KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAGIAN II)

Saya tidak dapat membayangkan generasi di atas saya pergi haji naik perahu layar itu. Suatu ketika saya membaca Hikayat Pelayaran Abdullah dari Kelantan ke Negeri Jeddah, yang ditulis oleh Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, seorang pujangga besar dunia Melayu. Hikayat itu mengisahkan secara rinci semua peristiwa yang terjadi dan dialami, ketika Abdullah berangkat menunaikan ibadah haji menggunakan perahu layar, bertolak dari pelabuhan Kelantan di Malaysia sekarang ini. Abdullah mengisahkan secara rinci pula setiap peristiwa di negeri Arabia sampai dia selesai menunaikan ibadah haji. Abdullah rencananya ingin kuliah kesusasteraan di Universitas Istambul di Turki, usai menunaikan ibadah haji itu. Namun Allah Ta’ala ternyata menghendaki lain. Abdullahwafat di Jeddah karena terserang penyakit kolera. Hikayat yang ditulis Abdullah dititipkannya kepada seorang teman ketika dia sakit parah. Naskah itu kemudian diterbitkan di Singapura tahun 1852. Buku ini adalah catatan dokumenter yang sangat berharga, untuk mengetahui betapa sukarnya orang pergi haji dari Asia Tenggara pada pertengahan abad 19. Haji Taib dan Haji Ahmad, empat generasi di atas saya, pergi haji sekitar dua atau dekade sebelum Abdullah.

Mendengar kisah Haji Taib dan Haji Ahmad, serta membaca Hikayat Abdullah, saya mengerti mengapa Inggris dan Belanda sangat khawatir dengan setiap orang yang sudah bergelar haji. Mereka pulang ke kampung dan menjadi orang yang sangat berwibawa dan disegani. Mereka bukan saja memiliki pengetahuan agama yang lebih dalam, namun keberanian mereka berlayar menunaikan haji, juga menunjukkan mereka bukan orang sembarangan. Dalam posisi sedemikian itu, para haji itu di mata Inggris dan Belanda, potensial untuk menghimpunan kekuatan dalam menentang kekuasaan mereka. Demikian pula dengan Haji Taib dan Haji Ahmad, generasi di atas saya itu. Mereka menjadi orang-orang yang disegani oleh masyarakatnya.

Hanya itu saja riwayat yang saya ketahui mengenai Haji Taib. Nampaknya beliau juga tidak tinggal di Manggar, tempat sebagian besar keluarga ayah saya menetap. Salah seorang paman saya mengatakan Haji Taib menetap di Badau. Namun ada salah seorang paman saya yang mengatakan bahwa makam beliau ada di Kampung Gunung di kota Manggar. Saya tidak terlalu yakin dengan keberadaan makam itu. Paman saya Adam dan ayah saya, yang sering berziarah ke makam Haji Ahmad, tidak pernah menziarahi makam Haji Taib, andaikata makamnya terletak di lokasi yang sama. Di Badau memang pernah ada sebuah kerajaan kecil pada abad ke 18-19. Mungkin kedatangannya ke Belitung dari Negeri Johor, mendapat sambutan yang baik dari keluarga Kerajaan Badau. Kampung Badau merupakan salah satu kampung tertua di Pulau Belitung, di samping Sijuk dan Buding. Konon makam Diah Balitung, seorang putri dari Jawa (mungkin dari Kerajaan Kediri di Jawa Timur) juga ada di Badau. Apakah nama putri itu yang kemudian dipakai untuk menamai pulau ini Pulau Belitung, saya belum pernah menyelidikinya.

Riwayat Haji Ahmad, kakek ayah saya, dapat saya telusuri. Beliau mula-mula menetap di Manggar Lama, sebuah desa kecil di atas bukit, di sisi Jalan Gajah Mada sekarang ini. Di kawasan itu, juga ada pemukiman orang Belanda yang menambang timah. Bekas-bekas rumah kono Belanda masih dapat saya saksikan sampai awal tahun 1970, ketika saya sering pergi ke bukit itu dan berziarah ke makam tua di atas bukit itu. Di atas bukit itu juga ada pemakaman tua orang Belanda dari abad 18. Saya dapat memastikan hal itu karena saya membaca prasasti terbuat dari batu marmer dan menyebutkan nama-nama orang Belanda yang dimakamkan di situ. Salah satu makam yang menarik perhatian saya ialah makam serorang gadis. Saya masih ingat namanya tertulis Amelia Paulina, wafat dalam usia 17 tahun. Dia lahir di Amsterdam dan wafat di Manggar pada tahun 1862. Saya tertarik dengan makam itu, karena nampak lebih bagus bentuknya dibanding makam yang lain. Saya membayangkan gadis itu mungkin sangat cantik dan orang tuanya nampaknya sangat menyayanginya.

Ketika suatu hari saya datang lagi ke pemakaman tua orang Belanda itu, saya bersama paman saya, Adam. Saya katakan kepada beliau saya tertarik dengan makam ini, karena nama gadis yang meninggal itu bagus sekali, dan mungkin di sangat cantik. Paman saya bilang, memang dia sangat cantik. Saya agak heran, bagaimana paman saya saya bisa tahu. Sambil ketawa beliau mengatakan bahwa di masa beliau muda, juga sering bermain di kuburan itu. Suatu malam beliau dan teman-temannya masih berada di sana. Apa yang terjadi, menurut beliau, di atas makam Amelia Paulina itu ada asap tebal. Tiba-tiba terlihat seorang gadis Belanda yang amat canti memakai baju putih. Mendengar cerita paman saya itu, bulu tengkuk saya agak begidik. Walau saya tak begitu percaya pada hantu, namun ceritanya menakutkan juga. Saya tidak tahu apakah paman saya itu bercerita sungguh-sungguh, atau hanya bergurau saja. Prilaku beliau itu memang nampak eksentrik. Bicaranya kadang-kadang ngelantur tidak karuan.

Saya tidak tahu persis bagaimana ceritanya Haji Ahmad sampai tinggal di Manggar Lama dan berdekatan dengan pemukiman orang Belanda. Namun di kampung orang pribumi di Manggar Lama itu, nampaknya beliau menjadi ulama dan pemuka masyarakat. Beliau menjadi imam masjid dan menangani urusan-urusan keagamaan. Masjid di Manggar Lama itu konon terbuat dari kayu. Tetapi suatu ketika di awal abad 20, Belanda ingin menggali lahan di Manggar Lama karena menurut mereka banyak timahnya. Rupanya terjadi negosiasi antara Belanda dengan beliau. Orang Belanda itu adalah seorang arsitek, namanya Ir. van Basten. Beliau ini jugalah yang menjadi arsitek pembangunan pemukiman Belanda yang baru di atas bukit Samak dan menghadap ke laut. Rumah-rumah di situ sangat bagus dan tertata rapi.

Share:

Facebook
Twitter
WhatsApp
 Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc.

Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc.

“Sistem yang baik akan memaksa orang jahat menjadi orang baik dan, sebaliknya, sistem yang tidak baik akan memaksa orang baik menjadi tidak baik.”

Berita Terbaru

Kembali ke tempat perjalanan akademik dimulai. Setelah 33 tahun menyelesaikan pendidikan S3 di Universiti Sains Malaysia (USM) pada tahun 1993, tidak disangka pada tahun 2026 ini saya kembali dipanggil dan dianugerahi jabatan sebagai Adjunct Professor (Profesor Utama) dalam bidang Ilmu Politik.

Perjalanan ini mengingatkan saya pada komitmen awal ketika mendalami ilmu politik, hukum tata negara, hingga filsafat. Mengabdi dan mengajar bukan hanya tentang membagikan ilmu, tetapi juga bagaimana melihat dinamika konstitusi serta ketatanegaraan agar terus berkembang dan relevan dengan perkembangan zaman.

Semoga penganugerahan ini membawa keberkahan dan kontribusi nyata bagi dunia akademis serta kemajuan bangsa.

Dalam kesempatan tersebut, saya juga berkesempatan untuk memberikan orasi ilmiah. Video lengkap bisa disaksikan di chanel YouTube saya.

#YusrilIhzaMahendra #UniversitiSainsMalaysia #politics
#profYusril #indonesiamalaysia

...

2954 97
Pemerintah mengambil langkah antisipatif dengan tidak memberikan izin pertunjukan dan visa bagi grup musik "Israel and New Breed" (Israel Houghton). Menko Yusril Ihza Mahendra menjelaskan dua pertimbangan utamanya adalah: 1. Faktor Keamanan Dalam Negeri: Mengantisipasi protes dan gelombang penolakan di masyarakat; 2. Politik Luar Negeri: Konsistensi Indonesia dalam mendukung perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina.

#YusrilIhzaMahendra #profYusril #IsraelHoughton #politics #palestine

...

764 482
Indonesia sangat menghargai kebebasan berseni, bermusik, hingga kegiatan ibadah keagamaan. Namun, kata Menko Yusril, kita perlu waspada ketika pertunjukan seni dimanfaatkan untuk memberikan dukungan politik tertentu (seperti isu Israel) yang bisa memicu reaksi politik di dalam negeri.

Dok. di Acara Pagi-Pagi Seru TvOne

#YusrilIhzaMahendra #profyusril #indonesia #SeniDanPolitik #israelhoughton

...

1296 654
Memperkuat pelindungan kekayaan intelektual dan kepastian hukum bagi para pelaku usaha di Indonesia dan Korea Selatan. 🇮🇩🇰🇷

Langkah nyata kolaborasi ini kami bahas langsung bersama Menteri Kekayaan Intelektual Korea Selatan, Kim Yong-sun, di Seoul—mulai dari penanganan barang palsu hingga efektivitas penegakan hukum di ranah online.

Kerja sama bukan sekadar kesepakatan di atas kertas, tapi tentang menghadirkan solusi dan manfaat nyata di lapangan. 🤝✨

#YusrilIhzaMahendra #MenkoKumhamImipas #KekayaanIntelektual #IndonesiaKorsel #Seoul

...

413 240
Kembali ke Masjid Al-Malik Khalid, Universiti Sains Malaysia (USM) di Penang, selalu membawa nostalgia tersendiri.  

Sejak pertama kali datang ke kampus ini dalam rangka mengambil gelar doktor ilmu politik pada tahun 1990—sekitar 36 tahun yang lalu, saya selalu salat Jumat di masjid ini.

Sebelum memberikan kuliah umum di almamater yang kali ini memberikan saya gelar Adjunct Professor esok hari (26/9), saya bersyukur bisa kembali menunaikan salat Jumat di sini.

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan keberkahan kepada kita semua di hari Jumat yang mulia ini. Amin YRA. 🕌✨  

#YusrilIhzaMahendra #USM #Penang #Nostalgia #JumatBerkah

...

874 330
Kemarin (15/9), saya meluangkan waktu untuk menjenguk sahabat lama saya, Adril Muchtar, yang sedang dirawat di salah satu rumah sakit di Jakarta Timur.

Persahabatan kami punya kenangan tersendiri. Selama 6 tahun di masa-masa perkuliahan tahun 1970-an, kami berbagi kamar yang sama di Asrama Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) Daksinapati, Rawamangun. 

Banyak suka dan duka yang kami lewati bersama sebagai kawan senasib sepenanggungan semasa jadi mahasiswa dulu.

Melihat semangat beliau hari ini sungguh membesarkan hati. Mari kita doakan bersama agar saudara kita, Adril Muchtar, segera diberikan kesembuhan, diangkat penyakitnya oleh Allah SWT, dan bisa beraktivitas kembali seperti sediakala. Aamiin YRA. 🤲🏼✨

#YusrilIhzaMahendra #Silaturahmi #SahabatLama #daksinapati #UI

...

5610 107