak sekedar teori retorik yang bisa membuat orang kagum sesaat, tetapi disertai dengan berbagai argumen yang membuat langgengnya kepercayaan orang.
    salut … dengan semua tulisan di atas, saya sampai 3 kali membacanya (kaya minum obat aja), terkadang saya tertawa membacanya terkadang juga jengkel dan kesel,Semoga BAng YIM senantiasa mendapat Ridla dan pertolongan Allah.

  11. Mantap ulasannya pak…
    Saya berdoa semoga selalu bapak diberikan perlindungan oleh-Nya dan mereka yang sekarang sementara menjalankan tugasnya sebagai penegak hukum diberikan petunjuk agar memberikan putusan yang seadil-adilnya.

    Bapak memberikan saya banyak pelajaran melalui setiap tulisan di dalam blog ini.
    Terima kasih

  12. Mahkamah Agung hari ini 22 des 2010 Mengabulkan Kasasi Romli Atmasasmita, berita di kontan.co.id jam 13:57. Dalam putusan kasasi yg diputus secara bulat tanpa dissenting opinion dar Majelis Kasasi yg terdiri dari Achmad Taufik, Suwardi, dan Zaharudin Utama, dalam pertimbangannya mengatakan Romli diputus ‘Lepas” dalam arti tidak dapat dihukum. lantaran Romli tidak mendapat keuntungan terkait kasus sisminbakum, Pelayanan Publik lewat Sisminbakum tetap berjalan serta negara “tidak dirugikan”, “tidak ada sifat melawan hukum”. Mudah-mudahan putusan ini berimplikasi positif terhadap Prof.YIM. Amiin Ya Robbal ‘Alamin.

  13. jamaludin mohyiddin

    Keterangan tambahan ini amat berguna bagi meningkatkan kefahaman rakyat. Rakyat menerimanya kerna nama baik Yusril Ihza Mahenda itu sendiri. Sebab itulah penafsiran jalan cerita dibelakang tabir dan layar dapat di yakini kebenarannya oleh rakyat.

    Berdasarkan keterangan yang saya baca ini, orang orang saperti Henderman Supanji, A.M. Amari, Arminsyah, Djasman Pandjaitan dan Babul Khoir Harahap hanyalah “tip of iceberg” dari masyarakat /korps Adhyaksa yang masih kental dengan minda/jiwa kebolehjajahan/colonizibility. Mereka ini selaku pelaksana undang undang tetapi menjalaankan tugas jaksa dengan “judicial activism” mengikut rasa selera peribadi dan interpretasi hukum seenaknya terkeluar dari batasan KUHAP dan tanpa ada rasa akauntabiliti-bebas dan atas dari hukum. Kita berharap dengan kehadiran Basrief Arief dapat memulih semula maruah dan martabat Kejaksaan Indonesia kembali kepangkuan berkhidmat menjunjung keluhuran Undang undang, ke landasan KUHAP tanpa unsur mempolitikkan atau di dipolitikkan samada dari dalam atau dari luar.

    Tugas Basrief membersih dan memperbaiki khidmat bakti kejaksaan cukup berat. Maklumlah beliau itu disarang korupsi yang terparah dan tercanggih dan pusat tyranny of Indonesian judicial power. Usaha dalaman ini perlu di perlengkapkan lagi/further complementing dari luar. Impetus dari kasus Sisminbakum ini telah mengidzinkan ianya melengkapkan usaha pembersihan kejagung dan pemusnahan tyranny of judicial power ini. Dengan idzin Allah azawajal jugalah maka Indonesia berhadapan dengan usaha membasmi budaya tirani hukum yang telah sekian lama berlansung/ institutionalized dan telah menghambat kemajuan dan pembangunan negara dan juga telah banyak sekali mangsa nya di kalangan rakyat miskin dan tertindas, dan konkritisasinya/ concretization bermula dengan kehadiran kasus tindakan korupsi Sisminbakum yang di dakwakan keatas Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra. Dengan taqdir ul Llah ini, usaha konkrit pemulihan di bidang penguatkuasaan hukum dapat ditingkatkan lagi dan diteruskan berpandukan doa Nabi Syuaib – wa ma uridu illa islah mastat’tum -dan tidak aku inginkan melainkan adalah melakukan islah-pembaikan-dengan segala daya upayaku.

    Kesusahan dan penderitaan yang di timpakan keatas Bang Yusril selama ini bermula apabila kasus Sismunbakum ini dikalihkan menjadi tindakan pidana korupsi dan dikaitkan hanya dengan Bang Yusril. Kalihan ini sepengetahuan Presiden SB Yudhoyono dan sudah pasti ini dilakukan setelah mendapat nasihat dan kemasukan undang undang dan dalam jangkaan saya setelah membuat rujukan dengan pakar rujuk /strategic thinkers beliau. Sekiranya beliau yang memulakan maka sepatutnya beliau juga yang menyudahkan. Habis perkara. Tetapi kasus in berlarutan. Kini nampaknya beliau lebeh berminat proses hukum berjalan tanpa ada gangguan dari luar lagi, dan minat beliau ini kerna tidak ada jalain keluar yang lebeh selamat dan menguntungkan beliau.

    Agenda islah mastar’tum ini akan menjadi asset negara memperbaiki dan menguatkan landasan negara hukum Indonesia. Negara hukum dan pembangunan negara mesti berganding bahu, menyampingkan salah satu membuat usaha pembangunan tempang dan menjerehkan negara. Kita harus berterima kasih kepada Allah swt kerna telah menjadikan kasus Sismunbakumnya Bang Yusril satu impetus menguak badai tirani hukum dan memulih semangat bernegara hukum di Indonesia, dan isya’Allah membantu usaha negara dan rakyat meletakkan asas negara, keadilan kembali mengakar dan member rahmah pembangunan. Keadilan bukan sahaja di persepsikan telah wujud tetapi di berlakukan dan rakyat mengecapi dan meni’mati keadilan itu. Kelazatan menjamah ni’mat keadilan masih jauh di Indonesia. Dan kerna itulah pembangunan negara tidak akan maju kedepan dengan keadilan yang tempang and pakaian keadilan itu compang camping.

    Ide asal di belakang keberadaan Sismumbakum itu yakni mempercepat proses pendaftaran PT bermula dengan desakan suasana dan ketika itu mengkaitkan masa depan negara. Situasi nya amat genting. Maka datanglah ilham yang akhirnya telah menyelamatkan masa depan negara. Insya’Allah, Indonesia akan didatangi dan akan berhadapan dengan suasana yang sebegini yang pasti menuntuk pencetusan ide dan ilham yang berguna untuk masa depan negara. Di awal 2000 Bang Yusril telah dapat mengolah Sismumbakum dengan cukup baik dan olahan tersebut menguntungkan negara dan meletakan batu asas kemajuan bisnis yang telah meluaskan peluang kerja kepada rakyat. Breakthrough yang dicetuskan ini memerlukan kepimpinan, kepintaran, kecekalan hati, kejujuran dan keikhlasan dan ini semua ada pada Bang Yusril.Indonesia masih perlukan lagi khidmat bakti Bang Yusril.

  14. Aseli ngakak baca 2 paragraf terakhir….

  15. Bismillah. Alhamdulillah, sebagai orang awam dalam bidang hukum semakin terang benderang tentang sebuah pertunjukkan srimulat “yang tidak lucu” tengah dimainkan si Tole Amari. Ini dialognya yang ngga lucu.
    “Le, wis, eling, kamu itu Muslim, toh. Lo, setiap Muslim itu kan bersaudara, le. Harus berkasih sayang. Tolong menolong dalam kebaikan. Suka nasehat menasehati. YIM sudah memberi nasehat padamu le. Sudahlah, ndak usah diteruskan, nanti kamu celoko, le. Aku ini juga nda ingin kamu itu celoko, le. Hukum itu bukan untuk dimainkan-mainkan, le. Nanti kamu sendiri yang kena hukum, le. wis, wis, le, bener nasehat YIM, le, cepat eling…”.
    “Wis, sudahlah, le. Ndak usah dendam kesumat, karena bosmu, Hendarman sudah lengser, karena salahnya sendiri. Ndak usah ngotot, le. Kamu ini kan orang Jawa, yang dikenal ngerti toto kromo, apalagi toto tenterem. Hidup tenterem itu kan yang kita inginkan, le. Eling, le”.
    Semoga Tole Amari segera menghentikan langkahnya “yang salah langkah ini” untuk melanjutkan kasus Sismibakum, dan segera memberi laporan kepada Jaksa Agung agar perkara “perusakan citra YIM” ini di SP3kan. Wassalam.

  16. Mantap bung, lugas, konseptual, sistematis………….. top deh prof, orang seperti anda harus banyak tampil di TV jadi narasumber, biar jadi inspirasi bagi banyak orang……maju terus, persiapkan yang maksimal sehingga hasilnya maxsimal dan robohlah lawan2 politik itu …..

  17. The real Profesor….keterangannya, hujahnya, datanya, faktanya sangat logis dan realistis, maju terus.. kita doakan smoga Al Mukarrom Muhammad Amari terbuka hatinya yang jernih untuk membeberkan rekayasa kasus ini, sperti keberanian Gayus mengugkapkan kasus2 mafia pajak, dan selanjutnya diharapkan tuntutan balik terhadap Al Mukarrom Muhammad Amari karna atas pencemaran nama baik, dan sengaja melakukan salah guna wewenang atas maksud2 tertentu. Selanjutnya semoga kebenaran memihak kepada Bang YIM.

Leave a Reply