PERSIAPAN SYUTING TERAKHIR FILM CHENG HO

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,

IMG_1985Persiapan syuting sessi terakhir pembuatan film Laksamana Cheng Ho yang akan dilakukan di negara kita, kini hampir rampung. Insya Allah, syuting akan dimulai pada hari Sabtu tanggal 1 Maret 2008 nanti. Persiapan ini memang dilakukan dengan sungguh-sungguh, mengingat banyak adegan penting yang diambil di negara kita. Adegan itu bukan saja mengisahkan Perang Majapahit dengan Blambangan, Konflik Malaka dan Jawa dalam memperebutkan Palembang, dan konflik Samudra-Pasai di Aceh, tetapi seluruh adegan di atas geladak kapal dan perang di laut dilakukan di Indonesia. Cukup lama waktu yang diperlukan untuk membuat replika Kapal Ba Choan, kapal induk Armada Cheng Ho, untuk kepentingan pembuatan film ini.

IMG_2089Dalam sejarah disebutkan bahwa seluruh armada Cheng Ho terdiri atas 300 kapal dengan 28.000 prajurit Angkatan Laut Kekaisaran Ming dan sekitar 5000 awak kapal yang mengarungi samudra mulai dari bagian timur negeri Tiongkok sampai ke Mogadishu (Somalia) dan Madagaskar di pantai Timur Afrika. Armada itu bukan saja telah menjalankan misi muhibah ke negara-negara Asia Tenggara (Nan Yang) seperti Majapahit, Champa, Chirebon, Sunda Kelapa, Palembang, Samudra Pasai, Brunei, Pontianak, Ayuththaya dan Suvarnabhumi (Thailand), Angkor (Kamboja), Melaka,  dan Formusa, tetapi juga Sri Lanka, India, Iran, Irak, Yaman, dan Hejaz (Saudi Arabia), Moldives, serta negara-negara di Afrika. Ada delapan kali ekspedisi yang dilakukan Cheng Ho untuk mewujudkan impian Kaisar Ming Chui Ti membangun perdamaian dunia, setelah Tiongkok makmur, kuat dan bersatu menjadi negara adikuasa seperti Amerika Serikat sekarang, di zaman itu. Ekspedisi itu berlangsung dalam kurun waktu 28 tahun lamanya, antara tahun 1406 sampai tahun 1434 Masehi. Laksamana Cheng Ho sendiri wafat sekembalinya dari kota suci Mekkah setelah menunaikan ibadah umroh, dalam pelayaran ke depalan. Dia wafat di Lautan Hindia di selatan Sri Lanka dan jenazahnya dibawa untuk dimakamkan di Nan Jing, China. Konon, inilah armada angkatan laut terbesar dalam sejarah yang pernah ada, sebelum umat manusia memasuki zaman modern. Armada Cheng Ho jauh lebih besar dibandingkan dengan armada Columbus ketika mencapai daratan Amerika dan armada Ferdinand de Magelhaenz yang berlayar dari Spanyol sampai ke Philipina, lebih seabad kemudian.

IMG_2086Menurut catatan sejarah, Kapal Induk Ba Choan, yang memimpin seluruh armada itu, panjangnya 142 meter dan lebarnya 40 meter. Kapal itu digambarkan sangat mewah, bagaikan istana terapung di tengah laut. Namun walau bagaimanapun juga, kapal itu pada dasarnya adalah sebuah kapal perang. Sebab itu, kapal itu dilengkapi dengan sejumlah meriam yang dibeli dari Turki. Meriam sejenis konon telah digunakan oleh Salahuddin Al-Ayyubi dalam Perang Salib. Jarak tembak meriam itu dikisahkan telah mencapai 2000 meter. Dalam film ini, ada dikisahkan Laksamana Cheng Ho pernah mendisplai seluruh armadanya dan mengarahkan meriam ke Pelabuhan Tuban, bandar pelabuhan utama Kerajaan Majapahit di masa itu, setelah terjadi kesalahpahaman antara Majapahit dengan armada Tiongkok itu dalam Perang Blambangan. IMG_1965Beberapa komandan militer armada Cheng Ho sangat gusar ketika mendengar kabar 170 prajurit kehormatan mereka, yang mengawal seorang perwira untuk menghadap Raja Bhre Kertabumi, dibunuh oleh tentara Majapahit, ketika mereka menyerbu Blambangan. Pasukan Majapahit mengira prajurit Tiongkok itu akan membantu Blambangan dalam perang melawan mereka. Padahal pasukan kehormatan itu bukanlah prajurit siap tempur.

Sebab itulah, Cheng Ho kemudian menyatukan seluruh armadanya yang sebagian berada di Banyuwangi dan sebagian lagi di Semarang menuju ke Tuban. Konon, kalau Cheng Ho mau, Tuban dapat mereka hancurkan dalam sehari. Penduduk Tuban (termasuk Angkatan Laut Majapahit) hanya berjumlah 5000 orang. Dengan kekuatan militer sebanyak 28.000 prajurit mungkin saja mereka dapat melakukannya. IMG_1951Namun, misi Cheng Ho adalah misi damai dan kerjasama antara bangsa. Salah paham dengan Majapahit dapat diselesaikan dengan damai melalui diplomasi, setelah Cheng Ho bertemu dengan Raja Majapahit, Prabu Wikramawardhana, di ibu kota kerajaan , Trowulan. Cheng Ho kemudian menyampaikan komitmen untuk melatih tentara Majapahit serta memberikan bantuan teknis di bidang pertanian, kesehatan, perdagangan dan industri pembuatan keramik dan kain sutera untuk memulihkan ekonomi Majapahit yang hancur akibat perang berkepanjangan. Mereka juga sepakat untuk saling menempatkan duta besar di kedua negara untuk mempererat kerjasama Majapahit dengan Tiongkok. Realisasi komitmen itu dipenuhi Cheng Ho dalam kunjungan muhibahnya yang kedua ke Majapahit dua tahun kemudian. Digambarkan pula, Laksamana Cheng Ho dan sejumlah perwira militer Kekaisaran Ming yang beragama Islam menunaikan solat Jum’at bersama kaum Muslimin yang minoritas jumlahnya di Kerajaan Majapahit yang mayoritas beragama Hindu.

Tentu dalam pembuatan film ini, replika Kapal Induk Ba Choan tidaklah sebesar aslinya. Replika kapal yang dibuat hanya berukuran panjang 40 meter dan lebar 20 meter. Di samping replika kapal IMG_1952induk, juga dibuatkan miniatur kapal-kapal lain dalam ukuran kecil. Dengan bantuan komputer grafis, kapal-kapal ini, Insya Allah, akan nampak gagah perkasa mengharungi lautan. Kantana Ltd yang menjadi produser utama pembuatan film ini, telah berpengalaman mengerjakan komputer grafis pembuatan film Titanic, bekerja sama dengan perusahaan film dari Amerika Serikat. Mereka akan mengoptimalkan penampilan gambar kapal-kapal dalam film Cheng Ho ini seperti yang mereka lakukan dalam pembuatan film Titanic. Teknologi pembuatan film di zaman sekarang – komputer grafis, animasi dan sound effects –memungkinkan produser membuat film jauh lebih mudah dibandingkan dengan beberapa dekade yang lalu. Produser juga dapat menggunakan enam kamera sekaligus untuk mengambil gambar. Dengan demikian, pengambilan adegan akan jauh lebih cepat dan efisien. Proses editing setiap scene yang diambil, juga dilakukan secara digital menggunakan komputer.

Hari ini, saya kembali menyempatkan diri untuk datang ke studio PT Jupiter Global Film di Kemayoran. Seluruh awak dari Thailand hari ini melakukan sembahyang menurut agama Buddha untuk mengawaliIMG_2046 pekerjaan mereka. Sementara awak dari Indonesia membaca doa menurut agama Islam. Sejumlah 32 teknisi dari Thailand sudah seminggu ini berada di Jakarta untuk melakukan persiapan teknis. Dalam dua hari mendatang para aktor Thailand, Malaysia dan Vietnam akan berdatangan ke Jakarta. Aktor dari China dan Hong Kong tidak ada lagi yang datang, karena pengambilan seluruh adegan yang melibatkan mereka telah selesai dalam syuting di China.

Aktor Indonesia yang akan terlibat selama syuting di sini, selain saya sendiri — yang sebenarnya bukan bintang film sungguhan dan beberapa aktor lain yang terlibat sejak awal — diantaranya adalah IMG_2034Slamet Rahardjo yang akan memerankan Bhre Kertabumi (Raja Blambangan) dan Saifullah Yusuf yang memerankan Prabu Wikramawardhana (Raja Majapahit). Nurul Arifin juga akan tampil memerankan istri Bhre Kertabumi, di samping sejumlah aktor dan aktris Indonesia yang lain. Tak ketinggalan pula, sekitar 300 prajurit Kostrad dari Batalyon Kavaleri dan Infantri akan dilibatkan dalam pembuatan film ini. Kali ini para prajurit TNI Angkatan Darat itu tidak akan menggunakan tank dan panser, senapang dan meriam artileri, tetapi menggunakan kuda bersenjatakan pedang, tameng, panah dan tombak sambil memakai seragam militer Kerajaan Majapahit dan Blambangan di zaman dahulu. Walaupun jumlah mereka 300 prajurit, namun ketika ditayangkan nanti, jumlah mereka akan “dikloning” sehingga nampak berjumlah ribuan orang. Semua ini berkat kemajuan teknologi animasi dalam pembuatan film ini. Membuat film memang banyak “boong-boongannya”, he he…
Ruang Balairung Kerajaan Majapahit dan Istana Kerajaan Blambangan juga telah selesai dibuat, dengan pengawasan dari IMG_2055Dinas Pariwisata Kabupaten Bojonegoro. Beberapa kali desain balairung dan istana ini direvisi agar mendekati bentuk yang sesungguhnya. Produser film ini tidak ingin salah dalam mendisain istana Majapahit dan Blambangan, termasuk kostum dan dandanan orang di zaman itu. Ketika syuting di China, seorang professor ahli sejarah Ming dari Universitas Beijing setiap hari ada di lapangan untuk mengawasi tatacara dan adat istiadat Dinasti Ming, agar jangan sampai salah. Art Director dari Thailand juga meneliti dengan cermat pakaian, dandanan, peralatanIMG_2062 makan-minum dan segala macam dekorasi istana dan rumah di zaman Dinasti Ming, agar jangan tercampur dengan dinasti yang lain. Kalau salah, film ini akan menjadi bahan tertawaan bagi mereka yang mengerti sejarah. Sebab itu, di lantai dua studio Jupiter di Kemayoran, saya menyaksikan ratusan pedang, tombak dan tameng zaman Majahapit, serta konstum masyarakat di zaman itu. Peralatan yang digunakan Armada Cheng Ho, termasuk kamera dan kostum yang telah digunakan dalam syuting di Thailand dan China, juga telah dibawa dengan kontainer ke Jakarta. Kami mengucapkan terima kasih kepada aparat bea cukai kita, yang dapat memahami bahwa barang-barang ini digunakan untuk pembuatan film, sehingga dapat mengurangi biaya pembuatan film ini, yang kini sudah mencapai lima juta dollar Amerika Serikat.

Penyiapan pembuatan replika armada Cheng Ho dan pembuatan replika Balairung Majapahit dan Blambangan memang memakan IMG_2066waktu. Semua sarana itu ada di dalam studio Jupiter Global Film seperti nampak dalam foto di sebelah ini. Sebab itu, syuting yang dilakukan di Indonesia mengalami penundaan hampir sebulan. Musim hujan dan banjir di ibukota juga menjadi faktor yang menyebabkan penundaan ini, belum lagi gangguan listrik yang terjadi dalam beberapa minggu belakangan ini. Namun demikian, semua ini tidaklah mengurangi semangat para awak pembuatan film ini beserta seluruh aktor dan aktris pendukungnya. Kami memang berniat membuat film dengan sungguh-sungguh, dengan menjaga mutu. Apalagi film ini mendapat predikat film Asia, karena pembuatannya dilakukan oleh tiga produser dari Thailand, Indonesia dan China.

Seluruh proses syuting di Indonesia diperkirakan akan memakan waktu sekitar dua bulan, dengan memperhitungkan musim hujan yang kini masih berlangsung. Selain, menggunakan studio di Kemayoran, syuting juga akan dilakukan di Pangandaran, serta mungkin pula menggunakan studio alam TVRI di Depok. IMG_2063Dengan mempertimbangkan faktor-faktor itu, mungkin penayangan film ini baru dapat dilaksanakan pada akhir bulan Mei yang akan datang. Jadi terlambat dari rencana semula untuk menayangkan film ini pada akhir bulan Maret tahun ini. Kami mohon maaf atas keterlambatan ini. Namun demikian, dengan persiapan yang lebih matang, kami berharap film ini benar-benar akan menjadi karya monumental dengan kualitas sebagaimana yang kami harapkan. Sayapun memohon doa restu dari masyarakat agar seluruh proses pembuatan ini, nantinya akan menghasilkan sebuah tontotan yang menarik, dan sekaligus memberikan banyak bahan pelajaran dan renungan bagi kita yang hidup di zaman sekarang.

Wallahu’alam bissawwab.

Share:

Facebook
Twitter
WhatsApp
 Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc.

Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc.

“Sistem yang baik akan memaksa orang jahat menjadi orang baik dan, sebaliknya, sistem yang tidak baik akan memaksa orang baik menjadi tidak baik.”

Berita Terbaru

Senang sekali sore kemarin bisa hadir langsung di Satrio One, Mega Kuningan, menyaksikan pagelaran Summer Dance yang diikuti oleh anak-anak dan generasi muda kita.

Ini merupakan salah satu wadah kreasi yang luar biasa, tempat anak-anak kita bisa mengekspresikan rasa seni dan potensi terbaik mereka. 

Mari kita bersama-sama menghormati, mengapresiasi, dan memberikan dukungan penuh kepada anak-anak kita agar mereka terus maju dan tumbuh menjadi generasi yang hebat di masa depan. 🇮🇩✨

#YusrilIhzaMahendra #profyusril  #summerdance #generasimuda #kreativitasanak

...

1536 14
"Filsafat mengajari saya melihat sesuatu secara menyeluruh, secara integral."

Alhamdulillah, sebuah perjalanan panjang dalam mendalami ilmu akhirnya menapaki babak baru. Di hadapan para penguji di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, saya telah mempertahankan disertasi doktor mengenai filsafat politik tokoh bangsa, Mohammad Natsir.

Membedah gagasan beliau mengenai teistik demokrasi memberikan refleksi mendalam bahwa negara tidak boleh absen dalam pembinaan etika warga negaranya. Manusia memiliki insting, namun tanpa bimbingan moral yang kuat, tatanan masyarakat akan rapuh.

Kelulusan dengan yudisium Sangat Memuaskan ini merupakan amanah akademis untuk terus berpikir utuh demi kemaslahatan bangsa. Terima kasih yang tak terhingga kepada keluarga, kolega, dan sahabat sekalian atas doa serta dukungannya.

#YusrilIhzaMahendra #profyusril #FilsafatUI #MohammadNatsir #UniversitasIndonesia

...

5144 104
Ujian terbuka promosi Doktor Ilmu Filsafat saya di Universitas Indonesia, Kamis, 2 Juli 2026, diberitakan salah satunya oleh Headline News Metro TV.

Bagi saya, pencapaian akademis ini bukan sekadar gelar seremonial, melainkan sebuah refleksi penting dan komitmen nyata yang akan terus melandasi tugas-tugas saya di dalam pemerintahan.

Melalui pendekatan filsafat, saya ingin menegaskan kembali bahwa analisis terhadap masalah hukum tidak boleh kaku, murni tekstual, atau hitam-di-atas-putih belaka. Menghadirkan norma hukum yang adil dan kebijakan negara yang berpihak pada rakyat membutuhkan pemahaman yang holistik—kita harus peka membaca pergolakan sosiologis, dinamika politik, serta mengeksplorasi landasan filosofis mengapa sebuah aturan itu dilahirkan.

Disertasi saya yang mengkaji kembali pemikiran Mohammad Natsir membuktikan hal tersebut: bahwa moralitas dan etika peradaban harus menjadi jangkar utama dalam menjaga tegaknya hukum dan demokrasi di Indonesia.

Filsafat telah membuka ruang berpikir yang lebih integral, mendorong kita untuk melihat apa yang kerap kali luput dari pandangan biasa. InsyaAllah, perspektif ini akan terus menjadi kompas bagi saya dalam mengemban amanah sebagai penyelenggara negara, sekaligus dalam membimbing generasi penerus di dunia akademis.

Terima kasih atas segala dukungan, kritik yang membangun, dan doa tulus dari seluruh masyarakat Indonesia. Mari bersama-sama merawat nalar dan moralitas demi kemajuan bangsa. 🇮🇩

#YusrilIhzaMahendra #profyusril #HeadlineNews #UniversitasIndonesia #Filsafat

...

1698 26
Alhamdulillahil’alim. Di tengah padatnya kesibukan, sebuah babak baru dalam perjalanan intelektual akhirnya berhasil saya rampungkan.

Kemarin, Kamis, 2 Juli 2026, saya berkesempatan untuk mempertahankan disertasi “Penafsiran Kembali Pemikiran Mohammad Natsir tentang Relasi Islam dengan Negara: Sebuah Telaah Filsafat dengan Pendekatan Hermeneutika Fenomenologis-Eksistensial” dalam sidang promosi doktor di Balai Sidang Universitas Indonesia.

Secara resmi, saya dinyatakan lulus dan meraih gelar Doktor dalam bidang Ilmu Pengetahuan Budaya, Program Studi Ilmu Filsafat, dengan yudisium Sangat Memuaskan.

Perjalanan akademis ini bukan sekadar tentang penambahan gelar di depan nama, melainkan sebuah ikhtiar mendalam untuk terus menggali esensi pemikiran, mempertajam analisis filsafat, dan memberikan kontribusi yang berarti bagi kekayaan ilmu pengetahuan di Tanah Air.

Terima kasih yang mendalam saya sampaikan kepada tim penguji, keluarga tercinta, serta seluruh rekan dan sahabat yang telah memberikan doa, dukungan, serta ruang diskusi yang hangat sepanjang proses ini. Semoga ilmu yang diraih dapat membawa kemaslahatan bagi bangsa dan negara.

#YusrilIhzaMahendra #UniversitasIndonesia #DoktorFilsafat #Akademisi #IlmuFilsafat

...

11012 198
Langkah saya kembali tertuju pada kesunyian Karet Bivak, menemui sebuah nama yang tidak pernah selesai saya pelajari: H. Mohammad Natsir. Di sela hari-hari terakhir menjelang ujian disertasi doktor filsafat saya di Universitas Indonesia, video ini merekam sebuah momen pulang—saat seorang murid kembali duduk di hadapan gurunya, melepas sejenak segala atribut akademik.

Bagi saya, membedah pemikiran Pak Natsir tentang Islam, negara, dan demokrasi melalui pendekatan filsafat bukan sekadar mengejar gelar doktoral ketiga. Ini adalah ikhtiar batin untuk merawat ingatan kita bersama bahwa Indonesia pernah dibesarkan oleh gagasan-gagasan yang megah sekaligus teduh.

Lewat momen khidmat ini, kita diingatkan kembali pada warisan terbesar beliau yang melintasi zaman: keteladanan. Sejarah mencatat betapa tajamnya perbedaan sikap politik Pak Natsir dengan para tokoh sezamannya, namun di luar ruang sidang, mereka adalah sahabat erat yang saling menghormati dan duduk bersama demi Indonesia.

Di tengah riuhnya panggung politik hari ini, kesantunan dan kedewasaan berpikir seperti itulah yang sangat kita rindukan. Di depan pusara ini, sebuah pesan sunyi kembali menegaskan: boleh saja kita berbeda pandangan, namun menjaga keutuhan Indonesia adalah kewajiban yang utama.

#YusrilIhzaMahendra #profyusril #mnatsir #filsafat #negarawan

...

936 7