Menata Ulang Penyelenggaraan Pemilu: Dialektika Antara Kedaulatan Rakyat, Rasionalitas Hukum, dan Efektivitas Pemerintahan

Oleh: Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita semua,

Pendahuluan: Pemilu sebagai Applied Democratic Theory

Dalam diskursus ketatanegaraan kontemporer, seringkali terjadi simplifikasi yang mereduksi makna pemilihan umum (pemilu) sekadar sebagai prosedur teknis pencoblosan dan penghitungan suara. Namun, jika kita menelisik lebih dalam, pemilu sesungguhnya merupakan manifestasi dari apa yang oleh James Garner disebut sebagai applied democratic theory. Ia adalah kerangka hukum yang dirancang untuk menjawab persoalan eksistensial dalam bernegara: siapa yang berdaulat, bagaimana aspirasi individu diagregasikan menjadi pilihan kolektif yang sah, dan bagaimana kekuasaan memperoleh legitimasi tanpa terjatuh pada otoritarianisme.

Dalam perspektif negara hukum yang demokratis (democratische rechtsstaat), pemilu berfungsi sebagai titik temu antara kedaulatan rakyat (volkssoevereiniteit) dan pembatasan kekuasaan (constitutionalism). Ia adalah instrumen, bukan tujuan akhir. Tujuan hakiki dari proses ini adalah terbentuknya pemerintahan yang adil, transparan, dan mampu melindungi martabat manusia. Oleh karena itu, kualitas sebuah negara tidak diukur dari frekuensi penyelenggaraan pemilu, melainkan dari sejauh mana konstitusi dihormati dan hak-hak warga negara terlindungi di dalam serta sesudah proses tersebut.

Refleksi Historis: Dari Maklumat 1945 hingga Pemilu 1955

Secara historis, pergulatan mencari format ideal pemilu telah dimulai sejak fajar kemerdekaan. Maklumat Wakil Presiden No. X tanggal 16 Oktober 1945 dan Maklumat Pemerintah 3 November 1945 adalah bukti awal keinginan luhur para pendiri bangsa untuk melembagakan aspirasi rakyat melalui partai politik. Berdasarkan aturan peralihan UUD 1945, pemilu sedianya dilaksanakan paling lambat Februari 1946. Namun, realitas politik dan perang kemerdekaan memaksa kita menanti hingga sepuluh tahun lamanya.

Pemilu 1955 muncul sebagai landmark demokrasi parlementer yang belum tertandingi hingga saat ini. Meskipun dilaksanakan dalam keterbatasan teknologi, ia diakui secara universal sebagai pemilu paling jujur dan transparan. Menariknya, Pemilu 1955 tidak hanya memilih anggota DPR, tetapi juga Konstituante untuk merumuskan konstitusi tetap guna menggantikan UUDS 1950. Pelajaran berharga dari era ini adalah bahwa kejujuran proses menghasilkan legitimasi yang tak terbantahkan, di mana pihak yang kalah menerima hasil dengan penuh martabat.

Anomali Desain Konstitusional Pasca-Amandemen

Perubahan fundamental pada UUD 1945 di era Reformasi telah mengubah struktur ketatanegaraan kita secara radikal. Kita bergeser dari konsep kedaulatan MPR menuju sistem presidensial dengan pemilihan langsung. Namun, dalam praktiknya, hukum pemilu kita—khususnya UU No. 7 Tahun 2017—menjadi salah satu produk legislasi yang paling sering diuji di Mahkamah Konstitusi (MK). Hal ini mengindikasikan adanya ketidakstabilan desain dan ketegangan antara norma konstitusi dengan kebijakan hukum terbuka (legal policy).

Salah satu krusialitas yang muncul adalah persoalan ambang batas (threshold). Konstitusi kita secara eksplisit menyatakan bahwa pasangan Presiden dan Wakil Presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilu sebelum pelaksanaan pemilu. Namun, undang-undang menciptakan hambatan artifisial berupa presidential threshold 20% berdasarkan hasil pemilu lima tahun sebelumnya.

Begitu pula dengan parliamentary threshold. Saat ini, jutaan suara rakyat terbuang sia-sia karena partai yang mereka pilih tidak melampaui ambang batas tertentu. Data menunjukkan suara yang hilang dapat mencapai angka yang signifikan, bahkan melampaui perolehan partai pemenang pemilu. Ini adalah problem keadilan representasi yang serius.

Mencari Jalan Tengah: Rekonstruksi Sistem Fraksi dan Komisi

Dalam menghadapi kompleksitas ini, kita memerlukan terobosan hukum yang tidak hanya terjebak pada angka-angka persentase ambang batas yang seringkali ditentukan secara subjektif oleh kepentingan partai besar. Saya menawarkan gagasan untuk meniadakan ambang batas parlemen (parliamentary threshold) dan menggantinya dengan penataan struktur di lembaga perwakilan (DPR).

Logikanya sederhana: pembatasan tidak dilakukan di pintu masuk (pemilu), melainkan pada pembentukan fraksi. Jika DPR memiliki 13 komisi, maka syarat minimal pembentukan sebuah fraksi adalah memiliki 13 kursi—agar setiap partai memiliki satu wakil di setiap komisi. Partai kecil yang tidak mencapai angka tersebut wajib bergabung dengan partai lain untuk membentuk fraksi gabungan. Dengan cara ini, tidak ada satu pun suara rakyat yang hilang, namun efektivitas kerja parlemen tetap terjaga melalui penyederhanaan jumlah fraksi.

Penutup: Menuju Reformasi Hukum Pemilu yang Sistemik

Saat ini, pemerintah tengah mengkaji secara mendalam berbagai putusan Mahkamah Konstitusi, termasuk Putusan No. 62/2024 dan No. 116/2023, yang menuntut penataan ulang sistem kepemiluan secara komprehensif. Kita tidak boleh lagi melakukan revisi secara parsial. Hukum pemilu harus dibangun dengan nalar yang sehat, memenuhi kaidah konstitusi, dan dapat diterima secara moral oleh publik.

Dalam masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, momentum revisi UU Pemilu dalam Prolegnas 2026 harus dimanfaatkan untuk menciptakan stabilitas hukum. Target kita adalah menyelesaikan regulasi ini selambatnya pada pertengahan masa jabatan, sehingga pada Pemilu 2029, seluruh penyelenggara dan peserta pemilu telah memiliki pijakan hukum yang kokoh, adil, dan menjamin kedaulatan rakyat tidak hanya dihitung sebagai angka, tetapi dihormati sebagai mandat politik yang suci.

Wallahu a’lam bisshawab.

Share:

Facebook
Twitter
WhatsApp
Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.A., M.Soc.Sc., Ph.D.

Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.A., M.Soc.Sc., Ph.D.

“Sistem yang baik akan memaksa orang jahat menjadi orang baik dan, sebaliknya, sistem yang tidak baik akan memaksa orang baik menjadi tidak baik.”

Berita Terbaru

Di sela agenda kunjungan kerja di Korea Selatan akhir September lalu, saya berdiskusi hangat dengan Dubes RI untuk Korea Selatan, Pak Cecep Herawan, mengenai fungsi diplomasi dan pelindungan WNI. Salut atas komitmen KBRI Seoul yang terus mengoptimalkan layanan konsuler, legalisasi dokumen, advokasi ketenagakerjaan, hingga program "Rumah Kita" bagi warga yang jauh dari ibu kota. Sebuah dedikasi penting dalam memastikan jaminan hukum dan kehadiran negara bagi seluruh masyarakat Indonesia di Negeri Ginseng.

...

294 24
Naskah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sejatinya bukanlah sebuah produk peradilan ataupun undang-undang, melainkan sebuah putusan luhur dari para pemuda Indonesia. 

Kongres pemuda saat itu membuktikan bahwa tekad dan putusan yang lahir dari para pemuda menjadi fondasi utama berdirinya negara kita tercinta.

Senang sekali bisa hadir di tengah civitas akademika di Kampus Universitas Indonesia dalam Peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun 2026 ini. Semoga semangat dan putusan visioner para pemuda pendahulu kita terus menginspirasi generasi muda hari ini untuk terus menjaga, merawat, dan memajukan Indonesia.

#SumpahPemuda #SumpahPemuda2026 #UniversitasIndonesia #YusrilIhzaMahendra #profyusril

...

741 20
INFORMASI HOAKS!

Beredar flyer undangan konferensi pers mengatasnamakan Kemenko Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan dengan narasi agenda audiensi pemberhentian Wakil Presiden.

Kami tegaskan bahwa informasi dan flyer tersebut adalah HOAKS / PALSU. 

Kemenko Kumham Imipas ataupun Menko Yusril Ihza Mahendra tidak pernah mengeluarkan undangan atau mengadakan agenda tersebut.

Masyarakat diimbau untuk tidak percaya, tidak membagikan ulang, dan selalu menyaring informasi sebelum disebarkan. 

Laporkan dan abaikan setiap konten palsu yang berpotensi menyesatkan publik.

#Klarifikasi #Hoax #kemenkokumhamimipas #profyim #AntiHoaks

...

3116 105
Menerima audiensi dan silaturahmi dari jajaran pengurus Kadin Indonesia yang dipimpin oleh Pak Anindya Bakrie (22/10).

Kami membahas urgensi revisi UU Kadin yang sudah berjalan hampir 4 dekade. Dunia usaha berkembang pesat, dan landasan hukumnya harus selaras agar mampu memberikan kepastian, perlindungan, serta ruang gerak bagi para pelaku usaha dari skala mikro hingga besar.

Pemerintah berkomitmen menyelesaikan penyusunan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) untuk mengawal pembahasan RUU Kadin bersama DPR RI. Kepastian hukum yang kokoh adalah kunci agar perekonomian nasional terus tumbuh berdaya saing.

#YusrilIhzaMahendra #profyusril #kadinindonesia #duniausaha #hukum

...

1360 41
Bernostalgia sejenak sambil berdiskusi bersama rekan-rekan Kohati PB HMI dalam Kohati Diplomacy Forum.

Dulu waktu pertama kali masuk kampus UI, sempat diajak gabung berbagai organisasi, tapi karena darah Masyumi mengalir dari Ayah, pilihannya tentu jatuh ke HMI.

Senang melihat semangat kritis, energi positif, dan potensi besar dari para kader HMI-Wati hari ini. Teruslah menjadi pelopor gagasan dan agen perubahan untuk Indonesia yang lebih baik.  

#YusrilIhzaMahendra #profyusril #KohatiDiplomacyForum #Kohati #HMI

...

2251 34
Tahun 1989, saya sebenarnya sudah diterima di Cornell University, AS. Namun, karena kendala beasiswa, Allah menunjukkan jalan lain melalui Universiti Sains Malaysia (USM).

Proses akademik di USM menjadi salah satu pengalaman berharga. Surat rekomendasi doktoral saya saat itu didukung dan ditandatangani langsung oleh dua tokoh besar: Bapak Mohammad Natsir (mantan Perdana Menteri RI 1950) dan Prof. Dr. Sutan Takdir Alisjahbana.

Perjalanan riset perbandingan politik masyarakat Muslim antara Indonesia dan Pakistan ini membuah hasil kelulusan cum laude pada tahun 1992. Disertasinya diterbitkan oleh LIPI pada 1995 dan menjadi buku perbandingan politik terbaik kala itu.

Semoga cerita ini bisa menjadi penyemangat bagi generasi muda. Jangan pernah berhenti menimba ilmu dan percayalah bahwa setiap ilmu yang kita peroleh akan memberi manfaat besar bagi diri kita sendiri, bagi bangsa dan juga negara.

#YusrilIhzaMahendra #Pendidikan #MotivasiBelajar #universitisainsmalaysia #indonesiamalaysia

...

1084 32
Kembali ke tempat perjalanan akademik dimulai. Setelah 33 tahun menyelesaikan pendidikan S3 di Universiti Sains Malaysia (USM) pada tahun 1993, tidak disangka pada tahun 2026 ini saya kembali dipanggil dan dianugerahi jabatan sebagai Adjunct Professor (Profesor Utama) dalam bidang Ilmu Politik.

Perjalanan ini mengingatkan saya pada komitmen awal ketika mendalami ilmu politik, hukum tata negara, hingga filsafat. Mengabdi dan mengajar bukan hanya tentang membagikan ilmu, tetapi juga bagaimana melihat dinamika konstitusi serta ketatanegaraan agar terus berkembang dan relevan dengan perkembangan zaman.

Semoga penganugerahan ini membawa keberkahan dan kontribusi nyata bagi dunia akademis serta kemajuan bangsa.

Dalam kesempatan tersebut, saya juga berkesempatan untuk memberikan orasi ilmiah. Video lengkap bisa disaksikan di chanel YouTube saya.

#YusrilIhzaMahendra #UniversitiSainsMalaysia #politics
#profYusril #indonesiamalaysia

...

3475 106