Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,
Seperti diberitakan berbagai media massa akhir-akhir ini, saya telah sampai pada kesimpulan untuk tidak menerima tawaran Presiden SBY menjadi hakim Mahkamah Konstitusi. Dalam beberapa kali pertemuan dengan saya, Presiden bukan saja mengharapkan kesediaan saya menjadi hakim mahkamah itu, tetapi juga, kalau mungkin menjadi ketuanya. Saya menyadari bahwa soal Ketua Mahkamah Konstitusi bukanlah kewenangan Presiden, karena ketua itu dipilih dari dan oleh para hakim Mahkamah Konstitusi yang berjumlah sembilan orang itu. Sebagaimana kita maklum, Ketua Mahkamah Konstitusi yang kini dijabat oleh Jimly Asshiddiqy akan berakhir pada tanggal 15 Agustus 2008 nanti. Sementara itu, Jimly Asshiddiqy, Machfud MD dan M. Akil Mochtar dua hari yang lalu telah dipilih oleh DPR menjadi hakim Mahkamah Konstitusi. Kita belum tahu siapa hakim mahkamah itu yang akan diangkat berdasarkan pilihan Presiden dan Mahkamah Agung.
Pertimbangan utama saya untuk akhirnya menolak tawaran sebagai hakim Mahkamah Konstitusi itu, disebabkan oleh konsekwensi dari jabatan tersebut yang mengharuskan saya mundur dari keanggotaan saya di partai politik. Hakim Mahkamah Konstitusi memang wajib untuk tidak berpolitik, agar putusan yang diambilnya benar-benar objektif dan murni berdasarkan kaidah-kaidah hukum. Saya termasuk salah seorang penggagas, pendiri dan pernah dua kali menjadi Ketua Umum Partai Bulan Bintang. Kini saya menduduki jabatan sebagai Ketua Majelis Syuro partai itu. Saya telah mendengar masukan dan saran dari berbagai pihak dalam struktur partai, baik di pusat maupun di daerah, yang kebanyakan berat hati melepaskan saya dari partai. Memang ada beban moral yang sangat berat bagi saya, kalau harus meninggalkan partai demi jabatan Ketua Mahkamah Konstitusi. Saya bukanlah tipe orang yang dengan mudah keluar masuk sebuah partai. Buat pertama kalinya saya menjadi anggota partai dan partai itu ialah Partai Bulan Bintang. Saya berkeinginan agar inilah untuk pertama dan terakhir kali saya menjadi anggota sebuah partai politik. Baca selengkapnya »
95 komentar Oleh Yusril Ihza Mahendra — March 16th, 2008
Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,
Udara terasa panas ketika kami melintas dengan kendaraan dari Mataram menuju Kuta – nama sebuah pantai indah di Pulau Lombok.
Jarak antara Mataram-Kuta sekitar 70 km, namun kami tempuh dalam waktu lebih kurang satu setengah jam. Kami sengaja mengendarai mobil agak lamban, mengingat lebar jalan yang relatif kecil dan berliku. Sepanjang jalan, saya dapat menyaksikan suasana kehidupan masyarakat desa. Saya senang memperhatikan arsitektur tradisional rumah suku Sasak yang terasa menyatu dengan alam. Rumah-rumah itu terletak di antara rerimbunan dahan-dahan pepohonan, berjajar-jajar sehingga membentuk keindahan tersendiri. Bukan sekali ini saja saya datang ke Lombok. Namun sebelumnya saya hanya datang ke kota. Kali ini saya masuk jauh ke pedalaman, keluar masuk kampung-kampung, dan akhirnya pergi ke Kuta. Baca selengkapnya »
61 komentar Oleh Yusril Ihza Mahendra — March 4th, 2008
Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,
Persiapan syuting sessi terakhir pembuatan film Laksamana Cheng Ho yang akan dilakukan di negara kita, kini hampir rampung. Insya Allah, syuting akan dimulai pada hari Sabtu tanggal 1 Maret 2008 nanti. Persiapan ini memang dilakukan dengan sungguh-sungguh, mengingat banyak adegan penting yang diambil di negara kita. Adegan itu bukan saja mengisahkan Perang Majapahit dengan Blambangan, Konflik Malaka dan Jawa dalam memperebutkan Palembang, dan konflik Samudra-Pasai di Aceh, tetapi seluruh adegan di atas geladak kapal dan perang di laut dilakukan di Indonesia. Cukup lama waktu yang diperlukan untuk membuat replika Kapal Ba Choan, kapal induk Armada Cheng Ho, untuk kepentingan pembuatan film ini.
Dalam sejarah disebutkan bahwa seluruh armada Cheng Ho terdiri atas 300 kapal dengan 28.000 prajurit Angkatan Laut Kekaisaran Ming dan sekitar 5000 awak kapal yang mengarungi samudra mulai dari bagian timur negeri Tiongkok sampai ke Mogadishu (Somalia) dan Madagaskar di pantai Timur Afrika. Armada itu bukan saja telah menjalankan misi muhibah ke negara-negara Asia Tenggara (Nan Yang) seperti Majapahit, Champa, Chirebon, Sunda Kelapa, Palembang, Samudra Pasai, Brunei, Pontianak, Ayuththaya dan Suvarnabhumi (Thailand), Angkor (Kamboja), Melaka, dan Formusa, tetapi juga Sri Lanka, India, Iran, Irak, Yaman, dan Hejaz (Saudi Arabia), Moldives, serta negara-negara di Afrika. Ada delapan kali ekspedisi yang dilakukan Cheng Ho untuk mewujudkan impian Kaisar Ming Chui Ti membangun perdamaian dunia, setelah Tiongkok makmur, kuat dan bersatu menjadi negara adikuasa seperti Amerika Serikat sekarang, di zaman itu. Ekspedisi itu berlangsung dalam kurun waktu 28 tahun lamanya, antara tahun 1406 sampai tahun 1434 Masehi. Laksamana Cheng Ho sendiri wafat sekembalinya dari kota suci Mekkah setelah menunaikan ibadah umroh, dalam pelayaran ke depalan. Dia wafat di Lautan Hindia di selatan Sri Lanka dan jenazahnya dibawa untuk dimakamkan di Nan Jing, China. Konon, inilah armada angkatan laut terbesar dalam sejarah yang pernah ada, sebelum umat manusia memasuki zaman modern. Armada Cheng Ho jauh lebih besar dibandingkan dengan armada Columbus ketika mencapai daratan Amerika dan armada Ferdinand de Magelhaenz yang berlayar dari Spanyol sampai ke Philipina, lebih seabad kemudian. Baca selengkapnya »
59 komentar Oleh Yusril Ihza Mahendra — February 27th, 2008
Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,
Provinsi Bangka Belitung memang terkenal dengan pantai-pantainya yang indah. Keunikan pantai-pantai di daerah ini ialah golekan batu-
batu granit raksasa yang tersusun berjajar dan bertumpuk secara alami. Batu-batu besar itu adalah batu alami endapan sedimen yang telah berlangsung jutaan tahun lamanya. Bangka Belitung memang terkenal sebagai daerah pertambangan, timah, batu besi, bauksit, bahkan emas dan uranium. Semua bebatuan itu nampaknya terkait dengan berbagai sumber mineral daerah ini. Pantai Tanjung Kelayang di Tanjung Pandan, Pantai Burung Mandi dan Malang Lepau di Manggar tersohor karena kombinasi laut yang membiru, pasir yang memutih dan bebatuan raksasa yang tersusun secara alami. Pantai Parai dan Matras di Sungai Liat juga memiliki keindahan yang serupa. Pantai-pantai indah menawan ini menjadi obyek pariwisata andalan Bangka Belitung.
Tentu keindahan pantai saja belumlah berarti apa-apa sebagai daerah tujuan wisata. Berbagai fasilitas pendukung memang perlu dibangun. Masyarakat dan lingkungan juga harus dididik untuk
bersikap ramah kepada setiap wisatawan. Aneka produk budaya, bahkan produk kerajinan khas daerah juga harus dibina dan dikembangkan. Satu hal yang paling menentukan ialah promosi daerah tujuan wisata itu ke mancanegara. Pada hemat saya, pantai-pantai dan kawasan hutan topis yang menghijau di Bangka Belitung patut dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata untuk menyepi sambil menikmati perasaan menyatu dengan alam tropis. Penduduk Bangka Belitung relatif sedikit. Orang dapat menyepi tanpa bersintuhan dengan keramaian di daerah-daerah yang jauh dari kebisingan dan polusi. Hidup menyatu dengan alam, walau hanya sementara, sungguh terasa menyenangkan untuk mengusir lelahnya kehidupan modern yang hingar bingar manusia, mesin dan peralatan teknologi.
Baca selengkapnya »
51 komentar Oleh Yusril Ihza Mahendra — February 25th, 2008
Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,
Ombak laut terasa tinggi dibanding biasanya ketika kami menyeberang dari Batam ke Pulau Penyengat. Namun kami tiba juga dengan selamat. Dari kejauhan saya menatap pulau penuh sejarah
itu,dengan menara kuning keemasan Mesjid Sultan Riau peninggalan zaman dahulu. Penyengat hanyalah sebuah pulau kecil di antara gugusan Kepualauan Riau. Namun pulau itu penuh makna bukan saja bagi Nusantara, tetapi juga bagiDunia Melayu pada umumnya. Di zaman keemasan Kesultanan Riau, pulau itu bukan saja menjadi pusat pemerintahan, tetapi juga pusat kebudayaan dan keagamaan.Di pulau itu pula dimakamkan pahlawan nasional kita yang gagah berani, Raja Haji Fi Sabilillah yang tewas dalam pertempuran melawan Belanda di Melaka pada akhir abad 18. Di pulau itu pula dimakamkan Raja Ali Haji bin Raja Ahmad, pahlawan nasional kita yang amat berjasa mengembangkan bahasa Melayu modern. Beliau juga dikenal sebagai cendekiawan yang mewarisi kita berbagai risalah sejarah, agama, budaya dan bahasa. Baca selengkapnya »
48 komentar Oleh Yusril Ihza Mahendra — February 21st, 2008
Bismillah a-Rahman ar-Rahim,
Proses pembuatan film drama kolosal Laksamana Cheng Ho atau Admiral Zheng He, kini telah mendekati tahap akhir. Film yang semula dirancang untuk 26 episode, dalam perjalanannya berkembang menjadi sekitar 30-32 episode, dengan masa tayang selama 50 menit setiap episodenya. Pengambilan gambar sebagian besar telah dilakukan di Thailand dan China. Pengambilan gambar sesi terakhir untuk lebih kurang 20 persen dari seluruh proses pengambilan gambar akan dilakukan pada bulan Februari ini juga di Jakarta dan Jawa Barat. Insya Allah, kalau tak ada aral melintang, film kolosal ini akan ditayangkan pada akhir bulan Maret yang akan datang, di salah satu stasiun televisi nasional kita. Bersamaan dengan itu, DVD film ini dengan pilihan bahasa dan subtitle juga akan memasuki pasar di berbagai negara.
Film drama kolosal Laksamana Cheng Ho ini adalah film cerita yang pertama diproduksi, setelah sebelumnya CCTV 4 China membuat film dokumenter mengenai armada Cheng Ho. Film ini dikerjakan bersama oleh Kantana Ltd, perusahaan film terkemuka Thailand, PT Jupiter Global Film dari Indonesia dan Heng Dian Movie Corporation dari China. Para aktor dan aktris film ini berasal dari Thailand, Indonesia, China, Vietnam, Kamboja dan Malaysia. Skenario film ditulis dalam enam bahasa, untuk kemudian disulihbahasakan ke berbagai bahasa di mana film kolosal ini ditayangkan. Selain ditayangkan di Indonesia, dalam waktu berdekatan, film ini juga akan ditayangkan oleh tevelisi China, Thailand, Malaysia, Singapore, Vietnam, Kamboja, Myanmar dan Turki. Negara-negara Timur Tengah, kabarnya juga berminat untuk menayangkan kisah laksamana beragama Islam dari Dinasti Ming pada awal abad ke 15 ini.
94 komentar Oleh Yusril Ihza Mahendra — February 6th, 2008
Bismillah ar-Rahman ar-Rahim
Tidaklah mudah bagi saya untuk sepenuhnya bersikap netral dan obyektif membahas kebijakan Orde Baru terhadap Masyumi dan Islam, sebagaimana yang diminta oleh Republika, apalagi waktu yang
diberikan untuk menulisnya sangatlah terbatas, kurang dari sehari. Karena itu, saya menuliskan artikel ini hanya berdasarkan ingatan saya belaka.Saya katakan sukar untuk bersikap netral dan obyektif karena sedikit-banyaknya saya terlibat dalam episode sejarah itu, baik langsung maupun tidak langsung. Ketika saya berumur hampir lima tahun, saya menyaksikan ayah saya dan sejumlah tokoh Masyumi lokal, menurunkan papan nama partai itu, karena mereka dipaksa membubarkan diri oleh Presiden Soekarno, pada akhir tahun 1960. Soekarno menerbitkan Keppres Nomor 200/1960 tanggal 15 Agustus 1960, yang isinya membubarkan Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia (PSI). Namun pelaksanaan pembubaran itu harus dilakukan sendiri oleh Masyumi dan PSI. Jika dalam tempoh seratus hari kedua partai itu tidak membubarkan diri, maka partai itu akan dinyatakan sebagai partai terlarang. Sebab itulah Ketua Umum Masyumi Prawoto Mangkusasmito dan Sekjennya Muhammad Yunan Nasution, mengeluarkan pernyataan politik membubarkan Masyumi, mulai dari pusat sampai ke daerah-daerah. Baca selengkapnya »
70 komentar Oleh Yusril Ihza Mahendra — January 31st, 2008
Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,
Dua mantan Presiden kita telah meninggalkan kita semua. Bung Karno wafat pada tahun 1970 dan Pak Harto baru saja wafat pada tahun ini.
Seseorang menjadi Presiden di negara sebesar negara kita, tentulah bukan orang biasa. Walaupun berusaha dan berjuang sekeras mungkin, pada akhirnya takdir Allah Ta’ala jua yang akan menentukan apakah seseorang terpilih menjadi presiden atau tidak. Bung Karno dan Pak Harto adalah dua presiden kita. Keduanya telah memimpin bangsa dan negara kita. Keduanya juga telah memberikan sumbangsih yang besar dalam membangun bangsa dan negara. Namun sebagai manusia, keduanya juga tak luput dari kekurangan, kekeliruan dan kesalahan. Kesempurnaan hanyalah milik Allah. Tiada manusia yang sempurna.
Kemangkatan dua mantan Presiden kita, sama-sama menyisakan persoalan hukum yang tak pernah terselesaikan hingga wafatnya. Persoalan hukum itu akhirnya selesai dengan sendirinya, karena segala tuntutan pidana terhadap seseorang gugur demi hukum dengan wafatnya orang yang bersangkutan. Kalau kita kembalikan persoalan ini kepada prinsip hak asasi manusia, maka keduanya harus dianggap tidak bersalah. Asas praduga tak bersalah mengajarkan kepada kita, bahwa seseorang harus dianggap tidak bersalah, sampai ada putusan final pengadilan yang diktumnya menyatakan orang yang bersangkutan bersalah. Karena itu, baik Bung Karno maupun Pak Harto dua-duanya haruslah dianggap tidak bersalah. Selamanya takkan pernah ada putusan pengadilan yang akan menyatakan kedua beliau bersalah. Kedua beliau telah meninggalkan kita semua. Tidak akan pernah ada peradilan pidana terhadap kedua beliau. Tuntutan perkara telah gugur demi hukum. Baca selengkapnya »
54 komentar Oleh Yusril Ihza Mahendra — January 29th, 2008
Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,
Setelah menderita sakit yang berkepanjangan sejak menyatakan berhenti sebagai Presiden, tadi siang, mantan Presiden Soeharto menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Pertamina
Jakarta. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un (sesungguhnya kita semua kepunyaan Allah dan kepadaNya jua kita akan kembali). Dengan wafatnya beliau, kita telah kehilangan lagi seorang mantan Presiden, yang pernah memimpin bangsa dan negara kita dalam kurun waktu yang cukup lama. Presiden Soekarno memegang jabatan Presiden selama lebih kurang 22 tahun. Itupun silih berganti sebagai Kepala Eksekutif dan Kepala Negara ketika kita menganut sistem parlementer. Ketua Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) Sjafruddin Prawiranegara hanya memegang jabatan kurang dari setahun. Presiden Soeharto memegang jabatan selama 32 tahun, sampai akhirnya menyatakan berhenti dari jabatannya pada tanggal 21 Mei 1998.
Selama memegang kekuasan, Presiden Soeharto telah berbuat banyak dalam membangun bangsa dan negara kita, sehingga mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa kita menjadi bangsa dan negara yang disegani dikawasan Asia. Di bawah kepemimpinannya pula, pembangunan sosial dan ekonomi kita mulai dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Banyak kemajuan yang dicapai, baik pembangunan fisik maupun pembangunan non fisik seperti peningkatan kualitas hidup dan sumberdaya manusia bangsa kita. Bangsa kita yang hidup sangat miskin dan terbelakang di masa Orde Lama, di masa Orde Baru berhasil memperbaiki keadaan internalnya, sehingga kita bergerak maju mendekati taraf negara menengah. Andaikata tidak terjadi krisis moneter pada tahun 1997, pembangunan sosial ekonomi kita mungkin akan bergerak ke arah yang jauh lebih maju. Namun badai krisis yang begitu dahsyat, tidak saja merontokkan sendi-sendi ekonomi, namun juga meruntuhkan kekuatan Orde Baru sendiri. Baca selengkapnya »
57 komentar Oleh Yusril Ihza Mahendra — January 27th, 2008
Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,
Salah satu hal yang paling menyenangkan dalam hidup ialah ketika saya pulang ke kampung halaman. Saya selalu rindu kota Manggar dan Pulau Belitung, tempat saya lahir dan dibesarkan. Hari Jum’at 18 Januari 2008 yang lalu saya dan istri serta kakak dan keponakan, pulang ke Belitung. Ada tiga penerbangan dengan pesawat Boeing ke Belitung setiap harinya. Kami sengaja memilih berangkat pagi hari pukul 6.40 dan tiba di Belitung 45 menit kemudian. Belitung memang dekat, tak jauh dari Jakarta. Mungkin karena harus menyeberang laut, pulau itu terasa jauh dari Jakarta.

Dari lapangan udara di Kampung Buluh Tumbang, saya harus mengendarai mobil melintasi hutan dan perkampungan sejauh hampir 70 km untuk sampai ke rumah ibu saya di Kampung Lalang, Manggar. Begitu mendarat di Belitung, nafas saya terasa lega. Udara bersih dengan rimbunnya pepohonan, nyaris tanpa polusi, membuat paru-paru saya seakan terbuka, ditengah pengapnya udara Jakarta, tempat saya kini menetap. Belitung masih seperti dulu. Jalan aspal mulus dan lengang, serta pepohonan hutan di sepanjang jalan adalah pemandangan yang umum. Sepanjang jalan dari Buluh Tumbang ke Manggar, saya menyukai pemandangan alam, bukit, sungai, danau dan hutan.
94 komentar Oleh Yusril Ihza Mahendra — January 26th, 2008
Komentar Terbaru