KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAGIAN V)

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,

Dalam Bagian IV serial tulisan ini, saya telah menjelaskan setting sosial masyarakat Belitung, tempat saya lahir dan menetap di situ sampai tamat SMA. Gambaran tentang setting sosial itu, saya IMG_0001harapkan akan membantu menjelaskan pergaulan dan pergulatan saya dengan masyarakat sekitar. Dalam konteks sosial seperti itulah saya lahir dan dibesarkan. Dalam lingkungan sosial seperti itu pula saya mengalami sosialisasi kehidupan, yang turut membentuk pemikiran, sikap hidup dan cara pandang dalam menatap setiap persoalan hidup. Dalam konteks sosial seperti itu pula saya harus berpikir dan memberikan respons terhadap setiap tantangan. Semua itu tentu akan memberikan pengaruh ke dalam perjalanan hidup saya selanjutnya. Sosialisasi keluarga yang telah saya kisahkan dalam Bagian I, II dan III masih akan saya lanjutkan dalam seri kali ini, dan dalam serial-serial lanjutannya.

Seperti telah saya kemukakan dalam Bagian I, keluarga kami pindah kembali ke Menggar pada akhir tahun 1961. Ayah saya yang semula Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Tanjung Pandan, dipindahkan menjadi Kepala KUA Kecamatan Manggar. Kami sekeluarga merasa senang akan kembali ke kota tempat kami berasal.
Semua keluarga kami pindah, kecuali kakak tertua, namanya Yuslim, yang tetap tinggal di Tanjung Pandan. Dia tetap tinggal di sana, karena sejak tahun 1959 dia telah masuk sekolah PGA (Pendidikan Guru Agama). Ayah saya, nampaknya ingin agar anak pertamanya itu menjadi guru agama, sehingga dia tidak disekolahkan ke SMP. Di Manggar tidak ada PGA, maka terpaksalah kakak tertua itu tinggal di rumah tetangga kami Pak Sulaiman Talib, di Kampung Parit, Tanjung Pandan. Agar mudah dia bersekolah, kakek saya membelikan sebuah sepeda untuknya. Saya masih ingat betul sepeda itu warnanya hijau. Orang Belitung menyebutnya sepeda jengki. Ukurannya lebih kecil dari rata-rata sepeda yang dipakai orang dewasa.

Kami hanya tinggal beberapa minggu di rumah kakek saya Jama Sandon, sebelum seluruh keluarga pindah menempati rumah ayah saya sendiri di Kampung Sekep. Kampung ini tergolong kampung yang masih baru dibandingkan kampung-kampung lain di kota Manggar. Seperti akan saya kisahkan lebih rinci di bawah nanti, kampung ini dulunya bekas kiumi, yakni lokasi penambangan timah di darat, namun sudah direklamasi. Kampung ini disebut Kampung Sekep, karena dahulunya pernah digunakan polisi sebagai kawasan latihan menembak dengan senjata api. Mereka menempatkan sasaran untuk menembak berjajar-jajar di lembah padang pasir. Sararan peluru itu, oleh polisi dinamakan Skip. Karena skip itu dibuat agak permanen pada sebuah jurang dengan latar belakang dinding pasir bekas tambang timah, maka lama kelamaan kawasan itu disebut masyarakat sekitar dengan istilah Kampung Skip. Lidah orang Belitung agak susah mengucapkan kata Skip. Karena itu mereka mengucapkannya sekip atau sekep. Maka jadilah kampung itu Kampung Sekep seperti dikenal sampai sekarang.

Sebagai daerah bekas tambang timah, Kampung Sekep terasa panas bagai gurun pasir. Baru sedikit pepohonan yang tumbuh di sana. Namun tetangga rudah relatif banyak yang menetap di situ IMG_0005sebelum kami pidah kembali ke rumah itu. Penduduk kampung ini rata-rata miskin dan sederhana. Mereka terdiri dari pegawai rendahan perusahaan timah, petani dan nelayan. Hanya ada tiga orang pegawai negeri tinggal di kampung ini. Pertama adalah ayah saya,kedua tetangga kami Pak Sjafri Sulur atau biasa dipanggil Pak Iting. Beliau seorang guru SD. Ketiga Pak Ramli, beliau pegawai negeri rendahan bekerja di Kantor Camat. Penduduk Kampung Sekep terdiri atas pribumi Belitung yang berasal dari berbagai kampung yang lain, suku Bugis, Bawean dan beberapa berasal dari Jawa. Jalan menuju Kampung Sekep ketika itu terbuat dari tanah dan batu kerikil merah tanpa aspal. Kalau musim hujan, jalan itu becek dan licin. Kalau musin kemarau, jalan itu berubah menjadi berdebu. Jalan-jalan yang lain, hanyalah jalan setapak belaka.

Baru pada tahun 1963, jalan-jalan di Kampung Sekep dan Kampung Bawah di sebelahnya, diperbaiki Pemerintah Daerah. Jembatan yang melintasi saluran air di belakang rumah kami juga diperbaiki dengan bahan kayu. Namun jalan belum diaspal, hanya ditambahi tanah dan campuran batu kerikil merah yang dikeraskan dengan sebuah mesin giling. Saya dan anak-anak lain setiap hari menonton mesin giling yang nampak antik itu. Saya masih ingat mesin giling itu buatan Jerman tahun 1886 sebagaimana tertulis di bagian depannya. Mereknya Stombel. Mesin giling itu kepunyaan Dinas Pekerjaan Umum setempat. Apa yang menarik perhatian kami pada masin giling itu, ialah rodanya yang besar terbuat dari besi. Mesin itu digerakkan dengan kayu bakar untuk menghasilkan uap dan tenaga. Mungkin asalnya bahan bakar mesin giling itu adalah batubara. Tetapi karena batubara tidak ada di kampung kami, maka pegawai PU berinisiatif menggantinya dengan kayu bakar. Asap kayu bakar itu beterbangan kemana-mana. Kayunya tak henti-hentinya diisi agar api tetap menyala. Karena saking tuanya, mesin giling antik itu akhirnya mogok dipinggir jalan antara rumah Wak Darman dengan rumah Pak Sulaiman. Berkali-kali mesin itu diperbaiki namun tak kunjung sembuh. Akhirnya benda antik itu menjadi besi tua dan dibiarkan tergeletak di tepi jalan. Anak-anak sering menaiki benda antik itu sebagai ajang tempat bermain. Itulah sebabnya, jalan ke Kampung Sekep itu sering dinamakan Jalan Stombel.

Share:

Facebook
Twitter
WhatsApp
Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.A., M.Soc.Sc., Ph.D.

Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.A., M.Soc.Sc., Ph.D.

“Sistem yang baik akan memaksa orang jahat menjadi orang baik dan, sebaliknya, sistem yang tidak baik akan memaksa orang baik menjadi tidak baik.”

Berita Terbaru

Di sela agenda kunjungan kerja di Korea Selatan akhir September lalu, saya berdiskusi hangat dengan Dubes RI untuk Korea Selatan, Pak Cecep Herawan, mengenai fungsi diplomasi dan pelindungan WNI. Salut atas komitmen KBRI Seoul yang terus mengoptimalkan layanan konsuler, legalisasi dokumen, advokasi ketenagakerjaan, hingga program "Rumah Kita" bagi warga yang jauh dari ibu kota. Sebuah dedikasi penting dalam memastikan jaminan hukum dan kehadiran negara bagi seluruh masyarakat Indonesia di Negeri Ginseng.

...

154 6
Naskah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sejatinya bukanlah sebuah produk peradilan ataupun undang-undang, melainkan sebuah putusan luhur dari para pemuda Indonesia. 

Kongres pemuda saat itu membuktikan bahwa tekad dan putusan yang lahir dari para pemuda menjadi fondasi utama berdirinya negara kita tercinta.

Senang sekali bisa hadir di tengah civitas akademika di Kampus Universitas Indonesia dalam Peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun 2026 ini. Semoga semangat dan putusan visioner para pemuda pendahulu kita terus menginspirasi generasi muda hari ini untuk terus menjaga, merawat, dan memajukan Indonesia.

#SumpahPemuda #SumpahPemuda2026 #UniversitasIndonesia #YusrilIhzaMahendra #profyusril

...

486 14
INFORMASI HOAKS!

Beredar flyer undangan konferensi pers mengatasnamakan Kemenko Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan dengan narasi agenda audiensi pemberhentian Wakil Presiden.

Kami tegaskan bahwa informasi dan flyer tersebut adalah HOAKS / PALSU. 

Kemenko Kumham Imipas ataupun Menko Yusril Ihza Mahendra tidak pernah mengeluarkan undangan atau mengadakan agenda tersebut.

Masyarakat diimbau untuk tidak percaya, tidak membagikan ulang, dan selalu menyaring informasi sebelum disebarkan. 

Laporkan dan abaikan setiap konten palsu yang berpotensi menyesatkan publik.

#Klarifikasi #Hoax #kemenkokumhamimipas #profyim #AntiHoaks

...

2319 85
Menerima audiensi dan silaturahmi dari jajaran pengurus Kadin Indonesia yang dipimpin oleh Pak Anindya Bakrie (22/10).

Kami membahas urgensi revisi UU Kadin yang sudah berjalan hampir 4 dekade. Dunia usaha berkembang pesat, dan landasan hukumnya harus selaras agar mampu memberikan kepastian, perlindungan, serta ruang gerak bagi para pelaku usaha dari skala mikro hingga besar.

Pemerintah berkomitmen menyelesaikan penyusunan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) untuk mengawal pembahasan RUU Kadin bersama DPR RI. Kepastian hukum yang kokoh adalah kunci agar perekonomian nasional terus tumbuh berdaya saing.

#YusrilIhzaMahendra #profyusril #kadinindonesia #duniausaha #hukum

...

1275 41
Bernostalgia sejenak sambil berdiskusi bersama rekan-rekan Kohati PB HMI dalam Kohati Diplomacy Forum.

Dulu waktu pertama kali masuk kampus UI, sempat diajak gabung berbagai organisasi, tapi karena darah Masyumi mengalir dari Ayah, pilihannya tentu jatuh ke HMI.

Senang melihat semangat kritis, energi positif, dan potensi besar dari para kader HMI-Wati hari ini. Teruslah menjadi pelopor gagasan dan agen perubahan untuk Indonesia yang lebih baik.  

#YusrilIhzaMahendra #profyusril #KohatiDiplomacyForum #Kohati #HMI

...

2185 34
Tahun 1989, saya sebenarnya sudah diterima di Cornell University, AS. Namun, karena kendala beasiswa, Allah menunjukkan jalan lain melalui Universiti Sains Malaysia (USM).

Proses akademik di USM menjadi salah satu pengalaman berharga. Surat rekomendasi doktoral saya saat itu didukung dan ditandatangani langsung oleh dua tokoh besar: Bapak Mohammad Natsir (mantan Perdana Menteri RI 1950) dan Prof. Dr. Sutan Takdir Alisjahbana.

Perjalanan riset perbandingan politik masyarakat Muslim antara Indonesia dan Pakistan ini membuah hasil kelulusan cum laude pada tahun 1992. Disertasinya diterbitkan oleh LIPI pada 1995 dan menjadi buku perbandingan politik terbaik kala itu.

Semoga cerita ini bisa menjadi penyemangat bagi generasi muda. Jangan pernah berhenti menimba ilmu dan percayalah bahwa setiap ilmu yang kita peroleh akan memberi manfaat besar bagi diri kita sendiri, bagi bangsa dan juga negara.

#YusrilIhzaMahendra #Pendidikan #MotivasiBelajar #universitisainsmalaysia #indonesiamalaysia

...

1070 31
Kembali ke tempat perjalanan akademik dimulai. Setelah 33 tahun menyelesaikan pendidikan S3 di Universiti Sains Malaysia (USM) pada tahun 1993, tidak disangka pada tahun 2026 ini saya kembali dipanggil dan dianugerahi jabatan sebagai Adjunct Professor (Profesor Utama) dalam bidang Ilmu Politik.

Perjalanan ini mengingatkan saya pada komitmen awal ketika mendalami ilmu politik, hukum tata negara, hingga filsafat. Mengabdi dan mengajar bukan hanya tentang membagikan ilmu, tetapi juga bagaimana melihat dinamika konstitusi serta ketatanegaraan agar terus berkembang dan relevan dengan perkembangan zaman.

Semoga penganugerahan ini membawa keberkahan dan kontribusi nyata bagi dunia akademis serta kemajuan bangsa.

Dalam kesempatan tersebut, saya juga berkesempatan untuk memberikan orasi ilmiah. Video lengkap bisa disaksikan di chanel YouTube saya.

#YusrilIhzaMahendra #UniversitiSainsMalaysia #politics
#profYusril #indonesiamalaysia

...

3471 106