KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAGIAN II)

Di samping bermain musik dan drama, ayah saya itu juga gemar bermain sepak bola dan badminton. Ketika saya kecil, saya mendengar lutut ayah saya sering berbunyi ketika beliau mengerjakan sembahyang. Saya tanya mengapa sebabnya. Beliau bercerita kakinya pernah mengalami terkilir yang serius ketika bermain bola. Beliau menasehati saya agar hati-hati kalau main sepak bola. Sejak itu, beliau tak main bola lagi, tetapi main badminton jalan terus. Di seberang jalan di depan rumah kakek saya, Haji Zainal Abidin bin Haji Ahmad, ada lapangan badminton yang cukup bagus. Lapangan badminton itu dibuat dari beton, dan ada rumah yang panjang bentuknya, tempat kantor sebuah klub yang namanya BKL (Badminton Kampung Lalang). Ada beberapa ruangan tempat ganti pakaian di bangunan itu. Di bagian depan ada balkon tempat orang menonton. Lapangan badminton itu diterangi lampu listrik yang nampak mewah. Meskipun lapangan badminton itu dibuat tahun 1934 oleh paman saya Baharum — beliau itu seorang arsitek dan sekaligus developer — namun saya masih sering bermain badminton di lapangan itu di sekitar tahun 1970. Ayah saya, sesekali menyaksikan saya bermain badminton.

Kegiatan ayah saya bermain musik dan drama itu berhenti beberapa tahun ketika balantentara Jepang mendarat di Belitung. Menurut beliau, pada awal tahun 1942, beberapa kali Angkatan Udara Jepang menjatuhkan bom di Belitung, yang membuat orang Belanda dan orang pribumi panik bukan kepalang. Konon, Gubernur Jendral Hindia Belanda yang terakhir, Tjarda, sempat melarikan diri ke Manggar dari Batavia. Dari sana rombongan orang Belanda mengungsi ke Australia mengunakan kapal laut. Jepang memang bersemangat untuk menduduki Belitung, karena di pulau ini ada industri permesinan Belanda yang dapat mereka manfaatkan untuk memproduksi senjata. Produksi timah dari Belitung juga sangat penting bagi Jepang untuk membuat mesiu. Tentara Jepang mendarat di Belitung dengan armada laut, dalam jumlah yang cukup besar. Sementara orang Belanda mengungsi ke Australia, orang-orang Belitung juga masuk ke hutan. Mereka membuka hutan dan berladang untuk mempertahankan hidup. Zaman mulai dirasakan susah.

Tentara Jepang merekrut masyarakat melakukan kerja rodi membangun lapangan terbang untuk kepentingan militer. Pekerja rodi juga dikerahkan untuk menggali tanah membuat semacam kolam yang dihubungkan ke laut. Kolam itu masih ada sampai sekarang, dan dinamakan orang Kulong Sukarela. Mungkin kolam itu akan digunakan untuk penderatan tank amphibi Jepang. Lapangan terbang itu dibangun di kampung Buluh Tumbang, kira-kita 16 km dari kota Tanjung Pandan. Di zaman Belanda belum ada lapangan terbang di Belitung. Ayah saya tidak termasuk kelompok yang dipaksa kerja rodi, tetapi entah bagaimana ceritanya, beliau direkrut menjadi pasukan paramiliter untuk membantu pasukan militer Jepang. Saya masih menyimpan buku tulis peninggalan ayah saya, yang menunjukkan beliau belajar bahasa Jepang, dan mencatat berbagai istilah kemiliteran dalam bahasa Jepang. Latihan militer dipusatkan di sekitar Bukit Samak, di tepi pantai dan di daerah Tanjung Mudong.

Di masa pendudukan Jepang itulah ayah saya menikah dengan ibu saya, Nursiha binti Sandon. Kakek saya dari pihak ibu, tergolong orang yang berada. Ibu saya dianggap sebagai anak beliau satu-satunya. Karena khawatir ibu saya akan diambil paksa oleh tentara Jepang, maka kakek saya berpikir praktis saja. Kedua orang tua berpaham, dan kedua anak dijodohkan. Mereka menikah tahun 1944, ketika ayah saya telah berusia 27 tahun, dan ibu saya baru 15 tahun umurnya. Tentu tidak ada pesta perkawinan di zaman perang dan kehidupan sangat sulit di masa itu. Bahkan ayah saya tidak punya surat kawin. Beliau baru membuat surat kawin yang ditandatanganinya sendiri sebagai Kepala Kantor Urusan Agama, jauh di belakang hari, menjelang beliau pensiun. Kami, anak-anak beliau tertawa melihat surat kawin beliau yang dibikin sendiri itu. Sekian lama jadi penghulu dan Kepada KUA, ternyata beliau tak punya surat kawin. Untung Pak Naib (sebutan untuk kepala KUA di Belitung) tidak disangka kumpul kebo, kata kami berolok-olok.

Kakek saya dari pihak ibu, mungkin berpikir anak gadis satu-satunya itu, akan aman jika dinikahkan dengan tentara, agar tidak diganggu orang Jepang. Setelah menikah, ibu saya rupanya ikut latihan militer juga. Beliau bercerita latihan baris-berbaris, memanggul senapang kayu dan menembak dengan senapang karaben. Kadang-kadang mereka juga dilatih melompat dari mobil panser dan mengendarai tank pasukan Jepang. Ibu saya rupanya dipersiapkan untuk menjadi polisi. Namun setelah merdeka, dan beliau telah mempunyai anak pula, kariernya itu tidak berlanjut. Seumur hidupnya beliau tidak pernah bekerja, kecuali mengurus rumah tangga saja, dan sekali-kali berdagang pakaian atau membuat minyak kelapa. Namun kegiatan itu hanya sambilan belaka.

Ayah saya nampaknya menjadi tentara dengan setengah hati. Ketika Indonesia sudah merdeka, beliau nampak tak bersemangat untuk ikut dalam perjuangan bersenjata. Di zaman Revolusi memang tidak terjadi pertempuran besar di Belitung, seperti di daerah-daerah lain. Ada pertempuran melawan tentara sekutu yang membawa NICA di Selat Nasik dan Air Seru. Tetapi di Manggar, tidak terjadi pertempuran. Ayah saya tak berminat meneruskan karier menjadi militer. Ini berbeda dengan teman-temannya yang lain. Muhani salah seorang temannya, meneruskan karier militer sampai akhir revolusi, tapi kemudian berhenti setelah penyerahan kedaulatan dengan pangkat Letnan Dua. Temannya yang lain, Mardjono, yang juga anggota grup musik ayah saya, meneruskan kariernya di militer. Beliau pensiun dengan pangkat Kolonel, dan terakhir bertugas di Kodam Siliwangi. Ketika saya mahasiswa sekitar tahun 1977, saya sempat mengantar ayah saya menemui Mardjono di Bandung.

Share:

Facebook
Twitter
WhatsApp
 Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc.

Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc.

“Sistem yang baik akan memaksa orang jahat menjadi orang baik dan, sebaliknya, sistem yang tidak baik akan memaksa orang baik menjadi tidak baik.”

Berita Terbaru

Kembali ke tempat perjalanan akademik dimulai. Setelah 33 tahun menyelesaikan pendidikan S3 di Universiti Sains Malaysia (USM) pada tahun 1993, tidak disangka pada tahun 2026 ini saya kembali dipanggil dan dianugerahi jabatan sebagai Adjunct Professor (Profesor Utama) dalam bidang Ilmu Politik.

Perjalanan ini mengingatkan saya pada komitmen awal ketika mendalami ilmu politik, hukum tata negara, hingga filsafat. Mengabdi dan mengajar bukan hanya tentang membagikan ilmu, tetapi juga bagaimana melihat dinamika konstitusi serta ketatanegaraan agar terus berkembang dan relevan dengan perkembangan zaman.

Semoga penganugerahan ini membawa keberkahan dan kontribusi nyata bagi dunia akademis serta kemajuan bangsa.

Dalam kesempatan tersebut, saya juga berkesempatan untuk memberikan orasi ilmiah. Video lengkap bisa disaksikan di chanel YouTube saya.

#YusrilIhzaMahendra #UniversitiSainsMalaysia #politics
#profYusril #indonesiamalaysia

...

2954 97
Pemerintah mengambil langkah antisipatif dengan tidak memberikan izin pertunjukan dan visa bagi grup musik "Israel and New Breed" (Israel Houghton). Menko Yusril Ihza Mahendra menjelaskan dua pertimbangan utamanya adalah: 1. Faktor Keamanan Dalam Negeri: Mengantisipasi protes dan gelombang penolakan di masyarakat; 2. Politik Luar Negeri: Konsistensi Indonesia dalam mendukung perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina.

#YusrilIhzaMahendra #profYusril #IsraelHoughton #politics #palestine

...

764 482
Indonesia sangat menghargai kebebasan berseni, bermusik, hingga kegiatan ibadah keagamaan. Namun, kata Menko Yusril, kita perlu waspada ketika pertunjukan seni dimanfaatkan untuk memberikan dukungan politik tertentu (seperti isu Israel) yang bisa memicu reaksi politik di dalam negeri.

Dok. di Acara Pagi-Pagi Seru TvOne

#YusrilIhzaMahendra #profyusril #indonesia #SeniDanPolitik #israelhoughton

...

1296 654
Memperkuat pelindungan kekayaan intelektual dan kepastian hukum bagi para pelaku usaha di Indonesia dan Korea Selatan. 🇮🇩🇰🇷

Langkah nyata kolaborasi ini kami bahas langsung bersama Menteri Kekayaan Intelektual Korea Selatan, Kim Yong-sun, di Seoul—mulai dari penanganan barang palsu hingga efektivitas penegakan hukum di ranah online.

Kerja sama bukan sekadar kesepakatan di atas kertas, tapi tentang menghadirkan solusi dan manfaat nyata di lapangan. 🤝✨

#YusrilIhzaMahendra #MenkoKumhamImipas #KekayaanIntelektual #IndonesiaKorsel #Seoul

...

413 240
Kembali ke Masjid Al-Malik Khalid, Universiti Sains Malaysia (USM) di Penang, selalu membawa nostalgia tersendiri.  

Sejak pertama kali datang ke kampus ini dalam rangka mengambil gelar doktor ilmu politik pada tahun 1990—sekitar 36 tahun yang lalu, saya selalu salat Jumat di masjid ini.

Sebelum memberikan kuliah umum di almamater yang kali ini memberikan saya gelar Adjunct Professor esok hari (26/9), saya bersyukur bisa kembali menunaikan salat Jumat di sini.

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan keberkahan kepada kita semua di hari Jumat yang mulia ini. Amin YRA. 🕌✨  

#YusrilIhzaMahendra #USM #Penang #Nostalgia #JumatBerkah

...

874 330
Kemarin (15/9), saya meluangkan waktu untuk menjenguk sahabat lama saya, Adril Muchtar, yang sedang dirawat di salah satu rumah sakit di Jakarta Timur.

Persahabatan kami punya kenangan tersendiri. Selama 6 tahun di masa-masa perkuliahan tahun 1970-an, kami berbagi kamar yang sama di Asrama Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) Daksinapati, Rawamangun. 

Banyak suka dan duka yang kami lewati bersama sebagai kawan senasib sepenanggungan semasa jadi mahasiswa dulu.

Melihat semangat beliau hari ini sungguh membesarkan hati. Mari kita doakan bersama agar saudara kita, Adril Muchtar, segera diberikan kesembuhan, diangkat penyakitnya oleh Allah SWT, dan bisa beraktivitas kembali seperti sediakala. Aamiin YRA. 🤲🏼✨

#YusrilIhzaMahendra #Silaturahmi #SahabatLama #daksinapati #UI

...

5610 107