KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAGIAN VI)

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,

PengempanganSetelah saya sering berkelana di dalam hutan diumur 5-6 tahun, saya mulai tertarik dengan laut ketika memasuki usia tujuh tahun. Seperti telah saya singgung pada Bagian V, saya sesekali ikut pergi ke tepi pantai bersama kakak saya Yusfi. Tapi karena dia makin sibuk bersekolah di SMP yang jaraknya agak jauh dari rumah kami di Kampung Sekep, dia mulai jarang pergi ke pantai. Usman, tetangga saya, mengajak saya pergi ke pantai. Ayahnya, Muhammad, adalah seorang nelayan Bugis. Kakeknya, Baharun, juga nelayan. Saya mengikuti Usman peri ke pantai menunggu ayahnya pulang melaut. Biasanya kami pergi dari rumah sekitar pukul sepuluh pagi, setelah saya mengisi air keperluan di rumah, dan membantu ibu saya menyelesaikan pekerjaan di rumah.

Perjalanan dari Kampung Sekep ke Pantai Pengempangan kira-kira berjarak dua kilometer. Kami berjalan kaki tanpa alas kaki, menelusuri jalan setapak melawati Kampung Bakau. Di jalan kami sering bertemu serombongan biawak yang bermain di danau berair payau yang ditumbuhi banyak pohon Nipah. Di sisi kiri jalan menuju Kampung Bakau itu ada kulong (danau bekas tambang timah) berair asin, yang dinamai Kulong Wak Nutok. Nama itu diambil dari seorang yang berasal dari Jawa, namanya Noto, yang tinggal di tepi kulong itu. Dia memiliki perahu yang dilabuhkan di situ dengan sebuah jangkar. Kulong Wak Nutok juga banyak ikannya. Kadang-kadang kami mampir di kulong itu mencari timung dan simping, sejenis lokan air payau. Kampung Bakau yang kami lintasi, hanya dihuni tiga keluarga. Pertama keluarga Bajeri, yang pernah saya ceritakan di Bagian II sebagai pemain biola yang handal. Kedua, keluara Baharu. Beliau ini pegawai PU yang kerjanya sehari-hari memperbaiki jalan yang rusak. Ketiga, keluarga Salim Simin. Saya tak ingat apa pekerjaan Salim Simin itu. Namun beliau seorang pejuang, yang di zaman Revolusi ikut dalam berbagai pertempuran.

Saya mengenal semua penghuni Kampung Bakau yang hanya tiga keluarga itu. Anak-anak Baharu dan Salim Simin yang bernama Ee, Andot dan Patani adalah teman-teman saya juga. Mereka mengajari saya cara membuat perahu-perahuan dari kayu pohon waru yang diberi layar kain bekas untuk kami bermain. Saya sering juga ikut mereka berenang di kulong di belakang rumahnya ketika air laut pasang dan mengalir sampai ke sana. Agak bahaya juga mandi di situ, karena kami pernah melihat buaya sedang berenang di kejauhan. Anak Bajeri – beliau saudara sepupu ayah saya dari pihak ibu – semuanya sudah besar. Jadi tidak ada yang dapat dijadikan teman bermain. Ada dua anak Bajeri yang sudah dewasa, tetapi belum kawin. Anak laki-laki bernama Ahad, namun yang perempuan saya sudah lupa namanya. Anak yang perempuan itu cantik, kulitnya putih, umurnya kira-kira 19 tahun. Anak-anak menyebut gadis itu Putri Bakau. Ketika melewati Kampung Bakau, saya sering mendengar Bajeri meggesek biola, atau menabuh hadrah. Ketika itu beliau sudah tua. Namun hidupnya tetap bagai seniman.

Kampung Bakau nampak bagai sebuah pulau. Kampung itu dikelelingi air dan dihubungkan dengan jembatan terbuat dari pohon kelapa. Pohon kelapa di kampung itu banyak sekali. Banyak juga pohon cemara laut, pohon penaga dan pohon waru. Tidak jauh dari jembatan Kampung Bakau, ada sebuah rumah cukup besar. Pemilik rumah itu adalah Sadam. Belakangan diolok-olok orang sebagai Saddam Hussein, Presiden Irak yang amat tersohor namanya. Sadam memiliki kebun kelapa yang luas. Dia juga mempunyai beberapa perahu yang diparkir di tepi pantai dekat rumahnya. Tempat Sadam memarkir perahu itu, lama kelamaan disebut orang sebagai Pangkalan Sadam. Anak Sadam yang bernama Rahim, belakangan menjadi teman kami sekolah ketika SMP. Sadam adalah orang yang cukup ramah. Sebelum banyak anak-anak bersunat di rumah sakit, Sadam adalah tukang sunat tradisional. Anak-anak konon direndam Sadam sehari suntuk, sebelum disunat pakai pisau cukur. Seram juga mendengar Sadam menyunat anak-anak di zaman dahulu. Meskipun begitu, konon disunat Sadam tidaklah sakit, karena dia menyunat menggunakan jampi-jampi.

Dengan melintasi Kampung Bakau, maka tibalah kami di tepi pantai di Pangkalan Sadam itu. Dari sana kami menyusuri pantai menuju Pengempangan. Pantai Pengempangan ketika itu dikelola kakek IMG_0001saya Haji Zainal bin Haji Ahmad. Banyak pohon kelapa di pantai itu yang ditanam sejak ayah kakek saya Haji Ahmad masih hidup. Kakek saya mempunyai pondok kecil di situ yang beliau bangun bertengger di tebing batu di kaki Bukit Samak. Ada dua pondok tempat orang duduk-duduk dan tiduran di Pantai Pengempangan itu sambil menunggu nelayan pulang melaut. Tempat itu sekaligus digunakan untuk menimbang ikan, sebelum dibawa ke pasar untuk dijual. Ada juga warung kecil tempat orang berjualan penganan dan minuman. Di bangunan yang agak besar dibuatkan papan catur di lantai papan. Banyak orang main catur, nelayan, tengkulak ikan dan anak-anak. Pak Lurah Daeng Semaong, yang selalu memakai topi kontroluer orang Belanda, juga sering-sering berada di tempat itu. Kalau ada Daeng Semaong, semua orang Bugis di tepi pantai itu tunduk menghormat. Beliau sangat berwibawa dan disegani.

Bagi saya yang masih kecil, bermain di pantai itu sungguh menyenangkan. Sebelum nelayan datang melaut, kami mandi sambil berenang menuju bebatuan yang tidak terlalu jauh dari pantai. Saya pandai berenang tanpa ada yang mengajari, karena pandai dengan sendirinya setelah setiap hari mencebur ke laut. Kamipun biasa menyelam, tanpa memakai kaca mata selam, seperti yang digunakan nelayan Buton ketika mereka memanah ikan di sekitar karang di dalam air. Tempat yang sering kami jadikan ajang lomba renang adalah Batu Malang, yang berjarak sekitar 80 – 100 meter dari pantai. Kami tenang-tenang saja melintasi alur, walau arus terkadang deras untuk sampai ke batu itu. Di Batu Malang saya sering menyelam mengambil akar bahar yang bagus bentuknya. Akar bahar berwarna hitam dapat dijadikan gelang. Sering juga saya melihat penyu bersarang di karang-karang sekitar Batu Malang itu. Banyak juga ikan-ikan kecil. Pemandangan di bawah laut, dengan kedalaman kira-kira tiga-empat meter itu sungguh mengagumkan.

Share:

Facebook
Twitter
WhatsApp
Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.A., M.Soc.Sc., Ph.D.

Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.A., M.Soc.Sc., Ph.D.

“Sistem yang baik akan memaksa orang jahat menjadi orang baik dan, sebaliknya, sistem yang tidak baik akan memaksa orang baik menjadi tidak baik.”

Berita Terbaru

Di sela agenda kunjungan kerja di Korea Selatan akhir September lalu, saya berdiskusi hangat dengan Dubes RI untuk Korea Selatan, Pak Cecep Herawan, mengenai fungsi diplomasi dan pelindungan WNI. Salut atas komitmen KBRI Seoul yang terus mengoptimalkan layanan konsuler, legalisasi dokumen, advokasi ketenagakerjaan, hingga program "Rumah Kita" bagi warga yang jauh dari ibu kota. Sebuah dedikasi penting dalam memastikan jaminan hukum dan kehadiran negara bagi seluruh masyarakat Indonesia di Negeri Ginseng.

...

154 6
Naskah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sejatinya bukanlah sebuah produk peradilan ataupun undang-undang, melainkan sebuah putusan luhur dari para pemuda Indonesia. 

Kongres pemuda saat itu membuktikan bahwa tekad dan putusan yang lahir dari para pemuda menjadi fondasi utama berdirinya negara kita tercinta.

Senang sekali bisa hadir di tengah civitas akademika di Kampus Universitas Indonesia dalam Peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun 2026 ini. Semoga semangat dan putusan visioner para pemuda pendahulu kita terus menginspirasi generasi muda hari ini untuk terus menjaga, merawat, dan memajukan Indonesia.

#SumpahPemuda #SumpahPemuda2026 #UniversitasIndonesia #YusrilIhzaMahendra #profyusril

...

486 14
INFORMASI HOAKS!

Beredar flyer undangan konferensi pers mengatasnamakan Kemenko Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan dengan narasi agenda audiensi pemberhentian Wakil Presiden.

Kami tegaskan bahwa informasi dan flyer tersebut adalah HOAKS / PALSU. 

Kemenko Kumham Imipas ataupun Menko Yusril Ihza Mahendra tidak pernah mengeluarkan undangan atau mengadakan agenda tersebut.

Masyarakat diimbau untuk tidak percaya, tidak membagikan ulang, dan selalu menyaring informasi sebelum disebarkan. 

Laporkan dan abaikan setiap konten palsu yang berpotensi menyesatkan publik.

#Klarifikasi #Hoax #kemenkokumhamimipas #profyim #AntiHoaks

...

2319 85
Menerima audiensi dan silaturahmi dari jajaran pengurus Kadin Indonesia yang dipimpin oleh Pak Anindya Bakrie (22/10).

Kami membahas urgensi revisi UU Kadin yang sudah berjalan hampir 4 dekade. Dunia usaha berkembang pesat, dan landasan hukumnya harus selaras agar mampu memberikan kepastian, perlindungan, serta ruang gerak bagi para pelaku usaha dari skala mikro hingga besar.

Pemerintah berkomitmen menyelesaikan penyusunan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) untuk mengawal pembahasan RUU Kadin bersama DPR RI. Kepastian hukum yang kokoh adalah kunci agar perekonomian nasional terus tumbuh berdaya saing.

#YusrilIhzaMahendra #profyusril #kadinindonesia #duniausaha #hukum

...

1275 41
Bernostalgia sejenak sambil berdiskusi bersama rekan-rekan Kohati PB HMI dalam Kohati Diplomacy Forum.

Dulu waktu pertama kali masuk kampus UI, sempat diajak gabung berbagai organisasi, tapi karena darah Masyumi mengalir dari Ayah, pilihannya tentu jatuh ke HMI.

Senang melihat semangat kritis, energi positif, dan potensi besar dari para kader HMI-Wati hari ini. Teruslah menjadi pelopor gagasan dan agen perubahan untuk Indonesia yang lebih baik.  

#YusrilIhzaMahendra #profyusril #KohatiDiplomacyForum #Kohati #HMI

...

2185 34
Tahun 1989, saya sebenarnya sudah diterima di Cornell University, AS. Namun, karena kendala beasiswa, Allah menunjukkan jalan lain melalui Universiti Sains Malaysia (USM).

Proses akademik di USM menjadi salah satu pengalaman berharga. Surat rekomendasi doktoral saya saat itu didukung dan ditandatangani langsung oleh dua tokoh besar: Bapak Mohammad Natsir (mantan Perdana Menteri RI 1950) dan Prof. Dr. Sutan Takdir Alisjahbana.

Perjalanan riset perbandingan politik masyarakat Muslim antara Indonesia dan Pakistan ini membuah hasil kelulusan cum laude pada tahun 1992. Disertasinya diterbitkan oleh LIPI pada 1995 dan menjadi buku perbandingan politik terbaik kala itu.

Semoga cerita ini bisa menjadi penyemangat bagi generasi muda. Jangan pernah berhenti menimba ilmu dan percayalah bahwa setiap ilmu yang kita peroleh akan memberi manfaat besar bagi diri kita sendiri, bagi bangsa dan juga negara.

#YusrilIhzaMahendra #Pendidikan #MotivasiBelajar #universitisainsmalaysia #indonesiamalaysia

...

1070 31
Kembali ke tempat perjalanan akademik dimulai. Setelah 33 tahun menyelesaikan pendidikan S3 di Universiti Sains Malaysia (USM) pada tahun 1993, tidak disangka pada tahun 2026 ini saya kembali dipanggil dan dianugerahi jabatan sebagai Adjunct Professor (Profesor Utama) dalam bidang Ilmu Politik.

Perjalanan ini mengingatkan saya pada komitmen awal ketika mendalami ilmu politik, hukum tata negara, hingga filsafat. Mengabdi dan mengajar bukan hanya tentang membagikan ilmu, tetapi juga bagaimana melihat dinamika konstitusi serta ketatanegaraan agar terus berkembang dan relevan dengan perkembangan zaman.

Semoga penganugerahan ini membawa keberkahan dan kontribusi nyata bagi dunia akademis serta kemajuan bangsa.

Dalam kesempatan tersebut, saya juga berkesempatan untuk memberikan orasi ilmiah. Video lengkap bisa disaksikan di chanel YouTube saya.

#YusrilIhzaMahendra #UniversitiSainsMalaysia #politics
#profYusril #indonesiamalaysia

...

3471 106