Hukum Tata Negara Dalam Keadaan Darurat

Kuliah oleh Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Depok, 17 April 2026

Kuliah ini membahas “hukum tata negara dalam keadaan darurat” yang merupakan kondisi luar biasa dalam praktik ketatanegaraan Indonesia yang tidak dapat diatasi dengan ketentuan konstitusi maupun peraturan perundang-undangan biasa. Keadaan darurat berbeda dengan keadaan bahaya dan hal ihwal kegentingan yang memaksa.

Keadaan darurat diatur dalam Pasal 12 UUD 1945 yang memberikan kewenangan kepada Presiden untuk menyatakan negara dalam keadaan bahaya.

Pasal 22 UUD 1945 mengatur kewenangan Presiden mengeluarkan peraturan Pemerintah pengganti undang-undang (perppu) dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa, yaitu situasi di mana Pemerintah harus bertindak tapi tidak ada dasar hukum yang memadai.

Keadaan bahaya dapat berupa fisik maupun nonfisik, seperti kerusuhan, separatisme, pemberontakan, dan bencana alam maupun bencana yang disebabkan oleh manusia (misalnya pandemi COVID-19). Dasar hukum pemberlakuan keadaan bahaya merujuk pada Undang-Undang Kesehatan serta Perppu Nomor 23 Tahun 1959 tentang keadaan bahaya yang mengatur tingkatan keadaan bahaya: perang, darurat sipil, darurat militer, dan lain-lain.

Presiden berwenang mengeluarkan perppu yang memiliki kekuatan setara undang-undang, namun berlaku sementara sampai DPR membahas dan memutuskan pengesahannya.

DPR harus membahas perppu tersebut paling lambat pada akhir masa sidang kedua setelah perppu diterbitkan. Jika DPR menolak, maka perppu otomatis tidak berlaku tanpa perlu pencabutan.

Pada tahun 2004, aturan tentang perppu diperjelas dalam Undang-Undang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang kemudian diubah menjadi UU No. 12 Tahun 2011. Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) juga memberikan syarat-syarat keadaan hal ihwal kegentingan yang memaksa agar perppu dapat diterbitkan secara sah.

Mekanisme perppu merupakan solusi konstitusional ketika Pemerintah berada dalam keadaan kekosongan hukum (kevakuman hukum) dan harus segera mengambil tindakan.

Selain mekanisme keadaan bahaya dan hal ihwal kegentingan memaksa, terdapat situasi yang lebih kompleks yang tidak diatur secara eksplisit dalam UUD 1945 hasil amandemen, seperti ketidakjelasan aturan masa jabatan lembaga negara dan pelaksanaan pemilu jika pemilu gagal terlaksana tepat waktu.

Contoh masalah: jika pemilu gagal karena bencana, kerusuhan, atau pemberontakan, maka masa jabatan DPR, DPD, MPR, Presiden, Wakil Presiden, dan menteri berakhir tetapi tidak ada lembaga yang secara jelas mengatur penggantian atau perpanjangan masa jabatan.

Pada masa lalu, MPRS dapat menunjuk pejabat presiden dalam keadaan krisis (tahun 1966-67), namun MPR hasil amandemen UUD 1945 tidak memiliki wewenang tersebut lagi.

Dalam situasi kekosongan kekuasaan pasca masa jabatan habis dan pemilu gagal, hanya Panglima TNI dan Kapolri yang masih menjabat dan berpotensi mengambil alih kekuasaan. Panglima TNI tidak lagi menjadi anggota kabinet dan masa jabatannya tidak terkait langsung dengan masa jabatan presiden.

  • Ini menimbulkan potensi implikasi ketatanegaraan dalam keadaan darurat, walaupun hal ini jarang menjadi perhatian publik.

Sejarah awal kemerdekaan menunjukkan situasi darurat yang tidak merujuk pada Pasal 12 dan Pasal 22 UUD 1945. Setelah pengesahan UUD 1945 pada 18 Agustus 1945, sistem pemerintahan presidensial berjalan tanpa DPR, MPR, atau Mahkamah Agung. Presiden memegang kekuasaan penuh dengan bantuan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang dibentuk pada 29 Agustus 1945.

  • KNIP berfungsi membantu Presiden menjalankan kekuasaan negara dalam masa transisi.
  • UUD 1945 sebenarnya hanya berlaku sementara, yaitu dua kali enam bulan sejak akhir Perang Asia Timur Raya (15 Agustus 1945).

Rencana awal menyelenggarakan pemilu dan pembentukan partai politik di Indonesia adalah sebagai berikut:

15 Agustus 1945 -> Berakhirnya Perang Asia Timur Raya -> Jepang menyerah tanpa syarat

17 Agustus 1945 -> Proklamasi Kemerdekaan RI -> UUD 1945 berlaku sementara

3 November 1945 -> Maklumat tentang pembentukan partai politik -> Mendorong partai politik berdiri sebelum pemilu

Februari 1946 -> Rencana pemilu pertama -> Pemilu tidak terlaksana

  • Partai Komunis Indonesia (PKI) didirikan pada 21 Oktober 1945, lebih awal dari maklumat 3 November 1945.
  • Partai Nasional Indonesia (PNI) sebagai partai negara sudah berdiri sejak 18 Agustus 1945, dipimpin Soekarno.

Pemilu pertama pada Januari 1946 gagal terlaksana karena belum ada pengakuan internasional terhadap kemerdekaan Indonesia. Pengakuan internasional merupakan syarat penting berdirinya negara menurut hukum internasional.

  • Diplomasi kemerdekaan Indonesia dilakukan melalui peran tokoh-tokoh seperti Dr. Sukiman Kirosanyo yang menghubungi tokoh-tokoh India (Nehru dan Muhammad Ali Jinnah) dan Raja Saud bin Abdul Aziz dari Saudi Arabia.
  • Saudi Arabia, Mesir, dan Afghanistan menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia.

Belanda kembali menduduki kota-kota besar, terutama Jakarta, pada 29 Agustus 1945. Pemerintahan Indonesia yang tidak mampu bertahan di Jakarta terpaksa pindah ke Yogyakarta, di mana Sultan Jogja mendukung Republik Indonesia.

  • Kondisi ini menimbulkan situasi darurat ketatanegaraan yang tidak diatur oleh Pasal 12 atau Pasal 22 UUD 1945.
  • Pemerintah mengeluarkan Maklumat 16 Oktober 1945 yang mengubah sistem pemerintahan dari presidensial menjadi parlementer.

Alasan perubahan sistem menjadi parlementer adalah karena ketidaksiapan militer Indonesia menghadapi serangan Belanda dan tentara sekutu. Diplomasi penting untuk melengkapi kekuatan militer yang lemah.

  • KNIP berubah menjadi parlemen sementara.
  • Syahrir ditunjuk sebagai Perdana Menteri yang bertanggung jawab kepada KNIP.
  • Soekarno dan Hatta tetap sebagai Presiden dan Wakil Presiden dalam sistem parlementer, berperan sebagai kepala negara konstitusional.

Perundingan dengan Belanda dilakukan oleh Perdana Menteri Syahrir, dimulai di Gambir dan dilanjutkan di Linggarjati. Perundingan ini sulit karena Belanda tidak mau mengakui kemerdekaan RI yang dianggap hadiah Jepang.

  • Jepang sendiri tidak sepenuhnya mendukung kemerdekaan Indonesia. Dukungan hanya diberikan Angkatan Laut yang dipimpin Laksamana Maeda.
  • Proklamasi kemerdekaan disusun dan dibacakan dengan perlindungan Angkatan Laut Jepang.

Perubahan sistem pemerintahan pada 1945 ini adalah contoh konvensi ketatanegaraan (constitutional convention), yaitu perubahan yang terjadi di luar cara formal amandemen tapi diterima dalam praktik.

Misalnya, tradisi Presiden menyampaikan pidato kenegaraan tiap 17 Agustus. Konvensi ini tidak diatur dalam UUD maupun undang-undang tapi menjadi praktik yang diikuti.

Pada tahun 1948, agresi militer Belanda kedua terjadi dengan penangkapan Presiden Soekarno, Hatta, dan kabinet di Yogyakarta.

  • Ketua KNIP Muhammad Nasir tidak ditangkap karena sedang sakit.
  • Pemimpin-pemimpin RI ditawan di Pulau Bangka selama 8 bulan.
  • Pemerintahan darurat dipimpin oleh Syafruddin Prawiranegara dari Bukittinggi.

Perundingan antara Pemerintah RI dan Belanda berlangsung dengan tokoh diplomat Muhammad Roem yang mewakili RI.

  • Meskipun banyak yang menentang, termasuk Jenderal Sudirman dan partai-partai politik, Roem tetap melanjutkan perundingan.
  • Perundingan ini menghasilkan Persetujuan Roem-Royen (7 Mei 1949) yang mengakhiri permusuhan dan membuka jalan pembentukan Konstitusi Republik Indonesia Serikat (RIS).

RIS resmi menjadi anggota PBB dan mendapat pengakuan internasional setelah penyerahan kedaulatan oleh Ratu Belanda kepada RIS.

  • RIS berlaku selama sekitar 8 bulan (Desember 1949 – Agustus 1950).
  • Setelah itu RIS bubar dan NKRI kembali terbentuk.

Setelah RIS bubar, peristiwa besar berikutnya adalah Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang membubarkan Konstituante dan memberlakukan kembali UUD 1945.

  • Dekrit ini dianggap sebagai revolusi hukum, inkonstitusional secara formil tapi diterima secara faktual oleh rakyat.
  • Ada perbedaan pendapat akademik tentang status hukum dekrit tersebut, terutama terkait konsep keadaan darurat (staatsrecht dan noodstaatsrecht).

Pembahasan hukum tata negara dalam keadaan darurat masih panjang dan kompleks, termasuk peristiwa-peristiwa besar yang terjadi hingga berakhirnya kekuasaan Soekarno pada tahun 1966.

Banyak aspek hukum tata negara darurat yang belum banyak ditulis secara akademik meskipun telah banyak dibahas dalam ilmu politik dan sejarah.

Share:

Facebook
Twitter
WhatsApp
Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.A., M.Soc.Sc., Ph.D.

Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.A., M.Soc.Sc., Ph.D.

“Sistem yang baik akan memaksa orang jahat menjadi orang baik dan, sebaliknya, sistem yang tidak baik akan memaksa orang baik menjadi tidak baik.”

Berita Terbaru

Di sela agenda kunjungan kerja di Korea Selatan akhir September lalu, saya berdiskusi hangat dengan Dubes RI untuk Korea Selatan, Pak Cecep Herawan, mengenai fungsi diplomasi dan pelindungan WNI. Salut atas komitmen KBRI Seoul yang terus mengoptimalkan layanan konsuler, legalisasi dokumen, advokasi ketenagakerjaan, hingga program "Rumah Kita" bagi warga yang jauh dari ibu kota. Sebuah dedikasi penting dalam memastikan jaminan hukum dan kehadiran negara bagi seluruh masyarakat Indonesia di Negeri Ginseng.

...

294 24
Naskah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sejatinya bukanlah sebuah produk peradilan ataupun undang-undang, melainkan sebuah putusan luhur dari para pemuda Indonesia. 

Kongres pemuda saat itu membuktikan bahwa tekad dan putusan yang lahir dari para pemuda menjadi fondasi utama berdirinya negara kita tercinta.

Senang sekali bisa hadir di tengah civitas akademika di Kampus Universitas Indonesia dalam Peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun 2026 ini. Semoga semangat dan putusan visioner para pemuda pendahulu kita terus menginspirasi generasi muda hari ini untuk terus menjaga, merawat, dan memajukan Indonesia.

#SumpahPemuda #SumpahPemuda2026 #UniversitasIndonesia #YusrilIhzaMahendra #profyusril

...

741 20
INFORMASI HOAKS!

Beredar flyer undangan konferensi pers mengatasnamakan Kemenko Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan dengan narasi agenda audiensi pemberhentian Wakil Presiden.

Kami tegaskan bahwa informasi dan flyer tersebut adalah HOAKS / PALSU. 

Kemenko Kumham Imipas ataupun Menko Yusril Ihza Mahendra tidak pernah mengeluarkan undangan atau mengadakan agenda tersebut.

Masyarakat diimbau untuk tidak percaya, tidak membagikan ulang, dan selalu menyaring informasi sebelum disebarkan. 

Laporkan dan abaikan setiap konten palsu yang berpotensi menyesatkan publik.

#Klarifikasi #Hoax #kemenkokumhamimipas #profyim #AntiHoaks

...

3116 105
Menerima audiensi dan silaturahmi dari jajaran pengurus Kadin Indonesia yang dipimpin oleh Pak Anindya Bakrie (22/10).

Kami membahas urgensi revisi UU Kadin yang sudah berjalan hampir 4 dekade. Dunia usaha berkembang pesat, dan landasan hukumnya harus selaras agar mampu memberikan kepastian, perlindungan, serta ruang gerak bagi para pelaku usaha dari skala mikro hingga besar.

Pemerintah berkomitmen menyelesaikan penyusunan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) untuk mengawal pembahasan RUU Kadin bersama DPR RI. Kepastian hukum yang kokoh adalah kunci agar perekonomian nasional terus tumbuh berdaya saing.

#YusrilIhzaMahendra #profyusril #kadinindonesia #duniausaha #hukum

...

1360 41
Bernostalgia sejenak sambil berdiskusi bersama rekan-rekan Kohati PB HMI dalam Kohati Diplomacy Forum.

Dulu waktu pertama kali masuk kampus UI, sempat diajak gabung berbagai organisasi, tapi karena darah Masyumi mengalir dari Ayah, pilihannya tentu jatuh ke HMI.

Senang melihat semangat kritis, energi positif, dan potensi besar dari para kader HMI-Wati hari ini. Teruslah menjadi pelopor gagasan dan agen perubahan untuk Indonesia yang lebih baik.  

#YusrilIhzaMahendra #profyusril #KohatiDiplomacyForum #Kohati #HMI

...

2251 34
Tahun 1989, saya sebenarnya sudah diterima di Cornell University, AS. Namun, karena kendala beasiswa, Allah menunjukkan jalan lain melalui Universiti Sains Malaysia (USM).

Proses akademik di USM menjadi salah satu pengalaman berharga. Surat rekomendasi doktoral saya saat itu didukung dan ditandatangani langsung oleh dua tokoh besar: Bapak Mohammad Natsir (mantan Perdana Menteri RI 1950) dan Prof. Dr. Sutan Takdir Alisjahbana.

Perjalanan riset perbandingan politik masyarakat Muslim antara Indonesia dan Pakistan ini membuah hasil kelulusan cum laude pada tahun 1992. Disertasinya diterbitkan oleh LIPI pada 1995 dan menjadi buku perbandingan politik terbaik kala itu.

Semoga cerita ini bisa menjadi penyemangat bagi generasi muda. Jangan pernah berhenti menimba ilmu dan percayalah bahwa setiap ilmu yang kita peroleh akan memberi manfaat besar bagi diri kita sendiri, bagi bangsa dan juga negara.

#YusrilIhzaMahendra #Pendidikan #MotivasiBelajar #universitisainsmalaysia #indonesiamalaysia

...

1084 32
Kembali ke tempat perjalanan akademik dimulai. Setelah 33 tahun menyelesaikan pendidikan S3 di Universiti Sains Malaysia (USM) pada tahun 1993, tidak disangka pada tahun 2026 ini saya kembali dipanggil dan dianugerahi jabatan sebagai Adjunct Professor (Profesor Utama) dalam bidang Ilmu Politik.

Perjalanan ini mengingatkan saya pada komitmen awal ketika mendalami ilmu politik, hukum tata negara, hingga filsafat. Mengabdi dan mengajar bukan hanya tentang membagikan ilmu, tetapi juga bagaimana melihat dinamika konstitusi serta ketatanegaraan agar terus berkembang dan relevan dengan perkembangan zaman.

Semoga penganugerahan ini membawa keberkahan dan kontribusi nyata bagi dunia akademis serta kemajuan bangsa.

Dalam kesempatan tersebut, saya juga berkesempatan untuk memberikan orasi ilmiah. Video lengkap bisa disaksikan di chanel YouTube saya.

#YusrilIhzaMahendra #UniversitiSainsMalaysia #politics
#profYusril #indonesiamalaysia

...

3475 106