KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAGIAN V)

Jauh di belakang hari saya menanyakan kepada ayah saya apa yang dia pikirkan ketika memimpin doa sembahyang minta hujan itu. Beliau hanya mengatakan, semua itu adalah kekuasaan Allah semata. Tuhan akan mengabulkan doa setiap orang yang memohon kepadanya. Namun beliau bertanya kepada saya, apakah saya masih ingat orang PKI yang mentertawakan orang yang sembahyang. Saya katakan, saya masih ingat. Beliau mengatakan, ketika memimpin sembahyang itu, beliau seperti orang bertaruh. Dalam hati, kata beliau, saya meminta kepada Allah agar ditunjukkan kepada orang-orang atheis itu bahwa Tuhan itu ada dan Maha Kuasa. Sekiranya Allah tidak mengabulkan doa minta hujan itu, kata ayah saya, entah bagaimana iman orang di kampung kita. PKI akan semakin menjadi-jadi dan akan semakin memperolok-olokkan agama.

Tiga puluh tahun setelah peristiwa sembahyang minta hujan itu, saya bertemu dengan orang sekampung. Namanya Suhaimi, tetapi sering dipanggil Buang. Ketika kami ngobrol tentang ayah saya, tiba-tiba Buang bercerita bahwa dia juga ikut sembahyang minta hujan itu. Ketika itu Buang masih kelas I Sekolah Tehnik. Bahkan dia yang meminta izin Engku Hamzah agar murid-murid diizinkan meninggalkan kelas untuk pergi sembahyang. Seperti telah saya katakan, Engku Hamzah memang mengizinkan, walau beliau sendiri tidak pergi ke tanah lapang untuk ikut sembahyang. Setelah murid-murid Sekolah Teknik itu kembali ke sekolah dan menceritakan kepada Engku Hamzah, bahwa hujan benar-benar turun setelah sembahyang itu, Engku Hamzah nampak tertegun. Beliau hanya berkomentar “Pak Naib itu memang sakti”. Murid-murid diam semuanya. Mereka tak berani mengomentari ucapan Engku. Mereka tahu Engku Hamzah itu mempunyai pemikiran keagamaan yang cenderung ke arah mistik. Engku Hamzah itu sahabat baik ayah saya. Mereka bersahabat sampai usia senja.

Masalah air di Kampung Sekip itu tetap saja tak pernah terselesaikan. Satu-satunya jalan, saya harus mengisi air pagi-pagi sekali, agar saya dapat mengerjakan yang lain. Di belakang rumah, kami juga telah membuat sumur sekedar untuk mencuci piring dan menyiram pohon-pohon. Maka saya pergi mengambil air sambil mandi pagi. Saya belum sekolah ketika itu, tahun 1962. Saya sudah ingin sekali sekolah sejak keluarga kami pindah ke Manggar, ketika saya berusia lima tahun. Saya katakan kepada ibu, saya ingin masuk taman kanak-kanak, yang letaknya tidak jauh dari rumah kakek saya. Banyak anak tetangga rumah kakek saya yang sekolah di situ. Tapi ibu saya bilang, ayah seorang pegawai negeri. Beliau bukan pegawai perusahaan– maksudnya perusahaan timah – sehingga saya tak boleh sekolah taman kanak-kanak itu.

Saya masih ingat benar tanggal 1 Agustus 1963, saya lagi-lagi ingin sekolah masuk SD. Ayah saya membawa saya ke sekolah SD II di samping Kuburan Kampung Lalang, untuk mendaftar. Saya melihat banyak anak-anak yang datang dibawa orang tuanya untuk mendaftar juga. Kepala sekolah menanya ayah saya, tanggal lahir saya. Ayah bilang tanggal 5 Pebruari 1956. Namun Kepala Sekolah, Abubakar Madjid, mengatakan saya belum boleh sekolah karena umurnya belum tujuh tahun. Umur saya baru enam setengah tahun. Ayah saya menjelaskan bahwa badan saya sudah tinggi, melebihi ukuran anak-anak sekampung yang seusia. Beliau juga menjelaskan bahwa saya sudah pandai membaca, menulis dan berhitung walaupun belum sekolah. Pak Abubakar Madjid sekali lagi minta maaf, karena semua murid yang masuk sekolah akan dilaporkan kepada Pak PS (Penilik Sekolah). Kalau saya diterima, dan nanti diperiksa Pak PS, saya akan dikeluarkan lagi.

Saya merasa sangat sedih tidak diterima masuk sekolah. Kami pulang berjalan kaki ke Kampung Sekip. Ayah saya nampak kasihan kepada saya. Saya tak habis berpikir, mengapa saya yang sudah pandai membaca dan menulis huruf Latin dan huruf Arab, ditolak masuk sekolah hanya karena usianya kurang enam bulan. Saya melangkah gontai pulang ke rumah. Pakaian saya sudah sangat lusuh, namun dicuci bersih oleh ibu saya karena ingin mendaftar sekolah. Namun kaki saya, tanpa alas kaki samasekali. Pemandangan seperti itu baiasa di tahun 1960-an. Anak-anak SD pergi sekolah tanpa alas kaki. Kami hidup miskin, membeli sendal jepit saja kami tak mampu, jangankan membeli sepatu. Saya harus menunggu tanggal 1 Agustus 1963, baru boleh sekolah ketika umur saya tujuh setengah tahun. Dalam perjalanan pulang, ayah saya mengatakan agar saya terus belajar sendiri di rumah. Saya menurut saja. Maka saya membaca majalah-majalah ayah saya, sekedar membaca tanpa banyak mengerti maksudnya. Majalah yang saya baca itu ialah Majalah Gema Islam yang diterbitkan Buya Hamka. Ada juga Mingguan Pedoman dan Majalah Gembira. Juga ada majalah Sketmasa, terbitan Surabaya. Saya juga membaca komik dan cerita anak-anak kepunyaan kakak-kakak saya. Setiap kali ada majalah datang, saya akan duluan membacanya.

Karena luntang lantung tidak dapat masuk sekolah, maka sehabis mengisi air dan membantu ibu di rumah, saya berkelana saja ke segenap pelosok kampung berjalan kaki tanpa alas kaki, sambil membawa ketapel — kami menyebutnya dengan istilah Peletikan –– atau mendorong gelindingan. Ketapel itu saya buat sendiri menggunakan dahan kayu seperti huruf Y. Kami menyebut kayu itu Pempang. Pada ujung kayu itu diikatkan dua karet bekas ban sepeda. Ujung karet yang lain dikasi guntingan kulit bekas sepatu atau bekas tas kulit untuk meletakkan batu kerikil yang menjadi “peluru” ketapel itu. Kami menyebut kulit itu Belulang. Kadang-kadang saya berkelana sendirian, kadang-kadang rombongan dengan anak-anak yang lain. Saya memang kurang mahir menggunakan ketapel dibandingkan anak-anak yang lain. Teman kami bernama Samsudin dan Saharan paling jago menggunakan ketapel. Saharan, anak Pak Harman, memiliki banyak kambing. Dia selalu membawa ketapel sambil menjaga kambingnya yang dikasi makan di pinggir hutan. Saharan agak nakal. Dia kadang-kadang menembak lampu listrik penerangan jalan dengan ketapel dan pecah. Dia selalu menembak dengan tepat, jika kami adu kemampuan menggunakan ketapel.

Dengan modal ketapel itu kami masuk hutan sambil membawa beling untuk menyembelih burung yang jatuh kena ketapel. Samsudin dapat menjatuhkan beberapa ekor burung, meskipun burung itu sangat kecil dan tinggi sekali di dahan pohon. Saya kadang-kadang dapat burung, kadang-kadang tidak. Burung yang sudah setengah mati tertembak peluru ketapel itu cepat-cepat kami sembelih menggunakan beling. Kami sudah diajari orang yang lebih tua, kalau burung sudah mati diketapel, tidak boleh dimakan lagi. Burung harus disembelih dulu sepanjang nyawanya masih ada dengan membaca Bismillah. Dari berkelana di hutan-hutan itu, saya hafal nama segala jenis burung yang ada di sana. Saya juga mengetahui mana burung yang boleh dimakan dan mana yang tidak. Bahkan ada jenis burung tertentu yang tidak boleh diketapel, yakni Burung Terakup yang bersarang di rumput lalang, Burung Murai Hitam dan Burung Bebirik. Ketiga jenis burung ini dipercaya sebagai sahabat atau jelmaan hantu, yang dapat menimbulkan malapetaka kalau dibunuh. Burung Hantu atau Burung Kulik Kual, yang sering muncul di malam hari ketika angin teduh, juga termasuk jenis burung yang tidak boleh diketapel. Burung Hantu dipercaya sebagai hantu itu sendiri.

Share:

Facebook
Twitter
WhatsApp
 Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc.

Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc.

“Sistem yang baik akan memaksa orang jahat menjadi orang baik dan, sebaliknya, sistem yang tidak baik akan memaksa orang baik menjadi tidak baik.”

Berita Terbaru

Mewakili instansi serta segenap keluarga, saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idulfitri 1447 H. Taqabbalallahu minna waminkum, taqabbal ya Karim. Semoga seluruh amal ibadah kita di bulan Ramadan diterima oleh Allah SWT dan membimbing kita menjadi pribadi yang lebih bertakwa. Amin ya Rabbal’alamin.

#profyim #idulfitri #takwa #syawal #ramadan

...

2704 67
Hikmah Ramadan di Balik Peristiwa Bersejarah Dunia

Sejumlah peristiwa bersejarah terjadi di bulan Ramadan. Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, misalnya, bertepatan dengan 9 Ramadan 1367 Hijriyah.

Bangsa yang besar dibangun di atas mentalitas dan spiritualitas yang tinggi. Dengan itulah mereka mengatasi persoalan, menghadapi zaman.

Dengan bertakwa, manusia akan merasa dekat dengan Tuhan. Kedekatan dengan Tuhan akan membuat hatinya tenang. Secara mental, hal itu akan memberi kekuatan baginya untuk menaklukkan tantangan. Juga melakukan hal-hal penting baik bagi dirinya maupun lingkungannya.

Karena itulah umat Islam diperintahkan untuk berpuasa dengan tujuan akhir menjadi orang yang bertakwa. Hasil konkretnya: banyak peristiwa penting bagi peradaban umat manusia terjadi di bulan suci Ramadan.

#profyim #tausiyah #sejarah #ramadan #sejarahislam

...

535 25
Berbuat baik tidak selalu berbuah kebaikan pula. Perbuatan baik terkadang malah mendatangkan masalah dan bikin susah. 

Namun begitu, mengapa kita sebaiknya tetap berbuat baik? 

Melalui tausiyah khusus Ramadan bertajuk “Kalam Nurani”, Prof. Yusril menjelaskan alasan rasionalnya.

Selamat mengikuti, semoga dapat memperkaya khasanah keislaman kita.
_
#profyim #kalamnurani #tausiyah #ramadan #kebaikan

...

357 24
Bersama istri, Rika Kato Mahendra, dan putra kami, Ishmael Zacharias Mahendra, saya menghadiri acara buka puasa bersama yang diselenggarakan Kedutaan Besar Arab Saudi di The St. Regis, Jakarta, Selasa (24/2) kemarin.

Turut hadir sejumlah tamu kehormatan lain, di antaranya Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin, Gubernur Jakarta Pramono Anung dan Utusan Khusus PBB untuk Isu Air Retno Marsudi.

Dalam sambutannya, Duta Besar Arab Saudi Faisal Abdullah Al-Amudi menyampaikan rasa syukur serta penghargaan setinggi-tingginya atas persahabatan Indonesia dan Arab Saudi yang sudah terjalin erat begitu lama. Dan memang, acara berbuka puasa kemarin bukan sekadar perjamuan, melainkan juga ajang perbincangan hangat sebagai penguat hubungan antarnegara dan ukhuwah antarbangsa di bulan suci Ramadan.
_
#profyim #yimstory #yusrilihzamahendra #bukapuasa #ukhuwah

...

407 18
Dengan penuh syukur, saya haturkan banyak terima kasih atas perhatian, ucapan serta doa tulus yang begitu berlimpah pada acara tasyakuran hari ulang tahun ke-70 saya, 7 Februari 2026 yang lalu di Jakarta.

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa melimpahkan berkah, kesehatan, dan perlindungan bagi kita semua dalam pengabdian kepada bangsa dan negara. 

Di usia saya yang telah mencapai tujuh dekade pada 5 Februari 2026, tidak ada harapan yang lebih besar selain dapat mendedikasikan sisa usia untuk memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa dan negara.

Segala doa baik yang bapak, ibu, dan rekan-rekan sampaikan kiranya kembali menjadi kebaikan pula bagi saudara sekalian. Amin ya Rabbal’alamin.
_
#profyim #7dekadeYIM #yimstory #berkah #syukur

...

1187 46
Dengan penuh rasa syukur, saya dan keluarga menghaturkan banyak terima kasih atas perhatian, ucapan serta doa tulus yang begitu berlimpah pada acara tasyakuran hari ulang tahun ke-70 saya, 7 Februari 2026 yang lalu di Jakarta.

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa melimpahkan berkah, kesehatan, dan perlindungan bagi kita semua dalam pengabdian kepada bangsa dan negara. 

Di usia saya yang telah mencapai tujuh dekade pada 5 Februari 2026, tidak ada harapan yang lebih besar selain dapat mendedikasikan sisa usia untuk memberikan kontribusi terbaik demi kejayaan Indonesia.

Segala doa baik yang bapak, ibu, dan rekan-rekan sampaikan kiranya kembali menjadi kebaikan pula bagi saudara sekalian. Amin ya Rabbal’alamin.
_
#profyim #yimstory #7dekadeYIM #RekamJejak #literasi

...

788 37