- Yusril Ihza Mahendra - https://yusril.ihzamahendra.com -

KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAGIAN VI)

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,

Pengempangan [1]Setelah saya sering berkelana di dalam hutan diumur 5-6 tahun, saya mulai tertarik dengan laut ketika memasuki usia tujuh tahun. Seperti telah saya singgung pada Bagian V [2], saya sesekali ikut pergi ke tepi pantai bersama kakak saya Yusfi. Tapi karena dia makin sibuk bersekolah di SMP yang jaraknya agak jauh dari rumah kami di Kampung Sekep, dia mulai jarang pergi ke pantai. Usman, tetangga saya, mengajak saya pergi ke pantai. Ayahnya, Muhammad, adalah seorang nelayan Bugis. Kakeknya, Baharun, juga nelayan. Saya mengikuti Usman peri ke pantai menunggu ayahnya pulang melaut. Biasanya kami pergi dari rumah sekitar pukul sepuluh pagi, setelah saya mengisi air keperluan di rumah, dan membantu ibu saya menyelesaikan pekerjaan di rumah.

Perjalanan dari Kampung Sekep ke Pantai Pengempangan kira-kira berjarak dua kilometer. Kami berjalan kaki tanpa alas kaki, menelusuri jalan setapak melawati Kampung Bakau. Di jalan kami sering bertemu serombongan biawak yang bermain di danau berair payau yang ditumbuhi banyak pohon Nipah. Di sisi kiri jalan menuju Kampung Bakau itu ada kulong (danau bekas tambang timah) berair asin, yang dinamai Kulong Wak Nutok. Nama itu diambil dari seorang yang berasal dari Jawa, namanya Noto, yang tinggal di tepi kulong itu. Dia memiliki perahu yang dilabuhkan di situ dengan sebuah jangkar. Kulong Wak Nutok juga banyak ikannya. Kadang-kadang kami mampir di kulong itu mencari timung dan simping, sejenis lokan air payau. Kampung Bakau yang kami lintasi, hanya dihuni tiga keluarga. Pertama keluarga Bajeri, yang pernah saya ceritakan di Bagian II [3] sebagai pemain biola yang handal. Kedua, keluara Baharu. Beliau ini pegawai PU yang kerjanya sehari-hari memperbaiki jalan yang rusak. Ketiga, keluarga Salim Simin. Saya tak ingat apa pekerjaan Salim Simin itu. Namun beliau seorang pejuang, yang di zaman Revolusi ikut dalam berbagai pertempuran.

Saya mengenal semua penghuni Kampung Bakau yang hanya tiga keluarga itu. Anak-anak Baharu dan Salim Simin yang bernama Ee, Andot dan Patani adalah teman-teman saya juga. Mereka mengajari saya cara membuat perahu-perahuan dari kayu pohon waru yang diberi layar kain bekas untuk kami bermain. Saya sering juga ikut mereka berenang di kulong di belakang rumahnya ketika air laut pasang dan mengalir sampai ke sana. Agak bahaya juga mandi di situ, karena kami pernah melihat buaya sedang berenang di kejauhan. Anak Bajeri – beliau saudara sepupu ayah saya dari pihak ibu – semuanya sudah besar. Jadi tidak ada yang dapat dijadikan teman bermain. Ada dua anak Bajeri yang sudah dewasa, tetapi belum kawin. Anak laki-laki bernama Ahad, namun yang perempuan saya sudah lupa namanya. Anak yang perempuan itu cantik, kulitnya putih, umurnya kira-kira 19 tahun. Anak-anak menyebut gadis itu Putri Bakau. Ketika melewati Kampung Bakau, saya sering mendengar Bajeri meggesek biola, atau menabuh hadrah. Ketika itu beliau sudah tua. Namun hidupnya tetap bagai seniman.

Kampung Bakau nampak bagai sebuah pulau. Kampung itu dikelelingi air dan dihubungkan dengan jembatan terbuat dari pohon kelapa. Pohon kelapa di kampung itu banyak sekali. Banyak juga pohon cemara laut, pohon penaga dan pohon waru. Tidak jauh dari jembatan Kampung Bakau, ada sebuah rumah cukup besar. Pemilik rumah itu adalah Sadam. Belakangan diolok-olok orang sebagai Saddam Hussein, Presiden Irak yang amat tersohor namanya. Sadam memiliki kebun kelapa yang luas. Dia juga mempunyai beberapa perahu yang diparkir di tepi pantai dekat rumahnya. Tempat Sadam memarkir perahu itu, lama kelamaan disebut orang sebagai Pangkalan Sadam. Anak Sadam yang bernama Rahim, belakangan menjadi teman kami sekolah ketika SMP. Sadam adalah orang yang cukup ramah. Sebelum banyak anak-anak bersunat di rumah sakit, Sadam adalah tukang sunat tradisional. Anak-anak konon direndam Sadam sehari suntuk, sebelum disunat pakai pisau cukur. Seram juga mendengar Sadam menyunat anak-anak di zaman dahulu. Meskipun begitu, konon disunat Sadam tidaklah sakit, karena dia menyunat menggunakan jampi-jampi.

Dengan melintasi Kampung Bakau, maka tibalah kami di tepi pantai di Pangkalan Sadam itu. Dari sana kami menyusuri pantai menuju Pengempangan. Pantai Pengempangan ketika itu dikelola kakek IMG_0001saya Haji Zainal bin Haji Ahmad. Banyak pohon kelapa di pantai itu yang ditanam sejak ayah kakek saya Haji Ahmad masih hidup. Kakek saya mempunyai pondok kecil di situ yang beliau bangun bertengger di tebing batu di kaki Bukit Samak. Ada dua pondok tempat orang duduk-duduk dan tiduran di Pantai Pengempangan itu sambil menunggu nelayan pulang melaut. Tempat itu sekaligus digunakan untuk menimbang ikan, sebelum dibawa ke pasar untuk dijual. Ada juga warung kecil tempat orang berjualan penganan dan minuman. Di bangunan yang agak besar dibuatkan papan catur di lantai papan. Banyak orang main catur, nelayan, tengkulak ikan dan anak-anak. Pak Lurah Daeng Semaong, yang selalu memakai topi kontroluer orang Belanda, juga sering-sering berada di tempat itu. Kalau ada Daeng Semaong, semua orang Bugis di tepi pantai itu tunduk menghormat. Beliau sangat berwibawa dan disegani.

Bagi saya yang masih kecil, bermain di pantai itu sungguh menyenangkan. Sebelum nelayan datang melaut, kami mandi sambil berenang menuju bebatuan yang tidak terlalu jauh dari pantai. Saya pandai berenang tanpa ada yang mengajari, karena pandai dengan sendirinya setelah setiap hari mencebur ke laut. Kamipun biasa menyelam, tanpa memakai kaca mata selam, seperti yang digunakan nelayan Buton ketika mereka memanah ikan di sekitar karang di dalam air. Tempat yang sering kami jadikan ajang lomba renang adalah Batu Malang, yang berjarak sekitar 80 – 100 meter dari pantai. Kami tenang-tenang saja melintasi alur, walau arus terkadang deras untuk sampai ke batu itu. Di Batu Malang saya sering menyelam mengambil akar bahar yang bagus bentuknya. Akar bahar berwarna hitam dapat dijadikan gelang. Sering juga saya melihat penyu bersarang di karang-karang sekitar Batu Malang itu. Banyak juga ikan-ikan kecil. Pemandangan di bawah laut, dengan kedalaman kira-kira tiga-empat meter itu sungguh mengagumkan.

Kami berenang di laut itu kadang-kadang sampai petang. Kalau ada perahu nelayan datang, kami sibuk membantu nelayan mengangkat perahu, membersihkannya dan menaruh ikan dalam keranjang rotan untuk ditimbang di pondokan tepi pantai. Selesai melakukan pekerjaan itu, semua anak-anak yang membantu diberi upah satu atau dua ekor ikan ukuran kecil oleh nelayan. Kalau tangkapan ikan sangat sedikit, kami tidak diberi apa-apa. Ikan-ikan itu kami cucuk dengan akar atau rotan dan digantungkan di pondok itu. Kami berenang lagi, menunggu nelayan lain yang datang. Kami bekerja membantu mereka lagi. Setelah dikasi ikan, kami menambahkannya pada ikan-ikan yang sudah kami gantungkan terlebih dahulu. Kamipun berenang lagi sambil menunggu perahu lain yang datang merapat ke pantai.

Pekerjaan membantu nelayan itu terasa sungguh menyenangkan. Kami bekerja sambil bermain. Kadang-kadang menyusuri pantai mengumpulkan kerang-kerang kecil dan kadang-kadang juga kepiting pantai. Saya belajar membedakan mana kepiting yang boleh dimakan, mana kepiting yang mabuk. Saya juga mengenal nama berbagai jenis ikan. Saya juga belajar membedakan mana ikan yang masih segar, mana ikan yang sudah tidak segar lagi, tanpa harus melihat insang ikan itu. Di zaman itu, nelayan tidak membawa es untuk melaut. Mereka melaut tidak terlalu jauh, maklum hanya menggunakan perahu katir yang kecil tanpa mesin. Mereka berangkat tengah malam dan pulang siang hari. Orang Belitung kurang suka makan ikan yang sudah didinginkan dengan es itu. Mereka bilang rasanya sudah tidak enak lagi.

Kalau air surut jauh ke tengah, maka perahu katir itu harus diangkat atau dipikul beramai-ramai ke pangkalan di tepi pantai. Setelah semua nelayan pulang melaut, kamipun pulang sambil menenteng ikan yang ditusuk dengan rapi pemberian para nelayan. Ikan itu untuk makan keluarga kami masing-masing. Biasanya saya sampai di rumah sekitar pukul 3-4 sore. Kalau saya sampai ke rumah, ibu saya akan menanak nasi sambil memanggangkan ikan. Saya tentu sudah sangat lapar seharian bermain di pantai. Ikan yang dipanggang itu saya makan dengan tumbukan cabe dan garam saja. Rasanya enak sekali. Ibu saya kemudian membersihkan dan memasak ikan-ikan yang lain untuk makan malam kami sekeluarga. Ikan yang saya dapat, kadang-kadang banyak sekali. Cukup untuk dua atau tiga kali makan kami sekeluarga.

Sebelum kami mandi dan berenang, biasanya kami naik lebih dahulu ke atas bukit, untuk melihat layar perahu nelayan. Dengan melihat layar itu, kami dapat memperkirakan berapa lama lagi mereka akan mendarat di pantai. Kami tidak boleh berada di tempat yang jauh ketika perahu datang. Bisa-bisa kami tidak dapat membantu mengangkat perahu dan dengan sendirinya tak dapat upah ikan. Kadang-kadang ikan itu kami bakar juga di tepi laut, kalau perut sudah lapar sehabis berenang sambil menunggu perahu lain datang mendarat. Ikan yang saya bakar tidak pernah ikan yang utuh. Ikan yang utuh harus saya bawa pulang untuk makan keluarga kami. Ikan yang saya panggang itu ialah belahan ikan kerisi atau ikan anjang-anjang, yang sisi lainnya dijadikan umpan untuk memancing ikan tenggiri. Kadang-kadang kami juga memanggang belahan dada ikan tenggiri sisa umpan untuk memancing ikan kerisi. Belahan ikan kerisi bekas umpan itu, kami sebut ikan talep-talepan. Istilah ini mungkin berasal dari Bahasa Bawean. Namun ikan talep-talepan panggang itu enak sekali setelah dicuci dengan air laut lebih dahulu sebelum dipanggang. Kami memanggang ikan itu menggunakan sabut dan pelepah kelapa serta kayu-kayu yang hanyut di tepi pantai.

Saya bermain dengan anak-anak nelayan dan anak-anak kampung yang miskin di tepi laut itu sejak belum masuk SD hingga kelas V. Jadi lebih lima tahun lamanya, hampir setiap hari. Bisa dibayangkan, jika ketika kecil itu kulit saya hitam terbakar matahari. Rambutpun menguning karena dibasahi air laut dan teriknya sinar matahari di tepi pantai. Pakaian compang-camping dan semuanya tidak pakai alas kaki. Namun itulah kehidupan anak-anak pantai yang miskin. Anak-anak kecil sudah harus berpikir membantu meringankan beban keluarga, suatu hal yang mungkin tidak pernah terpikirkan anak-anak di kota dan keluarga orang kaya. Saya banyak berpikir dan merenung di tepi pantai khususnya kalau musim Selatan sudah tiba. Saya merenung tentang kesusahan hidup, tentang jurang antara orang miskin dan orang kaya, serta berpikir tentang masa depan agar hidup lebih baik. Sering saya merebahkan badan di sela-sela batu, atau di pasir yang dingin bawah pohon kelapa dan pohon cemara. Angin kencang menderu-deru. Gelombang laut memutih. Ombaknya meruntuhkan bibir pantai menimbulkan abrasi. Dalam situasi seperti itu, kadang-kadang empat bulan, kadang-kadang lebih, hanya satu dua nelayan yang berani berjibaku turun ke laut. Mereka mencoba memancing ikan senangin, ikan mayong dan kadang-kadang memancing ikan kincir (sejenis ikan marlin) yang ada tombak di ujung mulutnya.

Saya masih ingat salah seorang rekan kami yang masih muda dan pemberani, pergi melaut di musim Selatan. Namanya Hamdani. Dia anak Pak Said Ja’far, salah seorang imam mesjid di Kampung Lalang. Hamdani sudah dinasehati nelayan lain agar tidak melaut, tapi dia nekad saja. Hamdani melaut sendirian di tengah anginIMG_0002 kencang dan ombak besar. Malang baginya dia hilang di laut. Nelayan lain tak berani mencarinya mengingat angin dan ombak begitu besar. Berhari-hari kami menunggunya pulang, tapi tak pernah kembali. Ayahnya Said Dja’far nampak sangat sedih dan terpukul. Ada kapal besi yang mendarat di Manggar dan melaporkan mereka melihat sebuah perahu katir melaju kencang ke arah Selat Karimata. Said Dja’far menduga Hamdani hanyut ke Ketapang, Kalimantan Barat. Beliau pergi ke sana mencari anaknya, namun nelayan di sana tak juga menemukan Hamdani. Dia hilang di laut. Jenazah maupun perahu katirnya tak pernah ditemukan. Saya sendiri menitikkan air mata mendengar hilangnya Hamdani. Saya selalu terbayang wajahnya yang tampan, ramah dan baik hati. Umurnya ketika itu mungkin sekitar delapan belas tahun. Saya membayangkan, alangkah tragisnya hidup jadi nelayan. Hasil tak seberapa, namun nyawa jadi taruhan.

Meskipun saya tahu di musim Selatan tak banyak bahkan tak ada nelayan turun ke laut, namun seperti telah saya katakan, saya tetap saja pergi ke pantai. Kadang-kadang saya hanya membantu nelayan membetulkan perahu menggunakan dempul dan kulit kayu gelam untuk menambal, atau menjahit layar yang koyak. Sering pula saya belajar sambil membantu saudara sepupu ayah saya, namanya Kik Amang, membuat pukat (jaring ikan) dan membuat jala. Kik Amang adalah saudara kandung Badjeri, sang pemain biola. Kegiatan membuat pukat atau jala itu kami sebut membubul. Pukat dibuat dengan nilon menggunakan jarum besar yang dibuat dari bambu. Jala dibuat dari bahan sejenis benang sutera sintetis. Kik Amang adalah orang tua yang ramah dan suka mengajari kami bagaimana caranya membuat pukat, khususnya pukat tarik. Beliau bukan tengkulak ikan, tetapi pemilik banyak perahu katir yang dikerjasamakan dengan nelayan dengan sistem bagi hasil. Pukat jenis ini panjangnya ratusan meter ditarik empat orang dari laut ke arah pantai ketika air surut. Kalau musim Selatan tiba, pukat tarik banyak membantu nelayan menangkap ikan-ikan kecil. Ikan yang paling banyak ditangkap ialah ikan selangat dan ikan layur.

Ketika tak ada nelayan melaut, kadangkala saya hanya duduk-duduk di bawah pohon sambil membaca komik atau cerita silat. Cerita silat yang saya baca berjilid-jilid tak habis-habisnya adalah karya SH Mintardja, Nagasasra dan Sabuk Inten. Cerita itu sangat menarik mengisahkan perebutan takhta di Kerajaan Pajang. Konon, siapa yang berhasil memiliki dua keris yang sakti mandraguna itu akan menjadi raja di Pajang. Banyak sekali unsur falsafah yang membuat saya berpikir tentang perjuangan, pertarungan antara kebaikan dengan kejahatan, yang semuanya memberi inspirasi kepada saya yang masih kecil. Ketokohan Mahesa Djenar dalam kisah itu, memberi inspirasi tentang keberanian, jiwa kesatria dan keteguhan hati seorang pejuang membela kebenaran, serta pembelaan kepada kaum yang lemah.

Karena tak ada nelayan turun melaut, maka tak ada ikan yang akan saya bawa pulang untuk dimakan di rumah. Dalam situasi seperti itu hati saya sering merasa sedih. Saya tahu tidak ada lauk yang akan dimakan. Hati saya sedikit terhibur, jika di sela-sela duduk atau tiduran di bawah pohon cemara sambil membaca buku, saya memandang ke arah laut dan melihat sebuah layar di tengah ombak yang memutih. Layar itu terlihat samar-samar saja disela-sela ombak dan angin kencang. Saya dapat membedakan layar itu layar katir atau layar perahu walau dari kejauhan, karena bentuknya yang berbeda. Semakin lama, saya melihat layar itu semakin mendekat ke pantai. Benar juga, yang datang itu adalah perahu Bugis yang turun ke darat dari sebuah pulau kecil jauh di lepas pantai. Nelayan Bugis itu memasang mayang untuk menangkap cumi-cumi serta ikan selar dan ikan jui atau ikan japu dalam jumlah yang besar. Setelah ikan-ikan itu ditangkap mereka membuat ikan asin di pulau kecil itu. Mereka menetap di sana untuk sementara. Ada sebuah pulau, namanya Pulau Buku Limau, yang dihuni oleh puluhan keluarga Bugis lengkap dengan sebuah mesjid di tengahnya. Perahu Bugis itu turun ke darat membawa puluhan bahkan ratusan karung ikan asin yang telah disusun rapi di dalam karung sumpit terbuat dari daun pandan.

Karena tak banyak orang di pantai di musim angin kencang, maka saya turut membantu nelayan-nelayan Bugis itu menurunkan ikan asin di sebuah pondok di pantai. Hanya satu dua nelayan itu yang pandai berbahasa Indonesia. Selebihnya berbahasa Bugis belaka. Mereka nampak senang menurunkan ikan ke darat sambil tertawa dan bernyanyi. Lagu-lagunya dalam bahasa Bugis. Ikan asin kemudian itu dibawa dengan truk ke Pasar Lipat Kajang, kemudian dibawa ke Jakarta dengan kapal kayu. Setelah mendapat uang nelayan Bugis kemudian berbelanja membeli keperluan sehari-hari untuk dibawa ke pulau. Mereka biasanya membeli beras, gula, dan peralatan lampu petromaks untuk penerangan dan sekaligus dipasang di bagan di waktu malam, agar ikan dan cumi-cumi datang dan kemudian terjerat di dalam jaring bagan mereka.

Penampilan nelayan Bugis di Pasar Lipat Kajang kala itu sangat khas. Mereka selalu berkelompok memakai kain sarung dan peci hitam. Orang Belitung hanya menggunakan pakaian seperti itu kalau akan pergi ke mesjid. Entah apa sebabnya, seringkali timbul salah paham antara nelayan itu dengan orang lain atau bahkan sesama kelompok orang Bugis itu sendiri. Sekali dua terjadi perkelahian menggunakan pisau dan korban sering jatuh, walau tidak mati. Hanya sekali seorang polisi jadi korban hingga tewas karena melerai dua orang Bugis saling berkelahi di pasar kecil di Kampung Cemara. Polisi itu saya masih ingat, namanya Harun, mungkin berasal dari Palembang. Ketika Harun yang masih berseragam dinas datang melerai, kedua orang yang berkelahi itu berbalik menyerangnya. Harun tertusuk pisau berkali-kali yang menghunjam dada dan perutnya. Dalam keadaan terhuyung dan terjatuh, Harun masih sempat menembak salah seorang Bugis yang berkelahi itu. Dia tewas setelah peluru bersarang di kepalanya. Namun Harun juga menghembuskan nafas terakhir setelah dibawa ke Rumah Sakit. Saya ingat persis peristiwa itu terjadi pada tahun 1964, ketika saya berumur delapan tahun. Saya tak melihat langsung perkelahian itu. Ketika saya datang, saya hanya menyaksikan darah bercucuran di tanah dan jenazah orang Bugis yang tergeletak memakai kain sarung.

Baiklah kita tinggalkan kisah perkelahian di atas, dan saya akan meneruskan lagi kisah saya membantu nelayan Bugis di Pantai Pengempangan tadi. Selesai membantu perahu Bugis mengangkat ikan itu, maka juragan perahu itu dengan senang hati memberi kami sekarung ikan asin untuk dibagi-bagi kepada orang yang membantu mereka. Nelayan-nelayan Bugis itu baik dan ramah, walau wajah mereka yang telah berminggu-minggu di laut nampak hitam dan sedikit menakutkan bagi saya yang masih kecil. Sebelum pulang ke rumah, saya membakar ikan asin itu menggunakan sabut kelapa, karena perut telah terasa lapar. Saya belum makan hingga hari telah petang. Saya makan ikan asin itu tanpa nasi sambil minum air kelapa. Senang juga hati saya ketika pulang ke rumah. Ikan asin yang banyak itu dapat dimakan berhari-hari tanpa harus membeli atau berutang ikan asin di warung.

Di antara sekian banyak nelayan di Pantai Pengempangan itu, hanya seorang yang sering membaca. Namanya Rahili. Dia masih muda, konon pernah bersekolah sampai kelas II SMA di Jakarta. Entah mengapa dia pulang ke Belitung dan menjadi nelayan. Padahal, dengan ijazah SMP saja di awal tahun 1960, seseorang dengan mudah akan diterima menjadi pegawai rendahan di perusahaan timah. Rahili bilang kepada saya, dia ingin jadi orang bebas. Dia tak ingin kerja makan gaji namun selalu diperintah orang lain. Jadi nelayan, meskipun susah dpat memberikannya kebebasan itu. Dalam pengamatan saya, Rahili sebenarnya tak seberapa pandai memancing jika dibanding nelayan Bugis dan Bawean. Dia melaut semaunya saja, kadang-kadang melaut kadang-kadang tidak. Kalaupun dia melaut, hasilnya hanya sedikit dibanding nelayan lain. Buku yang dibaca Rahili itu, anehnya adalah buku pelajaran sekolah. Dia bilang pada saya, dia harus membaca buku pelajaran itu untuk mengajari keponakannya bikin pekerjaan rumah. Keponakan Rahili, anak-anak Pak Long Bakar– saudara sepupu ayah saya – memang ada yang sekolah di SMP dan SMA. Mereka minta diajari Rahili bikin PR.

Salah seorang nelayan lain orang asli Belitung yang sering ngobrol dengan kami, namanya Majus. Orang dikampung memanggilnya Pak Jong. Sampai tua beliau ini hidup membujang. Pengetahuannya terbilang luas. Di zaman Belanda dia merantau ke Jakarta dan bersekolah di sana, entah sekolah apa. Beliau bercerita kepada saya bahwa beliau bersahabat dengan ayah saya sejak muda, dan pernah sama-sama tinggal di Jakarta. Mereka tinggal di belakang Kantor Pos Cikini, katanya. Saya tidak dapat membayangkan di mana letak Kantor Pos Cikini itu. Saya belum pernah pergi ke Jakarta. Bagi saya, Jakarta itu sangat jauh, tak terbayangkan dalam pikiran saya. Jangankan ke Jakarta, untuk pergi ke ibu kota kabupaten saja di Tanjung Pandan, rasanya jauh sekali. Saya harus naik truk atau baik bis untuk pergi ke sana. Jalan-jalan di Jakarta, kata Pak Jong lebar sekali dan banyak persimpangannya. Pada tiap persimpangan jalan raya ada lampu merah dan hijau untuk mengatur lalu lintas. Di zaman itu beliau berkelana mengelilingi Jakarta sampai ke Bekasi, Tangerang dan kota-kota sekitarnya naik sepeda. Kalau tersesat katanya, sepeda itu dinaikkan di atas beca untuk diantar pulang ke tempat semula. Demikian cerita Pak Jong yang saya simak baik-baik.

Sama seperti Rahili, Pak Jong adalah orang kampung yang mendambakan kebebasan. Hidupnya bagai pengembara tanpa pernah merasa terikat dengan orang lain. Dia merantau ke berbagai negeri seperti tanpa tujuan, dan pulang ke kampung ketika usia IMG_0023mulai senja. Untuk sekedar membiayai hidup, dia melaut seadanya saja. Menjadi nelayan, dia seperti menemukan kebebasan. Dia tidak mau kerja diperintah orang lain. Cerita-cerita Pak Jong diperantauan menarik perhatian saya. Namun jalan pikirannya kadang-kadang sukar dipahami. Dia banyak berpikir tentang sesuatu yang tak lazim bagi orang lain. Dia mengolok-olok laki-laki yang menikah, karena menurutnya hal itu perbuatan bodoh, karena mereka akan kehilangan kebebasan. Anak orang lain malah dipelihara katanya. Padahal untuk memelihara diri sendiri saja sudah susah. Dia ingin hidup bebas. Kebebasan itu rupanya dinikmatinya dalam kesendirian. Dia juga mengolok-olok orang bermain sepak bola sebagai orang tolol. Masak bola hanya sebuah, dikejar-kejar ke sana ke mari bikin capek saja, katanya. Namun anehnya, Pak Jong penggemar vollyball. Dia selalu nongkrong di pinggir lapangan Klub Tunas Muda di depan rumahnya, walau saya tak pernah melihatnya ikut bermain.

Rahili dan Pak Jong adalah dua nelayan yang suka sekali dengan anak-anak yang bersekolah. Mereka selalu mendorong agar anak-anak meneruskan pendidikan agar jadi orang pintar, kata mereka. Nelayan lain, umumnya tidak perduli dengan pendidikan. Dunia mereka hanya laut dan ikan belaka. Pak Jong juga sering ngobrol dengan nelayan-nelayan lain, terutama tentang letak karang-karang tempat memancing di laut. Pak Jong nampak hafal letak karang-karang yang banyak dihuni ikan di sekitar laut Belitung Timur. Di zaman itu belum ada alat GPS yang dengan mudah menentukan koordinat letak sebuah karang di laut. Mereka umumnya berpedoman pada bintang jika berlayar malam. Untuk memastikan letak karang, mereka penggunakan pedoman gunung, pulau atau pohon yang tinggi yang terletak di daratan. Bukit Samak dan Gunung Burung Mandi, yang segera nampak dari kejauhan dari tengah laut adalah patokan pedoman utama dalam berlayar dan memancing ikan.

Nelayan-nelayan pendatang dari Bugis, Bawean, Bima dan Buton, banyak belajar pedoman dengan Pak Jong. Dia tidak merahasiakan letak karang-karang itu, agar semua nelayan dapat menemukannya dan memancing di sana. Pak Jong sendiri tidak perduli. Seperti telah saya katakan, dia pencinta kebebasan sehingga melaut seenaknya saja. Kalau mau kelaut dia pergi. Kalau tidak, berminggu-minggu dia hanya nongkrong saja di tepi pantai hanya ngobrol-ngobrol tak tentu arah. Pak Jong tinggal bersama kakaknya, namanya Pak Angging. Pak Angging agak pendiam. Dia jarang ngobrol dengan nelayan lain. Dua anak Pak Angging, Said dan Suud yang masih muda, juga sering turun ke laut. Pak Jong hidup santai. Walau saya senang mendengar cerita Pak Jong, namun ketika saya masih kecil, saya sudah berpikir bahwa gaya hidup santai seperti Pak Jong itu tak bisa diikuti.

Walaupun Rahili adalah nelayan yang akrab dengan saya, namun usia kami berbeda jauh. Saya sering bertanya kepadanya tentang Jakarta, ketika Rahili sekolah SMP dan SMA. Rahili membayangkan, hidup di kota besar sangatlah sulit. Orang tak mempunyai rasaIMG_0022 gotong royong saling membantu seperti orang di kampung. Setiap orang hanya tahu urusannya sendiri. Dari cerita Rahili, saya tahu dia putus sekolah karena kekurangan biaya. Ayahnya di kampung wafat, sehingga tak ada keluarga lain yang mampu mengirimkan uang padanya. Dari percakapan saya dengan Rahili, saya tahu dia sangat pintar, terutama aljabar, kimia dan ilmu ukur, yang keponakannya selalu minta diajari itu. Sebenarnya Rahili senang bercanda. Namun dia sering menyendiri di perahunya. Jarang-jarang dia bercengkrama dengan nelayan lain. Saya belajar dengan Rahili bagaimana mengikat mata pancing ikan yang besar, termasuk mengikat dawai untuk memancing ikan tenggiri, agar mata pancing itu tidak terlepas ketika di makan ikan.

Beda dengan Rahili, saya sering juga mendengarkan nelayan dan tengkulak ikan saling ngobrol antar sesamanya di pondokan yang agak besar di tepi pantai. Adik kakek saya, Pak Yakub, adalah orang yang paling banyak ilmunya di antara sekian banyak orang yang suka ngobrol di pondokan itu. Pak Yakub adalah tamatan Institut Manggar, sekolah setingkat HBS di zaman belanda, dan beliau seorang guru. Tukang ngobrol yang lain ialah Alexander, putra Kik Amang, yang juga nelayan sambil membuka kedai kelontong di rumahnya. Pak Long Bakar, saudara sepupu ayah saya — beliau juga seorang tengkulak ikan — tidak begitu banyak ngobrol, walau beliau selalu mendengarkan orang-orang yang duduk ngobrol dan kadang-kadang sambil bermain catur. Orang-orang lain yang suka ngobrol itu adalah dari kalangan nelayan dan tengkulak ikan suku Bugis dan Bawean. Salah seorang tengkulak ikan suku Bugis, namanya Pak Jawi. Beliau banyak ngobrol menggunakan Bahasa Melayu dialek Bugis. Mendengar logal bicara nelayan Bugis, Bawean, Bima dan Buton sering terdengar lucu di telinga saya. Ada juga tengkulak ikan orang Cina, namanya Atjoi, yang sering nimbrung ngobrol beramai-ramai.

Apa yang diobrolkan orang di tepi pantai itu adalah segala macam peristiwa, dari dunia sampai akhirat. Mulai dari cerita lucu-lucu, cerita hantu-hantu sampai ngobrol masalah politik. Konfrontasi RI-Malaysia ketika itu menjadi isyu yang hangat. Kebanyakan nelayan-nelayan itu, termasuk Pak Yakub, adik kakek saya, nampak kurang setuju. Mengapa kita perang sesama Melayu kata mereka. Ada pula pembicaraan tentang Jawa non Jawa. Mulai pecahnya konfrontasi menyebabkan orang Belitung kurang merasa senang. Di Bukit Samak ketika itu ditempatkan sepasukan tentara dari Kodam Dipongeoro dan Kodam Siliwangi. Sebagian tentara-tentara itu kadang-kadang datang untuk ngobrol di pantai. Mereka berbicara Bahasa Indonesia logat Jawa dan Sunda yang sangat kental, sehingga terasa asing di telinga kami. Perasaan kurang suka dengan tentara-tentara itu, juga disebabkan mereka nampak seperti mencurigai orang kampung sebagai berpihak kepada Malaysia.
Di balik bukit Samak, ketika itu dijadikan daerah terlarang untuk dimasuki. Kawasan itu dijaga siang-malam oleh prajurit bersenjata lengkap. Para nelayan dan tengkulak ikan yang ngobrol di pondokan tepi pantai itu mengatakan bahwa tentara memasang radar dan meriam penangkis serangan udara di kawan semak-semak itu. Mungkin yang mereka maksud itu sekarang ini yang dinamakan rudal darat ke udara. Kampung kita, kata mereka, dijadikan basis pertahanan untuk menghadang Angkatan Udara Inggris, jika mereka akan menyerang Jakarta dari Singapura. Dari obrolan itu, saya juga mendengar bahwa banyak pesawat tempur RI ditempatkan di lapangan terbang militer di dalam hutan, yang terletak di Kampung Sungai Padang. Letak Kampung Sungai Padang, agak jauh dari Manggar. Mungkin sekitar 100 km. Saya sudah lama mendengar bahwa Kampung Sungai Padang dijadikan basis Angkatan Udara, tetapi saya belum pernah pergi ke sana.

Kami memang sering menonton pesawat-pesawat tempur yang disebut pesawat MIG yang terbang menggelegar sambil memancarkan gas di udara. Mereka terbang berombongan dan rendah sekali, sehingga nampak oleh mata kepala. Dari banyaknya tentara yang sering datang ke Pantai Pengempangan itu, saya dapat membedakan seragam Angkatan Darat dan seragam Angkatan Udara. Angkatan Udara itu memakai baju biru. Topinya juga beda dengan Angkatan Darat. Mereka mengendarai jeep buatan Rusia berwarna biru. Di dalam jeep itu ada senapan mesin yang panjang, lengkap dengan pelurunya. Angkatan Udara itu sering-sering menembak kelapa, yang membuat kakek saya merasa kurang senang dengan kelakuan mereka. Kata kakek saya, kalau peluru itu mengenai umbut kelapa, maka pohon kelapa itu akan mati. Kalau menembak buahnya saja tidak apa-apa.

Suatu hari para nelayan dan tengkulak ikan itu bercerita tentang nasib Tukang Dakocan yang sering keluar masuk kampung menjual manisan kembang gula. Orang kampung menyebut dua penjual gembang gula itu dengan istilah demikian, karena mereka IMG_0014menggunakan cetakan terbuat dari tanah liat yang dalamnya diisi adonan gula berwara-warni. Adonan itu kemudian ditiup dan membentuk gambar boneka yang kami sebut Dakocan itu. Anak-anak senang sekali dengan tukang dakocan itu karena dia dapat mencetak boneka kembang gula berbagai bentuk dan berwarna-warna. Harganya pun murah saja, walau saya sendiri tak mampu membeli dakocan itu. Suatu hari tukang dakocan itu menghilang entah kemana, sehingga anak-anak menunggu kedatangannya untuk membeli dakocan. Dari obrolan nelayan dan tengkulak ikan itu saya mengetahui bahwa tukang dakocan itu telah ditangkap tentara. Meraka berdua, katanya adalah mata-mata Malaysia yang menyusup ke kampung kami dan menyamar menjadi tukang dakocan. Ketika ditangkap, dalam kotak kayu tempat menyimpan peralatan membuat kembang gula itu ditemukan peta-peta yang menunjukkan posisi instalasi militer RI di kampung kami.

Selesai orang-orang itu mengobrol, saya bertanya kepada Pak Yakub, apa yang dimaksud dengan mata-mata. Pak Yakub menerangkan bahwa mata-mata itu adalah tentara musuh yang tugasnya mengintip kekuatan tentara lawan. Kalau tukang dakocan itu melapor kepihak Malaysia, maka tentara Inggris dengan mudah menghancurkan persenjataan tentara kita. Saya baru mengerti setelah mendengar penjelasan Pak Yakub. Seumur hidup baru sekali itu saja saya mendengar istilah mata-mata. Saya bertanya kepada Pak Yakub, di mana sekarang tukang dakocan itu berada. Beliau mengatakan, setelah ditangkap, mereka dibawa ke Tanjung Pandan. Pak Yakub sendiri tidak tahu nasib tukang dakocan itu selanjutnya. Suasana di kampung terasa kurang menyenangkan di zaman konfrontasi itu.

Selain isyu banyaknya mata-mata yang menyusup, ada lagi isyu meresahkan tentang Penebok yang menakutkan anak-anak. Penebok konon spesialis memotong leher orang untuk membangun instalasi listrik dan jembatan. Saya tidak dapat memahami apa hubungannya kepala orang dengan instalasi listrik. Saya bertanya kepada banyak orang, termasuk kepada ibu saya, tak seorangpun dapat menjelaskan. Dari berbagai cerita, sudah beberapa mayat ditemukan di tempat sepi tanpa kepala. Konon kepala mereka telah diambil oleh Penebok tadi. Benar tidaknya cerita itu, saya tak dapat memastikannya. Namun isyu tentang Penebok dapat muncul sewaktu-waktu. Entah siapa yang membuat isyu itu, namun sebagian besar rakyat percaya. Karena saya tak percaya, saya tak perduli dengan isyu Penebok itu. Saya tenang-tenang saja berjalan dari Kampung Sekep ke Pantai Pengempangan, kadang-kadang seorang diri. Tak pernah saya bertemu dengan Penebok, kecuali bertemu buaya yang sedang berenang di Kulong di Kampung Bakau.Kita kembali lagi ke kisah Pantai Pengempangan, orang-orang yang sering ngobrol dan suasana pondokan di tepi pantai itu.

Kakek saya, Haji Zainal bin Haji Ahmad, yang sudah sangat sepuh, sesekali datang juga ke pondokan itu, kalau beliau sedang berada di kebun kelapanya di Pantai Pengempangan itu. Usia kakek saya ketika itu hampir seratus tahun, namun beliau masih kuat berjalan ke kebun kelapa, atau menanggok ikan di sero. Kalau kakek saya datang, orang-orang yang duduk-duk itu tidak berani ngomong tidak karuan. Mereka sangat segan dengan kakek saya itu. Orang-orang segera menyalami sambil mencium tangannya kalau beliau datang ke pondokan itu. Kakek saya itu, walaupun pergi ke kebun kelapa, selalu mengenakan sorban. Bicaranya pelan namun penuh wibawa. Anak-anak kecil di tepi pantai itu merasa takut dengan beliau. Kakek saya selalu menasehati nelayan-nelayan itu agar jangan lupa pengerjakan sembahyang lima waktu. Kalau hari Jum’at, kata beliau, sebaiknya jangan melaut agar dapat pergi ke mesjid menunaikan sembahyang Jum’at. Namun sepanjang penglihatan saya, tak banyak nelayan pergi ke mesjid sembahyang Jum’at. Salah seorang dari mereka yang taat ialah Ambo Saka, beliau seorang nelayan Bugis yang sudah agak lanjut usianya.

Ambo Saka tak pernah melaut di hari Jum’at. Dia selalu berada di saf depan sembahyang Jum’at di Mesjid Kampung Lalang. Satu lagi ada nelayan asal Bima, saya sudah lupa namanya. Beliau ini sangat taat beragama. Saya sering melihatnya sembahyang zuhur dan sembahyang asar di bawah pohon. Saya pun sering sembahyang di pondokan yang dibuat kakek saya yang menjorok di tebing sebuah batu. Kakek saya Haji Zainal bin Haji Ahmad sering memuji Ambo Saka ketika beliau ngobrol berdua dengan saya. Ambo Saka, kata beliau mendapat berkat dari Allah Ta’ala. Dia selalu mendapat ikan yang banyak kalau melaut dibanding nelayan lain. Dia tidak melaut di hari Jum’at. Ambo Saka selalu berzikir dan membaca doa lebih panjang dari jemaah yang lain sehabis sembahyang. Ambo Saka nampak suka dengan saya. Beliau selalu memberi ikan yang banyak. Pernah suatu hari beliau memberi saya seekor ikan tongkol yang agak besar, setelah saya membantu membersihkan perahunya. Beliau juga sambil menitip salam untuk ayah saya. Belum pernah ada nelayan lain memberi ikan tongkol. Mereka biasanya memberi ikan kerisi, ikan anjang-anjang, bahkan ikan balo-balo yang sering diolok-olok dengan sebutan ikan Buto Cina.

Ikan balo-balo itu tidak laku dijual di pasar. Sebab itu selalu diberikan kepada anak-anak yang membantu nelayan mengangkat dan membersihkan perahu. Ikan yang pemberian nelayan yang kami kumpulkan untuk dibawa pulang itu, memang beragam jenisnya. Walaupun ikan balo-balo tak laku dijual, namun bagi rakyat yang miskin, ikan itu terasa membantu juga untuk lauk-pauk. Ikan itu – terutama yang berwarna kehijauan – memang terasa amis. Ibu saya memasak ikan itu dengan santan kelapa diberi asam jawa yang agak banyak, agar bau amisnya hilang. Di daerah-daerah lain, ikan balo-balo hanya dibuat ikan asin, setelah diiris tipis-tipis dan dikeringkan sehingga garing. Dengan dibuat ikan asin dan digoreng seperti kerupuk, maka bau amis ikan balo-balo tidak terasa lagi.

Di kebun kelapa kakek saya di tepi pantai itu, saya sering membantu beliau atau sekedar ngobrol berbagai hal, sambil menunggu nelayan pulang melaut. Beliau selalu membersihkan kebun menggunakan parang dan membakar daun-daun kelapa yang kering, setelah lidinya diraut dijadikan sapu lidi. Kelapa-kelapa yang berjatuhan di kumpulkan di pondok beliau. Ada sumur kecil dekat pondok itu yang airnya dapat diminum. Kakek saya selalu mengambil wudhu di sumur itu dan bersembahyang zuhur di pondokannya. Kalau pulang, kakek saya itu membawa kelapa dua biji sambil berjalan kaki pelan-pelan menuju rumahnya. Beliau selalu mengatakan kepada saya, kalau pulang dari mana saja, jangan dibiarkan tangan kosong. Mesti ada sesuatuyang berguna untuk di bawa pulang, setidaknya sepotong dahan kayu yang patah atau pelapah kelapa untuk dijadikan kayu bakar. Kakek saya juga sering menyuruh saya membawa kelapa pulang ke rumah. Saya membawa pulang dua kelapa sambil membawa ikan yang dicucuk dengan akar kayu berebat atau dengan roran. Arah rumah kakek saya dengan rumah kami di Kampung Sekep berbeda. Saya berjalan menyusur pantai ke arah Pangkalan Sadam, Kampung Bakau dan menyusur jalan setepak ke Kampung Sekep.
Pertemuan saya dengan kakek saya di tepi pantai itu memberikan banyak pelajaran dan inspirasi kepada saya yang masih kecil. Kakek saya itu hidup sangat hemat. Beliau hanya membeli sesuatu jika benar-benar perlu. Hidupnya sangat jauh dari gaya konsumtif.IMG_0024 Segalanya tergantung kepada alam. Keharmonian dengan alam, terlihat dari gaya rumah beliau yang antik terbuat dari kayu bulian. Menurut ayah saya, rumah itu arsiteknya adalah kakek saya sendiri dan dikerjakannya sendiri menggunakan alat-alat sederhana. Rumah itu tidak menggunakan paku dari besi. Beliau membuat pasak dari kayu bulian juga untuk menyambung kayu dan memaku papan. Untuk memasang pasak itu, balok kayu dan papan harus dibor dulu menggunakan bor manual dengan tangan atau dipahat dengan pahat baja.

Pohon-pohon kelapa dan berbagai jenis kayu-kayuan hutan dibiarkan tumbuh di kebun kelapa beliau di tepi pantai itu. Beliau hanya mengambil dahan-dahan yang kering dan patah untuk dijadikan kayu bakar. Pelapah kelapa dan mayang kelapa yang kering juga dijadikan kayu bakar. Beliau tidak pernah membeli minyak tanah di warung. Semua minyak yang digunakan di rumahnya, termasuk untuk menyalakan lampu, dibuat dari bahan kelapa. Tikar yang digunakannya terbuat dari pandan. Ada tikar yang dianyam halus dan diberi warna-warna dan lukisan. Kakek saya mengatakan tikar itu dibawa orang dari Pulau Bawean. Alas kaki yang beliau gunakan terbuat dari bekas ban mobil, yang disebut dengan istilah sepatu Cok Hay. Sehari-hari beliau menggunakan bakeak terbuat dari kayu yang diberi guntingan bekas ban dalam mobil juga.

Walaupun anak-anak lain, termasuk cucu-cucu beliau sangat takut dengan kakek saya itu, namun bagi saya beliau adalah orang tua yang menyenangkan. Dari gaya bicaranya, saya tahu kakek saya itu sangat cerdas. Pengetahuan beliau tentang alam sangat luas. Beliau memang pernah belajar ilmu falak, sehingga mengetahui letak bintang-bintang, arah angin, pergantian musim, dan bahkan pandai menghitung peredaran bulan menurut tahun komariah. Kepada saya, kakek saya banyak bercerita pengalamannya di masa kecil hingga dewasa dan perjalananya menunaikan ibadah haji. Paham keagamaannya nampak konservatif, namun saya senang mendengar kalimat-kalimat yang diucapkannya karena mengandung hikmah yang dalam. Beliau sering juga bertanya tentang sekolah saya, yang ketika itu baru SD. Kakek saya mengatakan zaman telah berubah. Anak-anak zaman sekarang harus rajin bersekolah. Di sekolah itulah mereka menuntut ilmu. Di zaman beliau, sekolah belum ada. Beliau harus berguru berpindah-pindah kepada orang berilmu. Kemudian belajar sendiri membaca kitab-kitab bertulisan Arab.

Beliau selalu mengingatkan saya agar saya mendalami agama. Deris, katanya menyebut nama ayah saya, ilmu agamanya sangat dalam. Deris membaca buku huruf Latin di samping buku huruf Arab. Karena itu, ilmu Deris lebih dalam dari beliau, katanya kepada saya. Kakek saya juga menyebut ayah saya, adalah satu-satunya anak beliau yang banyak belajar agama dan mengikuti jejak generasi di atasnya, karena itu beliau disegani. Saya menanyakan tentang Adam, paman saya yang berkelakuan agak ekstentrik namun sehari-hari menjadi penghulu. Kakek saya mengatakan, Adam itu sangat taat beragama. Tetapi sikapnya tidak serius dan terlalu banyak bercanda. Orang yang terlalu banyak bergurau, kata kakek saya, kurang disegani. Kakek saya mungkin benar. Ayah saya memang nampak serius. Walau di masa muda hidupnya bagai seniman, namun beliau termasuk orang yang kurang suka bercanda. Adam, paman saya, terlalu banyak bercanda dan melucu.

Pernah pula sekali dua saya menemani kakek saya menangguk ikan di sero beliau yang menjorok ke arah alur jauh dari pantai. Kami menunggu hingga petang, ketika air benar-benar surut, sehingga hanya kepala sero tempat ikan terperangkap saja yang masih digenangi air. Sero beliau itu terletak persis di depan rumah adik beliau Pak Yakub. Kakek saya selalu ditemani istri beliau– ibu tiri ayah saya – seorang wanita asal Pulau Bawean, namanya Salma. Tetapi kami memanggil beliau Nek Buyan. Suatu hari, ketika musim angin kencang, sero kakek saya itu dimasuki banyak ikan, sehingga tak semua ikan dapat kami bawa. Ikan-ikan selebihnya dibiarkan saja terperangkap di dalam kepala sero, karena ikan itu praktis tak dapat keluar lagi. Jadi ikan itu dapat ditanggok pada hari yang lain. Kakek saya kadang-kadang menyuruh adiknya Pak Yakub dan anak-anaknya untuk menangkap ikan di sero itu dan sekaligus menjualnya. Dalam usia yang sudah sangat tua, kakek saya tak kuat lagi membawa ikan yang banyak.

Saya masih ingat suatu ketika di sero itu ada seekor ikan yang besar sekali. Beratnya mungkin sekitar delapan kilo. Saya bertanya kepada kakek saya, ikan apa itu namanya. Kakek saya mengatakan ikan itu Ikan Mamong. Kakek saya membelah-belak ikan yang besar itu, agar dapat dijual istrinya dengan para tetangga. Ketika angin kencang bertiup, ikan di Manggar menjadi langka. Ikan dari sero dapat dijual dengan mudah karena banyak orang membutuhkannya untuk lauk-pauk. Ada pula beberapa ikan berduri yang kami sebut ikan gagok, sejenis ikan jambal roti. Kakek saya mengingatkan saya agar hati-hati, sebab duri ikan gagok sangat berbisa. Pada musim-musim tertentu, ikan gagok merapat ke pantai dengan jumlah yang besar. Di sekitar Karang Mirang atau di sekitar Pelabuhan Olifier, jumlah ikan gagok banyak sekali yang berhasil dipancing orang. Namun ikan gagok termasuk jenis ikan yang murah harganya. Ikan sejenis gagok, yang ukurannya lebih besar, disebut ikan mayong. Ikan mayong lebih mahal harganya. Ikan ini sering dijadikan bahan membuat kerupuk atau membuat abon ikan khas Belitung, yang disebut sambal lingkong. Sambal lingkong ini biasanya dimakan dengan ketupat, untuk hidangan di hari lebaran.

Pantai Pengempangan – seperti terlihat dalam foto — sebenarnya nampak indah, walau tak seindah Pantai Tanjung Kelayang atau Pantai Burung Mandi. Kalau kita naik ke Bukit Samak dan memandang ke arah laut, keindahan pantai ini makin terasa. Dari atas bukit itu, kita dapat melihat pulau-pulau kecil di bagian timur Pulau Belitung. Sebab itu di hari minggu atau di hari menjelang liburan sekolah, banyak orang dewasa dan anak-anak bertamasya ke pantai ini. Kalau mereka bertamasya, mereka membawa makanan di dalam rantang. Mereka juga datang satu keluarga, sambil membakar ikan tenggiri di tepi laut. Melihat semua itu kadang-kadang hati saya sedih. Saya tak pernah pergi tamasya, walau laut dan pantai telah menjadi bagian hidup saya di masa kecil. Ayah saya sibuk, dan hampir tak pernah pergi ke pantai. Ibu saya juga tak pernah. Kami keluarga miskin. Saya memang tak pernah melihat orang miskin di kampung kami pergi piknik. Saya melihat anak-anak yang bertamasya itu, bajunya bagus-bagus. Makanan yang mereka bawa juga nampak sangat enak. Kami yang berada di pantai itu hanya ngiler saja. Kami belum makan nasi, kecuali makan ikan panggang saja sampai hari telah sore.

Pakaian yang kami pakai juga berbeda jauh. Saya yang setiap hari berada di pantai itu berpakaian kumal dan selalu basah tanpa ada gantinya. Saya hanya lebih banyak memakai celana tanpa baju dan alas kaki berjalan di atas pasir yang panas. Juga tanpa topi. Kulit kami bagai terbakar dan rambut menguning terpanggang sinar matahari. Tampang saya beda sekali dengan tampang anak-anak yang bertamasya itu. Apalagi tampang anak-anak pegawai staf perusahaan timah yang selalu berpakaian rapi dan rambut disisir rapi pula. Badan mereka juga jauh lebih gemuk dibanding kami yang nampak kurus. Sebagian anak nelayan yang masih kecil, perutnya nampak buncit, walau badannya kurus. Orang kampung bilang, mereka cacingan karena terlalu banyak makan ikan. Benar tidaknya saya tidak tahu.

Saya anak kampung yang sering mengembara di hutan dan bermain di laut sambil mencari ikan, kadang-kadang merasa rendah diri berhadapan dengan mereka. Ketika saya telah bersekolah, saya hanya pulang sebentar ke rumah menaruh buku, dan terus pergi ke laut tanpa makan siang lebih dahulu. Kalau saya menaruh buku di rumah kakek saya Jama Sandon, nenek saya sering memberi saya uang sebelum saya ke laut. Nenek bilang, uang itu dapat membeli es kalau haus di laut nanti. Tapi uang itu tak pernah saya belikan es. Saya pilih membeli kue lupis, yang terbuat dari beras ketan ditaburi parutan kelapa dan cairan gula merah. Rasanya enak sekali dan mengenyangkan.
Kalau haus saya bisa minta air minum pada penjual kue lupis itu. Atau cukup menimba air dalam sumur kakek saya dan langsung meminumnya tanpa dimasak. Saking seringnya kami makan kue IMG_0019lupis, sehingga ada teman saya yang juga selalu bermain di laut, namanya Sudirman, yang kami panggil Lupis. Ayah Sudirman juga seorang nelayan. Kalau tidak salah namanya Asri. Kakeknya bernama Syahbandar – tetapi bukan syahbandar kepala pelabuhan – pekerjaannya membuat sero. Saya sering bermain di halaman rumah kakeknya itu. Rumahnya tertutup rindangnya pohon kelapa, tak jauh dari rumah kami di Kampung Sekep. Di belakang rumah itu ada rawa-rawa yang banyak ditumbuhi pohon nipah, sehingga membuat udara di halaman rumah itu terasa sejuk. Dua anak Pak Syahbandar menjadi guru, seingat saya namany Arba’i. Satu lagi namanya Kucot. Nama ini agak aneh, karena kucot dalam Bahasa Belitung berarti siput.

Sehabis pulang dari laut sore hari, saya makan dulu dan kemudian ikut anak-anak lain main bola, atau menonton orang bermain volly ball di belakang rumah kami. Di lapangan bola Kampung Sekep juga ada klub bola, yang setiap minggu ada orang latihan atau bertanding sepak bola. Selesai dari semua itu, saya pergi ke sumur tetangga untuk mandi sebelum pulang ke rumah. Tempat kami mandi itu berpindah-pindah dari satu sumur ke sumur lain. Seperti telah saya ceritakan di Bagian V [2], saya selalu mengambil air pagi hari di sumur-sumur itu sebelum pergi sekolah. Suatu hal yang membuat kami gembira ketika masih kanak-kanak ialah kami selalu menyaksikan orang latihan bermain musik di kampung kami. Orkes musik itu dipimpin oleh seorang bernama Lahat – orang kampung memanggilnya Mak Lahuk– sehingga orkesnya diolok-olok dengan sebutan Orkes Mak Lahuk. Saya tidak tahu apa nama orkes itu sebenarnya, sebagaimana juga saya tidak tahu siapa nama Lahat yang sebenarnya. Dia dipanggil demikian, karena memang berasal dari daerah Lahat, dekat Palembang.

Ada dua tempat mereka berlatih musik, kalau tidak di rumah mertua Lahat, namanya Mat Asim, atau di rumah Saleh Wai di Kampung Sekep. Lahat sendiri mahir memainkan segala jenis alat musik yang digunakan orkesnya. Namun dia paling sering bermain gambus, sambil menyanyikan lagu berirama padang pasir. Orkes itu sering manggung kalau ada kenduri pernikahan di kampung kami, atau acara-cara keramaian yang lain. Pak Sale Wai, pemilik rumah tempat latihan musik itu selalu menyanyi lagu penutup latihan malam itu. Lagu favoritnya adalah keroncong Bengawan Solo. Kalau latihan di rumah Mat Asim, sebelum musik dimulai, kami biasanya duduk-duduk dulu di persimpangan jalan Kampung Bawah, yang dijadikan tempat orang berjualan kue, roti dan singkong goreng.

Mat Asim yang sudah tua sering duduk di perempatan jalan itu sambil berpantun. Beliau sering mengajak anak-anak bersahut pantun. Makin lama pantun Mat Asim makin seru, tetapi juga makin jorok. Bahasa Belitung menyebut pantun jorok Mat Asim itu sebagai pantun mapas-nyarut. Ayah saya sering menasehati saya agar jangan terlalu banyak mendengarkan pantun Mat Asim, karena pantunnya kebanyakan ngerecau atau ngawur. Namun saya senang saja mendengar Mat Asim berpantun aneh-aneh itu. Bagi saya, Mata Asim itu bagai satrawan tua yang tak pernah kehabisan ide dalam menyusun dan mempermainkan kata-kata. Namun setahu saya, Mat Asim tak pandai membaca syair. Selesai mendengar Mat Asim berpantun, kami menonton musik. Kami pulang kira-kira pukul sepuluh malam setelah menyaksikan orang bermain musik. Besoknya kami harus sekolah.

Di sekolah sering saya dan anak-anak laut yang lain diolok-olok karena kulit kami yang terbakar. Ada pula yang tega mengatakan kami mengemis ikan di pantai. Ada rasa ingin marah, tetapi lebih baik diam saja menahan diri. Kami bekerja di pantai membantu para nelayan. Kami tidak rela disebut pengemis. Jika mendengar penghinaan semacam itu, hati saya terasa menjerit. Saya ingin terus sekolah, walau apapun jadinya. Kakek saya, ayah saya dan beberapa orang lain mengatakan, hanya sekolah yang akan mengubah nasib. Saya percaya dengan semua itu. Orang Belitung miskin, begitu juga orang Bugis dan Bawean miskin, karena pendidikan mereka rendah sekali. Mereka hanya jadi nelayan, pegawai negeri rendahan dan pegawai rendahan perusahaan timah.

Kadang-kadang timbul perasaan ingin memukul mereka. Kalau saya mengikuti gaya kakek saya Jama Sandon, mungkin anak-anak itu sudah babak belur saya pukuli. Tetapi saya selalu ingat nasehat kakek saya Haji Zainal agar hidup selalu bersabar. Segala hinaan dan penderitaan hidup harus dihadapi dengan tenang. Tuhan Maha Adil, demikian nasehat beliau. Teman saya sekelas namanya Chudri – biasa dipanggil Ook – paling solider dengan anak-anak laut. Ayah Chudri seorang nelayan Bugis, namanya Sale. Dia marah dengan anak-anak yang mengolok-olok anak nelayan. Minan yang juga sekelas dengan saya, pernah mengancam mereka dengan pisau. Ayah Minan, Ismail Bugis, bukan nelayan. Ayahnya itu pegawai rendahan perusahaan timah. Minan tak suka pergi ke laut. Dia penjelajah hutan yang handal. Kadang-kadang dia suka berkelahi. Saya tidak mau ikut-ikutan berkelahi.

Teman saya yang bernama Chudri itu berpisah dengan saya ketika kami kelas III SD. Ayahnya pindah ke Balikpapan dan ingin menjadi nelayan di sana. Harga ikan di Balikpapan, katanya lebih mahal dibandingkan di Belitung, sehingga hidup keluarganya diharapkan akan lebih baik. Keluarga mereka juga ada di kota itu, setelah hijrah dari Sulawesi Selatan. Saya tak tahu berapa jauh dari Belitung ke Balikpapan. Mereka, akan menuju kota itu naik perahu layar. Saya sedih kehilangan taman yang begitu baik dan setia. Sejak keluarganya pindah ke Balikpapan, saya tak pernah lagi bertemu dengannya sampai sekarang. Ketika telah dewasa, beberapa kali saya ke Balikpapan dan kota lain di Kalimantan Timur. Saya bertanya tentang Chudri, kalau-kalau ada orang Bugis di sana yang mengenalnya. Namun dia tak pernah saya temukan.

Di kala nelayan tidak melaut, saya membantu ibu saya membuat minyak kelapa. Minyak kelapa itu kemudian kami jual di warung-warung terdekat. Kadangkala ada juga tetangga yang datang ke rumah membelinya. Hasil penjualan minyak kelapa itu, digunakan ibu saya untuk mengirimi uang kepada kakak saya yang sekolah PGA di Palembang. Kelapa itu sebagian berasal dari halaman rumah kami sendiri. Kalau sudah tidak cukup, ibu saya menyuruh saya membeli kelapa di rumah-rumah tetangga. Saya pernah membeli kelapa dengan adik kakek saya Yusuf, yang rumahnya di dekat pantai pengempangan. Beliau membantu membuang sabut kelapa itu dan menyisakan sebagian sabutnya agar dapat membuat tali mengikat dua kelapa. Saya tak ingat lagi berapa kelapa yang saya beli dengan beliau. Tetapi saya ingat tak semua kelapa itu harus saya bayar, sebagiannya diberikannya begitu saja.

Ada kalanya susah mencari kelapa di kampung karena kelapa yang sudah tua masih di pohon. Pemilik kelapa itu mengatakan silahkan saja membeli kelapa asal memetik sendiri. Dalam keadaan seperti itu, saya harus memanjat pohon dan memetiknya. Baru saya mengerti bahwa memanjat kelapa itu ada upahnya. Setiap lima IMG_0003kelapa yang dipetik, upahnya satu biji kelapa. Dengan demikian, kelapa yang saya dapatkan, ada yang membeli dan ada yang di dapat sebagai upah. Karena itu, saya senang saja memetik kelapa di pohon-pohon agar dapat mendapat upah dan sekaligus membelinya. Pemilik kelapa juga merasa senang, agar kelapa yang sudah tua itu tidak menimpa orang yang kebetulan melintas di bawah pohon itu. Ketika kecil, saya tak merasa takut memanjat pohon kelapa, walau agak pohonnya agak tinggi. Kadang-kadang senang juga melihat pemandangan dari pelepah pohon kelapa yang tinggi. Di tempat itu saya dapat beristirahat sejenak di atasnya sebelum meluncur turun ke bawah. Memang ada seni tersendiri memanjat dari batang kelapa untuk naik ke sela-sela pelepahnya. Kita harus hati-hati jangan sampai memegang pelepah yang tua. Risikonya, kita bisa jatuh dari pohon. Alhamdulillah, meskipun kadang-kadang saya mampu memanjat sekitar sepuluh pohon kelapa sehari, saya selalu selamat tanpa pernah mengalami celaka. Ketika belakangan saya bertemu rekan dari Malaysia, baru saya tahu kalau di negeri jiran itu, pekerjaan memanjat pohon kelapa itu adalah pekerjaan Beruk, hewan sebangsa monyet. Di Belitung tak ada beruk. Monyet hutan atau kera dan lutung memang banyak. Namun monyet jenis ini tak dapat dilatih memetik kelapa.

Di tahun 1960-an itu belum ada mesin parut kelapa. Tidak ada pilihan lain, kami harus memarut kelapa itu menggunakan tangan. Ketiak rasanya seperti berbuih kalau memarut kelapa secara tradisional itu. Ibu saya dan kakak saya Yusniar, pandai memarut kelapa. Mereka memarut dengan hati-hati. Saya sering juga membantu memarut, walau jari saya sering pula luka terkena paku parutan yang tajam. Kelapa parutan itu kemudian diperas dan santannya ditampung di dalam ember selama semalam. Ampasnya dijadikan makanan ayam. Kalau ampas kelapa itu terlalu banyak, maka ampas itu saya antarkan ke rumah Pak Ahmad, yang biasa disebut Ahmad Ke, yang agak jauh dari rumah kami. Beliau memelihara banyak itik. Saya selalu diberi uang sekedarnya oleh istrinya karena mengantarkan ampas kelapa itu. Karena begitu sering saya mengantar ampas kelapa ke rumah itu, maka lama-lama anak-anak Pak Ahmad Ke yang masih kecil memanggil saya “Ketupang” artinya ampas kelapa.

Baru keesokan harinya santan kelapa yang sudah membeku bagian atasnya itu dimasak dalam kawah dengan api yang besar. Bisa memakan waktu berjam-jam sampai santan itu masak dan menjadi minyak kelapa yang harum baunya. Lima buah kelapa ukuran sedang atau empat kelapa yang besar dan sudah tua, biasanya menghasilkan sebotol bir minyak kelapa. Paling-paling kami hanya mampu membuat antara 5 sampai 10 botol minyak kelapa sehari. Itupun sudah merupakan pekerjaan yang luar biasa beratnya. Untungnya tidak seberapa. Namun bagi ibu saya, ada sedikit penghasilan tambahan untuk membantu kakak saya yang bersekolah di Palembang. Hidup di zaman itu memang luar biasa susahnya. Namun ibu saya tetap menganggap sekolah sangatlah penting bagi anak-anaknya. Anak-anak Kampung Sekep pada umumnya hanya bersekolah sampai tamat SD saja.

Kakak saya yang bersekolah di Palembang itu sering mengirim surat. Di zaman itu surat yang dikirim dari Palembang ke Belitung bisa memakan waktu dua minggu baru sampai. Telepon antar kota belum ada, maka suratlah satu-satunya alat komunikasi. Ibu saya selalu membacakan surat kakak saya itu agar turut didengar oleh adik-adik yang masih kecil. Kadang-kadang beritanya gembira. Kadang-kadang sedih. Kakak saya menceritakan kesusahannya bersekolah jauh dari kampung halaman. Kadang-kadang uang saku sudah habis dan terpaksa numpang makan di rumah teman. Ketika kakak saya itu menamatkan sekolah PGA 6 Tahun, keluarga kami sangat senang. Kami rindu kepadanya. Mendengar dia akan pulang, saya menulis dengan kapur di jembatan besi di depan rumah kakek saya Jama Sandon, berisi ucapan selamat datang kepadanya.

Namun tunggu punya tunggu, dia tak kunjung sampai ke ke rumah. Keluarga kami akhirnya mendapat khabar, kapal kayu yang ditumpangi kakak saya dari Palembang itu karam menabrak karang di dekat Pulau Kelmoa, hanya beberapa mil dari Pelabuhan Tanjung Pandan. Ibu saya yang ketika itu sedang hamil anak yang ke sepuluh, panik bukan kepalang. Banyak korban yang meninggal akibat tenggelamnya kapal itu. Namun kakak saya selamat dibantu oleh sebuah perahu Bugis. Dia berusaha menyelamatkan anak kecil ketika kapal karam, namun jiwa anak kecil itu tak tertolong. Kakak saya sampai ke rumah kakek saya Jama Sandon, yang disambut rasa haru seluruh keluarga dan tetangga. Saya masih ingat, suami saudara sepupu saya  Gairu Saridin, datang menjenguk kakak saya dan memberinya sehelai celana jeans. Waktu itu saya heran melihat celana jeans yang katanya masih baru, namun nampak telah kumal dan lusuh. Maklum di Kampung Sekep belum ada orang yang pakai celana jeans.Saya sendiri masih pakai celana pendek. Kakak saya tak punya pakaian lagi karena semuanya hanyut terbawa arus. Sejak peristiwa kapal karam itu, saya sering menyaksikan kakak saya itu menangis mengenangkan peristiwa sedih itu. Cukup lama dia trauma berlayar di laut. Kakak saya itu agak beda dengan Yusfi dan saya, yang sering diolok-olok sebagai “hantu laut”. Setahu saya, Yuslim itu tak pandai berenang.

Rasanya telah terlalu panjang saya mengisahkan kenang-kenangan di masa kecil bagian VI ini. Kalau ada kesempatan dan umur panjang, saya akan meneruskan kisah ini, melanjutkan kisah perjalanan hidup di masa kecil dengan segala suka-dukanya. Kalau ada salah kata dan mungkin menyinggung perasaan orang lain, saya mohon maaf dan mohon pula dikoreksi kalau-kalau saya salah dalam mengisahkan suatu peristiwa yang terjadi di masa lalu. Akhirnya hanya kepada Allah Ta’ala jua saya mengembalikan segala persoalan.***

Wallahu ‘alam bissawwab.