|

SAYA DAPAT MEMETIK HIKMAH DAN PELAJARAN

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,

Setelah lebih kurang sebulan mengharungi dunia blog, akhirnya saya harus mengakui bahwa saya dapat memetik banyak hikmah dan pelajaran. Dunia maya ini adalah laksana dunia tanpa batas. Mungkin sudah terlalu lama di negara kita ini masyarakat merasa terkekang, sehingga banyak yang takut menyampaikan pikiran dan pendapatnya secara terbuka. Walaupun sejak era Presiden Habibie kebebasan mulai dibuka, namun masih banyak yang khawatir dan ragu-ragu. Di dunia maya ini, seseorang akan menemukan kebebasan yang selama ini didambakannya. Berbagai tulisan bermunculan dengan aneka ragam bentuk dan gaya bahasa, mulai dari menyampaikan harapan, saran, keluh-kesah, sampai yang menghujat dan mencaci-maki. Ada pula yang menggunakan kebebasan itu untuk menyebarkan desas-desus, rumors, sampai kepada fitnah yang dapat menyudutkan seseorang yang sungguh-sungguh ada di alam nyata. Menjadi pertanyaan bagi saya, apakah kebebasan dalam makna yang sesungguhnya itu memang ada?

Sebelum saya memasuki pembahasan mengenai bahan pelajaran yang dapat saya petik seperti tertera dalam judul tulisan ini, saya ingin lebih dahulu membahas makna “kebebasan” beserta implikasi-implikasinya bagi kehidupan manusia. Saya ingin menguraikannya dalam bahasa yang sederhana, sehingga pembahasan ini tidak nampak begitu rumit, dan memusingkan kepala mereka yang membacanya. Kalau kita ingin membahasnya lebih dalam, kita akan melangkah memasuki dunia filsafat dan pemikiran keagamaan. Dunia ini, juga merupakan dunia tidak bertepi. Perdebatan filsafat dan agama, adalah telah berlangsung sepanjang sejarah, sejak pertama kali manusia mampu berpikir logis dan sistematis. Namun perdebatan itu tidak pernah sampai ke hujung. Kita memang harus maklum, sepanjang manusia ada di muka bumi ini, selama itu pula problema akan ada. Manusia akan terus berupaya untuk mengkritisi setiap masalah yang muncul, dan berusaha menemukan jawabannya.

Setiap bahasa tentulah mempunyai perbendaharaan kata “kebebasan”, “kemerdekaan” atau yang sepadan dengan itu. Tetapi adakah kebebasan yang sesungguhnya, kebebasan yang tanpa batas? Pertanyaan ini seperti mengandung paradoks. Kalau kebebasan ada batasnya, masihkah dia dapat kita sebut sebagai kebebasan? Jika kita melihat ke dunia fisik, kebebasan dalam arti yang absolut sesungguhnya tidaklah ada. Secara fisik, manusia dan bahkan semua makhluk, terikat kepada hukum-hukum alam, terikat kepada the laws of nature. Para pemikir agama Islam, mengkaitkan hukum-hukum alam itu dengan sunnatullah, yakni hukum-hukum Allah yang tidak tertulis, yang mengatur seluruh isi alam semesta, demi memelihara keseimbangan dan menjaga kelangsungan keberadaan seluruh makhluk. Beberapa kali kata sunnatullah itu disebutkan di dalam al-Qur’an. Ambillah contoh sederhana: kita ingin hidup seperti ikan di dalam air, atau kita ingin terbang di udara seperti burung, atau pula kita ingin seperti penyu, biawak dan buaya yang hidup di air dan di darat. Dapatkah kita bebas mewujudkan keinginan kita? Tentu saja tidak. Kebebasan di dunia fisik, dibatasi oleh hukum-hukum alam. Tidak seorangpun mampu melampauinya, betapapun mereka sungguh menginginkannya.

Kalau di dunia fisik kebebasan yang sesungguhnya itu tidak ada, bagaimanakah halnya dengan kehidupan sosial umat manusia? Apakah mereka boleh melakukan apa saja yang mereka kehendaki? Apakah mereka boleh mengatakan apa saja yang mereka inginkan? Jawabannya ternyata tidak juga. Kalau di dunia fisik segalanya dibatasi oleh hukum alam, maka dalam kehidupan sosial umat manusia, batas-batas itu ditentukan oleh norma atau kaidah. Norma adalah konsepsi abstrak dalam alam pikiran dan perasaan manusia, yang isinya di satu pihak adalah suruhan, dan di lain pihak adalah larangan. Norma-norma itu mengandung sifat imperatif, sesuatu yang mengandung perintah untuk dihormati, dijunjung dan ditaati. Ambillah contoh: bolehkah kita menganiaya orang lain? Bolehkah kita berdusta? Bolehkah kita mengambil milik orang lain tanpa izinnya? Bolehkah kita menghilangkan nyawa orang lain tanpa sebab? Bolehkah kita menyebarkan fitnah terhadap orang lain? Jawab kita tentu tidak boleh. Mengapa tidak boleh? Sebab norma membatasi kebebasan kita. Manusia masih dapat dianggap sebagai manusia, jika mereka menyadari adanya norma-norma yang harus ditaati. Tanpa itu semua, manusia mungkin akan kehilangan hakikat kemanusiaannya yang sejati.

Begitu mendasarnya masalah norma dalam kehidupan manusia, telah menyebabkan pembahasan terhadap masalah itu menjadi tema penting dalam setiap ajaran agama. Para filsuf –seperti telah saya katakan di awal tulisan ini — juga membahasnya dengan dengan berbagai kerangka pemikiran dan sudut pandang. Mereka menggolongkan pembahasan tentang masalah itu ke dalam Filsafat Moral atau Etika. “Ten Commandments” atau sepuluh perintah Tuhan yang dibawa Nabi Musa, yang antara lain berisi larangan membunuh, berdusta dan berkhianat, semuanya semuanya dapat dikategorikan sebagai norma-norma di bidang etika. Tema yang sama diulangi lagi di dalam al-Qur’an. Panch Sila, yakni lima larangan bagi orang awam, dan Dasa Sila, yakni sepuluh larangan bagi para rahib di dalam ajaran Buddha, adalah juga norma-norma di bidang etika. Mo Limo dalam filsafat Jawa, nampaknya juga merupakan rumusan norma di bidang etika.

Ajaran agama-agama, kecuali Buddhisme, mengkaitkan kesadaran terhadap norma dengan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui, serta keyakinan akan adanya kehidupan yang kekal di akhirat. Meskipun di dunia ini, dalam kenyataannya, ada orang baik bernasib buruk dan ada pula orang jahat bernasib baik, namun semua hanyalah sementara. Di akhirat nanti, orang baik akan mendapat tempat yang baik, mereka masuk surga Jannatun Na’im. Orang jahat akan mendapat tempat yang sebaliknya, mereka dimasukkan ke dalam Neraka Jahannam. Para filsuf Marxis, tentu saja menyanggah semua doktrin keagamaan seperti ini. Sebagian ilmuwan juga sejalan pikirannya dengan filsuf Marxis. Memang, hingga sekarang penelitian tentang keberadaan surga dan neraka, belum dapat dibuktikan secara empiris. Itu semua berada di luar jangkauan kajian saintifik.

Di dalam Islam, manusia disuruh mendekatkan diri kepada Tuhan atau taqarrub ilallah. Semakin dekat manusia kepada Tuhannya, akan semakin peka hati nuraninya terhadap persoalan-persoalan etika. Semakin jauh manusia dari Tuhannya, semakin hilang pula rasa kepekaan itu. Semua ini berkaitan dengan sanksi terhadap pelanggaran norma moral. Sanksi itu tidak akan kita temukan di mana-mana, kecuali pertama-tama ada di dalam hati nurani kita sendiri. Ada perasaan bersalah di dalam hati, jika kita melanggar norma etika. Tidak perlu orang lain tahu, apalagi menghukum kita. Cukuplah hati nurani kita yang berbicara kepada diri kita sendiri. Namun di dunia nyata, di zaman sekarang, rasa kepekaan hati nurani itu terasa kian menipis, di tengah haru-biru perubahan dan perjuangan untuk mempertahankan hidup. Seorang teman berkata kepada saya: “Boss, janganlah terlalu idealis… di zaman sekarang, jangankan mau mencari yang halal, mencari yang haram saja susah. Cobalah Boss pergi ke hutan, jangankan mau berburu rusa atawa pelanduk. Mau berburu babi saja susah bukan main”. Saya hanya tertawa. Lidah saya terasa kelu, seperti kehabisan kata-kata menghadapi teman saya itu. Dia memang orang “realistis” atau katakanlah “pragmatis”.

Kita kembali ke soal norma. Oleh karena sanksi terhadap pelanggaran norma moral itu hanya ada di dalam hati – atau paling jauh kecaman masyarakat terhadap seeorang yang melakukannya – maka tidak jarang norma-norma moral itu kemudian ditransformasikan menjadi norma hukum, tertulis maupun tidak tertulis. Norma hukum lebih eksplisit rumusannya dan lebih tegas ancaman sanksi bagi barangsiapa yang melanggarnya. Penegakan norma-norma hukum dilakukan oleh sebuah otoritas yang memiliki kewenangan untuk itu. Sebenarnya, kalau norma-norma etika ditaati, maka pelanggaran terhadap norma hukum akan dapat diminimalkan. Sebaliknya juga, jika norma-norma hukum begitu longgar, tidak tegas atau memang belum mampu menjangkau suatu perbuatan, maka norma etika harus diperkuat. Tanpa itu, kehidupan masyarakat akan centang perenang, carut-marut tak tentu arah.

Di negeri kita, sejak kita memasuki era Reformasi — seperti telah saya singgung di alinea pertama tulisan ini — beberapa norma hukum kita telah diperlonggar, antara lain norma-norma hukum di bidang pers dan norma-norma kemerdekaan berserikat, menyatakan pikiran dan pendapat. Norma-norma hukum di bidang hak asasi manusia mulai dikedepankan. Semua itu sungguh positif bagi rakyat kita yang mendambakan tegaknya demokrasi di negeri ini. Namun di sisi lain, kecenderungan semakin melemahnya norma-norma etika terasa makin menguat. Kalau keadaan ini tidak menjadi perhatian kita bersama, maka secara perlahan-lahan bangsa kita akan mengalami keruntuhan. Kalau semuanya aji mumpung dan hantam kromo, maka sukar bagi kita untuk meraih masa depan yang lebih cerah. Tanpa kepatuhan terhadap norma etika, di tengah longgarnya norma hukum, maka orang dengan mudah menyuarakan apa saja yang ingin mereka suarakan, dan berbuat apa saja yang mereka inginkan, tanpa berpikir lebih jauh konsekuensi apa yang akan terjadi. Dalam suasana kebebasan menyatakan pikiran dan pendapat, orang dengan mudah menyebar-luaskan fitnah dan caci-maki tanpa beban apapun di dalam kesadaran hati nuraninya. Seperti telah saya katakan, kepekaan hati nurani mulai menghilang.

Sekarang, saya ingin kembali kepada fokus utama tulisan ini, mengenai pengalaman saya yang baru sebentar di dunia blog. Adalah keliru kalau kita mengatakan bahwa di dunia maya ini tidak ada norma hukum. Berbagai negara telah merumuskan berbagai kaidah yang disebut sebagai hukum dunia maya atau cyberlaw. Setelah adanya internet, berbagai jenis dan bentuk kejahatan baru muncul ke permukaan, yang disebut sebagai kejahatan dunia maya atau cybercrime. Namun, secanggih apapun hukum diformulasikan, tetap saja dia tidak mampu mengejar kecepatan perkembangan teknologi informasi. Di negeri kita sendiri, norma-norma hukum di bidang ini belum banyak yang kita formulasikan. Aparatur penegak hukum kita juga belum siap untuk menanganinya. Dalam suasana seperti itu, saya berpendapat, kepatuhan kepada norma-norma etika haruslah kita kedepankan.

Di alam demokrasi, tentu saja kita bebas mengekspresikan pendapat dan menyampaikan kritik secara terbuka. Di dunia maya, seseorang dapat mengemukakan pendapat kritik baik dengan menyebutkan nama asli, atau menggunakan nama samaran. Saya diingatkan oleh beberapa rekan, agar lebih melihat kepada substansi yang dikemukakan daripada melihat kepada siapa yang membuat posting. Saya sependapat dan berterima kasih dengan semua nasehat itu. Namun demikian, secara etis saya tetap berpendapat bahwa semua orang haruslah bertanggungjawab terhadap apa yang mereka lakukan. Seseorang tidak dapat berdalih kebebasan, kemudian melakukan serangan dengan kata-kata yang keras dan tajam di luar batas-batas norma kepatutan terhadap orang lain. Seseorang tetap tidak dapat dibenarkan menyebarkan rumors, apalagi fitnah yang dapat menyebabkan runtuhnya harkat dan martabat seserang.

Dari sudut pandang etika, sangatlah tidak bertanggungjawab, apabila seseorang yang menggunakan nama samaran mengumbar fitnah dan caci-maki terhadap seseorang yang ada di alam nyata. Besar kecilnya dampak segala rumors, fitnah dan caci-maki, haruslah dipulangkan kepada mereka yang menjadi korban. Kita tidak dapat mengatakan: dampaknya tidak besar, karena itu boleh saja kita melakukannya. Berapa banyak mereka yang mungkin menjadi korban, namun tidak berdaya. Akhirnya membiarkan semua itu berlalu begitu saja. Kita tidak boleh pula mengatakan, bahwa semua itu adalah risiko menjadi orang terkenal, entah politikus, pejabat pemerintahan atau artis dan bintang film. Memang itu adalah risiko, tetapi apakah memfitnah dan mencaci maki, secara etika tetap dibenarkan?

Pengalaman saya di dunia blog ini juga menyadarkan saya bahwa tidak semua orang yang nampak garang, akan bersedia menerima kegarangan orang lain terhadap dirinya. Tidak sedikit yang menulis dengan nada sangat kritis terhadap seseorang dan kemudian ditampilkan di dalam blog mereka. Namun, ketika kritik itu ditanggapi dengan kritis pula, mereka mendelete posting itu dan tidak menampilkannya. Tentu saja di dunia perblogan hal itu memang dimungkinkan, sesuai aturan permainan yang disepakati. Tetapi fenomena ini menunjukkan bahwa mereka yang berteriak demokrasi dan kebebasan berekspresi, ternyata secara mental belumlah siap. Mereka hanya ingin hebat sendiri dan ingin menang sendiri. Kritik hanya berlaku bagi orang lain, tapi bagi awak nanti dulu. Namun, fenomena seperti itu ternyata bukan hanya di dunia blog. Beberapa koran yang memiliki edisi online juga melakukan hal yang sama. Begitu garang mereka membuat berita. Begitu tajam mereka menulis editorial atau tajuk rencana. Namun ketika ditanggapi dengan kritis, mereka memoderasi tanggapan itu. Masih untung kalau demikian. Sebagian malah hanya menampilkan tanggapan itu sejam dua jam, sesudah itu tak nampak lagi di layar kaca.

Saya ingin bersikap terbuka dengan siapa saja di blog saya ini. Selama blog saya ini ada, hanya sekali saya mendelet sebuah kalimat dalam posting yang isinya dukungan untuk mengkonsumsi narkotika. Selebihnya, saya membiarkan apa adanya. Saya berusaha sekuat hati agar tidak terlena dengan segala macam pujian dan sanjungan. Saya akan terus berjuang sepenuh hati pula untuk menahan diri terhadap segala kritik, walaupun dengan kata-kata yang tajam. Saya telah belajar bahwa menanggapi kritik yang tajam dengan kata-kata penuh tuduhan dengan kata-kata yang sepadan, hasilnya hanya akan sia-sia. Ketika saya menanggapi Dragonwall di Indonesia Matters, saya telah menggunakan kata-kata yang keras dan tajam, walau saya kira belum sebanding dengan kata-kata keras yang ditutujukannya kepada saya. Beberapa rekan menasehati saya akan jangan bersikap demikian. Saya berterima kasih atas segala nasehat itu, dan saya menerima kritik yang mereka sampaikan.

Kepada Dragonwall, siapapun Anda, saya mohon maaf kalau saya telah menggunakan kata-kata yang keras dan tajam, walaupun  seperti telah saya katakan di atas, mungkin belum sebanding dengan kata-kata yang telah Anda gunakan terhadap saya. Saya juga mengakui bahwa saya larut dalam suasana, sehingga saya salah menangkap apa yang Anda tuliskan. Benar, bahwa Anda tidak menyerang istri saya. Serangan terhadap istri saya ada di dalam topik yang lain, baik di Indonesia Matters maupun di Indcoup. Saya berterima kasih kepada seorang rekan yang menyarankan agar saya membaca blog yang terakhir ini. Saya juga telah salah memahami, serangan Anda kepada Aburizal Bakrie, seolah-olah serangan terhadap saya.

Saya menyadari bahwa berbagai hal yang dikemukakan Dragonwall, Janma, Arema, Bonar dan yang lainnya, baik di Indonesia Matters maupun di Unspun, atau tulisan lain di blog yang lain, suatu ketika nanti memang perlu saya jelaskan dari sudut pandang saya sendiri, dengan argumentasi-argumentasi dan bukti-bukti yang saya miliki. Apabila nanti semua telah saya jelaskan, maka segala sesuatunya akan saya kembalikan kepada mereka yang berkepentingan. Saya tidak mempunyai kewenangan apapun untuk memaksa orang lain untuk menerima, kalau mereka memang tidak merasa yakin. Saya sendiripun tidak dapat juga dipaksa orang lain terhadap apa yang saya sendiri tidak pernah yakin. Jika semua ini terjadi, saya menyerahkannya kepada pembaca yang lain untuk menarik kesimpulan sendiri-sendiri dan memberi penilaian. Saya hanya akan berserah diri kepada Allah Ta’ala. Mungkin waktu jualah yang akhirnya akan mengungkapkan tabir dari sebuah kebenaran. Terhadap mereka yang terus ngotot dan ingin benar sendiri serta tidak pernah berhenti menyerang, saya hanya akan berdoa seperti doa Nabi Isa a.s: Ya Allah, ampunilah dosa orang-orang ini, karena sesungguhnya mereka tidak mengerti apa yang mereka perbuat. Sementara saya, akan terus berusaha untuk bersabar dan mengendalikan diri.

Keinginan saya untuk menulis, memberikan tanggapan dan menjelaskan berbagai hal di dalam blog ini kadang-kadang memang terasa melelahkan. Saya ingin menegaskan bahwa semua tulisan yang saya buat, termasuk semua tanggapan, adalah tulisan saya sendiri. Tidak ada orang lain, apalagi staf yang membantu saya menulis dan memberi tanggapan. Ekspressi pikiran dan perasaan saya dalam menulis, nampak telah mempunyai nuansa tersendiri, yang mudah-mudahan dapat dibedakan oleh orang yang membacanya. Istri saya kadang-kadang saja membantu memperbaiki ejaan dan tatabahasa, jika saya menulis di dalam Bahasa Inggris. Kadang-kadang dia juga membantu saya menganalisis suasana batin seseorang sebagaimana terekspresikan ke dalam posting. Bahkan tidak jarang dia juga menganalisis suasana batin saya sendiri ketika saya menulis. Dia memang berlatarbelakang pendidikan psikologi dan gemar menelaah literatur filsafat.

Saya ingin mengakhiri tulisan ini, dengan menegaskan sekali lagi, bahwa saya banyak belajar dan memetik hikmah dari dunia blog ini. Saya hidup di sebuah zaman, ketika perkembangan teknologi informasi telah berkembang maju. Begitu banyak tulisan yang dimuat, yang secara langsung atau tidak, bersintuhan dengan diri saya sendiri. Saya berkewajiban untuk meluruskan, menjelaskan dan bertukarpikiran terhadap hal-hal yang saya pandang perlu untuk ditanggapi. Sementara itu, kesempatan yang ada ini dapat pula saya manfaatkan untuk menyumbangkan pikiran dan gagasan, serta berbagi pengalaman. Semoga semua itu akan ada manfaatnya bagi saya pribadi dan bagi kita semua.

Akhirnya, hanya kepada Allah Ta’ala jua saya mengembalikan semua persoalan.

Wallahu’alam bissawab.

Cetak artikel Cetak artikel

Short URL: https://yusril.ihzamahendra.com/?p=29

Posted by on Nov 23 2007. Filed under Personal. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

108 Comments for “SAYA DAPAT MEMETIK HIKMAH DAN PELAJARAN”

  1. Mengapakah kebebasan harus ada jika ternyata tidak bisa sebebas-bebasnya?

    Maaf, kita sedang bertanya. Tidak punya maksud apa-apa dan tak terkait lain-lain kecuali bertanya.

    Makasih

  2. Yusril Ihza Mahendra

    #Rusmanik. Itulah yang saya katakan dalam tulisan bahwa pertanyaan apakah kebebasan itu absolut atau tidak, adalah sebuah pertanyaan yang mengandung paradoks. Analisis dalam tulisan saya menunjukkan, walaupun semua bahasa mempunyai istilah “kebebasan” namun, baik secara fisik maupun sosial, ternyata kebebasan yang absolut itu tidak ada.
    Namun, apa boleh buat, istilah “kebebasan” tetap dipakai. Saya teringat kepada tulisan Syed Hossein Nasr, seorang pemikir Syi’ah, ketika membahas masalah takdir dalam ajaran Islam. Dia mengumpamakan istilah “kebebasan” dengan cahaya. Kebebasan walaupun ada batasnya, tetaplah kita namakan kebebasan. Demikian pula cahaya, betapapun kecil dan redupnya, tetaplah dia kita namakan cahaya.

  3. PrimaryDrive (#41), Mengenai HTML untuk blockquote sudah dimodifikasi, sehingga lebih jelas mana kutipan, mana tanggapan… Terima kasih sudah diingatkan…

  4. Walah, iki beneran pak Yusril yang menteri itu bukan?

    Yu Djoem, jadi gemeteran begini

  5. Walah, iki beneran Pak Yusril yang jadi menteri itu bukan?

    Mbak yu, jadi gemeteran begini

  6. #54 Yu Djoem. Saya nggak jadi menteri lagi. Saya orang biasa aja kok. Mbok ya gak usah gemeteran Mbakyu…

    Komentar Mbakyu kok ono loro. Jadi saya yang satu saya delete aja, ya..

    Matur nuwun Mbakyu.. Saya juga baca blog Mbakyu.. Jadinya kepengen belajar Boso Jowo, he he …

  7. #47, Sebenarnya bukan tidak bisa membedakan tawon dengan lebah pak. Setahu saya, orang Betawi sini menyebut tawon untuk semua yang berjenis lebah, kecuali yang memang jelas-jelas punya nama, kumbang misalnya. Jadi, seringkali tawon diasosiasikan secara langsung dengan lebah.

    Lha kok jadi membahas soal tawon ya :-P

    Matur nuwun Mbakyu.. Saya juga baca blog Mbakyu.. Jadinya kepengen belajar Boso Jowo, he he …

    Bapak sudah menguasai bahasa Urdu, Tagalog dan Mandarin tentu akan sangat mudah belajar bahasa Jawa :-) .

  8. Assalamu’alaikum Wr.wb
    Memang berat pak! Saya belum membaca artikel yang bapak maksud namun saya cukup memahami karena begitu banyak manusia disekitar kita baik dikalangan atas maupun bawah yang tidak menggunakan nuraninya. Tapi saya yakin, pak Yusril akan dapat menghadapi semua itu dengan tenang dan dapat merubah apa yang bapak tidak suka kearah yang lebih baik. Setiap serangan harus direspon namun tidak dengan cara-cara mereka. Kita tidak perlu emosi karena kalau kita emosi berarti mereka menang sementara kita larut dalam kesal/marah/dendam/dsb berarti kita kalah. Apalagi serangan seperti itu, jelas orang-orang pengecut namun kalau tidak direspon juga dapat berbahaya.
    Sekalipun pak Yusril sekarang tidak duduk dikursi penguasa namun tanggung jawab moral terhadap bangsa ini. Coba bapak bandingkan tantangan yang dihadapi oleh pendiri Negara ini, apa yang bapak alami sangat kecil tapi bagi mereka tak ada kata menyerah!.

  9. #57 Vavai, terima kasih. Ketika saya menjadi mahasiswa filsafat, saya mengikuti kuliah filsafat Jawa. Saya terpaksa membaca terjemahan Serat Centini dan karya-karya Ronggowarsito seperti Serat Kalatida, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Belanda. Untung karya-karya filsafat Jawa yang agak “nyleneh” seperti Serat Darmogandul dan Gatoloco ada terjemahannya dalam Bahasa Indonesia. Waktu itu saya cari guru bahasa Jawa, tapi ternyata lebih mudah cari guru bahasa Inggris daripada cari guru bahasa Jawa, he he…

  10. Terima kasih pak Yusril atas tanggapannya.
    Biarpun bapak tidak menjadi menteri lagi, bapak tetep sosok “Priyayi” bagi kalangan bawah, spt mbak yu ini

  11. tampaknya para politikus kita sudah menemukan cara kampanye baru,tidak lagi dengan mengerahkan masa dan menghadirkan para penyanyi dangdut,tapi melalui blog,inovasi tiada henti…

  12. #61,

    Terdengar Sarkastis…

    Bukankah sesuatu yang positif jika dunia blog Indonesia semakin diperkaya oleh tulisan-tulisan yang intelektual tanpa memandang latar belakang apakah blogger tersebut politikus atau bukan.

    Banyak saran kepada Pak Yusril yang meminta agar beliau tidak memandang latar belakang pemberi komentar, so, mengapa justru kita mempermasalahkan soal latar belakang politisnya ?

    Sepanjang tulisan yang diberikan adalah tulisan yang bermanfaat, entah itu dianggap kampanye atau bukan saya kira bukan sesuatu yang patut kita tolak.

  13. wah.. saya jadi merasa terharu dengan tulisan Pak Yusril. Kejujuran hati dan keterusterangan yang tertangkap membawa saya seperti membaca buku harian yang berisi curahan hati (curhat).
    Tulisan Pak Yusril juga banyak mengandung nilai2 moral yang mungkin sekarang sudah tersisihkan di dunia yang katanya modern ini.
    Semoga Pak Yusril tetap istiqomah dalam menulis blog dan memberi banyak pencerahan melalui tulisan Bapak. Memang kadang melelahkan, terlebih menulis di blog tidak ada bayarannya seperti halnya menulis untuk surat kabar.
    Namun saya harap Pak Yusril tetap semangat untuk terus menulis melalui dunia Blog. Saya tunggu tulisan bapak yang lain.
    Salam sehat..

    note: Mohon arahannya bagaimana supaya dapat seorang istri yang cantik. :)

  14. Waah.. tulisan kali ini panjang sekali. tidak semua ide dapat ditangkap, apalagi penjelasan bapak terlalu banyak mengaitkan dengan kejadian dan peristiwa dalam sejarah agama. barangkali satu atau dua peristiwa keagamaan saja dijadikan bahan penjelasan akan lebih baik, mudah dipahami dan teringat oleh para pembaca. Salam

  15. Soal seluk beluk dunia maya, saya menyarankan pak yusril untuk membaca buku Filosofi Naif Dunia Cyber karangan pak Onno W. Purbo. Barangkali dengan buku tersebut pak Yusril bisa mendapatkan gambaran yang lebih baik soal komunitas dunia maya.

    Soal kebebasan, saya juga berpendapat sama dengan Pak Yusril, tidak ada yang ‘bebas’ 100% saya kira. Semua makhluk di dunia ini terikat dengan sunnatullah.

    Soal hukum, nah ini nih, saya sih masih heran, kenapa Indonesia seperti tidak berniat untuk mengganti atau memperbaiki Undang-undang kita. Ya, dibikin lebih tegas saja sih maunya :D

  16. Assalamu’alaikum Bang
    Saya rasa dengan pengalaman dan pemaparan dari Bang Yusril tentang kebebasan kita bisa dapat menelaahnya, kekebasan itu memang tidak ada hujungnya …

    Bang
    Saya dulu pernah bertemu dengan Abang waktu di PBB ( Partai Bulan Bintang ), waktu itu saya dengan ketua DPC Batam, Bapak H. Andi Ibrahim, ( tahun nya saya lupa ) kita sempat berbincang bincang lah, dan saya sangat senang bertukar pikiran waktu itu, dan saya minta Abang bisa menjelaskan waktu pencalonan Presiden pada Sidang Umum MPR 1999, Kenapa Abang mengundurkan Diri malah mendukung GusDur untuk maju,

    Saya juga pernah dengar Ceritanya dari Almarhum Bpk H. Husien Umar, Ketua Dewan Dakwah waktu itu, saya harap abang dapat menceritakan situasi politik pada waktu itu

    Wassalam

    zaidi

  17. Di dunia maya ini semua orang, termasuk orang setengah gila atau psikopat, bisa menulis atau memaki.

    Tidak ada batasan sebab mereka tidak perlu takut ada orang yang langsung menampar muka mereka seperti di dunia nyata.

    Polisi Cybercrime pun tidak berdaya kalau mereka memakai nama palsu, email gratisan dan berpindah2 dari warnet ke warnet.

    Tapi di dunia maya kesempatan berdakwah, menuangkan gagasan terbuka lebar.

    Alhamdulillah di:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam

    Telah berkumpul lebih dari 3.000 muslim untuk saling belajar dan berbagi ilmu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tiap hari kami berdiskusi dan saling memberi nasehat. Ini satu contoh positif dunia maya.

    Welcome to the jungle!

  18. pak Yusril ini blog ini juga dunia yang sebenarnya bukan maya, jadi penghuni jagat internet ini juga punya kewarganegaraan, tapi nggak punya KTP saja. jadi pak Yusril masuk di dun ia blog ini yang jelas akan banyak menyita perhatian dan waktu, apalagi Pak Yusril juga publik figur.
    sifat “agak pemarah yang sering kita lihat di tayangan TV jaman dulu itu mungkin saja akan terkikis kalo pak Yusril terus aktif ikut langsung mengelolah blog ini.
    moga ilmu hkumnya bisa bermanfaat untuk wilayah yang bernama internet ini pak.

    salam dari Kabargresik.co.cc

  19. saya ga sepakat pak kalo mlulu isi postingan kelas filosofis politis.. waduh..
    satu dua selipan ringan, cerita tawon (kalo di rumah dikenalnya namanya tawon gung) itu dan manjat pohon (sampe sekarang saya masih kalah sama bulik saya yang bisa cepet manjat kelapa), itu bisa menyegarken lho pak.. betul itu hehehehe…
    ini usul beneran lho pak, secara saya juga anak pramuka yang kalo suruh naik gunung juga ngos ngosan wakakakak

  20. wow keren, bapak yusril sungguhlah blogger sejati,,,postingnya panjang banget pak dan bermakna sekali… :)

  21. Salam kenal Pak Yusril,

    Kebebasan dalam dunia maya itu memang sangat absurd, tapi semua harus dikembalikan lagi kepada para bloggernya. Jika semua menjunjung tinggi moral dan etika maka Insya Allah kebebasan itu tidak akan kebablasan.

    terima kasih

  22. Salam Bang Yusril,

    Percaya nggak percaya (saya) abang ada di internet untuk menulis sendiri lewat blog dan ikut meramaikannya lewat tanggapan2 langsung terhadap postingan bloggers-nya. Saya pikir, segala apa yang ada di dunia maya (blog) ini tidaklah berat bagi orang-orang yang baru ikutan…adu pendapat, komentar negatif, dsb. adalah hal biasa, he..he..he bahkan kehidupan dunia nyata lebih keras, bukan begitu bang?

    Btw selamat bang utk segalanya…dan Majulah Indonesia…!!!

  23. Yup, seperti ‘insiden’ kebebasan berekspresi kemarin lusa. Ketika seseorang meng ‘kolase’ kan photo bapaknya Agus Harymurti dengan Mayangsari. Para blogger melakukan pembelaan dengan heroik.

    Mereka lupa untuk membuat logika terbalik. Bagaimana jika photo ibu blogger tersebut di ‘kolase’ kan dengan photo tukang becak Pasar Kembang Jogya dalam posisi berpelukan, apakah dianya juga tidak akan protes.

    Jika ia tidak protes orang akan bilang ; anak macam apa tidak tersinggung ibunya dinista sedemikian rupa, meskipun untuk alasan kebebasan berekspresi.

    Jika ia protes orang akan bilang ; ia menerima kebebasan berekspresi jika ia pelakunya, tapi tidak mau menerimanya jika ia menjadi korbannya.

    Nah, lho !

  24. Pak Yusril … nampaknya yang mendesak untuk ditanggapi adalah pertanyaan PrimaryDrive kepada Pak Yusril ttg instrument /sistem negara RI yang dijawab Bang Bonar sehingga membuat peluang terbukanya polemik antara keduanya. Menarik juga untuk ditanggapi karena Pak Yusril pernah berada dalam lingkaran itu. Apa memang iya instrument itu tidak pas. Kalau menurut saya, instrument itu ibarat kapal/ kendaraan barangkali sudah bagus, tinggal nagodanya saja – yang sudah diganti berkali-kali – belum memahami dengan baik atau ada anggota kru kapal yang malas, tidak profesional, berebut tempat duduk dan berebut bagian sehingga kapal sudah oleng-pun belum menyadari. Jangan menunggu kapal sudah mau karam baru saling menyalahkan .. terima kasih ..

  25. Kata Nabi: Hikmah adalah harta yang hilang dari seorang muslim. Pungutlah dia di mana kita temui.

    Kita semua mungkin sedang belajar berdemokrasi, sekaligus menyelaraskannya dengan nilai-nilai agama yang kita junjung tinggi. Sayangnya seringkali kita sulit melakukannya. Barangkali itulah mengapa sulitnya mencari orang bijak, meski orang pintar banyak

  26. @n. jamil ghazali (#74):

    Setuju. Saya juga benar-benar ingin mengetahui dimana Pak Yusril berdiri dalam hal ini.

    Saya sendiri berterimakasih karena sudah diingatkan soal postingan comment PrimaryDrive, yang ternyata sudah ada balasannya lagi. Ya, terbuka untuk berpolemik tentang soal itu, mungkin saya harus minta ijin dulu dengan Pak Yusril untuk menggunakan tempat tanggapan ini.

    Pak Yusril, bolehkah pengunjung seperti saya “bertengkar” :) di tempat tanggapan blog Anda?

    Omong-omong Pak Ghazali, saya masih muda, dik/nak Bonar saja, tidak usah pakai Bang. Hehehe :)

  27. Yusril Ihza Mahendra

    #40 PrimaryDrive; #74 n jamil ghazali;
    #76 Bonar;

    Masalah yang dikemukakan memang menjadi fokus pemikiran saya sejak 30 tahun terakhir ini. Saya banyak menelaah pemikiran dan perdebatan ttg konsepsi bernegara sejak sebelum merdeka, sampai jauh di kemudian hari. Saya terlibat memberikan pandangan tentang hal itu menjelang dan ketika kita telah memasuki era Reformasi, khususnya ketika saya mulai melontarkan gagasan amandemen konsitusi. Pemikiran saya ketika itu dijadikan slogan oleh kalangan kampus “Tidak ada reformasi tanpa amandemen konstitusi”. Tetapi setelah amandemen dan kita menyusun berbagai peraturan perundang-undangan, ternyata masih banyak hal yang harus kita renungkan kembali. Hal itu bukan saja terkait dengan konsepsi demokrasi kita, tetapi juga terkait dengan struktur organisasi negara, di pusat dan di daerah, serta hubungan antara keduanya. Kalau saya menulis masalah ini, pasti akan sangat panjang. Saya akan mencobanya menulis di blog ini, nanti.

    Blog saya ini, Boss Bonar, terbuka untuk kita berdiskusi dan bertukar-pikiran. Bahkan berdebat secara argumentatif. Itulah maksud saya membuat blog ini. Dengan demikian, kita dapat saling belajar dan menyimak pandangan orang lain, walau mungkin berbeda dengan pandangan kita. Kebijaksanaan akan lahir, di tengah benturan pendapat yang berbeda-beda itu, kalau kita pandai memetik hikmahnya. Semoga demikian.

  28. Untuk menolong sesama tidak perlu menunggu punya uang banyak, punya jabatan, dsb. Itu bisa dilakukan sekarang juga dan di mana saja.
    Anda hanya punya uang rp 10 ribu? Anda bisa menyumbang antara rp 1.000-10.000 tergantung keikhlasan anda.

    Amal bisa sendiri, bisa dilakukan bersama2.
    Bisa dengan uang, bisa dengan ilmu.

    Boleh diskusi, boleh merenung. Tapi amal yang terbaik adalah dengan tangan/tindakan. Lisan/tulisan hanya merupakan peringkat 2 dan hati adalah yang terlemah.

    Untuk melihat bagaimana cara beramal (meski saya juga masih amatiran), silahkan klik:
    http://media-islam.or.id
    http://www.mifta.org

  29. Terima kasih atas jawabannya. Sungguh suprise dapat berdiskusi dengan tokoh nasional ;-)

    Maaf pak, pertanyaan saya di komentar #51 kurang spesifik sehingga saya belum puas nih.

    Pertanyaan saya ulang ya pak

    Mengapa Tuhan memberikan benda bernama kebebasan jika ternyata tidak bisa sebebas-bebasnya?

    Makasih atas jawabannya.

  30. @rusmanik(#78):

    errr… bagaimana kalau tanya Tuhan saja ?

  31. @Bonar #79

    Nah itu dia masalahnya. Pengennya sih nanya langsung pada Tuhan.
    Tapi nggak tahu caranya.

    Mungkin bisa di dekati secara filosofis. Mudah-mudahan Pak Yusril bersedia dan punya waktu untuk menjawabnya.

    Kami doa-kan supaya Pak Yusril tetap sehat dan bugar serta punya waktu untuk memuaskan kita-kita ini.

    Setujulah . . .

  32. Yusril Ihza Mahendra

    #78 Rusmanik #79 Bonar

    Dari sudut pandang teologi, karena alam semesta dan juga manusia memerlukan keteraturan untuk menjaga keseimbangan. Kalau dalam Taurat, Tuhan menciptakan alam semesta dalam enam hari, dan istirahat pada hari ketujuh. Teolog Yahudi ada yang berpendapat, Tuhan tidak aktif lagi di dalam alam, karena alam bekerja secara mekanis mengikuti hukum-hukum yang telah ditetapkan di dalam alam. Dalam Islam ada perbedaan, karena Tuhan terus aktif memelihara dan menjaga alam semesta bahkan terus-menerus melakukan penciptaan, tetapi sejauh menyangkut sunnatullah, dibahas berulangkali di dalam al-Qur’an.

    Tentang manusia, mereka diberikan kebebasan untuk memilih dan bertindak. Karena itulah mereka bertanggungjawab di dunia ini, dan sekaligus di akhirat nanti. Tuhan memberikan kesadaran moral dalam hati manusia, yang disebut dengan fitrah yang membuat mereka tahu mana yang baik dan yang buruk. Di samping itu, melalui para nabi, Tuhan menurunkan wahyu sebagai petunjuk untuk membedakan hal-hal yang terkait dengan moralitas (dalam al-Qur’an di sebut dengan istilah “bayyinat” dan “furqan”). Kalau manusia mau bertindak sebebas-bebasnya, mau bunuh orang, mau mencuri, memperkosa dsb, bisa saja. Tetapi dia harus bertanggungjawab atas perbuatannya. Kebebasan tanpa dibatasi etika akan menimbulkan suasana kacau balau dalam kehidupan sosial.

  33. . . .

    Tentang manusia, … diberikan KEBEBASAN UNTUK MEMILIH DAN BERTINDAK. Karena itulah mereka berTANGGUNGJAWAB di dunia ini, dan sekaligus di akhirat nanti. Tuhan memberikan KESADARAN MORAL dalam hati manusia, yang disebut dengan FITRAH yang membuat mereka TAHU MANA YANG BAIK dan YANG BURUK.

    Di samping itu, melalui para nabi, Tuhan menurunkan WAHYU sebagai PETUNJUK untuk MEMBEDAKAN hal-hal yang terkait dengan moralitas (dalam al-Qur’an di sebut dengan istilah “bayyinat” dan “furqan”). Kalau manusia mau bertindak sebebas-bebasnya, mau bunuh orang, mau mencuri, memperkosa dsb, bisa saja. Tetapi DIA HARUS BERTANGGUNGJAWAB ATAS PERBUATANNYA.

    KEBEBASAN TANPA DIBATASI ETIKA AKAN MENIMBULKAN SUASANA KACAU BALAU DALAM KEHIDUPAN SOSIAL.

    . . .

    Mantafs . . . Sungguh sebuah pengalaman AHA

    Terima kasih pak. Kami doa-kan supaya Pak Yusril tetap sehat dan bugar serta punya waktu untuk memuaskan kita-kita ini.

  34. @rusmanik #81:

    Nah itu dia masalahnya. Pengennya sih nanya langsung pada Tuhan.

    TAPI…. tapi… are u sure u are asking the right question?
    pertanyaannya sendiri terlalu asumtif

    Bisa saja seolah2 mirip seperti ini: Seorang manusia bertanya kepada Tuhan, “ya Tuhan, kenapa kau beri aku sayap?”. Dia mengasumsikan bahwa dia punya sayap, padahal sebenarnya tidak.

    Kemungkinan kedua adalah kesalahan intrepretasi esensi kebebasan. Pertanyaan Anda mengasumsikan kebebasan adalah “sesuatu” yang diberi.

    Padahal, bisa saja seperti “gelap” adalah keadaan dimana berkurangnya “cahaya”, Kebebasan bukanlah sesuatu yang diberikan, tapi keadaan dimana diambilnya ikatan.

    Bukan pemberian, tapi pengurangan.

    Kalau memang begitu, berarti istilah kebebasan itu misleading dong? Lebih tidak ambigu kalau istilahnya diganti jadi “ketidakterikatan”.

    Kalau dari pemahaman ini, batasan kebebasan adalah “nature” dari makhluk itu sendiri. Keterikatan menyebabkan makhluk tidak dapat menggali potensi maksimumnya sesuai dengan “nature” nya, sehingga dapat disimpulkan, pengurangan keterikatan (=kebebasan) tidak lain adalah proses menuju sifat dasar dari makhluk tersebut.

    Jika memang itu definisi sejati dari kebebasan, maka atas pertanyaan kenapa kita tidak bisa bebas terbang atau jadi biawak, jawabannya sesederhana: “itu bukan nature kita, itu bukan potensi sejati kita”, karena sejatinya tidak ada larangan/ikatan untuk menjadi biawak, hanya saja (mungkin) bukan alaminya kita jadi biawak.

    Dalam pemahaman itu, jika kita mengaitkan kehendak dengan kebebasan, itu tidak lebih dari ilusi “superpower/supernatural”. Karena “sejatinya” (naturally), makhluk (mungkin) tidak dapat serta-merta mewujudkan “tataran ide”-nya ke dalam “tataran realita”-nya.

    Dengan pemahaman ini, kita akhirnya juga dapat memisahkan “kebebasan” natural, dan “kebebasan” buatan manusia.

    Nah, pertanyaan berikutnya mungkin adalah: “Apa iya, bahwa terbang bukanlah potensi natural kita?” (atau mungkin pertanyaan2 lain yg mirip seperti ini) Mungkin saja! mungkin saja kita terikat pada gravitasi, karena kita belum memahami sepenuhnya “natural” penuh kita. Tapi kalau sudah disini, bukan lagi pertanyaan filsafat eksistensialisme, mungkin lebih ke mistis :)


    Manusia: Tuhan kenapa Kau beri aku kebebasan?
    Tuhan: Hah? apa yang sedang kau bicarakan? I think you got me all wrong.

  35. Pemahaman yang serupa juga dapat diterapkan kepada pertanyaan:
    “Kenapa Tuhan menciptakan kebaikan dan kejahatan? Apa dengan begitu kita bisa bilang Tuhan itu mahabaik sekaligus mahajahat?”
    (maaf jika ada yang tidak suka saya berbicara sebebas ini)

    Jawabannya, bisa saja sebenarnya Tuhan hanya menciptakan kebaikan, dengan begitu, kejahatan tidak lain adalah keadaan dimana kebaikan telah diambil. Kejahatan tidak lebih dari habisnya kebaikan. Ini bukan yinyang! ini bukan minus 1 dan plus 1. Ini nol dan seratus.

    Akibatnya, pernyataan diatas bisa dijawab: “Oh tidak, kita cuma bisa bilang Tuhan mahabaik saja, tidak maha jahat”
    Sadly, logika ini juga bisa sebaliknya.
    Namun lebih dari segalanya, pertanyaan tersebut juga asumtif, bukan?

    Kembali ke soal kebebasan dan etika tadi.
    Jika kita membicarakan soal etika, dalam kerangka pikiran tadi, tentunya kita memberikan batasan yang (mungkin saja) tidak natural bagi satu orang, tapi natural bagi orang lain.

    Ketika seseorang mengatakan “Kamu tidak beretika!”. Pertanyaannya adalah:”Etikanya siapa?”
    Etika yang well-established di suatu masyarakat mungkin realitanya tidak applicable dimasyarakat lain atau malah diinternet.

    Agregat dari berbagai etika personal yang saling berbenturan kemudian menjadi norma sosial, yang kemudian mempengaruhi terbentuknya etika personal yang baru.

    Etika personal adalah “keterikatan” yang didefinisikan tiap-tiap orang sebagai pemahaman masing-masing terhadap “nature”nya. Dengan kata lain, orang yang “tidak beretika” berdasar standar kita, bisa saja sebenarnya sekedar memiliki pemahaman “esensi natural diri” yang berbeda dari kita.

    Kasarnya, orang yang tidak beretika, mungkin mengira esensi-natural-diri mereka adalah monyet!!! (maaf, cuma bercanda! jangan terlalu seriuslaaah)

    Tindakan meneriakinya “hey monyet monyet!” tidak akan menghasilkan apa2, karena, yah, ia khan sudah tahu itu. Lebih efektif jika kita menunjukkan esensi natural lain yang mereka tidak tahu: “Eh tau ngga? kamu bukan monyet lhoh!

    Dengan kata lain, mengatakan:”Anda tidak beretika” mungkin tidak akan seefektif: “Saya yakin, Anda lebih baik dari ini”.

  36. Yusril Ihza Mahendra

    #Bonar.. Baahh… kau sudah kayak filsuf dan “frijdenker” saja, Boss Bonar! Tapi aku senang baca tulisan kau… Kapan-kapan kita nongkorng sama Boss Sabam Sirait untuk ngomong-ngomong. Di mana saja bossi, asal jangan di lapo tuak, ah… Bisa kacau nanti..

  37. Tentang etika, saya cenderung mengaitkannya dengan budaya dan kebiasaan. Hal ini rasanya tidak pernah dirumuskan secara formal dan verbal ataupun tertulis. Namun tentu saja sebuah aturan/hukum tertulis akan berkontribusi pada pembentukan etika.

    Misal etika orang barat saat berbicara sering mengatakan sesuatu itu bagus dan nampak seperti pujian di pikiran kita orang timur, padahal untuk mereka itu biasa saja dan bukan sebuah pujian, hanya bagian dari etika berbicara.

    Di kita justru sebaliknya, negeri yang katanya ramah dan penuh budaya ini justru sering bersikap dan berkata seperti negeri yang tidak beradat, tidak berbudaya dan tidak beretika. Entah, mungkin ini hanya bagian dari euphoria demokrasi dan free speech di dunia maya.

    Di internet tidak ada yang bisa dan dianggap berwenang untuk merumuskan suatu aturan, termasuk etika. Dunia ini tanpa batas geografis dan budaya di mana semua budaya blended menjadi budaya baru bernama cyber culture. Budaya ini pun menghasilkan etika baru, yaitu netiket – internet etiquete (sering didengar pada etika ber-mailing list).

    Apakah etika offline dapat mempengaruhi etika online? Tentu saja, wong pelakunya orang juga yang membawa budaya dan etika masing-masing. Kedewasaan pribadi yang bersangkutan juga ikut mempengaruhi.

    Internet masih relatif baru, kita berada dalam masa pembentukan sebuah budaya dan etika baru, selalu ada hal baru di dalamnya yang mempengaruhi interaksi dan etika yang terbentuk.

  38. Pak yusril ihza mahendra, sekali2 bapak buat video blog atau audio blog mengingat bapak telah dikenal orang. Coba kalau mas vavai/priyadi/harry buat video blog, siapa yg kenal dan siapa coba yg mau nonton/denger ? :D ,,

    bicara ttg etika, sbenarny yg ga ber etika jg ya sebagian nyang duduk di DPR ntuh dan mungkin sebag di pemerintah dan jg di yudikatif, dan bos2 media atau jg ke poli tikus…., kl di sini kan kami2 (wa maksudny) cm tulisan komentar dan tidak pny akses ke kue yg dibagi2.

    kaitanny dg demokrasi gmn dg biaya demokrasi ?bukankah dr hasil pajak dan inflasi ?

    liat di :
    http://ekonomiorangwarasdaninvestasi.blogspot.com/2007/11/monitoring-krisis-ekonomi-ix.html

    Pemerintah/Penguasa bukan badan yang berorientasi keuntungan dan bukan pula yayasan sosial yang menciptakan kemakmuran. Pemerintah/penguasa menarik pajak, retribusi, membuat inflasi, mengeluarkan surat hutang. Katanya pajak itu akan kembali ke rakyat. Retorik itu salah. Prioritas utamanya ialah untuk mereka sendiri, membayar gaji.

    Biaya demokrasi mahal dan harus dipikul oleh rakyat baik melalui pajak tersembunyi atau inflasi (pencetakan uang baru, pengenceran nilai uang, pajak tabungan) atau pajak terbuka (pajak penghasilan, penjualan, dll). Jadi jangan heran kalau ada korelasi yang paralel antara demokrasi dan pajak. Dubai, Saudi Arabia, Brunei, Kuwait punya persamaan bahwa di sana tidak ada pajak penghasilan dan tidak ada pemilihan umum. Hong Kong tidak ada pemilihan umum, dan pajaknya sangat minimal. Sebaliknya di US atau negara-negara Eropa barat, pajaknya mencekik.

    ….

  39. saya pengen sekali bertanya banyak tentang dunia politik kepada bapak.kami masih kelas 3 SMA,kami ingin sekali mewawancarai bapak secara langsung tentang dunia politik.kami pengen penjelasan bapak secara langsung.karena bapak sudah lama berpengalaman di bidang politik.kami pecinta dunia politik.dan salah satu tokoh politik yang kami kagumi adalah bapak”Yusril Ihza Mahendra.Tolong dibalas email kami secepatnya.

  40. Bang Yusril saya tiga kali saya mewawancarai anda ketika menjadi menteri Kumdang dan Mensesneg di Jakarta dan Bandung. Kalau Bang Yusril sekarang tertarik pada dunia blog selamat. Dan saya akan wawancara melalui media ini.

    Salam Hormat

    Dadang AR
    JPNN

  41. alhamdulillah luar biasa. akhirnya saya bisa menemukan blog pak yusril. ada penyegaran pikiran setiap membaca tulisan bapak. saya pasti akan sering mengunjungi bog ini, untuk kulakan ide dan pengetahuan.dari pak yusril
    selamat pak atas blognya saya akan kunjungi terus. mudah2 an bapak sering meng apdate syukur2 setiap hari. jadi kulak-an saya juga bisa setiap hari.

    Ok sekali selamat Pak Yusril

    agus maksum

  42. Selamat, semoga bisa menularkan virusnya kepada orang lain. Syukur2 para penjabat dan mantan penjabat mau terbuka (setidaknya versi mereka sendiri).
    Dan buat mas Yusril, setelah gak jadi penjabat. selamat ber-vokal ria lagi.

  43. Hmm, begitu dalem, Anda memang penulis kawakan. Saya yang baru ingin mulai, harus belajar banyak dari anda.
    Mudah-mudahan BLOG ini banyak membawa manfaat untuk kita semua
    Salam

  44. Salaamun ‘Alaika Bang Yusril,

    Saya coba-coba menebak kemana sebenarnya arah pembicaraan abang mengenai “Kebebasan” ini. Ternyata dan tidak lain, untuk men-targetkan saudara Dragonwall dan lain sepertinya.

    Sungguh tersentak, karena saya pikir abang akan mengupas hubungan cyberfreedom dengan cyberlaw dalam kaitan tela’ah abang sebagai Guru Besar Hukum dan Professional Hukum. Tak dinyana, ternyata argumen-argumen abang berujung pada Dragonwall dan lain sepertinya.

    Tapi tak apalah bang, saya mengerti intinya abang ingin membangun alasan agar saat abang men-targetkan Dragonwall, abang memiliki ground yang acceptable.

    Komentar saya cukup sederhanda bang. Pertama, Kebebasan bukan dimulai di era Presiden Habibie tapi di era Reformasi. Reformasi telah berjalan dan Pak Habibie hanya menyesuaikan diri dengan tuntutan Reformasi. Pernyataan ini cukup argumentatif tapi toh unik.

    Kedua, kalau Kebebasan di dunia cyber itu kebablasan sudah sangat wajar. Kalau kita perhatikan pejabat pemerintah dan anggota lesgislatif yang bertugas membuat undang-undang, berapa banyak dari mereka yang berumur lebih muda dari Bill Gates dan berapa banyak dari mereka yang gaptek. Bagaimana mereka (pejabat pemerintah dan anggota legislatif) dapat segera merespon dunia cyber yang di jaman mereka tidak lazim digunakan dan mereka pun sebenarnya gaptek…??? Cukup offensif pernyataan ini tapi penuh hikmah.

    Ketiga, selama ruh “di sangkar” tubuh, ajaib kalau kebebasan hakiki itu ada. Keinginan bisa tanpa batas, tapi kemampuan pasti terbatas. Kalau kemampuan kita sebagai makhluk tanpa batas, apa artinya Tuhan bagi kita. Jadi, keinginan menulis di blog boleh tanpa batas, tapi kemampuan kita menulis di blog harus dengan batas, karena itu fitrah. Keterbatasan kemampuan kita untuk menuliskan apa yang kita inginkan di dunia cyber, tinggal menunggu waktu. Siapa yang lebih dulu, pemerintah dan legislatif yang lazim berada di dunia cyber atau pemerintah dan legislatif yang gaptek. Salah satu dipenuhi, maka dunia cyber Indonesia pun akan menjadi “ruh dalam sangkar tubuh”.

    Ma’assalaamah,
    Emil

  45. Kebebasan tetap harus ada etikanya, jika bebas sebebas-bebasnya, padahal setiap manusia berbeda-beda pemahamannya, bisa membuat situasi menjadi kacau.
    Saya juga melihat dunia blog ini sangat bebas, tapi saya juga melihat, jika ada yang mengkritik diluar batas, atau yang menyampaikan komentar tak benar…cepat atau lambat akan ada yang mengcounternya. Mungkin kita memang masih perlu waktu untuk belajar tentang kebebasan ini, agar tak menjadi bebas diluar batas kewajaran dan etika.

  46. Betul Pak … media blog merupakan media ekspresi, sharing dan pembelajaran tanpa sekat dan cukup ekomomis bila dibandingkan menggunakan media lain.

    Oh ya, sekedar sharing tulisan saya tentang sebagian kecil opini/pembelajaran dari negara tetangga sebelah [Filipina].
    Jika tertarik silakan mampir di http://jmzach.wordpress.com dan klik judul LIVE!!! [November 26, 2007].
    Semoga bermanfaat.

    Keep Blogging Pak

  47. #74 n. jamil ghazali:


    Menarik juga untuk ditanggapi karena Pak Yusril pernah berada dalam lingkaran itu. Apa memang iya instrument itu tidak pas. Kalau menurut saya, instrument itu ibarat kapal/ kendaraan barangkali sudah bagus, tinggal nagodanya saja – yang sudah diganti berkali-kali – belum memahami dengan baik atau ada anggota kru kapal yang malas, tidak profesional, berebut tempat duduk dan berebut bagian sehingga kapal sudah oleng-pun belum menyadari. Jangan menunggu kapal sudah mau karam baru saling menyalahkan .. terima kasih ..

    Ini adalah pertanyaan yg sangat baik! Anda benar, posisi kita sangat berbeda.

    Anda melihat ini sebagai persoaalan personalia. Premis anda menempatkan orang2 yang “profesional” akan memecahkan persoalannya.

    Tapi dari mana kita mendapatkan orang2 profesional tsb? Negara kita ini besar, rakyatnya 200 juta. Untuk mengaturnya butuh luar biasa banyak personil. Kita harus berangkat dr asumsi realistis. Kalau anda menilai personil yg sekarang belum profesional, ya memang baru sampai situ level profesionalitas kita. Jadi mau anda ganti2 personilnya bagaimanapun, tidak akan membuat banyak perbedaan.

    Tapi mungkin kita masih bisa mencarikan kapal lain yg lebih cocok untuk profil dan batasan2 yg kita miliki….

  48. Saya baca dulu ya Mas, kalau menarik akan jadi pembaca pemanen. Yang penting saya dapat kejutan nih … orang seperti Yusril mau ngeblog. Selamat datang di dunia ‘sesunguhnya’. Salam.

  49. Ass pak Yusril…
    Dulu saya kurang menyukai penampilan dan gaya bapak yang terkesan angkuh dan arogan (kalau tampil di tv), ditambah lagi dengan pemberitaan berbagai media masa yang kerapkali menyudutkan bapak maka lengkaplah sudah ketidaksukaan saya.
    Tetapi kini setelah saya mencoba menelusuri blog bapak dan mencoba untuk menikmati dan memahami seluruh tulisan bapak, sikap saya terhadap bapak sontak jadi berubah. saya tidak tahu penyebabnya kenapa saya bisa berubah. dan saya jadi malu sendiri betapa selama ini saya telah keliru menilai bapak. selama ini saya telah dan selalu berpikiran negatif terhadap bapak, sekarang saya baru menyadari ternyata selama ini saya telah menjadi korban bobroknya pemberitaan media masa, saya telah terhanyut oleh bualan2 kosong mereka.
    Karenanya saya berharap agar bapak bisa terus mempertahankan keberadaan BLOG ini, yang manfaatnya telah saya rasakan secara langsung. dan saya mohon kepada bapak agar bisa mengajak rekan bapak yang lain (yang punya pengaruh dijagad perpolitikan nasional) untuk ikut terjun juga didunia BLOG, dan juga saya usulkan agar dimasa datang para anggota Dewan diwajibkan memiliki Bolg masing2 supaya kita bisa tahu apa saja sepak terjang mereka selama duduk menjadi anggota Dewan.
    sekian saja dulu pak! terimakasih atas tulisan2nya yang penuh pencerahan.
    wassalam

  50. ye…. jadi yang keseratus :D

    wah… panjang euy bahasannya, tapi te o pe be ge te es ka el deh

    seandainya manusia itu merasa bisa bebas sebebas-bebasnya dalam hal apa pun, bisa jadi manusia itu telah menghilangkan atau kehilangan fitrahnya sebagai manusia. sebab, seperti yang bapak bilang tulis, manusia dan makhluk-makhluk lainnya punya batasan masing-masing, baik secara fisik maupun sosial.

    masalah penyerangan pribadi lewat tulisan mah udah biasa pak :D apalagi di forum-forum diskusi, dibawa santai aja ^_^

    bey de wey ani wey bus wey, istri bapak seneng sama psikologi dan filsafat ya… sama donk kaya saya, punya blog juga ga pak? mau maen juga nih ke sono. eh, iya. di blog ini kok ga ada kotak pesennya pak? kalo ada kan jadi lebih enak kalo mau sekadar ngobrol tanpa mengomentari tulisan :D

    NB : jangan tanya kenapa saya pake nama ini ya… ^_^

Leave a Reply