- Yusril Ihza Mahendra - https://yusril.ihzamahendra.com -

MBAH MARIDJAN TELAH WAFAT

[1]Niat hati saya untuk bersilaturrahmi dengan Mbah Maridjan beberapa tahun yang lalu tidak kesampaian, walau saya sudah datang ke Yogyakarta. Beliau konon sedang ke luar daerah, entah ke mana. Ketika itu Mbah Maridjan menjadi kesohor namanya karena berani “mbaleo” (membangkang) terhadap titah perintah Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengkubuwono X,  Sultan Ngayogyakarta Hadiningrat.  Syahdan, debu letupan Gunung Merapi sudah membahana ke seluruh lembah dan ngarai. Namun Mbah Maridjan tak sedikitpun mau beranjak  meninggalkan Lereng Merapi yang sudah ditutupi “wedhus gembel” alias awan panas. Mbah Maridjan mengatakan, tugas beliau sebagai “Kuncen” (Juru Kunci) Gunung Merapi, seperti diamanatkan oleh Ngarso Dalem  Almarhum Sri Sultan Hamengkubuwono IX, adalah menjaga dan mengamankan Gunung Merapi agar tidak “mengamuk” dan membinasakan seluruh apa saja yang ada di wilayah kesultanan. Tugas beliau, bukan hanya berhubungan dengan alam nyata, tetapi juga   dengan alam ghaib, yang dipercaya mengendalikan Gunung Merapi.

Sri Sultan Hamengkubuwono X telah bertitah agar Mbah Maridjan meninggalkan lereng Merapi. Situasinya sudah sangat berbahaya. Namun Mbah Maridjan bersikeras tidak mau pergi meninggalkan tugas. Waktu saya ngobrol dengan Sri Sultan di Istana Yogyakarta, beliau mengemukakan kebingungannya menghadapi Mbah Maridjan. “Saya katakan, saya perintahkan turun”, Mbah Maridjan menjawab “Wong saya ini  diangkat  sama  Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Saya hanya tunduk pada beliau” kata Mbah Maridjan enteng, seolah meremehkan Sri Sultan Hamengkubuwono X.  Padahal Sri Sultan Hamengkubowono IX sudah lama wafat. Sri Sultan Hamengkubuwono X gagal memerintahkan Mbah Maridjan turun gunung. Mbah Maridjan malah nekad mendaki mendekati puncak Merapi. Di sana dia bersemedi dan konon mendapat “wangsit” bahwa Merapi hanya batuk-batuk dan tidak berbahaya. Masyarakat menganggap Mbah Maridjan mampu mengendalikan amuk Merapi. Gunung api  paling aktif di Jawa itu tak jadi meletus. Nama Mbah Maridjan makin tersohor ke seantro negeri. Bukan saja “kesaktiannya”  menggagalkan Merapi meletus. Tapi juga keberaniannya “mbalelo” sama Sri Sultan Hamengkubuwono X.  Padahal dia seorang “abdi dalem”  — tugas utamanya memimpin upacara kesultanan di Lereng Merapi —  yang seharusnya mengerti “toto kromo” dan senantiasa mengucapkan “sembah Dalem Gusti” kepada segala titah perintah sang Sultan. Tapi Mbah Maridjan punya logika berpikir sendiri.

[2]Ketika berbincang dengan Sri Sultan Hamengkubuwono X  di Yogyakara itu, sambil berseloroh saya mengatakan kepada beliau: “Mungkin Ngarso Dalem kurang dapat memahami alam pikiran Mbah Maridjan ketika memberi perintah”. Sri Sultan agak heran  dan kaget dengan perkataan saya itu. Beliau berkata “Mestinya bagaimana Pak Yusril”. Saya katakan kepada beliau “Mestinya Ngarso Dalem katakan, saya sudah tiga malam berturut-nurut mimpi bertemu arwah ayah saya, Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Beliau  pesan kepada saya, bilang sama Mbah Maridjan, saya perintahkan beliau agar turun gunung”. Kalau begitu pendekatannya, saya yakin Mbah Maridjan akan patuh. Sri Sultan tertawa, dan bilang kepada saya “Lain kali, bisa saya coba. Rupanya Pak Yusril ini paham juga soal perklenikan”  kata beliau sambil terkekeh-kekeh.  “Oh kalau soal mimpi-memimpi dan takwil-takwilnya, saya cukup lama berguru sama Gus Dur dan Mbah Lim” kata saya berseloroh.

Sri Sultan Hamengkubuwono X adalah sahabat baik saya. Saya sungguh menghormati beliau dengan segala jabatan dan kesederhanaan hidupnya. Saya bahkan pernah meminjam  sehelai baju batik warna hijau kepunyaan beliau, ketika saya lupa membawa batik dan harus menghadiri acara di Istana Yogyakarta. Waktu acara sudah begitu mepet, sehingga saya tak semoat pergi ke toko membeli batik. Sri Sultan dengan senang hati meminjamkan sehelai baju. “Ukuran badan kita sama, Pak Yusril” katanya. Ketika baju batik  itu saya kembalikan kepada beliau, saya katakan “Ngarso Dalem, untung tadi saya nggak terus ke Parang Tritis. Kalau ke sana, barangkali pakai batik hijau ini, saya bakal dimarahi Nyi Roro Kidul”.  Sri Sultanpun tertawa “Wah, saya sendiri kurang paham dengan hal-hal demikian. Menurut ceritanya konon begitu” kata Sri Sultan tertawa.

Masih soal Mbah Maridjan, suatu hari saya bertanya kepada Gus Dur (Almarhum)  ikhwal kesaktian Mbah Maridjan. Gus Dur tertawa terkekeh-kekeh. “Mbah Maridjan itu, Bang Yusril” kata Gus Dur “jelek-jelek dia itu  orang NU”  “Bukannya beliau itu mbahnya klenik, Gus” kata saya. Gus Dur bilang, “Nggak, wong dia rajin solat dan puasa Senin Kemis. Bener dia itu pengurus NU. Tapi tingkat kecamatan” kata Gus Dur sambil ngakak tertawa. “Oh, rupanya Mbah Maridjan itu anak buah Panjenengan juga” kata saya pada Gus Dur. Saya memang sering ngobrol segala macam soal klenik dan soal lucu-lucu dengan Gus Dur. Obrolan begini dengan Gus Dur memang mengasyikkan dan tak terlupakan.

Satu lagi tokoh yang banyak bicara klenik dan mimpi-mimpi dengan saya ialah Mbah Lim.  Beliau ini termasuk juru takwil mimpi-mimpi Gus Dur. Konon dia seorang Cina muallaf dan menjadi kiyai. Kemampuannya memberi takwil kepada mimpi-mimpi dalam pandangan saya agak ‘luar bisa’. Saya sendiri, sesungguhnya tidak percaya dengan hal-hal seperti itu. Tapi Mbah Lim sangat serius dengan ‘ilmunya’ itu.

Akibat ketenarannya, Mbah Maridjan sempat menjadi bintang iklan, mungkin iklan obat kuat kuku bima, kalau saya tak salah. Gambar Mbah Maridjan berdampingan dengan gambar Ade Rai, seorang binaragawan di pajang di dinding bis kota di Jakarta. Pernah juga saya lihat Mbah Maridjan tampil dalam iklan televisi.

Kini Mbah Maridjan sudah wafat. Jenazahnya ditemukan dalam keadaan bersujud, memakai sarung, berbaju batik dan berkopiah putih. Dapat dipastikan beliau wafat sedang mengerjakan shalat ketika malaikatul maut datang menjemputnya. Mungkin tak henti-hentinya Mbah Maridjan berdoa memohon ke hadirat Allah SWT, agar Merapi tidak meletus dan membahayakan ribuan warga. Keteguhan hati Mbah Maridjan mengabdi kepada masyarakat sebagai “kuncen” Gunung Merapi atas dasar amanah yang diberikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX, sungguh menakjubkan. Beliau menepati janjinya takkan meninggalkan Merapi, walau apapun yang terjadi. Beliau wafat dalam menjalankan tugas dan amanah. Tugas tanpa pamrih dengan gaji ala kadarnya sebagai abdi dalem Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, yang status kerajaannya dan sumbangsihnya dalam mempertahankaan Negara RI, sekarang seolah ingin dilupakan oleh para politisi dan Pemerintah Pusat di Jakarta. Tentu saja hal ini membuat Sri Sultan murka dan minta referendum.

Di tengah dunia yang makin sekular dan masyarakat semakin tidak perduli dengan semangat pengabdian di tengah kehidupan yang serba materi, Mbah Maridjan masih menyisakan contoh keluhuran nilai-nilai tradisional bangsa kita, yang patut kita teladani. Mbah Maridjan patut dianugerahi Bintang Mahaputra atau setidak-tidaknya Bintang Jasa Utama oleh Presiden RI atas pengabdian dan keteladannya kepada masyarakat.

Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah dan mengampuni segala kesalahan Mbah Maridjan. Allahummaghfirlahu, warhamhu, wa’afihi wa’fu’anhu…