SAYA DAPAT MEMETIK HIKMAH DAN PELAJARAN

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,

Setelah lebih kurang sebulan mengharungi dunia blog, akhirnya saya harus mengakui bahwa saya dapat memetik banyak hikmah dan pelajaran. Dunia maya ini adalah laksana dunia tanpa batas. Mungkin sudah terlalu lama di negara kita ini masyarakat merasa terkekang, sehingga banyak yang takut menyampaikan pikiran dan pendapatnya secara terbuka. Walaupun sejak era Presiden Habibie kebebasan mulai dibuka, namun masih banyak yang khawatir dan ragu-ragu. Di dunia maya ini, seseorang akan menemukan kebebasan yang selama ini didambakannya. Berbagai tulisan bermunculan dengan aneka ragam bentuk dan gaya bahasa, mulai dari menyampaikan harapan, saran, keluh-kesah, sampai yang menghujat dan mencaci-maki. Ada pula yang menggunakan kebebasan itu untuk menyebarkan desas-desus, rumors, sampai kepada fitnah yang dapat menyudutkan seseorang yang sungguh-sungguh ada di alam nyata. Menjadi pertanyaan bagi saya, apakah kebebasan dalam makna yang sesungguhnya itu memang ada?

Sebelum saya memasuki pembahasan mengenai bahan pelajaran yang dapat saya petik seperti tertera dalam judul tulisan ini, saya ingin lebih dahulu membahas makna “kebebasan” beserta implikasi-implikasinya bagi kehidupan manusia. Saya ingin menguraikannya dalam bahasa yang sederhana, sehingga pembahasan ini tidak nampak begitu rumit, dan memusingkan kepala mereka yang membacanya. Kalau kita ingin membahasnya lebih dalam, kita akan melangkah memasuki dunia filsafat dan pemikiran keagamaan. Dunia ini, juga merupakan dunia tidak bertepi. Perdebatan filsafat dan agama, adalah telah berlangsung sepanjang sejarah, sejak pertama kali manusia mampu berpikir logis dan sistematis. Namun perdebatan itu tidak pernah sampai ke hujung. Kita memang harus maklum, sepanjang manusia ada di muka bumi ini, selama itu pula problema akan ada. Manusia akan terus berupaya untuk mengkritisi setiap masalah yang muncul, dan berusaha menemukan jawabannya.

Setiap bahasa tentulah mempunyai perbendaharaan kata “kebebasan”, “kemerdekaan” atau yang sepadan dengan itu. Tetapi adakah kebebasan yang sesungguhnya, kebebasan yang tanpa batas? Pertanyaan ini seperti mengandung paradoks. Kalau kebebasan ada batasnya, masihkah dia dapat kita sebut sebagai kebebasan? Jika kita melihat ke dunia fisik, kebebasan dalam arti yang absolut sesungguhnya tidaklah ada. Secara fisik, manusia dan bahkan semua makhluk, terikat kepada hukum-hukum alam, terikat kepada the laws of nature. Para pemikir agama Islam, mengkaitkan hukum-hukum alam itu dengan sunnatullah, yakni hukum-hukum Allah yang tidak tertulis, yang mengatur seluruh isi alam semesta, demi memelihara keseimbangan dan menjaga kelangsungan keberadaan seluruh makhluk. Beberapa kali kata sunnatullah itu disebutkan di dalam al-Qur’an. Ambillah contoh sederhana: kita ingin hidup seperti ikan di dalam air, atau kita ingin terbang di udara seperti burung, atau pula kita ingin seperti penyu, biawak dan buaya yang hidup di air dan di darat. Dapatkah kita bebas mewujudkan keinginan kita? Tentu saja tidak. Kebebasan di dunia fisik, dibatasi oleh hukum-hukum alam. Tidak seorangpun mampu melampauinya, betapapun mereka sungguh menginginkannya.

Kalau di dunia fisik kebebasan yang sesungguhnya itu tidak ada, bagaimanakah halnya dengan kehidupan sosial umat manusia? Apakah mereka boleh melakukan apa saja yang mereka kehendaki? Apakah mereka boleh mengatakan apa saja yang mereka inginkan? Jawabannya ternyata tidak juga. Kalau di dunia fisik segalanya dibatasi oleh hukum alam, maka dalam kehidupan sosial umat manusia, batas-batas itu ditentukan oleh norma atau kaidah. Norma adalah konsepsi abstrak dalam alam pikiran dan perasaan manusia, yang isinya di satu pihak adalah suruhan, dan di lain pihak adalah larangan. Norma-norma itu mengandung sifat imperatif, sesuatu yang mengandung perintah untuk dihormati, dijunjung dan ditaati. Ambillah contoh: bolehkah kita menganiaya orang lain? Bolehkah kita berdusta? Bolehkah kita mengambil milik orang lain tanpa izinnya? Bolehkah kita menghilangkan nyawa orang lain tanpa sebab? Bolehkah kita menyebarkan fitnah terhadap orang lain? Jawab kita tentu tidak boleh. Mengapa tidak boleh? Sebab norma membatasi kebebasan kita. Manusia masih dapat dianggap sebagai manusia, jika mereka menyadari adanya norma-norma yang harus ditaati. Tanpa itu semua, manusia mungkin akan kehilangan hakikat kemanusiaannya yang sejati.

Begitu mendasarnya masalah norma dalam kehidupan manusia, telah menyebabkan pembahasan terhadap masalah itu menjadi tema penting dalam setiap ajaran agama. Para filsuf –seperti telah saya katakan di awal tulisan ini — juga membahasnya dengan dengan berbagai kerangka pemikiran dan sudut pandang. Mereka menggolongkan pembahasan tentang masalah itu ke dalam Filsafat Moral atau Etika. “Ten Commandments” atau sepuluh perintah Tuhan yang dibawa Nabi Musa, yang antara lain berisi larangan membunuh, berdusta dan berkhianat, semuanya semuanya dapat dikategorikan sebagai norma-norma di bidang etika. Tema yang sama diulangi lagi di dalam al-Qur’an. Panch Sila, yakni lima larangan bagi orang awam, dan Dasa Sila, yakni sepuluh larangan bagi para rahib di dalam ajaran Buddha, adalah juga norma-norma di bidang etika. Mo Limo dalam filsafat Jawa, nampaknya juga merupakan rumusan norma di bidang etika.

Ajaran agama-agama, kecuali Buddhisme, mengkaitkan kesadaran terhadap norma dengan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui, serta keyakinan akan adanya kehidupan yang kekal di akhirat. Meskipun di dunia ini, dalam kenyataannya, ada orang baik bernasib buruk dan ada pula orang jahat bernasib baik, namun semua hanyalah sementara. Di akhirat nanti, orang baik akan mendapat tempat yang baik, mereka masuk surga Jannatun Na’im. Orang jahat akan mendapat tempat yang sebaliknya, mereka dimasukkan ke dalam Neraka Jahannam. Para filsuf Marxis, tentu saja menyanggah semua doktrin keagamaan seperti ini. Sebagian ilmuwan juga sejalan pikirannya dengan filsuf Marxis. Memang, hingga sekarang penelitian tentang keberadaan surga dan neraka, belum dapat dibuktikan secara empiris. Itu semua berada di luar jangkauan kajian saintifik.

Di dalam Islam, manusia disuruh mendekatkan diri kepada Tuhan atau taqarrub ilallah. Semakin dekat manusia kepada Tuhannya, akan semakin peka hati nuraninya terhadap persoalan-persoalan etika. Semakin jauh manusia dari Tuhannya, semakin hilang pula rasa kepekaan itu. Semua ini berkaitan dengan sanksi terhadap pelanggaran norma moral. Sanksi itu tidak akan kita temukan di mana-mana, kecuali pertama-tama ada di dalam hati nurani kita sendiri. Ada perasaan bersalah di dalam hati, jika kita melanggar norma etika. Tidak perlu orang lain tahu, apalagi menghukum kita. Cukuplah hati nurani kita yang berbicara kepada diri kita sendiri. Namun di dunia nyata, di zaman sekarang, rasa kepekaan hati nurani itu terasa kian menipis, di tengah haru-biru perubahan dan perjuangan untuk mempertahankan hidup. Seorang teman berkata kepada saya: “Boss, janganlah terlalu idealis… di zaman sekarang, jangankan mau mencari yang halal, mencari yang haram saja susah. Cobalah Boss pergi ke hutan, jangankan mau berburu rusa atawa pelanduk. Mau berburu babi saja susah bukan main”. Saya hanya tertawa. Lidah saya terasa kelu, seperti kehabisan kata-kata menghadapi teman saya itu. Dia memang orang “realistis” atau katakanlah “pragmatis”.

Kita kembali ke soal norma. Oleh karena sanksi terhadap pelanggaran norma moral itu hanya ada di dalam hati – atau paling jauh kecaman masyarakat terhadap seeorang yang melakukannya – maka tidak jarang norma-norma moral itu kemudian ditransformasikan menjadi norma hukum, tertulis maupun tidak tertulis. Norma hukum lebih eksplisit rumusannya dan lebih tegas ancaman sanksi bagi barangsiapa yang melanggarnya. Penegakan norma-norma hukum dilakukan oleh sebuah otoritas yang memiliki kewenangan untuk itu. Sebenarnya, kalau norma-norma etika ditaati, maka pelanggaran terhadap norma hukum akan dapat diminimalkan. Sebaliknya juga, jika norma-norma hukum begitu longgar, tidak tegas atau memang belum mampu menjangkau suatu perbuatan, maka norma etika harus diperkuat. Tanpa itu, kehidupan masyarakat akan centang perenang, carut-marut tak tentu arah.

Di negeri kita, sejak kita memasuki era Reformasi — seperti telah saya singgung di alinea pertama tulisan ini — beberapa norma hukum kita telah diperlonggar, antara lain norma-norma hukum di bidang pers dan norma-norma kemerdekaan berserikat, menyatakan pikiran dan pendapat. Norma-norma hukum di bidang hak asasi manusia mulai dikedepankan. Semua itu sungguh positif bagi rakyat kita yang mendambakan tegaknya demokrasi di negeri ini. Namun di sisi lain, kecenderungan semakin melemahnya norma-norma etika terasa makin menguat. Kalau keadaan ini tidak menjadi perhatian kita bersama, maka secara perlahan-lahan bangsa kita akan mengalami keruntuhan. Kalau semuanya aji mumpung dan hantam kromo, maka sukar bagi kita untuk meraih masa depan yang lebih cerah. Tanpa kepatuhan terhadap norma etika, di tengah longgarnya norma hukum, maka orang dengan mudah menyuarakan apa saja yang ingin mereka suarakan, dan berbuat apa saja yang mereka inginkan, tanpa berpikir lebih jauh konsekuensi apa yang akan terjadi. Dalam suasana kebebasan menyatakan pikiran dan pendapat, orang dengan mudah menyebar-luaskan fitnah dan caci-maki tanpa beban apapun di dalam kesadaran hati nuraninya. Seperti telah saya katakan, kepekaan hati nurani mulai menghilang.

Sekarang, saya ingin kembali kepada fokus utama tulisan ini, mengenai pengalaman saya yang baru sebentar di dunia blog. Adalah keliru kalau kita mengatakan bahwa di dunia maya ini tidak ada norma hukum. Berbagai negara telah merumuskan berbagai kaidah yang disebut sebagai hukum dunia maya atau cyberlaw. Setelah adanya internet, berbagai jenis dan bentuk kejahatan baru muncul ke permukaan, yang disebut sebagai kejahatan dunia maya atau cybercrime. Namun, secanggih apapun hukum diformulasikan, tetap saja dia tidak mampu mengejar kecepatan perkembangan teknologi informasi. Di negeri kita sendiri, norma-norma hukum di bidang ini belum banyak yang kita formulasikan. Aparatur penegak hukum kita juga belum siap untuk menanganinya. Dalam suasana seperti itu, saya berpendapat, kepatuhan kepada norma-norma etika haruslah kita kedepankan.

Di alam demokrasi, tentu saja kita bebas mengekspresikan pendapat dan menyampaikan kritik secara terbuka. Di dunia maya, seseorang dapat mengemukakan pendapat kritik baik dengan menyebutkan nama asli, atau menggunakan nama samaran. Saya diingatkan oleh beberapa rekan, agar lebih melihat kepada substansi yang dikemukakan daripada melihat kepada siapa yang membuat posting. Saya sependapat dan berterima kasih dengan semua nasehat itu. Namun demikian, secara etis saya tetap berpendapat bahwa semua orang haruslah bertanggungjawab terhadap apa yang mereka lakukan. Seseorang tidak dapat berdalih kebebasan, kemudian melakukan serangan dengan kata-kata yang keras dan tajam di luar batas-batas norma kepatutan terhadap orang lain. Seseorang tetap tidak dapat dibenarkan menyebarkan rumors, apalagi fitnah yang dapat menyebabkan runtuhnya harkat dan martabat seserang.

Dari sudut pandang etika, sangatlah tidak bertanggungjawab, apabila seseorang yang menggunakan nama samaran mengumbar fitnah dan caci-maki terhadap seseorang yang ada di alam nyata. Besar kecilnya dampak segala rumors, fitnah dan caci-maki, haruslah dipulangkan kepada mereka yang menjadi korban. Kita tidak dapat mengatakan: dampaknya tidak besar, karena itu boleh saja kita melakukannya. Berapa banyak mereka yang mungkin menjadi korban, namun tidak berdaya. Akhirnya membiarkan semua itu berlalu begitu saja. Kita tidak boleh pula mengatakan, bahwa semua itu adalah risiko menjadi orang terkenal, entah politikus, pejabat pemerintahan atau artis dan bintang film. Memang itu adalah risiko, tetapi apakah memfitnah dan mencaci maki, secara etika tetap dibenarkan?

Pengalaman saya di dunia blog ini juga menyadarkan saya bahwa tidak semua orang yang nampak garang, akan bersedia menerima kegarangan orang lain terhadap dirinya. Tidak sedikit yang menulis dengan nada sangat kritis terhadap seseorang dan kemudian ditampilkan di dalam blog mereka. Namun, ketika kritik itu ditanggapi dengan kritis pula, mereka mendelete posting itu dan tidak menampilkannya. Tentu saja di dunia perblogan hal itu memang dimungkinkan, sesuai aturan permainan yang disepakati. Tetapi fenomena ini menunjukkan bahwa mereka yang berteriak demokrasi dan kebebasan berekspresi, ternyata secara mental belumlah siap. Mereka hanya ingin hebat sendiri dan ingin menang sendiri. Kritik hanya berlaku bagi orang lain, tapi bagi awak nanti dulu. Namun, fenomena seperti itu ternyata bukan hanya di dunia blog. Beberapa koran yang memiliki edisi online juga melakukan hal yang sama. Begitu garang mereka membuat berita. Begitu tajam mereka menulis editorial atau tajuk rencana. Namun ketika ditanggapi dengan kritis, mereka memoderasi tanggapan itu. Masih untung kalau demikian. Sebagian malah hanya menampilkan tanggapan itu sejam dua jam, sesudah itu tak nampak lagi di layar kaca.

Saya ingin bersikap terbuka dengan siapa saja di blog saya ini. Selama blog saya ini ada, hanya sekali saya mendelet sebuah kalimat dalam posting yang isinya dukungan untuk mengkonsumsi narkotika. Selebihnya, saya membiarkan apa adanya. Saya berusaha sekuat hati agar tidak terlena dengan segala macam pujian dan sanjungan. Saya akan terus berjuang sepenuh hati pula untuk menahan diri terhadap segala kritik, walaupun dengan kata-kata yang tajam. Saya telah belajar bahwa menanggapi kritik yang tajam dengan kata-kata penuh tuduhan dengan kata-kata yang sepadan, hasilnya hanya akan sia-sia. Ketika saya menanggapi Dragonwall di Indonesia Matters, saya telah menggunakan kata-kata yang keras dan tajam, walau saya kira belum sebanding dengan kata-kata keras yang ditutujukannya kepada saya. Beberapa rekan menasehati saya akan jangan bersikap demikian. Saya berterima kasih atas segala nasehat itu, dan saya menerima kritik yang mereka sampaikan.

Kepada Dragonwall, siapapun Anda, saya mohon maaf kalau saya telah menggunakan kata-kata yang keras dan tajam, walaupun  seperti telah saya katakan di atas, mungkin belum sebanding dengan kata-kata yang telah Anda gunakan terhadap saya. Saya juga mengakui bahwa saya larut dalam suasana, sehingga saya salah menangkap apa yang Anda tuliskan. Benar, bahwa Anda tidak menyerang istri saya. Serangan terhadap istri saya ada di dalam topik yang lain, baik di Indonesia Matters maupun di Indcoup. Saya berterima kasih kepada seorang rekan yang menyarankan agar saya membaca blog yang terakhir ini. Saya juga telah salah memahami, serangan Anda kepada Aburizal Bakrie, seolah-olah serangan terhadap saya.

Saya menyadari bahwa berbagai hal yang dikemukakan Dragonwall, Janma, Arema, Bonar dan yang lainnya, baik di Indonesia Matters maupun di Unspun, atau tulisan lain di blog yang lain, suatu ketika nanti memang perlu saya jelaskan dari sudut pandang saya sendiri, dengan argumentasi-argumentasi dan bukti-bukti yang saya miliki. Apabila nanti semua telah saya jelaskan, maka segala sesuatunya akan saya kembalikan kepada mereka yang berkepentingan. Saya tidak mempunyai kewenangan apapun untuk memaksa orang lain untuk menerima, kalau mereka memang tidak merasa yakin. Saya sendiripun tidak dapat juga dipaksa orang lain terhadap apa yang saya sendiri tidak pernah yakin. Jika semua ini terjadi, saya menyerahkannya kepada pembaca yang lain untuk menarik kesimpulan sendiri-sendiri dan memberi penilaian. Saya hanya akan berserah diri kepada Allah Ta’ala. Mungkin waktu jualah yang akhirnya akan mengungkapkan tabir dari sebuah kebenaran. Terhadap mereka yang terus ngotot dan ingin benar sendiri serta tidak pernah berhenti menyerang, saya hanya akan berdoa seperti doa Nabi Isa a.s: Ya Allah, ampunilah dosa orang-orang ini, karena sesungguhnya mereka tidak mengerti apa yang mereka perbuat. Sementara saya, akan terus berusaha untuk bersabar dan mengendalikan diri.

Keinginan saya untuk menulis, memberikan tanggapan dan menjelaskan berbagai hal di dalam blog ini kadang-kadang memang terasa melelahkan. Saya ingin menegaskan bahwa semua tulisan yang saya buat, termasuk semua tanggapan, adalah tulisan saya sendiri. Tidak ada orang lain, apalagi staf yang membantu saya menulis dan memberi tanggapan. Ekspressi pikiran dan perasaan saya dalam menulis, nampak telah mempunyai nuansa tersendiri, yang mudah-mudahan dapat dibedakan oleh orang yang membacanya. Istri saya kadang-kadang saja membantu memperbaiki ejaan dan tatabahasa, jika saya menulis di dalam Bahasa Inggris. Kadang-kadang dia juga membantu saya menganalisis suasana batin seseorang sebagaimana terekspresikan ke dalam posting. Bahkan tidak jarang dia juga menganalisis suasana batin saya sendiri ketika saya menulis. Dia memang berlatarbelakang pendidikan psikologi dan gemar menelaah literatur filsafat.

Saya ingin mengakhiri tulisan ini, dengan menegaskan sekali lagi, bahwa saya banyak belajar dan memetik hikmah dari dunia blog ini. Saya hidup di sebuah zaman, ketika perkembangan teknologi informasi telah berkembang maju. Begitu banyak tulisan yang dimuat, yang secara langsung atau tidak, bersintuhan dengan diri saya sendiri. Saya berkewajiban untuk meluruskan, menjelaskan dan bertukarpikiran terhadap hal-hal yang saya pandang perlu untuk ditanggapi. Sementara itu, kesempatan yang ada ini dapat pula saya manfaatkan untuk menyumbangkan pikiran dan gagasan, serta berbagi pengalaman. Semoga semua itu akan ada manfaatnya bagi saya pribadi dan bagi kita semua.

Akhirnya, hanya kepada Allah Ta’ala jua saya mengembalikan semua persoalan.

Wallahu’alam bissawab.

Share:

Facebook
Twitter
WhatsApp
 Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc.

Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc.

“Sistem yang baik akan memaksa orang jahat menjadi orang baik dan, sebaliknya, sistem yang tidak baik akan memaksa orang baik menjadi tidak baik.”

108 Responses

  1. Nah.. selamat. Pak Yusril sudah maju dengan mental pemenang. 😀 Selamat datang di dunia kebebasan, Pak! (iya sih, kebebasan itu absurd, apalagi yang di internet :D)

  2. Secara umum, kebebasan itu ada batasnya. Tetapi sampai mana batasnya itu, masih dalam persepsi subjektif dari tiap kelompok maupun perorangan ..

  3. Maaf pak Yusril, numpang komentar.

    @ndoro kakung:
    Menurut saya perlu, namun belum punya bayangan bagaimana merumuskannya. Seperti juga etika di dunia nyata, yang sangat beragam sesuai norma yang berlaku di suatu komunitas/masyarakat. Saya sangat mendukung seandainya ada yang mau bersama-sama merumuskan “etika universal” di dunia maya khususnya dalam hal memposting dan mengomentari blog. Tapi apakah nanti blog akan kehilangan kekuatannya dlm hal kebebasan berekspresi? *bingung*.

  4. Pak,
    Katanya ada yah kebebasan bagi warga untuk mengakses informasi negara selama tidak melanggar kerahasiaan negara ?

    Kalau iya ada, nanti kapan2 ditulis di Blog ya pak, pengalaman bapak selama di ‘ring 1’. Tentunya untuk informasi-informasi yang bermanfaat bagi khalayak ramai. Dan yang bisa kita petik bersama hikmahnya.

  5. Assalamualaikum P Yusril.

    Beberapa tahun terakhir kebanyakan dari kita memang tenggelam dalam euphoria kebebasan dan demokrasi. Malah menerut saya cenderung “kebablasan” dari pada “kebebasan”. Banyak yang suka menyuarakan sesuatu dengan prinsip “pokok’e” (bhs jawa). Asal tidak setuju, tanpa menawarkan alternatif. Sedikit-sedikit turun ke jalan untuk demo (dipikirnya demonstrasi = demokrasi). Sering tema yang diusung suatu demo adalah penegakan hukum, tetapi demonya dengan melanggar hukum, pakai motor tanpa helm, duduk diatas kap bus dlsb.

    Kebebasan di Internet? Saya rasa juga ada batasnya. Di Australia, sudah banyak yang ditangkap polisi akhir-akhir ini karena memposting komentar tidak senonoh di blog seorang remaja putri.

    BTW, senang baca tulisan bapak, banyak pencerahan yang saya peroleh.

    Wassalam

  6. Akhirnya…

    Alhamdulillah, akhirnya Prof memutuskan untuk memulai wacana yang lebih bermutu ketimbang meladeni dragonwall di indonesiamatters. (kami lebih dulu mencoba mengcounter beberapa statement bung dragon tetapi nampaknya mengendap di redaksi indonesiamatters. Ya sudah.)

    Prof YIM yth. Dalam beberapa hal, nampaknya Anda adalah seorang yang jujur (nyaris identik dengan lugu). Di sisi lain, meski Anda sekarang bukan pejabat negara, tetapi Anda masih memiliki akses terhadap penyelenggaraan negara ini. Jadi kalau ada yang mengusulkan agar Anda mencalonkan diri sebagai capres, hendaknya itu diartikan sebagai harapan agar negara yang telah berada di bibir jurang kehancuran ini, mungkin, bisa diselamatkan oleh seorang akademisi hukum tatanegara yang punya pengalaman dikhianati (dan punya pengalaman nge-blog hahaha).

    “Ditelikung”-nya Anda oleh pers, mungkin merupakan PR seorang pakar hukum agar kelak kebebasan pers tak lagi dimanfaatkan untuk mengangkat seseorang dan menjatuhkan yang lain. Masih dalam konteks kebebasan, agaknya diperlukan perangkat aturan agar indonesiamatters, misalnya, atau berbagai mediamassa, tak dapat lagi pilih kasih dalam memuat dan mengedepankan opini publik.

  7. rasanya saya salah kamar deh… saya pindah ke kata pengantar aja ah… bang Yus komen disini mohon di hapus ajah….

  8. whalaah.., akhirnya saya dapat juga sedikit hikmah dan pembelajaran.

    Padahal sudah lebih setahun saya berblog-ria. Entah sudah berapa situs yang saya, pembuatnya bahkan tidak bisa mengakses karena lupa password. Sedikit pembelajaran yang saya dapatkan, mungkin bisa disebut begitu, adalah mending ga usah buat situs, jelajahi saja, komentari dimana perlu.

    untuk orang sekelas saya yang menulis buku harian saja tidak (disempatkan), itu lebih baik.

  9. Kebebasan itu ada….
    Karena tidak adanya tekanan…..
    Tekanan akan konsekuensi dari kebebasan yang ia gunakan….
    Tidak selamanya seseorang berani karena benar….
    Terkadang orang berani karena bodoh…..

    Sebagai orang yang pinter….
    Tentunya sebuah negara gak bakalan nyerang negara lain yang jelas-jelas punya power kayak “senjata nuklir” kalo gak mau mati….
    Itulah sedikit alasan kenapa orang “enggan” membuka jatidirinya ketika menghadapi negara super power “gue punya kekuatan untuk menjarain elo kalo perlu” seperti bapak…

    Selama bapak masih menjabat dan berpengaruh…mohon dimaklumi kalo saya (mungkin kami dan mungkin hanya beberapa orang dari kami) tidak berani menyampaikan kritik secara terbuka seperti apa yang bapak inginkan…

    jadi inget rezim harto kan?
    Begitu turun baru deh semua orang berani buka mulut

  10. Selamat datang pak di ranah blog “republik indonesia”.
    Menurut saya kebebasan atau kemerdekaan yang hakiki adalah tidak akan pernah ada selama kita masih menjadi yang diciptaKan. 😀 Nurani dan Hikmah lah yang akan mengawal setiap individu untuk menjadi lebih baik baik.

  11. Cyberlaw di Indonesia?
    kalau Cybercrime… banyak..!
    Sebagai pakar hukum dan sudah masuk ke dunia cyber, tidak ada salahnya jika bapak membuat formula hukum terhadap cybercrime.. Kalau sdh jadi, rame2 kita datang ke DPR untuk disyahkan.
    Tapi siapa yg mau membayar DPR agar undang2 cybercrime ini mulus utk disyahkan…
    (Jangan bilang… “Gitu aja kok repot..!)
    La, repotlah… hehehe…
    Wong, undang2 pornografi dan porno aksi aja sampe sekarang DPR belum mensyahkan… (mungkin dpt “mengganggu” kinerja” anggota DPR… kali ya?)

  12. Wah…jadi ikut metikhikmahnya nih pak…
    thx…n wellcome di ranah blog

    bisa request gak pak.?
    Posting tentang masa muda bapak ketika berguru dengan
    tokoh2 nasional..

    trims sebelumnya

  13. salam kenal pak Yusril. senang akhirnya blog resmi bapak hadir pasca di blogspot. saya jadi dapat sumber baru untuk belajar 🙂

    mohon ijin untuk sedikit berpendapat, bang yusril..
    anyway, sometimes saya justru merasa etika di dunia internet or blogger justru lebih beretika daripada di dunia real. paradoks kebebasan disatu sisi justru malah menyebabkan law of nature itu terjadi. ketika kita menulis asal, akan ada banyak orang yang memprotes. ketika kita difitnah, ada sekian banyak pula yang memberikan data-data yang justru membantu kita memposisikan diri dengan benar. blog yang isinya cuma pengen cari ratting tanpa ada “isi” hanya akan menikmati popularitas sesaat, lalu mati dengan sendirinya. kita tidak lagi terpaku oleh bahwa “yang muda tidak boleh bicara”, tidak lagi dibohongi oleh penampilan yang perlente dan sebagainya.
    dunia ini memberikan potret etika, keadilan dan kebebasan tersendiri buat kita..
    salam, bang yusril…

  14. Beberapa koran yang memiliki edisi online juga melakukan hal yang sama. Begitu garang mereka membuat berita. Begitu tajam mereka menulis editorial atau tajuk rencana. Namun ketika ditanggapi dengan kritis, mereka memoderasi tanggapan itu.

    Amat betul sekali pak. Salah satunya dibahas disini

    Pengalaman Menteri Pertanian (Pak Anton) juga serupa. Beliau difitnah di media massa. Lalu untuk mengklarifikasinya, beliau mengadakan press release.
    Kemudian apa yang terjadi ? Press release tersebut tidak ada dimuat, sehingga sama saja seperti beliau tidak pernah merespons sama sekali.
    Belakangan baru diketahui bahwa beberapa boss media ybs punya business interests yang terancam dengan kebijakan2 Pak Anton yang pro rakyat.

    Akhirnya beliau minta tolong untuk dibuatkan blog. Walaupun sampai saat ini beliau masih dibantu oleh staffnya (sampai dikritik karena blognya seperti press release), namun beliau membaca SEMUA komentar dan membalasnya.

    Yang lucu, dulu itu semua komentarnya beliau balas langsung via email (karena saya setting agar komentar yang masuk di blog otomatis dikirim ke email beliau). Bagus sih, cuma sayang kan karena replynya jadi hanya bisa dinikmati oleh komentator ybs 🙂

    Setelah saya kirim panduan cara membalas komentar di blog, kemudian pak Anton sudah mulai membalasi beberapa komentar dari posting-posting ybs.
    Masih tertarih-tatih, karena kesibukan & berbagai keterbatasan beliau, namun kita perlu hargai niat baik & semangatnya.

    Nah alhamdulillah pak Yusril ada diberi kelebihan oleh Allah swt yaitu kemampuan untuk mencurahkan pikirannya dalam bentuk tulisan. Mudah-mudahan dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, Amin.

    Thanks.

  15. Assalamualikum bang Yusril,

    Tulisan yang luar biasa, inilah salah satu kelebihan bapak yang saya kagumi, kemampuan bapak untuk memindahkan tulisan kedalam visualisasi yang mudah untuk dimengerti. Saya seolah membayangkan bapak sedang berdiri didalam kelas memberi kuliah filsafat.

    Bagi saya kebebasan adalah keseimbangan. Normatifnya membicarakan kebebasan sama dengan membicarakan sesuatu yang secara lahiriah sudah ada sebelum ada itu sendiri ada. Sesuatu yang “sengaja” diciptakan oleh sang khalik karena kesempurnaan hanyalah milikNya. Jika kebebasan itu adalah milik manusia maka manusia dalam konteks khaliknya cukuplah sampai pada tahap keseimbangan.

    Yang selalu menjadi pertanyaan atas persoalan kebebasan adalah siapa yang menentukan kebebasan. Dalam konteks yang lebih heroik sejauh mana kebebasan mampu berkontribusi pada perubahan. Padahal secara lahiriah manusia terdorong kearah perubahan. Sulit bagi saya untuk membayangkan perubahan Indonesia yang lebih baik jika Negara dalam hal ini pemerintahan yang sedang berkuasa terlalu mendominasi defenisi tentang kebebasan itu sendiri.

    Kebebasan dalam bahasa sang khalik atau keseimbangan dalam bahasa manusia adalah lahir dari ketidakbebasan atau ketidakseimbangan itu sendiri. Malah dalam salah satu literatur yang sempat saya baca kiamat itu sendiri adalah akumulasi dari ketidakseimbangan. Mati atau meninggal awam dikatakan sebagai kiamat kecil adalah salah satu bentuk ketidakseimbangan tubuh dalam merespon dunia luar. Maka sampailah manusia pada keseimbangan baru. dalam Islam mereka memulai hidup dalam alam barzah.

    Yang menjadi persoalan adalah persfektif kita tentang keseimbangan itu sendiri yang cenderung melihat ketidakseimbangan sebagai sesuatu yang “negatif”. Mungkin hal ini dipengaruhi oleh naluri alamiah manusia untuk mencapai kesempurnaan. Padahal sudah sangat jelas dikatakan bahwa kesempurnaan hanyalah milik sang khalik. Tidak pernahkah kita melihat ketidakseimbangan sebagai sesuatu yang positif. Pembangkit Listrik Tenaga Air misalkan yang digerakkan oleh air yang mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Mengalir dari sesutu yang berasal dari ketidakseimbangan tempat. Atau bukankah ketidakseimbangan pula yang menghantarkan tokoh-tokoh muda maju dalam pentas politik nasional diawal orde reformasi.

    Demikian halnya dengan etika kebebasan menjadi sangat relatif jika kita melepaskan kebebasan pada kebebasan itu sendiri. Ia menjadi sangat subjektif karena norma dan Etika akan sangat ditentukan oleh dominasi kepentingan dalam lingkaran dampak dari kebebasan itu sendiri. Mungkin kebebasan menjadi kurang bermakna. Namun apalah arti makna itu sendiri bagi kebebasan. Sekali lagi kebebasan hanya milik sang Khalik manusia tidak akan pernah sampai pada kebebasan sejati. Bagi saya debat tentang kebebasan tak kan pernah sampai pada kata sepakat walaupun etika dan norma diikutsertakan dalam ruang yang sama. Terima Kasih

  16. Ass, wr. wb. Pak yusril, sangat bagus sekali posting ttg makna kebebasan, tulisannya sangat dalam n filosofis. Saya berharap rekan2 blowgger dapat tercerahkan. oya terkait dengan fitnah dan berbagai pernyataan tendensius terhadap pribadi bpk beserta istri yang dilakukan oleh dragonwall dll, saya hanya ingin sampaikan, bahwa hal2 seperti itu tdk usah direspon pak yusril, anggap aja itu orang sinting/orang yg ga punya etika dan agama. Wassalam FIRDAUS ARIFIN

  17. Saya berpendapat sudah seharusnya pemerintah memberikan perhatian lebih kepada blogger saat ini. Alur lalu lintas opini dan berita dalam blog bisa dijadikan inputan bagi pemerintah, pun kebebasan dalam berblog harus diperhatian.

  18. Dear Pak Yusril,

    Pertama tama saya ingin menyampaikan selamat atas perkembangan yang telah Anda alami selama sebulan mengarungi dunia Blog.

    Saya ingin share tentang tema kebebasan dalam dunia Blog. Kebebasan akan selalu tak pernah cukup, sama seperti halnya nafsu, kalau diperturutkan tak akan ada habisnya.

    Saya mewajibkan orang yang komentar di Blog saya untuk berkata santun dan menggunakan identitas asli (bukan samaran). Sangsinya jika dilanggar adalah paling ringan tidak saya tanggapi tapi paling berat saya akan hapus komentarnya.

    Sampai sekarang saya belum pernah menghapus komentar karena pengunaan nama samaran tapi kalau penggunaan kata kasar pernah karena menghujat Kerajaan Malaysia dengan perkataan sangat kasar (walaupun saya sedang tidak suka dengan Malaysia tapi saya tidak setuju hujatan sarkastik rendahan ada dalam Blog saya).

    Walhasil yang komentar jadi lebih sopan dan bermartabat dalam berkomentar. Sungguhpun demikian mereka masih tetap mengeluhkan sikap saya tidak memperbolehkan penggunaan nama samaran.

    Saya bilang kalau tetap mau pakai nama samaran jangan berharap terlalu banyak dari tanggapan saya. Rupanya mereka memilih tetap menggunakan nama samaran tapi tetap ingin mendapat tanggapan yang komprehensif dari saya.

    Saya tetap beri tanggapan seproporsional mungkin dengan sarat penggunaan bahasa yang santun. Jadi mereka tetap ingin menikmati kebebasan tanpa harus “membayar mahal”.

    Hikmahnya bagi saya dalam menanggapi komentar yang menyerang adalah latihan mengendalikan diri, tenang dan adil dalam menanggapi komentar.

    Jam terbang dalam blogging sangat mengambil peran penting. Masih banyak blogger yang tidak mau menanggapi komentar negatif. Seperti yang pernah saya lihat: menjawab dengan tenang dan penuh pengertian akan mampu mengubah pandangan komentator negatif tersebut.

    Akan sulit diceritakan, saya yakin Pak Yusril suatu saat nanti akan mengalaminya, atau bahkan mungkin sudah mengalaminya karena penjelasan Pak Yusril pada postingan saya.

  19. Assalamu’alaikum Wr.wb.
    Wah, selamat memasuki dunia maya, Pak Yusril. Salut nih sudah mau berbagi ilmu dan pengalaman melalui blog.
    Tentang makna kebebasan di dunia maya, memang orang bisa ngomong apa saja, tanpa dibatasi dimensi ruang dan waktu. Namun, perlahan tapi pasti akan terseleksi dengan sendirinya oleh “alam”. Mereka yang tidak bisa menggunakan kebebasan berekspresi dengan rasa tanggung jawab, pengunjunglah yang akan menjadi hakimnya. Ini artinya *halah sok tahu nih* kebebasan di dunia justru akan sangat dibatasi oleh kemungkinan2 pendapat lain yang akan disampaikan oleh publik. Lain dengan demo, misalnya, habis orasi, mereka bisa langsung menghilang. Tapi di dunia maya, tulisan2nya akan terus memfosil dalam ranah publik.
    OK, salam kenal, Pak.

  20. Assalamualikum

    Salam keseimbangan para netter seantero…

    Pak Yusril, senang bisa dapat langsung berdiskusi dan menyaring pencarahan dari Bapak.
    Sangat menarik posting Bapak ini, tetapi dari uraian diatas saya kurang dapat menangkap pokok pembahasannya, apakah ini semacam wejangan, Khotbah Jumat kata kawan kita diatas, curhat, atau Bapak ada merasa tersentil oleh sentilan sentilan dari komunitas di jagad maya ini.
    Namun paling tidak, bagi saya dapat menarik atas empat point, yakni KEBEBASAN, KESIMBANGAN, ETIKA dan HIKMAH.

    Sebelumnya sebagai saran, untuk lebih banyaknya kita menimba pencerahan dari Bapak, kalau bisa nantinya Bapak dalam satu kali posting, cukup satu topik saja kemudian kita dialogkan bersama-sama, apakah tentang kritikan terhadap bapak, tentang keilmuan yang sangat banyak Bapak miliki, tentang kehidupan bermasyarakat, bernegara, hukum, tata pemerintahan, kemiskinan dsb.
    sehingga kita bisa mengambil hilai/manfaat/hikmah dari dialog kita itu, juga sekaligus kita bisa memahami Bapak (sebelum dan sesudah dibukanya ruang Blog ini).

    Pertama, tentang KEBEBASAN, Bapak menanyakan tentang makna “Kebebasan”, “kemerdekaan” atau yang sepadan dengan itu.
    Sebenarnya Bapak sudah menjawabnya sendiri yakni : PARADOKS.
    menurut saya itulah jawabannya.
    Tidak ada yang sempurna didunia ini, kadang kita menuntut orang untuk menggunakan hak kebebasan/kemerdekaan dengan meminta untuk memperhatikan hak kebebasan yang kita miliki, tetapi apakah kita sendiri sudah memiliki standar kebebasan itu sendiri ?? memang di dalam agama ada norma agama yang mengaturnya, dalam bermasyarakat ada norma sosial yang mengikat, dalam bernegara ada hukum yang mengatur, tentunya Bapak lebih tahu dari saya.
    Tetapi Pak, Kadangkala karena kita hanya seorang Manusia yang pasti memiliki kelemahan itu tadi, pasti juga ada melanggar rambu Kebebasan itu. Semua kita manusia hanya bisa berusaha.

    Dalam kesempatan ini saya ingin mengomentari tentang Kebebasan Sosial yang mana fitrah kita sebagai Makhluk Sosial diluar tatanan HUKUM FORMAL atau AGAMA.
    Oleh sebab itu menurut saya kita harus mendudukkan terlebih dahulu hal mana yang kita anggap ada pihak lain yang mungkin menurut kita agak menyimpang dari nilai kebebasan itu yang secara umum kita sepakati. bagimanapun “pihak” yang kita anggap melewati garis kebebasan itu, pasti mereka juga memiliki argumen dan pandangan sendiri yang mungkin kalau dilakukan dialog yang lebih panjang lagi, mungkin kita sendiri akan “Tertegun” bahwa ada lorong lain yang mempunyai cahaya yang mendekati kebenaran, yang mementahkan argumen yang telah kita yakini benar tadi, jika kita sendiri mau mengakui.

    Sekilas saya berpendapat, Posting dan pemikiran bapak ini muncul, juga ada berkaitan dengan tersentilnya Bapak oleh kritikan terhadap diri bapak (semoga pendapat saya ini salah).

    Menurut saya Pak, itu adalah konsekuensi hidup (bukan konsekuensi jabatan, mantan pejabat, selebritis, dsb), orang yang tidak merasakan seperti anugerah yang bapak dapatkan (pernah menjadi Menteri, Pendiri dan mantan Ketua partai berpengaruh, Seorang Guru Besar, seorang Artis, memiliki keahlian yang beragam, dsb) apakah itu tukang bakso, kuli tinta, kuli bangunan, pengemis, TKW, PSK, juga sama seperti bapak, juga pasti mendapatkan kritikan, tekanan, cacian dari lingkungan sosialnya, cuma bedanya kalau orang yang seperti kami kebanyakan ini tidak terpublikasi itu saja cuma bedanya Pak.
    Dan sekiranya Bapak gerah dengan Publikasi yang Bapak anggap tidak berimbang itu, coba renungi lagi, bukankah bapak bisa menjadi besar salah satunya juga ada unsur Publikasinya ??
    Semua itu adalah warna kehidupan Pak, dalam diri kita saja ada darah merah dan darah putih, begitu juga hidup ada pro ada kontra, justru semua itu adalah untuk menjaga KESEIMBANGAN itu tadi.

    Kita tidak akan merasakan sebuah nikmat sanjungan dan pujian (yang bernada PRO) jika kita tidak ikut merasakan adanya nikmat sebuah hujatan (bernada KONTRA).

    Kita tidak bisa tuntut orang untuk seperti yang kita bisa.
    Kita menganggap orang tidak beretika, cara bicara atau memberikan pendapat yang seenaknya, kurang sopan dan santun, menurut saya BIARLAH….. itu tandanya orang tersebut memiliki kepedulian terhadap kita.
    kalau sejenak kita pulangkan kediri kita, apakah kita juga tidak pernah menyakiti orang lain ?? mungkin iya tidak dengan kata-kata, tidak dengan sindiran, tidak dengan cacian, tetapi bisa saja mungkin dengan gerak tubuh, dengan ujung pena berupa tanda tangan, dengan khilaf memenuhi janji, dsb.

    Pak, tanpa saya sadari sudah kepanjangan rupanya, tiada niat dan unsur untuk menggurui, Maaf saja jika kalimat saya Bapak rasakan seperti Menggurui, cuma begitu cara bicara dan bahasa yang saya punya Pak, semua hanya haus untuk mendapatkan nila pencerahan dan memperbaiki diri.

    Tiga Point lagi tentang KESEIMBANGAN, ETIKA dan HIKMAH nanti saja komentarnya, Takut kepanjangan, menjemukan bagi kawan lain yang telah antri untuk berbagi komentar.
    semoga Bapak mau membahasnya.

    Itu dulu Pak, nanti disambung lagi…..

    SALAM PENCERAHAN
    JEBEE

  21. Yusril,

    Setelah membaca cerita dan renungan anda ttg pengalaman pertama anda di dunia blogging, kami masih menunggu tulisan anda ttg isu2 yang lebih substansial 🙂

    Coba saya ingin menanyakan bagaimana pendapat anda ttg hal berikut ini. Apakah instrumen pemerintahan RI sebetulnya sanggup untuk berfungsi dengan memadai? Artinya, apakah sebetulnya riil untuk memerintah dan mengatur negara dr sabang sampai merauke, dengan penduduk 200 juta orang, dengan instrumen pemerintahan yg ada sekarang?

  22. #PrimaryDrive,

    Mudah-mudahan untuk kedepannya pak Yusril bisa memuat posting-posting yang “lebih substansial”. Dari apa yang saya tangkap, Pak Yusril masih dalam tahapan “pembiasaan” menggunakan blog sebagai salah satu “instrumen” media personal.

    Karena latar belakang politik dan kedudukan sebelumnya, banyak rekan blogger masih memandang pak Yusril sebagai politikus an sich padahal mungkin yang ingin dimuat di blog ini adalah pemikiran dari sisi personalitas 😀

    BTW, pertanyaan ini bisa menjadi posting baru, mudah-mudahan…

  23. @PrimaryDrive:

    “Apakah instrumen pemerintahan RI sebetulnya sanggup untuk berfungsi dengan memadai?”

    Pertanyaan itu menggelitik saya dari pagi tadi.
    Pertama, mungkin saya perlu bertanya tentang definisi term “instrumen” itu sendiri.
    can you please elaborate?

    Kedua,
    I get the feeling bahwa Anda meragukan “Negara” ini? Apakah Anda bermaksud menyatakan, bahwa “Indonesia” itu tidak realistis?
    apakah itu juga berarti Anda meragukan “Bangsa” ini?

    Ketiga,
    Maaf jika terkaan saya salah dan cenderung ad-hominem,

    Apakah Anda adalah salah satu dari para Self-Defeatists yang meragukan hak, kewajiban dan kemampuan diri untuk self-governing?

    Ataukah Anda cenderung separatist yang lebih suka melihat negeri ini terpecah belah karena tidaklah “riil untuk memerintah dan mengatur negara dr sabang sampai merauke” ?

    Atau mungkin Anda adalah revolusionis fasist ataupun sosialist yang pesimis terhadap bentuk pemerintahan?

    Atau ada kemungkinan lain?

    Dalam menanyakan pertanyaan ini, bulu kuduk saya sampai berdiri, Mohon rasa penasaran saya dipuaskan.

  24. menjawab dengan tenang dan penuh pengertian akan mampu mengubah pandangan komentator negatif tersebut.

    Setuju, reply yang baik kadang bisa menggugah lawan diskusi sehingga jadi bisa lebih terbuka terhadap pandangan-pandangan kita.

    Tapi memang ini sulit, apalagi kalau kita sudah diserang terlebih dahulu oleh ybs. Namun di beberapa kesempatan ketika saya coba melakukan ini, biasanya kemudian ybs jadi berbalik bisa memahami sudut pandang saya dan/atau meminta maaf kepada saya. Jadi saya kira memang idealnya begini. Cuma ya itu, saya juga masih berlatih terus untuk mempraktekkannya, karena sabar itu memang berat sekali 🙂

  25. Saya pernah melihat di media foto anda sedang/selesai jogging, menarik sekali! Dan juga foto yg lagi belanja di pasar.
    Sepertinya anda bugar sekali, itu perlu bos! duduk berjam-jam depan komputer/blog bisa pegal-pegal.
    Saya ada usul, dulu di bandung (masa kuliah) saya anggota pedestrian (klub hiking kota-hutan-gunung), asyik lo pak!
    Kapan gabung kita bos, jalan-jalan di jakarta, bisa lihat kondisi riel rakyat!
    asyik lo bos! abis itu kita makan-makan (apalagi ditraktir!)
    Bless you…..

  26. Bonar,

    “Apakah instrumen pemerintahan RI sebetulnya sanggup untuk berfungsi dengan memadai?”

    Pertanyaan itu menggelitik saya dari pagi tadi.
    Pertama, mungkin saya perlu bertanya tentang definisi term “instrumen” itu sendiri.
    can you please elaborate?

    Dengan “instrumen pemerintahan” saya memaksudkan semua infrastruktur yang kita gunakan dalam mengatur negara; jadi ini semua sistem birokrasi kita, mulai dari mentri, pegawai departemen, sampai ke pak RT.

    Kedua,
    I get the feeling bahwa Anda meragukan “Negara” ini? Apakah Anda bermaksud menyatakan, bahwa “Indonesia” itu tidak realistis?
    apakah itu juga berarti Anda meragukan “Bangsa” ini?

    Well, saya ingin menanyakan pendapat Yusril 🙂 Tapi anda benar, saya tidak percaya instrumen dan sistem pemerintahan yg kita gunakan akan membawa rakyat Indonesia ke kemakmuran dan keadilan yg dijanjikan. Sistem ini sudah berubah menjadi sistem macet, yg sebenarnya juga tidak terlalu mengejutkan melihat berbagai konstrain dan permasalahan yg kita coba pecahkan. Ibaratnya dengan sistem ini kita mecoba pergi ke bulan pakai becak. It’s not going to happen, and it’s a cruel lie we’re spreading to our millions of people.

    Pendapat saya sistem pemerintahan Indonesia tidak realistis. Mohon dicatat bahwa saya tidak menunjuk ke “bangsa Indonesia”, tetapi ke “instrumen” atau “sistem” yang digunakan bangsa Indonesia untuk mengatur dirinya.

    Apakah Anda adalah salah satu dari para Self-Defeatists yang meragukan hak, kewajiban dan kemampuan diri untuk self-governing?

    Heh, kalau anda ingin menanam padi anda pakai kerbau untuk mengolah lahan anda. Kalau anda ngotot pakai sendok teh, dengan sejuta patriotisme dan percaya diri anda tidak akan bisa melakukannya.

    So, kembali ke pertanyaan saya, apakah kita semua sudah pernah mempertanyakan apakah RI ini sebetulnya realistis?? Kalau “ya”, ok kita maju terus. Kalau tidak, mungkin lebih baik kita memusatkan energi kita untuk memikirkan alternatif yg lebih riil.

    Ataukah Anda cenderung separatist yang lebih suka melihat negeri ini terpecah belah karena tidaklah “riil untuk memerintah dan mengatur negara dr sabang sampai merauke” ?

    Betul. Sistem pemerintahan pusat ini tidak akan bisa bekerja lagi. Kita bisa coba ganti presiden A dengan B, B dengan C, dst. Tidak akan bekerja. Jarak pemerintahan antara pusat dengan daerah terlalu panjang. Saya rasa secara individu, daerah akan bisa lebih maju kalau berorepasi sendiri2.

    Presepsi anda bahwa ini kedengaran “separatis” atau “pecah belah”, itu cuma karena kita terbiasa dengan presepsi bahwa Indonesia harus merupakan kesatuan, dr sabang sampai merauke. But why?? Yg paling utama tentunya adalah bahwa rakyat bisa makmur. Kalau memang untuk mencapai itu kita harus membelah Indonesia jadi tiga, tujuh, atau tujuj belas, ya .. let’s do it!

    Sebuah “negara” itu bukan “given by axiom”. Negara itu tidak lebih dr sebuah sistem untuk mencapai tujuan bersama. Kalau tidak berfungsi, mungkin sudah saatnya untuk meninjau sistem baru?

    Atau mungkin Anda adalah revolusionis fasist ataupun sosialist yang pesimis terhadap bentuk pemerintahan?

    Fasist?? Ini anda jangan sembarangan menggunakan kata lho. Ini tuduhan berat! Tapi menjawab pertanyaan anda, suya bukan revolusionist, bukan fasist, bukan sosialist.

    Tetapi saya menganggap diri saya kritis. So, that makes me a Critist huh? 😉

    Dalam menanyakan pertanyaan ini, bulu kuduk saya sampai berdiri, Mohon rasa penasaran saya dipuaskan.

    Hahaha, well, yg jelas saya bukan setan 😉

  27. Hmmmm…… HTML tag-nya ngga kerja. Posting saya diatas kali jadi membingungkan dibaca krn ngga jelas yg mana kutipan, yg mana tekst saya. Duh…

  28. Assalamu’alaikum Wr.wb
    Pak Yusril, saya sangat antusias menunggu tulisan bapak dari beberapa hari yang lalu dan ingin belajar banyak hal. Tapi setelah membaca mebuat saya berfikir karena tulisan bapak benar-benar ungkapan perasaan. Untuk membacanya saja terasa melelahkan, bagaimana nulisnya pak!… tentunya bapak telah meluangkan waktu yang cukup banyak untuk ini.
    Baru kali ini saya membaca tulisan di blog yang saya ulang-ulang membacanya karena saya ingin menemukan makna setiap kalimat yang tersusun sangat rapih dan panjang, mungkin tulisan ini dapat di bagi menjadi 4 – 5 atau lebih judul.
    Salam atas kehadiran bapak di dunia blog.

  29. Assalamualaikum Pak Yusril,
    Selamat datang di dunia maya, dan salam kenal.

    Saya pernah aktif di dunia maya sekitar thn 2000-2002, dan menghilang selama kurang lebih 5th. Sekarang saya baru lihat-lihat perkembangan. Ada yang ingin saya sampaikan bahwa arsip-arsip saya yang saya posting 5th lalu, ternyata maish ada dan sangat mudah saya temukan lewat search engine.

    Dengan demikian mudah-mudahan bapak tidak mudah terpancing emosinya, karena sayang jika orang seperti bapak sampai meninggalkan arsip yang kurang baik. Dan mudah-mudahan pula saya, dan kita semua dapat mengambil banyak hikmah dari dunia yang luar biasa ini.
    Demikian saja komentar dari saya.

    Salam,
    Edy krisnadi

  30. #38 Abdul Kadir,

    Boss,

    Terima kasih atas ajakan anda…Gaya hidup saya tidak berubah dari dulu sampai sekarang. Di Jakarta saya pernah jualan ikan asin dan jual kelapa di pasar-pasar. Pernah saya jadi kondektur bis kota jurusan Lapangan Banteng- Tanjung Priok selama 5 bulan. Kadang-kadang tukar rute dari Tg Priok ke Cilincing. Kebiasaan saya pergi beli ikan, sayur mayur dan bumbu-bumbu sampai sekarang tidak berubah. Saya bisa mengajari istri saya memasak, sampai mengajari juru masak restoran.

    Saya hidup dari keluarga miskin di kampung. Di masa kecil saya membaca buku dan mengaji dengan lampu minyak tanah. Pernah suatu ketika sumbu lampu minyak sudah pendek. Ayah saya menjahit sumbu itu dengan kain lap bekas baju singlet agar dapat menghisap minyak. Sampai kelas 4 SD saya pergi ke sekolah tanpa memakai alas kaki, dengan baju yang ditambal-tambal. Waktu kecil saya menerima upahan memanjat pohon kelapa untuk memetik buahnya. Tahun yang lalu, saya masih memanjat pohon kelapa di Belitung, gara-gara teman saya orang Malaysia tak percaya saya pandai memanjat pohon kelapa. Dia bilang, di negerinya itu pekerjaan beruk, binatang sebangsa monyet…

    Sambil tertawa saya bilang teman-teman, saya tak perlu berteori jadi orang miskin, karena punya pengalaman empiris ttg itu. Sampai sekarang saya masih pergi memancing ikan di laut lepas naik perahu-motor kayu. Orang lain ada yang pergi mancing karena hoby. Saya katakan padanya, saya bukan hoby, karena di masa lalu itu mata pencarian saya. Kadang-kadang saya 2-3 hari baru pulang melaut. Saya sungguh menyadari betapa berat hidup jadi nelayan.

    Waktu saya jadi menteri, ajudan dan pengawal saya ajak ke laut dan pada mabuk semua. Begitu juga ketika naik gunung di Belitung, ajudan dan pengawal, yang sebenarnya anggota TNI dan Brimob, malah ngos-ngosan masuk hutan dan naik-turun gunung.

    Saya bilang pada pengawal, berani tidak dia memanjat pohon untuk mengambil madu. Mereka bilang, bisa gawat nanti digigit tawonnya. Saya akhirnya mengajari mereka bagaimana caranya mengambil madu tanpa digigit lebah.

    Saya mengenal hampir semua pedagang ikan dan sayur di Pasar Mayestik dan Pasar Ciputat. Juga pedagang ikan di Pasar Muara Karang, Pluit. Waktu mahasiswa, tempat “mangkal” saya adalah Pelabuhan Kalibaru dekat Tanjung Priok. Saya biasa melayarkan perahu layar menyeberang dari Jakarta sampai Pulau Karimata dekat Pontianak. Saya sungguh menikmati gaya hidup seperti itu. Sebab itu saya tak pernah jadi anggota Pramuka atau klub hobby. Sebabnya, karena hidup saya sudah seperti itu.

    Sampai sekarang saya masih lari di antara 6-8 km di aerobic stadium Senayan, atau sekitar tempat tinggal saya, tiga empat kali seminggu. Lebih setahun belakangan ini saya kembali latihan bela diri, karena main film Cheng Ho saya tidak pakai stuntman. Di China saya harus lari dan menunggang kuda melintasi pegunungan memimpin 3000 pasukan infantri pemberontak menggempur istana Kaisar Ming di kota Nanjing dari Beijing. Puluhan kali saya harus memainkan adegan perkelahian dengan pedang dan tombak. Juga menembakkan meriam kuno abad ke 15. Walau itu hanya film, tetapi ini sungguh pekerjaan yang berat dan melelahkan.

    Terima kasih Boss!

  31. #44 K’ Yusril.
    Wach, cerita latar belakang hidup K’ Yusril dari kampung halaman sampai Kota Jakarta, banar – benar seru dan mengharukan, saya jadi serius sekali membacanya. Karena dari dulu saya senang sekali dengan style K’ Yusril yang calm, cool, dan tawadhu’.
    Btw, tolong ajari saya, gimana cara mengambil madu tapi tidak tersengat lebah, karena waktu kecil saya pernah disengat lebah, bahkan sampai saya turun dari pohon pun masih dikejar kejar lebah itu, ternyata ia marah sekali sarangnya diganggu orang lain, akhirnya hidung saya jadi bengkak, terkena sengatannya.

    Salam Ta’zhim

  32. #44,
    Pak,

    Pengalaman jadi kondektur, melaut dan pengalaman waktu di kampung akan sangat baik jika dipost jadi satu tulisan. Ini akan jadi posting yang menarik.

    Saya sependapat dengan hamidfara_aza, saya saja pernah dikejar-kejar tawon gara-gara sarangnya yang seperti kendi tempat minum (banyak madu-nya) saya timpuk supaya jatuh. Saya bisa selamat setelah berbaring tak bergerak selama bermenit-menit tapi hidung saya kemasukan debu :-P.

    Mungkin banyak yang tidak tahu kalau bapak “pernah miskin” sehingga pre-asumsi rekan-rekan blogger, bapak tidak akan pernah tahu kerasnya kehidupan rakyat kebanyakan karena bapak dianggap sebagai bagian dari pejabat yang sudah hidup senang dari kecil…

  33. #45 Hamidfara dan #46 Vavai,

    Ha ha… Orang di Jakarta kadang-kadang nggak bisa membedakan antara lebah dengan tawon. Kalau tawon sampai tua juga nggak akan ada madunya. Saya pernah mentertawakan tetangga saya seorang dosen ekonomi yang membiarkan sarang tawon ada di pohon di halaman rumahnya. Saya bilang nanti malam dibakar saja. Caranya lampu dimatikan, dan bara api dimasukkan ke kaleng. Kaleng itu diletakkan di ujung sebatang bambu, dan didekatkan dengan sarang tawon itu. Nanti tawon itu mati semua. Tetangga saya itu bilang, jangan Pak Yusril. Kita tunggu sampai ada madunya. Kan lumayan. Saya bilang itu sarang tawon, bukan madu. Tapi dia nggak percaya. Ya sudah, terserah dia. Sarang tawon bisa besar seperti buah nangka. Kalau ditimpuk berantakan dan tawonnya ngamuk uber sana uber sini. Kalau gigit kepala bisa ubanan tiba-tiba, lho. Ada juga orang pingsan digigit tawon.

    Lebah madu biasanya ada di hutan, bersarang di dahan cukup tinggi. Jarang-jarang lebah madu masuk kota, walau ada juga. Ada semacam lilin di sarangnya dan dapat dibedakan dengan jelas dari sarang tawon.

    Untuk memanjat pohon mengambil madu pertama-tama kita nggak boleh pakai baju, karena lebah akan masuk ke baju dan menggigit kita. Jadi pakai celana pendek ketat dari bahan nilon aja. Badan kita dilumuri minyak, agar lebah tidak bisa hinggap di badan dan menggigit. Sebelum madu diambil, sarang madu harus diasap dengan menggunakan daun rumbia yang dibakar. Daun rumbia jenis tertentu di hutan — orang Belitung menyebutnya daun Nangak, pohonnya berduri — kalau dibakar asapnya akan membuat lebah jadi puyeng, enggak mati. Dalam situasi puyeng mereka nggak bakalan menggigit. Tetapi pakai celana ketat dan badan dilumuri minyak wajib hukumnya, sebab ada satu dua lebah yang nggak puyeng, mungkin nggak menghirup asap. Jadi itu berisiko bisa menggigit.

    Vai, saya agak malas menulis artikel di blog ini cerita-cerita kayak beginian. Bisa-bisa blog ini nggak intelektual lagi, nggak membawa pada pencerahan. Kalau orang kampung mereka nggak usah diajari bagaimana caranya menambil madu. Itu cuma mengajari buaya berenang saja. Lagi pula, cuma sedikit orang di kampung baca blog, barangkali. Sorry saya bukan ngeledek orang kampung. Saya ini tetap orang kampung juga.

  34. Ass, Wr. Wb.
    Pak Yusril, saya menyarankan ada baiknya bapak buat posting tersendiri mengenai sejarah hidup dan perjuangan bapak sejak dimulai dari kampung manggar di Belitung hingga Sampai di Jakarta, karena berdasarkan penelusuran saya terhadap komentar2 disetiap posting bapak, rata2 banyak blogger yang sangat antusias ingin tahu seperti apa sosok Seorang Yusril Ihza Mahendra. Dalam Pandangan saya kayaknya hal tersebut sangat penting, sebagai upaya preventif untuk mencegah informasi yang salah mengenai pribadi bapak. oya pak satu lagi bila perlu ceritakan juga mengenai sejarah nama Ihza dan Mahendra, Insya allah saya yakin banyak rekan2 blowgger yang belum tahu mengenai sejarah kedua nama tersebut.
    Tambahan buat rekan2 blogger yang mau tahu mengenai biografi Pak Yusril, bisa dibaca Buku Sang Bintangyang Cemerlang, yang ditulis oleh Saudara Firdaus Syam.

  35. #47.
    Terima kasih K’ Yusril, sudah comment and share atas pengetahuan dan pengalamannya, walaupun hal itu terlihat sepele, tapi itu adalah sebuah ilmu yang berharga bagi saya.
    Saya sangat menantikan tulisan K’ Yusril berikutnya.

    Salam Ta’zhim,

    hamidfara_aza

  36. @YIM:
    Quote:
    “Vai, saya agak malas menulis artikel di blog ini cerita-cerita kayak beginian. Bisa-bisa blog ini nggak intelektual lagi, nggak membawa pada pencerahan.”

    Justru terbalik pak, cerita kaya gitu yang kadang bisa memberikan pencerahan lebih daripada tulisan-tulisan yang diusahain intelektual.

    Ringan, Santai, mungkin kontroversial, dan setidaknya bikin “Oh, ternyata begitu ya?”.

    Tapi bukan berarti harus abandon samasekali tulisan2 penting.

  37. Mengapakah kebebasan harus ada jika ternyata tidak bisa sebebas-bebasnya?

    Maaf, kita sedang bertanya. Tidak punya maksud apa-apa dan tak terkait lain-lain kecuali bertanya.

    Makasih

  38. #Rusmanik. Itulah yang saya katakan dalam tulisan bahwa pertanyaan apakah kebebasan itu absolut atau tidak, adalah sebuah pertanyaan yang mengandung paradoks. Analisis dalam tulisan saya menunjukkan, walaupun semua bahasa mempunyai istilah “kebebasan” namun, baik secara fisik maupun sosial, ternyata kebebasan yang absolut itu tidak ada.
    Namun, apa boleh buat, istilah “kebebasan” tetap dipakai. Saya teringat kepada tulisan Syed Hossein Nasr, seorang pemikir Syi’ah, ketika membahas masalah takdir dalam ajaran Islam. Dia mengumpamakan istilah “kebebasan” dengan cahaya. Kebebasan walaupun ada batasnya, tetaplah kita namakan kebebasan. Demikian pula cahaya, betapapun kecil dan redupnya, tetaplah dia kita namakan cahaya.

  39. #54 Yu Djoem. Saya nggak jadi menteri lagi. Saya orang biasa aja kok. Mbok ya gak usah gemeteran Mbakyu…

    Komentar Mbakyu kok ono loro. Jadi saya yang satu saya delete aja, ya..

    Matur nuwun Mbakyu.. Saya juga baca blog Mbakyu.. Jadinya kepengen belajar Boso Jowo, he he …

  40. #47, Sebenarnya bukan tidak bisa membedakan tawon dengan lebah pak. Setahu saya, orang Betawi sini menyebut tawon untuk semua yang berjenis lebah, kecuali yang memang jelas-jelas punya nama, kumbang misalnya. Jadi, seringkali tawon diasosiasikan secara langsung dengan lebah.

    Lha kok jadi membahas soal tawon ya 😛

    Matur nuwun Mbakyu.. Saya juga baca blog Mbakyu.. Jadinya kepengen belajar Boso Jowo, he he …

    Bapak sudah menguasai bahasa Urdu, Tagalog dan Mandarin tentu akan sangat mudah belajar bahasa Jawa 🙂 .

  41. Assalamu’alaikum Wr.wb
    Memang berat pak! Saya belum membaca artikel yang bapak maksud namun saya cukup memahami karena begitu banyak manusia disekitar kita baik dikalangan atas maupun bawah yang tidak menggunakan nuraninya. Tapi saya yakin, pak Yusril akan dapat menghadapi semua itu dengan tenang dan dapat merubah apa yang bapak tidak suka kearah yang lebih baik. Setiap serangan harus direspon namun tidak dengan cara-cara mereka. Kita tidak perlu emosi karena kalau kita emosi berarti mereka menang sementara kita larut dalam kesal/marah/dendam/dsb berarti kita kalah. Apalagi serangan seperti itu, jelas orang-orang pengecut namun kalau tidak direspon juga dapat berbahaya.
    Sekalipun pak Yusril sekarang tidak duduk dikursi penguasa namun tanggung jawab moral terhadap bangsa ini. Coba bapak bandingkan tantangan yang dihadapi oleh pendiri Negara ini, apa yang bapak alami sangat kecil tapi bagi mereka tak ada kata menyerah!.

  42. #57 Vavai, terima kasih. Ketika saya menjadi mahasiswa filsafat, saya mengikuti kuliah filsafat Jawa. Saya terpaksa membaca terjemahan Serat Centini dan karya-karya Ronggowarsito seperti Serat Kalatida, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Belanda. Untung karya-karya filsafat Jawa yang agak “nyleneh” seperti Serat Darmogandul dan Gatoloco ada terjemahannya dalam Bahasa Indonesia. Waktu itu saya cari guru bahasa Jawa, tapi ternyata lebih mudah cari guru bahasa Inggris daripada cari guru bahasa Jawa, he he…

  43. tampaknya para politikus kita sudah menemukan cara kampanye baru,tidak lagi dengan mengerahkan masa dan menghadirkan para penyanyi dangdut,tapi melalui blog,inovasi tiada henti…

  44. #61,

    Terdengar Sarkastis…

    Bukankah sesuatu yang positif jika dunia blog Indonesia semakin diperkaya oleh tulisan-tulisan yang intelektual tanpa memandang latar belakang apakah blogger tersebut politikus atau bukan.

    Banyak saran kepada Pak Yusril yang meminta agar beliau tidak memandang latar belakang pemberi komentar, so, mengapa justru kita mempermasalahkan soal latar belakang politisnya ?

    Sepanjang tulisan yang diberikan adalah tulisan yang bermanfaat, entah itu dianggap kampanye atau bukan saya kira bukan sesuatu yang patut kita tolak.

  45. wah.. saya jadi merasa terharu dengan tulisan Pak Yusril. Kejujuran hati dan keterusterangan yang tertangkap membawa saya seperti membaca buku harian yang berisi curahan hati (curhat).
    Tulisan Pak Yusril juga banyak mengandung nilai2 moral yang mungkin sekarang sudah tersisihkan di dunia yang katanya modern ini.
    Semoga Pak Yusril tetap istiqomah dalam menulis blog dan memberi banyak pencerahan melalui tulisan Bapak. Memang kadang melelahkan, terlebih menulis di blog tidak ada bayarannya seperti halnya menulis untuk surat kabar.
    Namun saya harap Pak Yusril tetap semangat untuk terus menulis melalui dunia Blog. Saya tunggu tulisan bapak yang lain.
    Salam sehat..

    note: Mohon arahannya bagaimana supaya dapat seorang istri yang cantik. 🙂

  46. Waah.. tulisan kali ini panjang sekali. tidak semua ide dapat ditangkap, apalagi penjelasan bapak terlalu banyak mengaitkan dengan kejadian dan peristiwa dalam sejarah agama. barangkali satu atau dua peristiwa keagamaan saja dijadikan bahan penjelasan akan lebih baik, mudah dipahami dan teringat oleh para pembaca. Salam

  47. Soal seluk beluk dunia maya, saya menyarankan pak yusril untuk membaca buku Filosofi Naif Dunia Cyber karangan pak Onno W. Purbo. Barangkali dengan buku tersebut pak Yusril bisa mendapatkan gambaran yang lebih baik soal komunitas dunia maya.

    Soal kebebasan, saya juga berpendapat sama dengan Pak Yusril, tidak ada yang ‘bebas’ 100% saya kira. Semua makhluk di dunia ini terikat dengan sunnatullah.

    Soal hukum, nah ini nih, saya sih masih heran, kenapa Indonesia seperti tidak berniat untuk mengganti atau memperbaiki Undang-undang kita. Ya, dibikin lebih tegas saja sih maunya 😀

  48. Assalamu’alaikum Bang
    Saya rasa dengan pengalaman dan pemaparan dari Bang Yusril tentang kebebasan kita bisa dapat menelaahnya, kekebasan itu memang tidak ada hujungnya …

    Bang
    Saya dulu pernah bertemu dengan Abang waktu di PBB ( Partai Bulan Bintang ), waktu itu saya dengan ketua DPC Batam, Bapak H. Andi Ibrahim, ( tahun nya saya lupa ) kita sempat berbincang bincang lah, dan saya sangat senang bertukar pikiran waktu itu, dan saya minta Abang bisa menjelaskan waktu pencalonan Presiden pada Sidang Umum MPR 1999, Kenapa Abang mengundurkan Diri malah mendukung GusDur untuk maju,

    Saya juga pernah dengar Ceritanya dari Almarhum Bpk H. Husien Umar, Ketua Dewan Dakwah waktu itu, saya harap abang dapat menceritakan situasi politik pada waktu itu

    Wassalam

    zaidi

  49. Di dunia maya ini semua orang, termasuk orang setengah gila atau psikopat, bisa menulis atau memaki.

    Tidak ada batasan sebab mereka tidak perlu takut ada orang yang langsung menampar muka mereka seperti di dunia nyata.

    Polisi Cybercrime pun tidak berdaya kalau mereka memakai nama palsu, email gratisan dan berpindah2 dari warnet ke warnet.

    Tapi di dunia maya kesempatan berdakwah, menuangkan gagasan terbuka lebar.

    Alhamdulillah di:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam

    Telah berkumpul lebih dari 3.000 muslim untuk saling belajar dan berbagi ilmu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tiap hari kami berdiskusi dan saling memberi nasehat. Ini satu contoh positif dunia maya.

    Welcome to the jungle!

  50. pak Yusril ini blog ini juga dunia yang sebenarnya bukan maya, jadi penghuni jagat internet ini juga punya kewarganegaraan, tapi nggak punya KTP saja. jadi pak Yusril masuk di dun ia blog ini yang jelas akan banyak menyita perhatian dan waktu, apalagi Pak Yusril juga publik figur.
    sifat “agak pemarah yang sering kita lihat di tayangan TV jaman dulu itu mungkin saja akan terkikis kalo pak Yusril terus aktif ikut langsung mengelolah blog ini.
    moga ilmu hkumnya bisa bermanfaat untuk wilayah yang bernama internet ini pak.

    salam dari Kabargresik.co.cc

  51. saya ga sepakat pak kalo mlulu isi postingan kelas filosofis politis.. waduh..
    satu dua selipan ringan, cerita tawon (kalo di rumah dikenalnya namanya tawon gung) itu dan manjat pohon (sampe sekarang saya masih kalah sama bulik saya yang bisa cepet manjat kelapa), itu bisa menyegarken lho pak.. betul itu hehehehe…
    ini usul beneran lho pak, secara saya juga anak pramuka yang kalo suruh naik gunung juga ngos ngosan wakakakak

  52. Salam kenal Pak Yusril,

    Kebebasan dalam dunia maya itu memang sangat absurd, tapi semua harus dikembalikan lagi kepada para bloggernya. Jika semua menjunjung tinggi moral dan etika maka Insya Allah kebebasan itu tidak akan kebablasan.

    terima kasih

  53. Salam Bang Yusril,

    Percaya nggak percaya (saya) abang ada di internet untuk menulis sendiri lewat blog dan ikut meramaikannya lewat tanggapan2 langsung terhadap postingan bloggers-nya. Saya pikir, segala apa yang ada di dunia maya (blog) ini tidaklah berat bagi orang-orang yang baru ikutan…adu pendapat, komentar negatif, dsb. adalah hal biasa, he..he..he bahkan kehidupan dunia nyata lebih keras, bukan begitu bang?

    Btw selamat bang utk segalanya…dan Majulah Indonesia…!!!

  54. Yup, seperti ‘insiden’ kebebasan berekspresi kemarin lusa. Ketika seseorang meng ‘kolase’ kan photo bapaknya Agus Harymurti dengan Mayangsari. Para blogger melakukan pembelaan dengan heroik.

    Mereka lupa untuk membuat logika terbalik. Bagaimana jika photo ibu blogger tersebut di ‘kolase’ kan dengan photo tukang becak Pasar Kembang Jogya dalam posisi berpelukan, apakah dianya juga tidak akan protes.

    Jika ia tidak protes orang akan bilang ; anak macam apa tidak tersinggung ibunya dinista sedemikian rupa, meskipun untuk alasan kebebasan berekspresi.

    Jika ia protes orang akan bilang ; ia menerima kebebasan berekspresi jika ia pelakunya, tapi tidak mau menerimanya jika ia menjadi korbannya.

    Nah, lho !

  55. Pak Yusril … nampaknya yang mendesak untuk ditanggapi adalah pertanyaan PrimaryDrive kepada Pak Yusril ttg instrument /sistem negara RI yang dijawab Bang Bonar sehingga membuat peluang terbukanya polemik antara keduanya. Menarik juga untuk ditanggapi karena Pak Yusril pernah berada dalam lingkaran itu. Apa memang iya instrument itu tidak pas. Kalau menurut saya, instrument itu ibarat kapal/ kendaraan barangkali sudah bagus, tinggal nagodanya saja – yang sudah diganti berkali-kali – belum memahami dengan baik atau ada anggota kru kapal yang malas, tidak profesional, berebut tempat duduk dan berebut bagian sehingga kapal sudah oleng-pun belum menyadari. Jangan menunggu kapal sudah mau karam baru saling menyalahkan .. terima kasih ..

  56. Kata Nabi: Hikmah adalah harta yang hilang dari seorang muslim. Pungutlah dia di mana kita temui.

    Kita semua mungkin sedang belajar berdemokrasi, sekaligus menyelaraskannya dengan nilai-nilai agama yang kita junjung tinggi. Sayangnya seringkali kita sulit melakukannya. Barangkali itulah mengapa sulitnya mencari orang bijak, meski orang pintar banyak

  57. @n. jamil ghazali (#74):

    Setuju. Saya juga benar-benar ingin mengetahui dimana Pak Yusril berdiri dalam hal ini.

    Saya sendiri berterimakasih karena sudah diingatkan soal postingan comment PrimaryDrive, yang ternyata sudah ada balasannya lagi. Ya, terbuka untuk berpolemik tentang soal itu, mungkin saya harus minta ijin dulu dengan Pak Yusril untuk menggunakan tempat tanggapan ini.

    Pak Yusril, bolehkah pengunjung seperti saya “bertengkar” 🙂 di tempat tanggapan blog Anda?

    Omong-omong Pak Ghazali, saya masih muda, dik/nak Bonar saja, tidak usah pakai Bang. Hehehe 🙂

  58. #40 PrimaryDrive; #74 n jamil ghazali;
    #76 Bonar;

    Masalah yang dikemukakan memang menjadi fokus pemikiran saya sejak 30 tahun terakhir ini. Saya banyak menelaah pemikiran dan perdebatan ttg konsepsi bernegara sejak sebelum merdeka, sampai jauh di kemudian hari. Saya terlibat memberikan pandangan tentang hal itu menjelang dan ketika kita telah memasuki era Reformasi, khususnya ketika saya mulai melontarkan gagasan amandemen konsitusi. Pemikiran saya ketika itu dijadikan slogan oleh kalangan kampus “Tidak ada reformasi tanpa amandemen konstitusi”. Tetapi setelah amandemen dan kita menyusun berbagai peraturan perundang-undangan, ternyata masih banyak hal yang harus kita renungkan kembali. Hal itu bukan saja terkait dengan konsepsi demokrasi kita, tetapi juga terkait dengan struktur organisasi negara, di pusat dan di daerah, serta hubungan antara keduanya. Kalau saya menulis masalah ini, pasti akan sangat panjang. Saya akan mencobanya menulis di blog ini, nanti.

    Blog saya ini, Boss Bonar, terbuka untuk kita berdiskusi dan bertukar-pikiran. Bahkan berdebat secara argumentatif. Itulah maksud saya membuat blog ini. Dengan demikian, kita dapat saling belajar dan menyimak pandangan orang lain, walau mungkin berbeda dengan pandangan kita. Kebijaksanaan akan lahir, di tengah benturan pendapat yang berbeda-beda itu, kalau kita pandai memetik hikmahnya. Semoga demikian.

  59. Untuk menolong sesama tidak perlu menunggu punya uang banyak, punya jabatan, dsb. Itu bisa dilakukan sekarang juga dan di mana saja.
    Anda hanya punya uang rp 10 ribu? Anda bisa menyumbang antara rp 1.000-10.000 tergantung keikhlasan anda.

    Amal bisa sendiri, bisa dilakukan bersama2.
    Bisa dengan uang, bisa dengan ilmu.

    Boleh diskusi, boleh merenung. Tapi amal yang terbaik adalah dengan tangan/tindakan. Lisan/tulisan hanya merupakan peringkat 2 dan hati adalah yang terlemah.

    Untuk melihat bagaimana cara beramal (meski saya juga masih amatiran), silahkan klik:
    http://media-islam.or.id
    http://www.mifta.org

  60. Terima kasih atas jawabannya. Sungguh suprise dapat berdiskusi dengan tokoh nasional 😉

    Maaf pak, pertanyaan saya di komentar #51 kurang spesifik sehingga saya belum puas nih.

    Pertanyaan saya ulang ya pak

    Mengapa Tuhan memberikan benda bernama kebebasan jika ternyata tidak bisa sebebas-bebasnya?

    Makasih atas jawabannya.

  61. @Bonar #79

    Nah itu dia masalahnya. Pengennya sih nanya langsung pada Tuhan.
    Tapi nggak tahu caranya.

    Mungkin bisa di dekati secara filosofis. Mudah-mudahan Pak Yusril bersedia dan punya waktu untuk menjawabnya.

    Kami doa-kan supaya Pak Yusril tetap sehat dan bugar serta punya waktu untuk memuaskan kita-kita ini.

    Setujulah . . .

  62. #78 Rusmanik #79 Bonar

    Dari sudut pandang teologi, karena alam semesta dan juga manusia memerlukan keteraturan untuk menjaga keseimbangan. Kalau dalam Taurat, Tuhan menciptakan alam semesta dalam enam hari, dan istirahat pada hari ketujuh. Teolog Yahudi ada yang berpendapat, Tuhan tidak aktif lagi di dalam alam, karena alam bekerja secara mekanis mengikuti hukum-hukum yang telah ditetapkan di dalam alam. Dalam Islam ada perbedaan, karena Tuhan terus aktif memelihara dan menjaga alam semesta bahkan terus-menerus melakukan penciptaan, tetapi sejauh menyangkut sunnatullah, dibahas berulangkali di dalam al-Qur’an.

    Tentang manusia, mereka diberikan kebebasan untuk memilih dan bertindak. Karena itulah mereka bertanggungjawab di dunia ini, dan sekaligus di akhirat nanti. Tuhan memberikan kesadaran moral dalam hati manusia, yang disebut dengan fitrah yang membuat mereka tahu mana yang baik dan yang buruk. Di samping itu, melalui para nabi, Tuhan menurunkan wahyu sebagai petunjuk untuk membedakan hal-hal yang terkait dengan moralitas (dalam al-Qur’an di sebut dengan istilah “bayyinat” dan “furqan”). Kalau manusia mau bertindak sebebas-bebasnya, mau bunuh orang, mau mencuri, memperkosa dsb, bisa saja. Tetapi dia harus bertanggungjawab atas perbuatannya. Kebebasan tanpa dibatasi etika akan menimbulkan suasana kacau balau dalam kehidupan sosial.

  63. . . .

    Tentang manusia, … diberikan KEBEBASAN UNTUK MEMILIH DAN BERTINDAK. Karena itulah mereka berTANGGUNGJAWAB di dunia ini, dan sekaligus di akhirat nanti. Tuhan memberikan KESADARAN MORAL dalam hati manusia, yang disebut dengan FITRAH yang membuat mereka TAHU MANA YANG BAIK dan YANG BURUK.

    Di samping itu, melalui para nabi, Tuhan menurunkan WAHYU sebagai PETUNJUK untuk MEMBEDAKAN hal-hal yang terkait dengan moralitas (dalam al-Qur’an di sebut dengan istilah “bayyinat” dan “furqan”). Kalau manusia mau bertindak sebebas-bebasnya, mau bunuh orang, mau mencuri, memperkosa dsb, bisa saja. Tetapi DIA HARUS BERTANGGUNGJAWAB ATAS PERBUATANNYA.

    KEBEBASAN TANPA DIBATASI ETIKA AKAN MENIMBULKAN SUASANA KACAU BALAU DALAM KEHIDUPAN SOSIAL.

    . . .

    Mantafs . . . Sungguh sebuah pengalaman AHA

    Terima kasih pak. Kami doa-kan supaya Pak Yusril tetap sehat dan bugar serta punya waktu untuk memuaskan kita-kita ini.

  64. @rusmanik #81:

    Nah itu dia masalahnya. Pengennya sih nanya langsung pada Tuhan.

    TAPI…. tapi… are u sure u are asking the right question?
    pertanyaannya sendiri terlalu asumtif

    Bisa saja seolah2 mirip seperti ini: Seorang manusia bertanya kepada Tuhan, “ya Tuhan, kenapa kau beri aku sayap?”. Dia mengasumsikan bahwa dia punya sayap, padahal sebenarnya tidak.

    Kemungkinan kedua adalah kesalahan intrepretasi esensi kebebasan. Pertanyaan Anda mengasumsikan kebebasan adalah “sesuatu” yang diberi.

    Padahal, bisa saja seperti “gelap” adalah keadaan dimana berkurangnya “cahaya”, Kebebasan bukanlah sesuatu yang diberikan, tapi keadaan dimana diambilnya ikatan.

    Bukan pemberian, tapi pengurangan.

    Kalau memang begitu, berarti istilah kebebasan itu misleading dong? Lebih tidak ambigu kalau istilahnya diganti jadi “ketidakterikatan”.

    Kalau dari pemahaman ini, batasan kebebasan adalah “nature” dari makhluk itu sendiri. Keterikatan menyebabkan makhluk tidak dapat menggali potensi maksimumnya sesuai dengan “nature” nya, sehingga dapat disimpulkan, pengurangan keterikatan (=kebebasan) tidak lain adalah proses menuju sifat dasar dari makhluk tersebut.

    Jika memang itu definisi sejati dari kebebasan, maka atas pertanyaan kenapa kita tidak bisa bebas terbang atau jadi biawak, jawabannya sesederhana: “itu bukan nature kita, itu bukan potensi sejati kita”, karena sejatinya tidak ada larangan/ikatan untuk menjadi biawak, hanya saja (mungkin) bukan alaminya kita jadi biawak.

    Dalam pemahaman itu, jika kita mengaitkan kehendak dengan kebebasan, itu tidak lebih dari ilusi “superpower/supernatural”. Karena “sejatinya” (naturally), makhluk (mungkin) tidak dapat serta-merta mewujudkan “tataran ide”-nya ke dalam “tataran realita”-nya.

    Dengan pemahaman ini, kita akhirnya juga dapat memisahkan “kebebasan” natural, dan “kebebasan” buatan manusia.

    Nah, pertanyaan berikutnya mungkin adalah: “Apa iya, bahwa terbang bukanlah potensi natural kita?” (atau mungkin pertanyaan2 lain yg mirip seperti ini) Mungkin saja! mungkin saja kita terikat pada gravitasi, karena kita belum memahami sepenuhnya “natural” penuh kita. Tapi kalau sudah disini, bukan lagi pertanyaan filsafat eksistensialisme, mungkin lebih ke mistis 🙂


    Manusia: Tuhan kenapa Kau beri aku kebebasan?
    Tuhan: Hah? apa yang sedang kau bicarakan? I think you got me all wrong.

  65. Pemahaman yang serupa juga dapat diterapkan kepada pertanyaan:
    “Kenapa Tuhan menciptakan kebaikan dan kejahatan? Apa dengan begitu kita bisa bilang Tuhan itu mahabaik sekaligus mahajahat?”
    (maaf jika ada yang tidak suka saya berbicara sebebas ini)

    Jawabannya, bisa saja sebenarnya Tuhan hanya menciptakan kebaikan, dengan begitu, kejahatan tidak lain adalah keadaan dimana kebaikan telah diambil. Kejahatan tidak lebih dari habisnya kebaikan. Ini bukan yinyang! ini bukan minus 1 dan plus 1. Ini nol dan seratus.

    Akibatnya, pernyataan diatas bisa dijawab: “Oh tidak, kita cuma bisa bilang Tuhan mahabaik saja, tidak maha jahat”
    Sadly, logika ini juga bisa sebaliknya.
    Namun lebih dari segalanya, pertanyaan tersebut juga asumtif, bukan?

    Kembali ke soal kebebasan dan etika tadi.
    Jika kita membicarakan soal etika, dalam kerangka pikiran tadi, tentunya kita memberikan batasan yang (mungkin saja) tidak natural bagi satu orang, tapi natural bagi orang lain.

    Ketika seseorang mengatakan “Kamu tidak beretika!”. Pertanyaannya adalah:”Etikanya siapa?”
    Etika yang well-established di suatu masyarakat mungkin realitanya tidak applicable dimasyarakat lain atau malah diinternet.

    Agregat dari berbagai etika personal yang saling berbenturan kemudian menjadi norma sosial, yang kemudian mempengaruhi terbentuknya etika personal yang baru.

    Etika personal adalah “keterikatan” yang didefinisikan tiap-tiap orang sebagai pemahaman masing-masing terhadap “nature”nya. Dengan kata lain, orang yang “tidak beretika” berdasar standar kita, bisa saja sebenarnya sekedar memiliki pemahaman “esensi natural diri” yang berbeda dari kita.

    Kasarnya, orang yang tidak beretika, mungkin mengira esensi-natural-diri mereka adalah monyet!!! (maaf, cuma bercanda! jangan terlalu seriuslaaah)

    Tindakan meneriakinya “hey monyet monyet!” tidak akan menghasilkan apa2, karena, yah, ia khan sudah tahu itu. Lebih efektif jika kita menunjukkan esensi natural lain yang mereka tidak tahu: “Eh tau ngga? kamu bukan monyet lhoh!

    Dengan kata lain, mengatakan:”Anda tidak beretika” mungkin tidak akan seefektif: “Saya yakin, Anda lebih baik dari ini”.

  66. #Bonar.. Baahh… kau sudah kayak filsuf dan “frijdenker” saja, Boss Bonar! Tapi aku senang baca tulisan kau… Kapan-kapan kita nongkorng sama Boss Sabam Sirait untuk ngomong-ngomong. Di mana saja bossi, asal jangan di lapo tuak, ah… Bisa kacau nanti..

  67. Tentang etika, saya cenderung mengaitkannya dengan budaya dan kebiasaan. Hal ini rasanya tidak pernah dirumuskan secara formal dan verbal ataupun tertulis. Namun tentu saja sebuah aturan/hukum tertulis akan berkontribusi pada pembentukan etika.

    Misal etika orang barat saat berbicara sering mengatakan sesuatu itu bagus dan nampak seperti pujian di pikiran kita orang timur, padahal untuk mereka itu biasa saja dan bukan sebuah pujian, hanya bagian dari etika berbicara.

    Di kita justru sebaliknya, negeri yang katanya ramah dan penuh budaya ini justru sering bersikap dan berkata seperti negeri yang tidak beradat, tidak berbudaya dan tidak beretika. Entah, mungkin ini hanya bagian dari euphoria demokrasi dan free speech di dunia maya.

    Di internet tidak ada yang bisa dan dianggap berwenang untuk merumuskan suatu aturan, termasuk etika. Dunia ini tanpa batas geografis dan budaya di mana semua budaya blended menjadi budaya baru bernama cyber culture. Budaya ini pun menghasilkan etika baru, yaitu netiket – internet etiquete (sering didengar pada etika ber-mailing list).

    Apakah etika offline dapat mempengaruhi etika online? Tentu saja, wong pelakunya orang juga yang membawa budaya dan etika masing-masing. Kedewasaan pribadi yang bersangkutan juga ikut mempengaruhi.

    Internet masih relatif baru, kita berada dalam masa pembentukan sebuah budaya dan etika baru, selalu ada hal baru di dalamnya yang mempengaruhi interaksi dan etika yang terbentuk.

  68. Pak yusril ihza mahendra, sekali2 bapak buat video blog atau audio blog mengingat bapak telah dikenal orang. Coba kalau mas vavai/priyadi/harry buat video blog, siapa yg kenal dan siapa coba yg mau nonton/denger ? 😀 ,,

    bicara ttg etika, sbenarny yg ga ber etika jg ya sebagian nyang duduk di DPR ntuh dan mungkin sebag di pemerintah dan jg di yudikatif, dan bos2 media atau jg ke poli tikus…., kl di sini kan kami2 (wa maksudny) cm tulisan komentar dan tidak pny akses ke kue yg dibagi2.

    kaitanny dg demokrasi gmn dg biaya demokrasi ?bukankah dr hasil pajak dan inflasi ?

    liat di :
    http://ekonomiorangwarasdaninvestasi.blogspot.com/2007/11/monitoring-krisis-ekonomi-ix.html

    Pemerintah/Penguasa bukan badan yang berorientasi keuntungan dan bukan pula yayasan sosial yang menciptakan kemakmuran. Pemerintah/penguasa menarik pajak, retribusi, membuat inflasi, mengeluarkan surat hutang. Katanya pajak itu akan kembali ke rakyat. Retorik itu salah. Prioritas utamanya ialah untuk mereka sendiri, membayar gaji.

    Biaya demokrasi mahal dan harus dipikul oleh rakyat baik melalui pajak tersembunyi atau inflasi (pencetakan uang baru, pengenceran nilai uang, pajak tabungan) atau pajak terbuka (pajak penghasilan, penjualan, dll). Jadi jangan heran kalau ada korelasi yang paralel antara demokrasi dan pajak. Dubai, Saudi Arabia, Brunei, Kuwait punya persamaan bahwa di sana tidak ada pajak penghasilan dan tidak ada pemilihan umum. Hong Kong tidak ada pemilihan umum, dan pajaknya sangat minimal. Sebaliknya di US atau negara-negara Eropa barat, pajaknya mencekik.

    ….

  69. saya pengen sekali bertanya banyak tentang dunia politik kepada bapak.kami masih kelas 3 SMA,kami ingin sekali mewawancarai bapak secara langsung tentang dunia politik.kami pengen penjelasan bapak secara langsung.karena bapak sudah lama berpengalaman di bidang politik.kami pecinta dunia politik.dan salah satu tokoh politik yang kami kagumi adalah bapak”Yusril Ihza Mahendra.Tolong dibalas email kami secepatnya.

  70. Bang Yusril saya tiga kali saya mewawancarai anda ketika menjadi menteri Kumdang dan Mensesneg di Jakarta dan Bandung. Kalau Bang Yusril sekarang tertarik pada dunia blog selamat. Dan saya akan wawancara melalui media ini.

    Salam Hormat

    Dadang AR
    JPNN

  71. alhamdulillah luar biasa. akhirnya saya bisa menemukan blog pak yusril. ada penyegaran pikiran setiap membaca tulisan bapak. saya pasti akan sering mengunjungi bog ini, untuk kulakan ide dan pengetahuan.dari pak yusril
    selamat pak atas blognya saya akan kunjungi terus. mudah2 an bapak sering meng apdate syukur2 setiap hari. jadi kulak-an saya juga bisa setiap hari.

    Ok sekali selamat Pak Yusril

    agus maksum

  72. Selamat, semoga bisa menularkan virusnya kepada orang lain. Syukur2 para penjabat dan mantan penjabat mau terbuka (setidaknya versi mereka sendiri).
    Dan buat mas Yusril, setelah gak jadi penjabat. selamat ber-vokal ria lagi.

  73. Hmm, begitu dalem, Anda memang penulis kawakan. Saya yang baru ingin mulai, harus belajar banyak dari anda.
    Mudah-mudahan BLOG ini banyak membawa manfaat untuk kita semua
    Salam

  74. Salaamun ‘Alaika Bang Yusril,

    Saya coba-coba menebak kemana sebenarnya arah pembicaraan abang mengenai “Kebebasan” ini. Ternyata dan tidak lain, untuk men-targetkan saudara Dragonwall dan lain sepertinya.

    Sungguh tersentak, karena saya pikir abang akan mengupas hubungan cyberfreedom dengan cyberlaw dalam kaitan tela’ah abang sebagai Guru Besar Hukum dan Professional Hukum. Tak dinyana, ternyata argumen-argumen abang berujung pada Dragonwall dan lain sepertinya.

    Tapi tak apalah bang, saya mengerti intinya abang ingin membangun alasan agar saat abang men-targetkan Dragonwall, abang memiliki ground yang acceptable.

    Komentar saya cukup sederhanda bang. Pertama, Kebebasan bukan dimulai di era Presiden Habibie tapi di era Reformasi. Reformasi telah berjalan dan Pak Habibie hanya menyesuaikan diri dengan tuntutan Reformasi. Pernyataan ini cukup argumentatif tapi toh unik.

    Kedua, kalau Kebebasan di dunia cyber itu kebablasan sudah sangat wajar. Kalau kita perhatikan pejabat pemerintah dan anggota lesgislatif yang bertugas membuat undang-undang, berapa banyak dari mereka yang berumur lebih muda dari Bill Gates dan berapa banyak dari mereka yang gaptek. Bagaimana mereka (pejabat pemerintah dan anggota legislatif) dapat segera merespon dunia cyber yang di jaman mereka tidak lazim digunakan dan mereka pun sebenarnya gaptek…??? Cukup offensif pernyataan ini tapi penuh hikmah.

    Ketiga, selama ruh “di sangkar” tubuh, ajaib kalau kebebasan hakiki itu ada. Keinginan bisa tanpa batas, tapi kemampuan pasti terbatas. Kalau kemampuan kita sebagai makhluk tanpa batas, apa artinya Tuhan bagi kita. Jadi, keinginan menulis di blog boleh tanpa batas, tapi kemampuan kita menulis di blog harus dengan batas, karena itu fitrah. Keterbatasan kemampuan kita untuk menuliskan apa yang kita inginkan di dunia cyber, tinggal menunggu waktu. Siapa yang lebih dulu, pemerintah dan legislatif yang lazim berada di dunia cyber atau pemerintah dan legislatif yang gaptek. Salah satu dipenuhi, maka dunia cyber Indonesia pun akan menjadi “ruh dalam sangkar tubuh”.

    Ma’assalaamah,
    Emil

  75. Kebebasan tetap harus ada etikanya, jika bebas sebebas-bebasnya, padahal setiap manusia berbeda-beda pemahamannya, bisa membuat situasi menjadi kacau.
    Saya juga melihat dunia blog ini sangat bebas, tapi saya juga melihat, jika ada yang mengkritik diluar batas, atau yang menyampaikan komentar tak benar…cepat atau lambat akan ada yang mengcounternya. Mungkin kita memang masih perlu waktu untuk belajar tentang kebebasan ini, agar tak menjadi bebas diluar batas kewajaran dan etika.

  76. Betul Pak … media blog merupakan media ekspresi, sharing dan pembelajaran tanpa sekat dan cukup ekomomis bila dibandingkan menggunakan media lain.

    Oh ya, sekedar sharing tulisan saya tentang sebagian kecil opini/pembelajaran dari negara tetangga sebelah [Filipina].
    Jika tertarik silakan mampir di http://jmzach.wordpress.com dan klik judul LIVE!!! [November 26, 2007].
    Semoga bermanfaat.

    Keep Blogging Pak

  77. #74 n. jamil ghazali:


    Menarik juga untuk ditanggapi karena Pak Yusril pernah berada dalam lingkaran itu. Apa memang iya instrument itu tidak pas. Kalau menurut saya, instrument itu ibarat kapal/ kendaraan barangkali sudah bagus, tinggal nagodanya saja – yang sudah diganti berkali-kali – belum memahami dengan baik atau ada anggota kru kapal yang malas, tidak profesional, berebut tempat duduk dan berebut bagian sehingga kapal sudah oleng-pun belum menyadari. Jangan menunggu kapal sudah mau karam baru saling menyalahkan .. terima kasih ..

    Ini adalah pertanyaan yg sangat baik! Anda benar, posisi kita sangat berbeda.

    Anda melihat ini sebagai persoaalan personalia. Premis anda menempatkan orang2 yang “profesional” akan memecahkan persoalannya.

    Tapi dari mana kita mendapatkan orang2 profesional tsb? Negara kita ini besar, rakyatnya 200 juta. Untuk mengaturnya butuh luar biasa banyak personil. Kita harus berangkat dr asumsi realistis. Kalau anda menilai personil yg sekarang belum profesional, ya memang baru sampai situ level profesionalitas kita. Jadi mau anda ganti2 personilnya bagaimanapun, tidak akan membuat banyak perbedaan.

    Tapi mungkin kita masih bisa mencarikan kapal lain yg lebih cocok untuk profil dan batasan2 yg kita miliki….

  78. Saya baca dulu ya Mas, kalau menarik akan jadi pembaca pemanen. Yang penting saya dapat kejutan nih … orang seperti Yusril mau ngeblog. Selamat datang di dunia ‘sesunguhnya’. Salam.

  79. Ass pak Yusril…
    Dulu saya kurang menyukai penampilan dan gaya bapak yang terkesan angkuh dan arogan (kalau tampil di tv), ditambah lagi dengan pemberitaan berbagai media masa yang kerapkali menyudutkan bapak maka lengkaplah sudah ketidaksukaan saya.
    Tetapi kini setelah saya mencoba menelusuri blog bapak dan mencoba untuk menikmati dan memahami seluruh tulisan bapak, sikap saya terhadap bapak sontak jadi berubah. saya tidak tahu penyebabnya kenapa saya bisa berubah. dan saya jadi malu sendiri betapa selama ini saya telah keliru menilai bapak. selama ini saya telah dan selalu berpikiran negatif terhadap bapak, sekarang saya baru menyadari ternyata selama ini saya telah menjadi korban bobroknya pemberitaan media masa, saya telah terhanyut oleh bualan2 kosong mereka.
    Karenanya saya berharap agar bapak bisa terus mempertahankan keberadaan BLOG ini, yang manfaatnya telah saya rasakan secara langsung. dan saya mohon kepada bapak agar bisa mengajak rekan bapak yang lain (yang punya pengaruh dijagad perpolitikan nasional) untuk ikut terjun juga didunia BLOG, dan juga saya usulkan agar dimasa datang para anggota Dewan diwajibkan memiliki Bolg masing2 supaya kita bisa tahu apa saja sepak terjang mereka selama duduk menjadi anggota Dewan.
    sekian saja dulu pak! terimakasih atas tulisan2nya yang penuh pencerahan.
    wassalam

  80. ye…. jadi yang keseratus 😀

    wah… panjang euy bahasannya, tapi te o pe be ge te es ka el deh

    seandainya manusia itu merasa bisa bebas sebebas-bebasnya dalam hal apa pun, bisa jadi manusia itu telah menghilangkan atau kehilangan fitrahnya sebagai manusia. sebab, seperti yang bapak bilang tulis, manusia dan makhluk-makhluk lainnya punya batasan masing-masing, baik secara fisik maupun sosial.

    masalah penyerangan pribadi lewat tulisan mah udah biasa pak 😀 apalagi di forum-forum diskusi, dibawa santai aja ^_^

    bey de wey ani wey bus wey, istri bapak seneng sama psikologi dan filsafat ya… sama donk kaya saya, punya blog juga ga pak? mau maen juga nih ke sono. eh, iya. di blog ini kok ga ada kotak pesennya pak? kalo ada kan jadi lebih enak kalo mau sekadar ngobrol tanpa mengomentari tulisan 😀

    NB : jangan tanya kenapa saya pake nama ini ya… ^_^

  81. #100
    Selamat, menjadi komentator ke 100 untuk topik ini 😀

    eh, iya. di blog ini kok ga ada kotak pesennya pak? kalo ada kan jadi lebih enak kalo mau sekadar ngobrol tanpa mengomentari tulisan 😀

    Ada kok, bisa gunakan halaman kontak.

  82. (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)

    Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
    (Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
    Oleh Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).

    JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayawan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Situmorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Katrin Bandel, dan Triyanto Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.

    Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan.

    Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?

    Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan – sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

    YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).

    Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.

    SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).

    Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.

    Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik), lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see yourself dan How you see others, How others see you dan How others see themselves, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil).

    Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.

    SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).

    Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, sangat tidak sempurna, tidak sempurna, cukup sempurna, mendekati sempurna, dan sempurna dari lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy yaitu logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.

    Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya, bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).

    Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru.

    SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

  83. Kebebasan itu bagi saya pribadi adalah pertama-tama harus mulai dari dalam hati, kebebasan itu ada kaitannya dgn kebenaran, kalau kita menemukan sesuatu kebenaran maka pasti kita berharap kebenaran itu akan membebaskan hati kita, kebenaran itu membuat hati kita terasa lega dan nyaman. Kalau berbicara ttg kebenaran maka mau tidak mau kita akan masuk ke dalam dimensi yang lebih dalam tentang Tuhan, setan, alam semesta, jiwa / pikiran manusia.

    Saya yakin hampir setiap orang di dunia sudah bertanya di dalam hatinya, setelah mati saya akan kemana? tetapi saya akan membantu anda semua, kebenaran / kebebasan sejati itu sesungguhnya terdapat didalam Isa Almasih / Shirotool Mustaqim, Dialah Jalan, Kebenaran, dan Kehidupan. Yesus Kristus adalah Penyelamat Pribadi setiap orang yang percaya kepadaNya. Yesuslah yg akan menyelamatkan kita dari hukuman api neraka.

  84. saya kira Bapak tidak bisa berbicara seperti kami yang awam ini. Saya setuju dengan pernyataan Bapak terhadap smua yang Bapak katakan dlm cerita tentang negara kita ini. “saya terus bertanya sampai sekarang “pemerintahan siapa nanti yang benar2 tegas dan konsisten terhadap hukum dan UU?”. DPR terus kunjung ke negeri orang, tapi apa hasilnya? sy kira demikian dulu pa Yusril, salam damai…!!!

  85. Assalaamu ‘ alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh

    Apa kabar Bang Yusril….”?
    Semoga seiring dengan datangnya posting di BLOG milik Pak Yusril ini menambah fenomena baru dalam dunia ” cyber “.

    Oiya… Awalnya, saya tidak menyangka sama sekali kalau BLOG ini milik Pak Yusril, betapa tidak…” saya benar benar melihat hal yang baru di dalam diri seorang Pak Yusril Ihza Mahendra yang dulunya begitu seringnya tampil di TV dengan pemberitaan yang beraneka ragam.

    Dan, kini saya berjumpa di dunia maya, perjumpaan ini di buka dengan tema ” kebebasan ” yang tadi sudah Pak Yusril katakan. Dan di dalam mengarungi di dunia Cyber inipun, Pak Yusril mendefinisikan menjadi dua buah kebebasan dalam ber-cyber.
    Cyber Law
    Cyber Crime
    Waw…. Fantastis sekali… Dan buat saya ini memang bukan lah hal yang aneh lagi ketika kebebasan ini muncul baik kebebasan fisik maupun kebebasan dalam bersosialisasi dengan sesama manusia.

    Buat saya orang yang awam yang hanya mengenyam sekolah sekolahan saja, alias asal asalan saja.

    Membaca tentang ” kebebasan ” Saya jadi berintrospeksi diri, dan saya melihat dari sisi Manusia itu sendiri secara umum memiliki 3 macam bentuk penyakit yang dari dulu hingga sekarang selalu tak pernah selaras dan seirama.

    kekurangan manusia itu sendiri
    di hinggapi oleh 3 hal macam penyakit diantaranya :

    1). Tipis kepercayaan agamanya
    2). Lemah akalnya
    3). Hilang kesopanannya.

    Nah, di dunia manapun kita berpijak. Kalau tiga hal tadi bisa kita pahami lebih dalam lagi, maka Insya Allah…. Semua itu akan teratasi.

    Saya rasa, ketiga macam bentuk kekurangan manusia itu menjadi pijakan kita semua dalam berfikir dan berprilaku.

    Tak banyak yang dapat saya katakan disini, dan saya suka dengan pembahasan tentang makna kebebasan yang pada tempatnya ini.

    Wassalaamu ‘ alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh

    By. Sumarno Cholil

    sumarno_cholil@yahoo.co.id
    faith_moesleem@yahoo.com
    safety352@gmail.com
    cukup lah 3 saja Pak Yusril.

    Saya tampakkan itu semua, karena saya merasa bertanggung jawab dengan apa yang saya tuliskan.

    Dan saya setuju, saya tak mengenal cyber dan nyata itu berbeda, karena kebenaran tetap lah harus di tegakkan…!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terpopuler