KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAGIAN II)

Selain memancing menggunakan perahu, Haji Ahmad juga menangkap ikan menggunakan “sero”. Sero itu dibuat dari anyaman bambu atau sejenis pepohonan hutan yang dalam Bahasa Belitung disebut “Resaman”. Anyaman bambu itu dipancangkan ke tanah ke arah laut dan berhenti pada sebuah alur, yang tetap ada airnya ketika air laut surut. Di alur itu anyaman bambu atau resaman di buat dalam bentuk segi tiga yang ada pintunya. Ketika air pasang, ikan masuk ke ruang segi tiga itu. Ketika air surut ikan tidak bisa keluar lagi. Itulah saat Haji Ahmad dan anak-anaknya berjalan kaki ke arah alur dan menangkapi ikan yang terperangkap di sana, menggunakan peralatan yang disebut “tanggok”, atau “serok”. Sebagaimana orang Belitung lainnya, selain bersero, Haji Ahmad juga menangkap udang menggunakan sungkor, yakni sejenis jala yang diberi tangan dari bambu. Alat itu didorong di dalam air dan digunakan ketika air surut.

Dengan berkebun kelapa dan menangkap ikan itu, Haji Ahmad sudah hidup berkecukupan. Rumah beliau yang terbuat dari kayu bulian, dengan bentuk khas Melayu yang ukurannya cukup besar, masih berdiri sampai sekarang di dekat Pantai Pengempangan itu. Semua anak-anak beliau nampaknya menempuh pendidikan formal. Moestar dan Abdullah, kedua anak Haji Ahmad, bekerja di perusaan timah sejak zaman Belanda, dan nampaknya mendapat kedudukan yang lumayan tinggi. Kehidupan mereka nampak berkecukupan, walau tidak dapat dikatakan kaya. Tetapi anak beliau yang paling tua, yang menjadi kakek saya, Haji Zainal Abidin, nampaknya tidak pernah menempuh pendidikan formal. Ketika Haji Ahmad wafat di tahun 1936, rumah itu diberikan kepada anaknya yang paling bungsu bernama Yakub. Kebun kelapa beliau yang cukup luas itu juga dibagikan kepada semua anak-anaknya. Sampai sekarang, keturanan Haji Ahmad masih ada yang menempati lahan itu. Antara lain Muhammad, anak dari Jusuf, Hamdani Halil, anak dari Aisyah, Rusli anak dari Yakub, dan Murad, cucu dari Haji Zainal Abidin dari anaknya yang bernama Adam, paman saya. Sampai sekarang saya masih sering datang ke tempat itu sambil menikmati pemandangan laut yang indah.

Kakek saya dari pihak ayah, Haji Zainal Abidin bin Haji Ahmad, diperkirakan lahir tahun 1865 dan wafat pada tahun 1971 dalam usia 106 tahun. Usia itu cukup panjang menurut ukuran manusia zaman sekarang. Beliau mengatakan telah berusia belasan tahun ketika Gunung Krakatau meletus (1883). Beliau ikut menyaksikan gelombang besar dan awan hitam yang membawa abu letusan Krakatau. Jarak dari Pulau Belitung ke Selat Sunda tempat Gunung Krakatau berada memang tidak terlampau jauh. Kita mengetahui dari catatan sejarah, bahwa abu letusan Krakatau sampai ke daratan Eropa. Belitung nampaknya jelas terkena dampak letusan gunung itu. Sayang saya tak sempat bertanya kepada kakek saya, adakah korban yang meninggal di Belitung ketika gelombang pasang tiba dan abu letusan berjatuhan di pulau itu.

Saya hanya membayangkan saja dampak letusan Krakataudi Belitung. Ketika saya masih SMP, saya masih menyaksikan sebuah batu sebesar kerbau yang tersangkut di dahan pohon yang menjulang tinggi di sisi jalan. Batu itu mungkin terbawa gelombang pasang akibat letusan Krakatau. Sebab, bagaimana mungkin batu sebesar itu akan ada di dahan pohon beringin karet yang begitu tinggi. Di dekat pohon itu tidak ada bukit yang membuat orang dapat berspekulasi, bahwa batu itu meluncur ketika tergelincir dari lereng bukit. Sebagian orang mengkait-kaitkan batu itu dengan mistik. Namun ketika saya SMP, saya mulai berpikir secara rasional. Saya tidak mudah menerima penjelasan yang bersifat mistik. Namun demikian, saya tetap toleran dengan mereka yang mempercayai penjelasan seperti itu. Saya belajar dari ayah saya yang tetap toleran dengan hal-hal yang dipercayai orang lain, meskipun beliau sendiri tidak percaya.

Seperti telah saya katakan, kakek saya itu nampaknya tidak pernah menempuh pendidikan di sekolah formal. Ini berbeda dengan adik-adiknya seperti Moestar dan Abdullah. Saya dapat menyimpulkan hal ini, karena kakek saya itu tidak dapat membaca dan menulis dengan huruf Latin. Beliau menulis dengan huruf Arab dan tulisannya sangat bagus. Saya membaca beberapa tulisannya, yang nampak menggunakan tinta dan penanya adalah lidi dari pohon kabung (atau pohon aren). Menurut ayah saya, kakek saya hanya belajar di rumah di bawah bimbingan ayahnya Haji Ahmad. Beliau juga berguru dengan orang-orang lain tentang agama, bahasa Arab dan kesusasteraan Melayu. Beliau nampaknya tidak mau belajar huruf Latin. Sebab apa susahnya mempelajari huruf itu jika beliau mau, sebab beliau menulis dengan huruf Arab dengan tulisan yang demikian rapi dan kata-katanya tersusun dengan baik. Ketika kecil saya tidak berani menanyakan hal ini kepada kakek saya. Tetapi ayah saya membenarkan bahwa beliau memang tidak mau belajar huruf Latin, karena pandangan keagamaannya yang konservatif dan sikapnya yang agak keras anti Belanda.

Kakek saya itu pergi menunaikan ibadah haji sekitar tahun 1912. Namun beliau berangkat ke Jeddah naik kapal api dari Singapura. Jadi tidak naik perahu layar yang dibuat sendiri seperti kakek dan ayahnya Haji Taib dan Haji Ahmad. Beliau bermukim di Mekkah selama dua tahun sebelum pulang ke tanah air. Ketika kecil, kakek saya bercerita pengalamannya naik haji dan bermukim di negeri Arab. Menurut beliau, sebagian besar jemaah haji berjalan kaki dari Jeddah ke Mekkah dan terus ke Madinah. Hanya sedikit yang mampu menyewa onta. Menurut beliau, di tahun 1900 itu belum ada mobil di negeri Arab, seperti dilihatnya di Singapura. Jalan-jalan pun belum ada. Apa yang nampak hanya padang pasir belaka. Saya tidak tahu apa yang beliau pelajari di Mekkah dan kepada siapa beliau berguru. Beliau hanya mengatakan belajar agama saja kepada beberapa ulama. Ada ulama orang Arab, tetapi ada juga ulama orang Melayu. Beliau pernah menyebut sejumlah nama ulama itu, tetapi sekarang saya sudah lupa.

Share:

Facebook
Twitter
WhatsApp
 Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc.

Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc.

“Sistem yang baik akan memaksa orang jahat menjadi orang baik dan, sebaliknya, sistem yang tidak baik akan memaksa orang baik menjadi tidak baik.”

Berita Terbaru

KLARIFIKASI & BANTAHAN

Pernyataan yang menyebutkan "Pedagang Kaca Dikroyok Saat Kericuhan, Yusril: Jangan Salahkan Ormas" adalah TIDAK BENAR / HOAKS. Menko Yusril Ihza Mahendra tidak pernah mengeluarkan pernyataan tersebut dalam kesempatan apa pun.
Masyarakat diimbau untuk selalu waspada dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi palsu yang disebarkan pihak tidak bertanggung jawab.
Mari bersama mewujudkan ruang digital yang sehat dengan selalu saring sebelum sharing.

#Klarifikasi #SaringSebelumSharing #BantahHoaks #Hoaks #YusrilIhzaMahendra

...

4047 142
Tanpa etik dan integritas, semua undang-undang dan lembaga hukum yang kita bangun tidak akan ada artinya.

Saat menyampaikan keynote speech pada Festival Layanan AHU Berdampak di Bandung kemarin (31/8), saya mengingatkan kembali bahwa keberhasilan penegakan hukum tidak cuma diukur dari canggihnya sistem atau lengkapnya lembaga dan regulasi. 

Regulasi dan lembaga hukum hanyalah wadah. Penentunya ada pada moralitas, integritas, dan etika orang-orang di dalamnya.

Mari pastikan transformasi layanan hukum tak sekadar modern dan canggih, tetapi juga kuat secara integritas dan etik demi menciptakan kemanfaatan yang riil bagi masyarakat.

#YusrilIhzaMahendra #profyim #KumhamImipas #ditjenahu #ethic

...

314 18
KLARIFIKASI: HOAKS! 🛑

Beredar sebuah gambar/kutipan palsu yang mencatut nama Prof. Yusril Ihza Mahendra (Menko Kumham Imipas) seolah-olah mengeluarkan pernyataan kontroversial terkait hukuman mati bagi koruptor.

Setelah ditelusuri, pernyataan tersebut sepenuhnya adalah BOHONG (HOAKS). Prof. Yusril tidak pernah mengucapkan kalimat sebagaimana yang dituduhkan dalam gambar di atas.

Mari kita hentikan penyebaran informasi palsu yang berpotensi menyesatkan publik. Selalu ingat prinsip saring sebelum sharing!

#Hoax #Klarifikasi #YusrilIhzaMahendra #SaringSebelumSharing #HukumIndonesia

...

10685 440
Menjaga kebugaran jasmani sekaligus merawat ketajaman gagasan untuk bangsa! 🇮🇩✨

Pagi ini, Minggu (23/8/2026), saya bersama rekan-rekan Keluarga Besar Himpunan Mahasiswa Islam (KB-HMI) berkumpul di Lapangan Biru Kementerian Hukum, Jakarta, dalam kegiatan Silaturahmi, Jalan Sehat, dan Diskusi Pembangunan Hukum.  

Suasana kebersamaan semakin hangat tatkala saya bersama Menteri Hukum Supratman Andi Agtas, Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko, Sesmenko Kumham Imipas R. Andika Dwi Prasetya, serta Deputi Bidang Koordinasi Hukum Nofli membaur bersama para pimpinan tinggi pratama dan segenap keluarga besar alumni HMI.

Mengambil titik start dan finish di Lapangan Biru Kementerian Hukum, kegiatan jalan sehat pagi tadi tidak hanya menjadi ajang mempererat tali persaudaraan lintas generasi, tetapi juga wadah strategis bertukar pandangan konstruktif seputar isu-isu pembangunan nasional dan pembenahan hukum di tanah air.  

Melalui silaturahmi yang terus terjaga, mari kita perkuat jejaring solidaritas dan kontribusi nyata untuk kemajuan Indonesia yang kita cintai.

#YusrilIhzaMahendra #profyim #KemenkoKumhamImipas #hmi #olahraga

...

728 19
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Hari ini, 17 Agustus 2026, tepat 81 tahun bangsa Indonesia memperingati Hari Kemerdekaannya, dengan tema “Indonesia Berdaulat Adil dan Makmur”.

81 tahun bukanlah usia yang singkat. Kemerdekaan ini diraih oleh para pejuang dengan darah dan air mata, melalui perjuangan, perundingan, dan diplomasi di dunia internasional, hingga memperoleh pengakuan seluruh dunia pada 27 Desember 1949.

Generasi pertama pendiri bangsa telah berpulang ke hadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mari kita doakan semoga arwah mereka diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa, diampuni segala kesalahannya, dan ditempatkan di Jannatun Na’im. 🤲

Perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan telah usai. Tugas selanjutnya adalah mengisi kemerdekaan: membangun bangsa agar meraih kemajuan, menghapuskan kemiskinan, keterbelakangan, dan ketertinggalan. Generasi sekarang dan generasi akan datang memikul tugas dan tanggung jawab yang berat demi mencapai Indonesia yang berdaulat, adil dan makmur tersebut.

Kepada generasi penerus bangsa, berjuanglah dengan sepenuh hati—menegakkan kedaulatan bangsa, membangun ekonomi dan sosial, agar kita berkembang menjadi bangsa yang maju, memiliki ketajaman ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kepekaan hati nurani. Bangsa yang tidak saja sejahtera secara sosial, tetapi juga makmur secara ekonomi, bersatu padu dari Sabang sampai Merauke tanpa perpecahan apa pun.

Jangan sedikit pun kita lengah dari setiap ancaman dan tantangan. Kita harus menjadikan Indonesia bangsa dan negara yang mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain di muka bumi ini. 💪

Dirgahayu Republik Indonesia! Merdeka! 🇮🇩

#hut81ri #indonesiaberdaulatadildanmakmur #merdeka #YusrilIhzaMahendra #MenkoKumhamImipas

...

1185 37