KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAGIAN II)

Walaupun kakek saya menganut paham keagaman yang cenderung kobservatif dan bersikap non-kooperatif dengan Belanda, namun beliau membiarkan anak-anaknya menempuh pendidikan formal. Kedua anaknya, Baharum dan Baksin IMG_0001misalnya, setelah menamatkan sekolah dasar, meneruskan pendidikan kursus di bidang teknik pada lembaga pendidikan yang didirikan oleh Belanda. Mereka menamatkannya dengan baik, dan menjadi teknisi kelistrikan di perusahaan tambang timah Belanda. Ayah saya, Idris (lihat foto bersama ibu saya dan anak yang masih kecil) tak berminat pada dunia teknik. Setelah menamatkan sekolah dasar, beliau meneruskan pendidikan ke sebuah institut milik swasta selama empat tahun lagi. Sekolah itu diakui setaraf dengan HBS, kira-kira SMA di zaman sekarang. Sekolah itu menggunakan bahasa Belanda, Arab dan Melayu. Ayah saya nampaknya mendalami kesusasteraan di sekolah itu. Di raportnya yang masih disimpan ibu saya, saya terlihat banyak subyek kesususteraan, agama dan budaya sebagai mata pelajarannya.

Ayah saya sebenarnya ingin melanjutkan pendidikan ke Jakarta, menyesuaikan ijazahnya untuk kemudian meneruskan pendidikan ke Rechts Hoogeschool, atau fakultas hukum sekarang ini. Beliau sudah pergi ke Jakarta, namun kembali lagi ke Belitung. Saya tidak tahu apa sebabnya. Nampaknya terkendala soal keuangan. Namun dengan ijazah yang dimiliknya, beliau sebenarnya dapat bekerja dengan gaji yang lumayan, baik bekerja di pemerintahan kolonial, maupun bekerja di perusahaan timah Belanda. Pernah sebentar, kata beliau, bekerja sebagai klerk (pegawai administrasi), tetapi tidak betah dan akhirnya berhenti. Hidupnya kemudian laksana seniman. Kerjanya setiap hari bermain biola, menulis naskah drama dan sekaligus menjadi pemainnya. Sambil bermain musik dan main drama, beliau mengatakan berjualan minyak wangi. Minyak wangi itu dibuatnya sendiri, dengan cara menyuling berbagai jenis bunga dan tumbuh-tumbuhan. Saya tidak dapat membayangkan jenis minyak wangi macam apa yang dibuat beliau itu. Ketika kami kecil, kami hanya mengolok-olok beliau, jangan-jangan minyak wangi itu semacam minyak sinyong-nyong, yang konon dapat memikat hati seorang gadis.

Ayah saya memang piawai bermain biola. Beliau mempunyai grup musik sendiri terdiri atas beberapa pemain. Grup musik itu seringkali mengiringi orang Belanda berdansa di Societet Belanda di Bukit Samak. Mereka juga bermain ketika ada perayaan atau pesta kawin. Grup musik itu juga pentas sebelum pertunjukan drama dimulai. Ketika saya SD, saya menyaksikan ayah saya masih mampu menggesek biola, walau kata beliau, sudah lama sekali tidak pernah lagi memainkan alat musik itu. Beliau mengatakan kepada saya, beliau belajar bilola mula-mula di sekolah. Setelah itu beliau berguru kepada salah seorang saudara sepupunya yang usianya lebih tua dari beliau, namanya Badjeri. Orang-orang di kampung memanggil Bedjeri itu Cembelek. Saya tidak tahu mengapa dipanggil demikian. Saya masih bertemu dengan beliau itu, walau ketika saya kecil, beliau nampak sudah tua sekali. Menurut ayah saya, Badjeri itu lebih piawai memainkan biola. Badjeri biasa mengiringi pertuntunjukan tari-tarian tradisional Melayu Belitung, yang disebut Campak. Selain itu, Badjeri juga menggesek biola untuk pertunjukan film di sebuah bioskop milik orang Cina — orang Belitung menyebut bioskop itu Panggung Pasong — yang terletak di Pasar Lipat Kajang. Badjeri juga mahir menabuh hadrah, yakni seperangkat rebana yang biasanya digunakan untuk mengarak pengantin.

Saya agak tercengang mendengar cerita ayah saya tentang Badjeri yang mengiringi pertunjukan film di bioskop. Ayah saya menjelaskan bahwa di tahun belasan sampai awal tahun 1930, bioskop itu hanya memutar film Charlie Chaplin dan sejenis dengan itu. Film itu belum berwarna, hanya hitam putih belaka. Lagi pula film di zaman itu belum ada suaranya, jadi film bisu saja. Agar tontonan di layar bioskop itu terasa hidup, maka harus ada pemain musik yang menyesuaikan irama musiknya dengan adegan di film itu. Ketika ayah saya kecil, beliau rupanya sering menonton bioskop pula. Karena film diputar setiap malam, suatu ketika Badjeri mengantuk. Mungkin dia bosan menggesek biola setiap malam mengiringi film yang sama. Badjeri tertidur ketika adegan Charlie Chaplin sedang berkelahi. Karena suara musik tak terdengar, penontonpun berteriak “musik”!. Badjeri tiba-tiba terbangun kaget. Dia segera menggesek biolanya dengan tempo yang tinggi mengiringi Charlie Chaplin yang sedang berkelahi itu. Saya terbahak-bahak tertawa mendengar cerita ayah sayaitu, karena terdengar lucu untuk anak segenerasi saya. Namun itulah cerita yang sesungguhnya yang pernah terjadi di masa silam.

Ketika masih kecil, saya masih menyaksikan sebuah bangunan yang dijadikan markas grup musik dan sandiwara ayah saya. Tidak jauh dari bangunan itu, ada halaman kosong, yang menurut beliau dahulunya ada panggung untuk bermain sandiwara secara rutin setiap seminggu sekali. Ayah saya rupanya menulis naskah sandiwara modern yang mengisahkan kehidupan sehari-hari. Di panggung yang sama, juga ada pertunjukan tonil dan sejenis opera yang antara lain mementaskan kisah yang diangkat dari syair Melayu, Syair Abdul Muluk. Ayah saya tidak ikut dalam pertunjukan drama klasik, yang umumnya dimainkan oleh generasi yang lebih tua usianya, termasuk kakek saya dari pihak ibu, yang konon sering memainkan peranan sebagai Raja Jin. Kegiatan ayah saya bermain musik dan bermain drama itu berlangsung terus sampai beliau mempunyai anak empat orang. Beliau baru berhenti bermain musik dan drama, ketika orang-orang kampung mengangkat beliau menjadi penghulu, untuk mengurusi masalah-masalah keagamaan. Rupanya, darah keulamaan dari kakek dan ayahnya menurun pada beliau. Namun mengurus kebun kelapa dan menangkap ikan, samasekali tidak menurun kepada beliau. Saya tahu persis ayah saya itu tidak pandai turun ke laut. Kalaupun beliau membuat kebun, semuanya nampak hanya dikerjakan sambil lalu dan tak pernah serius.

Share:

Facebook
Twitter
WhatsApp
Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.A., M.Soc.Sc., Ph.D.

Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.A., M.Soc.Sc., Ph.D.

“Sistem yang baik akan memaksa orang jahat menjadi orang baik dan, sebaliknya, sistem yang tidak baik akan memaksa orang baik menjadi tidak baik.”

Berita Terbaru

Di sela agenda kunjungan kerja di Korea Selatan akhir September lalu, saya berdiskusi hangat dengan Dubes RI untuk Korea Selatan, Pak Cecep Herawan, mengenai fungsi diplomasi dan pelindungan WNI. Salut atas komitmen KBRI Seoul yang terus mengoptimalkan layanan konsuler, legalisasi dokumen, advokasi ketenagakerjaan, hingga program "Rumah Kita" bagi warga yang jauh dari ibu kota. Sebuah dedikasi penting dalam memastikan jaminan hukum dan kehadiran negara bagi seluruh masyarakat Indonesia di Negeri Ginseng.

...

281 21
Naskah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sejatinya bukanlah sebuah produk peradilan ataupun undang-undang, melainkan sebuah putusan luhur dari para pemuda Indonesia. 

Kongres pemuda saat itu membuktikan bahwa tekad dan putusan yang lahir dari para pemuda menjadi fondasi utama berdirinya negara kita tercinta.

Senang sekali bisa hadir di tengah civitas akademika di Kampus Universitas Indonesia dalam Peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun 2026 ini. Semoga semangat dan putusan visioner para pemuda pendahulu kita terus menginspirasi generasi muda hari ini untuk terus menjaga, merawat, dan memajukan Indonesia.

#SumpahPemuda #SumpahPemuda2026 #UniversitasIndonesia #YusrilIhzaMahendra #profyusril

...

603 19
INFORMASI HOAKS!

Beredar flyer undangan konferensi pers mengatasnamakan Kemenko Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan dengan narasi agenda audiensi pemberhentian Wakil Presiden.

Kami tegaskan bahwa informasi dan flyer tersebut adalah HOAKS / PALSU. 

Kemenko Kumham Imipas ataupun Menko Yusril Ihza Mahendra tidak pernah mengeluarkan undangan atau mengadakan agenda tersebut.

Masyarakat diimbau untuk tidak percaya, tidak membagikan ulang, dan selalu menyaring informasi sebelum disebarkan. 

Laporkan dan abaikan setiap konten palsu yang berpotensi menyesatkan publik.

#Klarifikasi #Hoax #kemenkokumhamimipas #profyim #AntiHoaks

...

2926 104
Menerima audiensi dan silaturahmi dari jajaran pengurus Kadin Indonesia yang dipimpin oleh Pak Anindya Bakrie (22/10).

Kami membahas urgensi revisi UU Kadin yang sudah berjalan hampir 4 dekade. Dunia usaha berkembang pesat, dan landasan hukumnya harus selaras agar mampu memberikan kepastian, perlindungan, serta ruang gerak bagi para pelaku usaha dari skala mikro hingga besar.

Pemerintah berkomitmen menyelesaikan penyusunan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) untuk mengawal pembahasan RUU Kadin bersama DPR RI. Kepastian hukum yang kokoh adalah kunci agar perekonomian nasional terus tumbuh berdaya saing.

#YusrilIhzaMahendra #profyusril #kadinindonesia #duniausaha #hukum

...

1333 41
Bernostalgia sejenak sambil berdiskusi bersama rekan-rekan Kohati PB HMI dalam Kohati Diplomacy Forum.

Dulu waktu pertama kali masuk kampus UI, sempat diajak gabung berbagai organisasi, tapi karena darah Masyumi mengalir dari Ayah, pilihannya tentu jatuh ke HMI.

Senang melihat semangat kritis, energi positif, dan potensi besar dari para kader HMI-Wati hari ini. Teruslah menjadi pelopor gagasan dan agen perubahan untuk Indonesia yang lebih baik.  

#YusrilIhzaMahendra #profyusril #KohatiDiplomacyForum #Kohati #HMI

...

2238 34
Tahun 1989, saya sebenarnya sudah diterima di Cornell University, AS. Namun, karena kendala beasiswa, Allah menunjukkan jalan lain melalui Universiti Sains Malaysia (USM).

Proses akademik di USM menjadi salah satu pengalaman berharga. Surat rekomendasi doktoral saya saat itu didukung dan ditandatangani langsung oleh dua tokoh besar: Bapak Mohammad Natsir (mantan Perdana Menteri RI 1950) dan Prof. Dr. Sutan Takdir Alisjahbana.

Perjalanan riset perbandingan politik masyarakat Muslim antara Indonesia dan Pakistan ini membuah hasil kelulusan cum laude pada tahun 1992. Disertasinya diterbitkan oleh LIPI pada 1995 dan menjadi buku perbandingan politik terbaik kala itu.

Semoga cerita ini bisa menjadi penyemangat bagi generasi muda. Jangan pernah berhenti menimba ilmu dan percayalah bahwa setiap ilmu yang kita peroleh akan memberi manfaat besar bagi diri kita sendiri, bagi bangsa dan juga negara.

#YusrilIhzaMahendra #Pendidikan #MotivasiBelajar #universitisainsmalaysia #indonesiamalaysia

...

1080 32
Kembali ke tempat perjalanan akademik dimulai. Setelah 33 tahun menyelesaikan pendidikan S3 di Universiti Sains Malaysia (USM) pada tahun 1993, tidak disangka pada tahun 2026 ini saya kembali dipanggil dan dianugerahi jabatan sebagai Adjunct Professor (Profesor Utama) dalam bidang Ilmu Politik.

Perjalanan ini mengingatkan saya pada komitmen awal ketika mendalami ilmu politik, hukum tata negara, hingga filsafat. Mengabdi dan mengajar bukan hanya tentang membagikan ilmu, tetapi juga bagaimana melihat dinamika konstitusi serta ketatanegaraan agar terus berkembang dan relevan dengan perkembangan zaman.

Semoga penganugerahan ini membawa keberkahan dan kontribusi nyata bagi dunia akademis serta kemajuan bangsa.

Dalam kesempatan tersebut, saya juga berkesempatan untuk memberikan orasi ilmiah. Video lengkap bisa disaksikan di chanel YouTube saya.

#YusrilIhzaMahendra #UniversitiSainsMalaysia #politics
#profYusril #indonesiamalaysia

...

3474 106