|

ASSEGAF DAN MAQDIR PERTANYAKAN SIKAP AMARI

Sikap Jampidsus Amari yang terus ngotot membawa tersangka Yusril Ihza Mahendra ke pengadilan pasca putusan Romly menjadi tanda tanya besar bagi penasehat hukum Yusril, Mohamad Assegaf dan Maqdir Ismail. “Amari nampak seperti tak dapat berfikir dengan jernih lagi melihat kasus ini” kata Assegaf. Sementara Jaksa Agung Basrief lebih bijak dengan menyatakan belum mengambil sikap apa-apa karena ingin membaca dulu putusan Romly. Basrief juga meminta segera dilakukan gelar perkara untuk memutuskan apakah kasus Yusril layak diteruskan atau tidak. “Ini masalah penegakan hukum yang dilakukan atas nama negara, bukan masalah  pribadi Amari” kata Assegaf.

Dari putusan Romly sudah jelas dinyatakan bahwa dalam kasus Sisminbakum tidak ada unsur kerugian negara. Jadi Sisminbakum yang bikin heboh itu bukanlah korupsi. Sisminbakum memang ada. Tetapi bukan tindak pidana. “Sebab itulah Mahkamah Agung melepaskan Romly dari segala tuntutan hukum” tegas Assegaf. Kalau memang begitu putusannya, maka tidak ada gunanya Kejagung memaksakan diri mengadili Yusril. “Itu sama saja dengan menyuruh pengadilan mengadili sesuatu yang sia-sia” kata Asegaf.

Maqdir menilai Amari seperti bukan jaksa professional jika tetap ngotot mendakwa Yusril dengan alasan Yohanes,  Samsudin Sinaga dan Zulkarnain telah dipidana. Putusan Romly justru merupakan novum bagi Yohanes untuk mengajukan PK.  Samsudin dan Zulkarnain diputus bersalah oleh PN Jakarta Selatan karena meneruskan kebijakan Romly membagi biaya akses milik Koperasi dengan Dirjen AHU, sementara hasil pembagian itu tidak disetor ke kas negara. Oleh Pengadilan Negeri Jaksel dan Pengadilan Tinggi Jakarta, Romly dipersalahkan menyalahgunakan wewenang sebagai Dirjen Administrasi Hukum Umum (AHU). Namun kini, Mahkamah Agung melepaskan Romly dari segala dakwaan. Dengan demikian, Zulkarnain dan Samsudin yang meneruskan jabatan Romly selaku Dirjen AHU, dengan bebasnya Romly, otomatis harus bebas juga.

Sebagaimana diketahui Romly dituduh melakukan tindak pidana korupsi bersama-sama dengan beberapa orang, termasuk Yusril. Pasal-pasal yang digunakan mendakwa Romly dan Yusril itu sama, tidak mungkin beda. Kalau Romly dilepaskan dari segala tuntutan hukum,  logikanya Yusril tidak bisa dituntut. “Saya tidak mengerti jalan pikiran Amari yang mengatakan tiap-tiap perkara itu unik, beda-beda”.  “Kalau beberapa orang didakwa melakukan tindak pidana bersama-sama, apa yang mereka lakukan tentu  tindak pidana yang sama, masak beda-beda” kata Maqdir mengakhiri keterangannya.

Cetak artikel Cetak artikel

Short URL: http://yusril.ihzamahendra.com/?p=502

Posted by on Dec 23 2010. Filed under Politik. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

7 Comments for “ASSEGAF DAN MAQDIR PERTANYAKAN SIKAP AMARI”

  1. saya ingin tahu apa pendapat adnan buyung terhadap putusan MA ini terutama implikasinya terhadap bang yusril. Saya juga ingin tahu pendapat para pendekar LBH seperti Bambang W, Patra M zein atau lainnya. Kok belum muncul ya pendapat mereka? Atau para wartawan yang tidak bertanya para mereka?

  2. Komentar @primaironline, Kejagung : Kasus Yusril jalan terus / comment via facebook

    andi darwis : Jampidsus Amari telah melakukan “pembusukan” hukum…Keinginan jampidsus amari utk “memaksakan” sisminbakhum ke pengadilan dgn tanpa melihat fakta bebasnya romly artasamita dlm putusan kasasi MA memperlihatkan bahwa jampidsus amary telah melakukan “pembusukan hukum”.

  3. Jalan lurus dan terakhir yang diharus ditempuh YIM dan tim pengacaranya
    adalah melakukan perlawanan hukum terhadap sangkaan terhadap YIM. Kebenaran
    dan keadilan memang harus dibayar mahal mudah2 ALLAH memberikan kekuatan
    kepada YIM.Selain itu sudah waktunya YIM melakukan serangan balik dari sayap
    kiri sayap kanan ,tengah maupun barisan pertahanan sehingga tegaknya hukum
    yand adil.Ya ALLAH berikanlah kekuatan dan perunjuk bagi pahlawan keadilan
    dan kebenaran

  4. Alhamdulillah, satu titik terang telah terbit. Biasanya Titik terang akan menunjukkan di mana catata saat gelap.
    Bersabar sedikit lagi Profesor Yusril. Tokh, sudah lama bersabar. Tambah beberapa haris lagi, insyaallah akan terbitlah shabrun jamil.

  5. Duhh.. tampaknya lagi2 Kejaksaan Agung KALAH.
    - TINGKAT PENGADILAN TINGGI.
    Cukup banyak kekalahan Kejaksaan Agung, di mana Pengadilan Tinggi memutuskan hanya sbb.:
    Korupsi terjadi sejak tahun 2000 s/d 30 Juni 2002, dilakukan oleh Dirjen Romly Atmasasmita, yakni yang bersangkutan membagi uang hasil akses fee milik Koperasi Pengayoman (dari pembagian antara PT SRD dan Koperasi Pengayoman) menjadi 2 bagian, yaitu Koperasi Pengayoman dan Ditjen AHU (melalui surat perjanjian yang ditanda-tangani Dirjen Romly dan Ketua Koperasi, Ali Amran, tanggal 25 Juli 2001) dan –persoalannya (?)– tidak menyetorkan uang bagian Ditjen AHU tsb ke dalam kas negara sebagai “penerimaan lain-lain” (bukan sebagai PNBP, memang); menurut Kejaksaan Agung, uang milik Ditjen AHU dari pembagian antara Koperasi & Ditjen AHU itu harus masuk kas negara sebagai “penerimaan lain-lain” (sekali lagi: bukan sebagai PNBP), dan Dirjen AHU itu terbukti bersalah melakukan tindak pidana penyalahgunaan wewenang dgn melanggar Pasal 3 UU No 31 Tahun 1999.
    - TINGKAT MAHKAMAH AGUNG (Kasasi).
    Kejaksaan Agung kalah lagi, karena MA tidak membenarkan dakwaannya “Korupsi terjadi sejak tahun 2000 s/d 30 Juni 2002 oleh Dirjen Romly Atmasasmita, …/dst. MA memutuskan (menurut pemberitaan media massa), sbb.: Romly dilepaskan dari tuntutan hukum, karena dinilai tidak mendapat keuntungan apapun dari proyek Sisminbakum, Negara juga tidak mengalami kerugian apapun, sementara Pelayanan publik dengan Sisminbakum berjalan baik, dan “tidak ada sifat melawan hukum”.
    Instansi sebesar Kejaksaan Agung kalah perkara rasa2nya tdk terlalu masalah? toh itu pun demi keadilan.
    (HI, Sbw/Jkt).

  6. Bismillah. Kalah ya tetap untung, dapat gaji terus tiap bulan, plus bonus menangani perkara. Tapi yang diadili berapa biaya yang sudah dikeluarkan. Cuma. Kejagung telah memain mainkan hukum dan keadilan ini yang menjadi masalah dunia dan akhirat. Amari mencoreng wajahnya sendiri….Wassalam.

  7. jamaludin mohyiddin

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh,

    Lawan dan musuh politik Bang Yusril amat mengerti implikasi politik ekoran dari kekalahan Kejagung dalam kasus korupsi Sisminbakum ini. Bang Yusril memang menang dan berada di pehak kebenaran. Kemenangan dan kebenaran Bang Yusrilini ril dan cukup kukuh, utuh dan lagi sempurna dan amat payah di ganggu gugah apatah lagi tidak ada ruang bagi mereka melukakan, mencacatkan, menimbulkan sangsi,wasangka dan waswas keatas kemenangan dan kebenaran Bang Yusril itu. Persis ini yang tidak disukai oleh mereka mereka ini. Mereka amat takut kemenangan dan kebenaran ini dapat diterjemahkan ke lapangan politik rakyat oleh Bang Yusril. Maklumlah kemenangan dan kebenaran yang diberikan kepada Bang Yusril dapat dijadikan modal politik, berguna melonjak karir politik kepresidenan YIM. Mereka perkirakan bahwa modal ini bukan suatu yang datang mudah begitu sahaja bergolek dihadapan Bang Yusril tetapi Bang Yusril telah mendapatkan/to earn setelah menunjukkan sikap perlawanan secara berani dengan bekalan ilmu dan ketabahan dan keyakinan tidak bersalah dari awal awal lagi.

    Kebetulan pula rakyat telah melihat semua ini. Bagaimana Bang Yusril diuji dan terus istiqomah. Bang Yusril sebagai Nabi Daud melawan Raja Jalut, dan akhirnya berjaya mengalah Jalut. Berbanding kasus Bank Century Bailout dan kasus kasus dakwaan korupsi lainnya yang (sengaja) berbeli belit tanpa ada kesudahannya, kejelasan mainan politik dan simpang siurnya penyalahgunaan kuasa oleh Kejagung dalam kasus korupsi Sisminbakum ini telah dapat dilihat oleh rakyat. Bukan Kejagung yang berjaya menamatkan kasus ini tetapi sebaliknya Bang Yusril dan Timnya. Tuntasnya kasus korupsi Sisminbakum ini bukannya usaha Kejagung tetapi usaha Bang Yusril dan Timnya. Dari berbelit belit dan berliku sapertimana yang telah terjadi kasus kasus lain, kini rakyat dapat membaca dengan lancarnya kelurusan jalan cerita kasus dkawaan korupsi Sisminbakum dan yang melurus terangkan kasus ini bukaannya si Kejagung tetapi Bang Yusri dan Timnya. Rakyat merasakan puas hati.

    Lagipun saperti yang kita semua telah mengerti bahwa keadilan yang dituntut dalam pengadilan Islam ialah masa pengadilan tidak boleh memakan masa yang begitu lama dan tidak perlu berbelit belit, berliku liku dan strategi mencapai kemenangan menghalalkan cara, tidak diidzinkan berlaku. Etika keadilan ini yang sangat di hausi oleh rakyat Indonesia tetapi malangnya negara Indonesia sendiri mengidzinkannya. Apa yang telah di tunjukkan oleh Bang Yusril dan Timnya mengikuti lunas lunas pengadilan Islami tetapi Kejagung sendiri yang tidak menghormati malah tidak mempunyai etika keadilan Islami. Sedeh tapi nyata. dalam kasus ini Kejagung tidak ada rasa hormat pada undang undang dan etika keadilan Islami.

    Bagaimana strategi lawan dan musuh Bang Yusril? Mereka tidak ada pilihan kecuali mengikuti jalan propaganda: mengkalih fakta, memutarbalikan perkara, disinformation, disinformation, mengaburkan fakta, mengadudomba, memperkecil-mainkan/trivialize atau mengalih perhatian/distracting. Menegak benang basah mereka, mereka tergamak membuat propaganda dan dengan harapan kalau di ulang ulang dan diulang dan diulang hingga capik dibuatnya maka propaganda menjadi satu kebenaran. Tukang propaganda banyak dan bisa di sewa atau diupah asalkan tunduk patuh dan menunjukkan keta’atan dan kesetiaan yang akan beri ganjaran yang setimpal. Lawan dan musuh sudah pasti mempunyai tim khusus mengkaji dan hafal luar dalam kasus korupsi Sisminbakum. Tugas mereka ini saperti Syaitan: berfikir dan terus berfikir bertindak memesongkan manusia melakukan kesalahan dan kejahatan.

    Dan itulah kerjanya si Amari dan si Ruhut itu dan ramai lagi akan saperti mereka. A.B. Nasution and like minded intellectuals, kesemuanya melatah untuk menjaga period nasi sendiri atau sengaja inginkan bertegang ideologi. Budaya propaganda (termasuk mengadudomba) ini bukan diimport dari luar. Ianya di budayakan dari dalam.

    Isu dakwaan khusus kepada Bang Yusril ini bukan isu peribadi dan bukan juga isu hukum malah bukan juga isu membalas dendam. Apanya itu Bang Yusril lebeh faham.

Leave a Reply