KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAGIAN V)

Kalau saya pulang membawa burung, ibu saya akan menggoreng burung itu untuk saya makan dan adik-adik saya yang masih kecil. Kalau Burung Pentis yang saya bawa pulang, daging burung itu sedikit sekali setelah bulunya dibersihkan. Biarpun sedikit lumayan anak-anak dapat makan daging burung. Kalau burung agak besar saya bawa pulang, seperti burung Punai Hutan, maka ibu saya akan menggulai burung itu. Agar dapat dinikmati seluruh keluarga, daging burung yang sedikit itu dimasak dengan singkong dengan kuah santan berwarna kuning. Tentu sekuali gulai itu penuh dengan singkong. Lumayan juga, kuah gulai itu tetap terasa daging burungnya. Orang Suku Laut, kata ayah saya, bahkan menyelenggarakan pesta hanya dengan dua ekor Burung Kerucik yang sangat kecil, setelah mereka berburu tanpa hasil kecuali dua ekor burung itu. Namun mereka menyediakan empat kawah besar untuk memasaknya. Kawah itu penuh ubi dan keladi. Agar kuahnya terasa daging burung, maka dua kerucik tadi dicelup-celupkan bergantian di empat kawah tadi. Maka orang Laut pun berpesta memukul gendang dan gong sambil menari dan berpantun semalam suntuk, hanya dengan modal dua ekor Burung Kerucik. Kami semua tertawa mendengar cerita ayah saya.

Ketapel yang selalu kami bawa itu, bukan hanya dipergunakan untuk menembak burung, tetapi juga untuk mengusir biawak yang sering masuk kampung. Walaupun kena ketapel biawak tidak pernah mati. Namun rombongan biawak akan segera lari jika diketapel agar tidak menganggu ayam orang kampung. Ular yang melingkar di pohon juga jadi sasaran ketapel sampai mati. Sesekali kami juga menembakkan ketapel untuk memetik buah-buahan. Orang yang punya kebun, biasanya akan mengizinkan anak-anak mengetapel buah jambu monyet, jambu biji atau buah-buahan lain. Mereka tahu, kalau anak-anak hanya ingin memakan buah itu. Mereka bahkan mengizinkan anak-anak memanjat untuk memetik buah. Di antara sekian banyak pemilik kebun, hanya Pak Lihap, yang sangat pelit dan tidak pernah mengizinkan anak-anak masuk ke kebunnya. Sebab itulah, suatu hari ketika Pak Lihap tidak dikebun, kami beramai-ramai menyerbu kebunnya memetik buah dan mengetapel.

Namun hari itu nasib kami sial. Pak Lihap tiba-tiba muncul dikebunnya sambil mencabut parang dari pinggangnya. Dia meneriaki anak-anak supaya pergi sambil mengacungkan parang. Kami lari tunggang-langgang. Sebagian ada yang terpaksa melompat dari pohon dan berlari. Setelah kami berkumpul, kami semua sepakat mengatakan Pak Lihap itu manusia paling pelit di kampung kita. Namun sejak itu, kami tak mau masuk ke kebunnya. Kami bahkan mengatakan, kalau suatu ketika Pak Lihap memberi kami buah, kami akan menolaknya. Kalau nanti Pak Lihap mati, maka buah-buahan itu akan ditanam bersama jasadnya di liang lahat. Kami kesal sekali dengan Pak Lihap. Beliau memang warga kampung yang kurang bersahabat. Dia hidup menyendiri dan jarang bergaul dengan warga masyarakat lainnya.

Dari hobi berkelana ke kebun-kebun dan hutan itu, secara bertahap saya mulai suka dengan hutan. Berjalan keluar masuk hutan membawa kenikmatan tersendiri dan sedikit melupakan kesusahan hidup sebagai anak kecil di kampung. Teman saya Minan– ayahnya orang Bugis karena itu disebut Ismail Bugis dan ibunya orang Belitung – adalah rekan saya keluar masuk hutan, sampai hutan rimba. Kami ke hutan kadang-kadang mencari kayu, mencari ikan air tawar atau menangkap burung. Kadang-kadang hanya berkelana keluar masuk hutan tak tentu tujuan. Kalau masuk hutan saya selalu membawa ketapel dan parang yang dimasukkan sarung kayu dan diikatkan dipinggang. Kami keluar masuk hutan tanpa alas kaki. Begitu sering saya keluar masuk hutan, membuat saya hafal nama-nama kayu di dalam hutan dan kegunaannya. Saya juga tahu kayu yang kuat untuk dijadikan bahan bangunan dan mana kayu yang lempung yang mudah dilobangi kumbang untuk bersarang.

Kalau musim hujan tiba, air danau di hutan bisa setinggi leher. Namun ketika musim kemarau, air kering kerontang dan hutan mudah terbakar. Kalau musim hujan kami memasang banjor seperti saya ceritakan untuk memancing ikan gabus, mentutu, keli dan kadang-kadang memancing ikan linggang. Kalau musim kemarau, kami menggali akar tuba untuk meracuni ikan. Akar tuba itu ditumbuk lebih dulu dan diperas sehingga berwarna seperti susu. Air itu dituangkan ke dalam danau yang mengering dan airnya tinggal sedikit. Dalam sekejap ikan akan menggelepar keracunan. Kami tinggal menangkapi ikan-ikan yang pingsan itu. Kalau air benar-benar kering, tuba tidak dapat digunakan lagi. Kami harus menggali tanah dan mencari ikan yang bertahan hidup disela-sela akar kayu atau di dalam lumpur yang ditumpuhi rumput-rumputan danau. Kami menyebut kegiatan itu nyekau. Kegiatan ini berisiko karena salah-salah bisa nyekau ular piton di dalam lobang lumpur.

Kami tidak pernah membawa bekal air masuk ke hutan. Kalau musim hujan kami minum air danau atau air yang parit yang jernih dan mengalir. Kadang-kadang kami menimba sumur orang di kebun di pinggir hutan dan langsung meminumnya. Di musim kemarau, kalau haus telah menyengat, kami akan menebang pohon gerunggang atau pohon betor. Pohon itu diruncing pada bagian bawahnya dan digantungkan di dahan pohon. Dari runcingan itu akan keluar air yang rasanya payau dan dapat diminum. Di dalam hutan, kami dapat menemukan buah-buahan hutan yang dapat dimakan. Harus hati-hati juga karena harus pandai membedakan mana buah yang mabuk dan yang tidak. Kalau buah itu sering di makan binatang, maka buah itu pasti tidak mabuk. Daun dalam hutan juga dapat direbus untuk dimakan. Sepanjang daun itu menjadi empuk kalau direbus, itu berarti daun itu boleh dimakan. Berbagai jenis keladi dalam hutan juga dapat direbus atau dibakar untuk dimakan.

Binatang yang kami takutkan di dalam hutan, sungai dan rawa-rawa ialah buaya dan ular. Untuk itu perasaan memang harus sensitif betul, agar kita tahu bahwa di sana ada buaya atau ular berbisa. Ular piton, kalau berukuran besar juga bisa memakan manusia, dengan cara melilitnya lebih dahulu. Saya beberapa kali bertemu buaya, baik di Sungai Mirang maupun di Kampung Bakau, tidak jauh dari Kampung Sekip. Namun masih dapat menghindar karena jaraknya masih relatif jauh. Melawan buaya percuma saja, kecuali sudah belajar ilmu buaya. Celakanya, kalau belajar ilmu buaya, jika mati akan menjelma menjadi buaya pula. Demikian kepercayaan masyarakat Belitung. Berkali-kali kami bertemu ular dan kadang-kadang berhasil membunuhnya. Ular yang berbahaya adalah jenis tedung atau ular kobra berwarna hitam dan ular manau. Kalau babi hutan, kami tidak takut. Serombongan babi hutan dengan mudah dapat dikecoh, karena binatang itu lari lurus saja tanpa berbelok.

Saya bertiga dengan teman pernah tersesat di dalam hutan karena hujan deras bukan kepalang. Pemandangan di sela-sela pohon gelap sekali karena matahari tidak nampak. Ranggas pohon yang kami potong sebagai pedoman agar dapat kembali ke arah dari mana kami masuk, tak nampak lagi karena dahan-dahan pohon telah tertimpa hujan. Kami kehilangan arah. Kalau kami memanjat pohon untuk melihat arah dari ketinggian juga sia-sia karena pemandanga begitu gelap. Kami sudah tidak tahu jam berapa. Dalam situasi seperti itu saya teringat apa yang diajarkan kakak saya Yusfi. Dia mengatakan kita harus melihat pohon yang merambat di pohon besar, lihatlah pucuk pohon itu, dia akan selalu menunjuk arah matahari terbit di sebelah timur. Kami tahu kami masuk hutan dari arah timur dari daerah Janting, maka kami harus kembali menerobos hutan ke arah timur lagi mengikuti arah pucuk pohon merambat itu. Setelah kira-kira dua jam, kami sampai di Janting di pinggir hutan. Hari sudah lewat maghrib. Saya sampai ke rumah selepas isya dengan baju basah kuyup. Orang tua saya cemas sekali kalau-kalau saya hilang di hutan atau dimakan buaya.

Share:

Facebook
Twitter
WhatsApp
 Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc.

Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc.

“Sistem yang baik akan memaksa orang jahat menjadi orang baik dan, sebaliknya, sistem yang tidak baik akan memaksa orang baik menjadi tidak baik.”

Berita Terbaru

Mewakili instansi serta segenap keluarga, saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idulfitri 1447 H. Taqabbalallahu minna waminkum, taqabbal ya Karim. Semoga seluruh amal ibadah kita di bulan Ramadan diterima oleh Allah SWT dan membimbing kita menjadi pribadi yang lebih bertakwa. Amin ya Rabbal’alamin.

#profyim #idulfitri #takwa #syawal #ramadan

...

2704 67
Hikmah Ramadan di Balik Peristiwa Bersejarah Dunia

Sejumlah peristiwa bersejarah terjadi di bulan Ramadan. Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, misalnya, bertepatan dengan 9 Ramadan 1367 Hijriyah.

Bangsa yang besar dibangun di atas mentalitas dan spiritualitas yang tinggi. Dengan itulah mereka mengatasi persoalan, menghadapi zaman.

Dengan bertakwa, manusia akan merasa dekat dengan Tuhan. Kedekatan dengan Tuhan akan membuat hatinya tenang. Secara mental, hal itu akan memberi kekuatan baginya untuk menaklukkan tantangan. Juga melakukan hal-hal penting baik bagi dirinya maupun lingkungannya.

Karena itulah umat Islam diperintahkan untuk berpuasa dengan tujuan akhir menjadi orang yang bertakwa. Hasil konkretnya: banyak peristiwa penting bagi peradaban umat manusia terjadi di bulan suci Ramadan.

#profyim #tausiyah #sejarah #ramadan #sejarahislam

...

535 25
Berbuat baik tidak selalu berbuah kebaikan pula. Perbuatan baik terkadang malah mendatangkan masalah dan bikin susah. 

Namun begitu, mengapa kita sebaiknya tetap berbuat baik? 

Melalui tausiyah khusus Ramadan bertajuk “Kalam Nurani”, Prof. Yusril menjelaskan alasan rasionalnya.

Selamat mengikuti, semoga dapat memperkaya khasanah keislaman kita.
_
#profyim #kalamnurani #tausiyah #ramadan #kebaikan

...

357 24
Bersama istri, Rika Kato Mahendra, dan putra kami, Ishmael Zacharias Mahendra, saya menghadiri acara buka puasa bersama yang diselenggarakan Kedutaan Besar Arab Saudi di The St. Regis, Jakarta, Selasa (24/2) kemarin.

Turut hadir sejumlah tamu kehormatan lain, di antaranya Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin, Gubernur Jakarta Pramono Anung dan Utusan Khusus PBB untuk Isu Air Retno Marsudi.

Dalam sambutannya, Duta Besar Arab Saudi Faisal Abdullah Al-Amudi menyampaikan rasa syukur serta penghargaan setinggi-tingginya atas persahabatan Indonesia dan Arab Saudi yang sudah terjalin erat begitu lama. Dan memang, acara berbuka puasa kemarin bukan sekadar perjamuan, melainkan juga ajang perbincangan hangat sebagai penguat hubungan antarnegara dan ukhuwah antarbangsa di bulan suci Ramadan.
_
#profyim #yimstory #yusrilihzamahendra #bukapuasa #ukhuwah

...

407 18
Dengan penuh syukur, saya haturkan banyak terima kasih atas perhatian, ucapan serta doa tulus yang begitu berlimpah pada acara tasyakuran hari ulang tahun ke-70 saya, 7 Februari 2026 yang lalu di Jakarta.

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa melimpahkan berkah, kesehatan, dan perlindungan bagi kita semua dalam pengabdian kepada bangsa dan negara. 

Di usia saya yang telah mencapai tujuh dekade pada 5 Februari 2026, tidak ada harapan yang lebih besar selain dapat mendedikasikan sisa usia untuk memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa dan negara.

Segala doa baik yang bapak, ibu, dan rekan-rekan sampaikan kiranya kembali menjadi kebaikan pula bagi saudara sekalian. Amin ya Rabbal’alamin.
_
#profyim #7dekadeYIM #yimstory #berkah #syukur

...

1187 46
Dengan penuh rasa syukur, saya dan keluarga menghaturkan banyak terima kasih atas perhatian, ucapan serta doa tulus yang begitu berlimpah pada acara tasyakuran hari ulang tahun ke-70 saya, 7 Februari 2026 yang lalu di Jakarta.

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa melimpahkan berkah, kesehatan, dan perlindungan bagi kita semua dalam pengabdian kepada bangsa dan negara. 

Di usia saya yang telah mencapai tujuh dekade pada 5 Februari 2026, tidak ada harapan yang lebih besar selain dapat mendedikasikan sisa usia untuk memberikan kontribusi terbaik demi kejayaan Indonesia.

Segala doa baik yang bapak, ibu, dan rekan-rekan sampaikan kiranya kembali menjadi kebaikan pula bagi saudara sekalian. Amin ya Rabbal’alamin.
_
#profyim #yimstory #7dekadeYIM #RekamJejak #literasi

...

788 37