SELAMAT JALAN HM SOEHARTO

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,

Setelah menderita sakit yang berkepanjangan sejak menyatakan berhenti sebagai Presiden, tadi siang, mantan Presiden Soeharto menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Pertamina SuhartoJakarta. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un (sesungguhnya kita semua kepunyaan Allah dan kepadaNya jua kita akan kembali). Dengan wafatnya beliau, kita telah kehilangan lagi seorang mantan Presiden, yang pernah memimpin bangsa dan negara kita dalam kurun waktu yang cukup lama. Presiden Soekarno memegang jabatan Presiden selama lebih kurang 22 tahun. Itupun silih berganti sebagai Kepala Eksekutif dan Kepala Negara ketika kita menganut sistem parlementer. Ketua Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) Sjafruddin Prawiranegara hanya memegang jabatan kurang dari setahun. Presiden Soeharto memegang jabatan selama 32 tahun, sampai akhirnya menyatakan berhenti dari jabatannya pada tanggal 21 Mei 1998.

Selama memegang kekuasan, Presiden Soeharto telah berbuat banyak dalam membangun bangsa dan negara kita, sehingga mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa kita menjadi bangsa dan negara yang disegani dikawasan Asia. Di bawah kepemimpinannya pula, pembangunan sosial dan ekonomi kita mulai dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Banyak kemajuan yang dicapai, baik pembangunan fisik maupun pembangunan non fisik seperti peningkatan kualitas hidup dan sumberdaya manusia bangsa kita. Bangsa kita yang hidup sangat miskin dan terbelakang di masa Orde Lama, di masa Orde Baru berhasil memperbaiki keadaan internalnya, sehingga kita bergerak maju mendekati taraf negara menengah. Andaikata tidak terjadi krisis moneter pada tahun 1997, pembangunan sosial ekonomi kita mungkin akan bergerak ke arah yang jauh lebih maju. Namun badai krisis yang begitu dahsyat, tidak saja merontokkan sendi-sendi ekonomi, namun juga meruntuhkan kekuatan Orde Baru sendiri.

Karena Presiden Soeharto adalah tokoh sentral dalam Orde Baru, maka kejatuhannya otomatis meruntuhkan seluruh tananan yang telah berhasil dibangunnya. Semua ini memang menjadi pelajaran berharga bagi bangsa kita. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Jika ada awal, maka akan ada pula akhir. Demikianlah Orde Baru di bawah pimpinan Presiden Soeharto. Orde itu berakhir, dan kita berada dalam masa transisi untuk memantapkan pola kehidupan berbangsa dan bernegara kita yang baru di era reformasi. Biaya krisis kita sangat besar. Bukan saja biaya finansialnya, tetapi juga biaya sosial dan politiknya. Kita berupaya untuk bangkit kembali. Sistem kita perbaiki. Konstitusi kita amandemen. Kita melihat kekeliruan masa lalu, dan berupaya untuk melangkah ke depan dengan lebih baik. Kita merumuskan kebijakan-kebijakan baru di segala bidang. Hasilnya, belum sepenuhnya memuaskan.

Ketika Orde Baru runtuh seiring dengan berhentinya Presiden Soeharto, sebagian masyarakat kita cenderung melihat masa lalu itu dengan pandangan yang kelam. Berbagai hujatan dilontarkan hanya untuk menyebut kesalahan, kekeliruan dan daftar dosa. Orang tak lagi berpikir jernih untuk melihat sisi-sisi kebaikan dan sumbangan yang telah diberikanya kepada bangsa dan negara. Gejala seperti ini juga terjadi saat kejatuhan Presiden Soekarno. Beliau yang begitu dipuja-puji, diberi berbagai gelar dan sebutan dan bahkan dikukuhkan sebagai Presiden seumur hidup. Namun ketika beliau jatuh, segala kebaikan dan sumbangannya yang begitu besar kepada bangsa dan negara, seolah dilupakan. Hal yang hampir sama terjadi pula pada Presiden Soeharto. Beliau terus-menerus dipilih menjadi Presiden setiap lima tahun kembali, diberi berbagai julukan, namun pada saat beliau jatuh, seolah kebaikan dan sumbangannya kepada bangsa dan negara, seperti tidak ada artinya samasekali.

Bangsa kita memang harus belajar banyak bagaimana caranya mereka memperlakukan mantan pemimpinnya. Tidak ada manusia yang sempurna. Sebesar apapun seorang pemimpin, tetap saja ada kekurangan dan kekeliruan. Begitu lama Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto memegang kekuasaan, semuanya berawal dari ketidakjelasan konstitusi kita. Presidennya juga memanfaatkan celah dan kelemahan itu untuk mempertahankan kekuasaan. Kekuasaan itu menggoda dan mudah membuat pemimpin menjadi lupa. Sekarang, kelemahan sistem itu telah kita perbaiki. Kita harus berani mengakui bahwa, semua ini adalah kekuarangan kita sebagai bangsa yang kita harus berani mengakuinya. Kita harus memperbaiki kesalahan itu, dan berani melangkah ke dapan, tanpa harus terpenjara oleh masa lalu. Sikap terpenjara kepada masa lalu akan membuat bangsa kita terus-menerus bertikai, hujat-menghujat, salah-menyalahkan dan akhirnya tidak siap untuk melangkah ke depan.

Kini H.M. Soeharto telah pergi untuk selama-lamanya. Secara hukum, dengan wafatnya seseorang, maka segala tuntutan pidana menjadi gugur demi hukum. Dengan demikian, dilihat dari sisi hukum, seseorang haruslah dianggap tidak bersalah, sebelum ada putusan pengadilan yang berlaku tetap. Upaya peradilan pidana kepada H.M. Soeharto telah dimulai untuk melaksanakan ketentuan Pasal 4 Ketetapan MPR Nomor XI Tahun 1998. Proses itu terhenti dengan sakitnya beliau. Kini beliau telah wafat. Semua tuntutan pidana menjadi gugur untuk selama-lamanya. Persoalan hukum tatanegara yang menyangkut beliau sudah lama selesai. Setiap lima tahun, pertanggungjawabannya diterima MPR. Beliau menyatakan berhenti tanggal 21 Mei 1998, juga sah dilihat dari sudut hukum tatanegara postif yang berlaku ketika itu.

Apa yang tersisa kini ialah gugatan perdata oleh Negara Republik Indonesia terhadap H.M. Soeharto. Gugatan itu tidak hanya ditujukan kepada H.M. Soeharto sebagai ketua dari beberapa yayasan, tetapi juga ditujukan kepada pribadi beliau, dalam bentuk gugatan ganti rugi. Saya berpendapat, sebaiknyalah Presiden SBY mencari penyelesaian masalah ini di luar pengadilan. Tentu bukan dengan win-win solution seperti ditawarkan Jaksa Agung Hendarman, tetapi suatu upaya damai dengan pendekatan dari hati kehati, baik dengan pengurus yayasan yang lain, maupun dengan para ahli waris H.M. Soeharto. Untuk itu, semua pihak harus mendahulukan kepentingan bangsa dan negara. Jika semua berbicara dari hati ke hati dan mengutamakan kepentingan bangsa dan negara, saya yakin pintu penyelesaian akan senantiasa terbuka.

Saya ingin mengakhiri tulisan ini, dengan mengembalikan segala sesuatunya kepada perspektif keagamaan. Dari sudut pandang agama Islam, apabila seseorang telah wafat, maka yang wajib dikenang untuk selamanya ialah amal-kebajikan yang dilakukan orang itu. Segala kesalahannya wajib untuk dilupakan. Bangsa kita adalah bangsa yang relijius. Sudah saatnya sikap relijius itu kita kedepankan, pada saat H.M. Soeharto telah dipanggil Allah Ta’ala untuk menghadapnya. Segala kebaikan dan sumbangsih beliau kepada bangsa dan negara, wajib kita kenang untuk selamanya. Terhadap semua kesalahan dan kekeliruannya, kita wajib untuk belajar dan memetik hikmah, agar kesalahan itu tidak terulang lagi. Perjalanan bangsa dan negara kita masih panjang. Kita harus senantiasa menatap dan melangkah ke depan dengan segenap daya dan kemampuan. Sebagai bangsa kita tidak boleh terpenjara oleh masa lalu yang kelam.

Selamat jalan Pak Harto! Semoga Allah SWT menerima segala amal kebajikan yang telah dilakukan, dan mengampuni segala dosa dan kesalahan.***

Share:

Facebook
Twitter
WhatsApp
 Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc.

Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc.

“Sistem yang baik akan memaksa orang jahat menjadi orang baik dan, sebaliknya, sistem yang tidak baik akan memaksa orang baik menjadi tidak baik.”

Berita Terbaru

Kembali ke tempat perjalanan akademik dimulai. Setelah 33 tahun menyelesaikan pendidikan S3 di Universiti Sains Malaysia (USM) pada tahun 1993, tidak disangka pada tahun 2026 ini saya kembali dipanggil dan dianugerahi jabatan sebagai Adjunct Professor (Profesor Utama) dalam bidang Ilmu Politik.

Perjalanan ini mengingatkan saya pada komitmen awal ketika mendalami ilmu politik, hukum tata negara, hingga filsafat. Mengabdi dan mengajar bukan hanya tentang membagikan ilmu, tetapi juga bagaimana melihat dinamika konstitusi serta ketatanegaraan agar terus berkembang dan relevan dengan perkembangan zaman.

Semoga penganugerahan ini membawa keberkahan dan kontribusi nyata bagi dunia akademis serta kemajuan bangsa.

Dalam kesempatan tersebut, saya juga berkesempatan untuk memberikan orasi ilmiah. Video lengkap bisa disaksikan di chanel YouTube saya.

#YusrilIhzaMahendra #UniversitiSainsMalaysia #politics
#profYusril #indonesiamalaysia

...

2511 66
Pemerintah mengambil langkah antisipatif dengan tidak memberikan izin pertunjukan dan visa bagi grup musik "Israel and New Breed" (Israel Houghton). Menko Yusril Ihza Mahendra menjelaskan dua pertimbangan utamanya adalah: 1. Faktor Keamanan Dalam Negeri: Mengantisipasi protes dan gelombang penolakan di masyarakat; 2. Politik Luar Negeri: Konsistensi Indonesia dalam mendukung perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina.

#YusrilIhzaMahendra #profYusril #IsraelHoughton #politics #palestine

...

696 461
Indonesia sangat menghargai kebebasan berseni, bermusik, hingga kegiatan ibadah keagamaan. Namun, kata Menko Yusril, kita perlu waspada ketika pertunjukan seni dimanfaatkan untuk memberikan dukungan politik tertentu (seperti isu Israel) yang bisa memicu reaksi politik di dalam negeri.

Dok. di Acara Pagi-Pagi Seru TvOne

#YusrilIhzaMahendra #profyusril #indonesia #SeniDanPolitik #israelhoughton

...

1254 644
Memperkuat pelindungan kekayaan intelektual dan kepastian hukum bagi para pelaku usaha di Indonesia dan Korea Selatan. 🇮🇩🇰🇷

Langkah nyata kolaborasi ini kami bahas langsung bersama Menteri Kekayaan Intelektual Korea Selatan, Kim Yong-sun, di Seoul—mulai dari penanganan barang palsu hingga efektivitas penegakan hukum di ranah online.

Kerja sama bukan sekadar kesepakatan di atas kertas, tapi tentang menghadirkan solusi dan manfaat nyata di lapangan. 🤝✨

#YusrilIhzaMahendra #MenkoKumhamImipas #KekayaanIntelektual #IndonesiaKorsel #Seoul

...

407 239
Kembali ke Masjid Al-Malik Khalid, Universiti Sains Malaysia (USM) di Penang, selalu membawa nostalgia tersendiri.  

Sejak pertama kali datang ke kampus ini dalam rangka mengambil gelar doktor ilmu politik pada tahun 1990—sekitar 36 tahun yang lalu, saya selalu salat Jumat di masjid ini.

Sebelum memberikan kuliah umum di almamater yang kali ini memberikan saya gelar Adjunct Professor esok hari (26/9), saya bersyukur bisa kembali menunaikan salat Jumat di sini.

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan keberkahan kepada kita semua di hari Jumat yang mulia ini. Amin YRA. 🕌✨  

#YusrilIhzaMahendra #USM #Penang #Nostalgia #JumatBerkah

...

867 330
Kemarin (15/9), saya meluangkan waktu untuk menjenguk sahabat lama saya, Adril Muchtar, yang sedang dirawat di salah satu rumah sakit di Jakarta Timur.

Persahabatan kami punya kenangan tersendiri. Selama 6 tahun di masa-masa perkuliahan tahun 1970-an, kami berbagi kamar yang sama di Asrama Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) Daksinapati, Rawamangun. 

Banyak suka dan duka yang kami lewati bersama sebagai kawan senasib sepenanggungan semasa jadi mahasiswa dulu.

Melihat semangat beliau hari ini sungguh membesarkan hati. Mari kita doakan bersama agar saudara kita, Adril Muchtar, segera diberikan kesembuhan, diangkat penyakitnya oleh Allah SWT, dan bisa beraktivitas kembali seperti sediakala. Aamiin YRA. 🤲🏼✨

#YusrilIhzaMahendra #Silaturahmi #SahabatLama #daksinapati #UI

...

5609 107