KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAGIAN II)

Suatu hal yang juga menarik perhatian saya di bagian belakang rumah kecil itu ialah berbagai peralatan yang dalam pandangan saya terlihat aneh. Dua peralatan yang saya anggap aneh itu, pertama ialah perangkap tikus yang terbuat dari bambu yang nampak sangat keras. Dalam tabung bambu itu ada lobang kecil yang dipasang kawat baja untuk meletakkan umpan. Di depan tabung itu ada bambu yang di sayat tipis berbentuk melengkung dan lentur. Apabila tikus masuk memakan umpan di dalam tabung itu, maka bambu tipis yang melengkung itu akan serta-merta menutup tabung itu, sehingga tikus terperangkap di dalamnya. Peralatan lain yang juga terlihat aneh ialah yang dinamakan pulut, yakni peralatan untuk menangkap burung. Ada ratusan lidi kabung yang dimasukkan ke dalam tabung bambu yang di dalamnya ada lem yang sangat kental. Lem itu dibuat dari getah pohon Teruntum, sejenis pohon bakau yang tumbuh di pinggir sungai. Peralatan yang lain, seperti jala untuk menangkap ikan, cangkul, parang dan alat untuk menebas rumput, bagi saya terlihat biasa saja.

Di bagian gudang rumah kecil itu kakek saya masih menyimpan berbagai mainan anak-anak beliau di waktu kecil. Ada papan catur yang dibuat sendiri dari kayu. Ada juga kuda-kudaan yang tempat duduknya dilapisi bahan sejenis terpal dan di dalamnya ada kapuk, bahan orang Belitung membuat kasur dan bantal di zaman dahulu. Juga ada mobil-mobilan dan gerobak kecil yang semua dibuat dari kayu, termasuk rodanya. Kakek saya itu mempunyai sebuah sepeda antik, yang ada giginya. Beliau menyebut gigi sepeda itu persneling. Ketika beliau sudah tua, beliau tak sanggup lagi naik sepeda. Maka sepeda itu digantungdi dalam rumah dan diberi kelambu berwarna putih. Sepeda itu beliau rawat dengan baik dan selalu diberi minyak pada rantai dan onderdilnya yang lain. Ketika saya sudah mahasiswa dan pulang ke kampung, saya bertanya kepada saya sepeda kakek saya yang antik itu. Ayah saya mengatakan sepeda itu ada di rumah kami, beliau simpan di dalam gudang. Tetapi tidak pakai kelambu lagi, seperti dilakukan kakek saya. Saya lantas memperhatikan sepeda antik itu. Pada sadel atau tempat duduknya, masih terbaca dengan jelas sepeda itu mereknya Robinson. “Made in England” dan tertera tahun pembuatannya tahun 1892. Sampai sekarang sepeda antik itu kami simpan baik-baik di rumah ibu saya di Manggar.

Saya banyak bertanya kepada ayah saya riwayat sepeda yang dibeli kakek saya di Singapura. Konon menurut ayah saya, di awal abad ke 20, kakek saya itu adalah manusia satu-satunya yang punya sepeda di kota Manggar. Orang lain berjalan kaki belaka. Di Belitung tidak ada kuda. Orang tempatan juga tidak tahu bagaimana cara mengajari sapi dan kerbau agar pandai menarik gerobak seperti di Jawa dan Madura. Satu-satunya kuda yang pernah ada, konon dimiliki oleh Tuan Dekker — orang Belanda yang memeluk agama Islam di Belitung dan menikah dengan wanita setempat. Beliau adalah pioner membuka pertambangan timah dalam arti modern. Saya memperoleh banyak informasi tentang beliau ini, yang namanya lengkapnya Cornelies Frederijk den Dekker. Nama beliau itu dipahat di prasasti batu pualam di depan Hoofdkantoor NV GMB di Tanjung Pandan. Sayang prasasti dibongkar dan mungkin sudah dihancurkan.

Saya memang sering jengkel dengan orang Belitung, termasuk Pemerintah Daerahnya dan pejabat PT Tambang Timah, yang hoby membongkari situs-situs dan bangunan bersejarah yang ada di pulau itu. Kebanyakan mereka itu bergelat insinyur, namun di mata saya nampak dungu karena tidak mempunyai kesadaran historis, apalagi arkeologis. Namun mereka sering mengatakan bahwa sayalah yang aneh dan eksentrik karena memperhatikan hal-hal seperti itu. Sudahlan.Saya masih memiliki foto prasasti ituyang saya buat copynya di Universitas Leiden. Begitu terkesannya orang Belitung dengan kuda den Dekker,sampai ada pantun orang Belitung yang saya masih ingat sampai sekarang:

Tuan Dekker menunggang kuda,

Dari Sijuk ke Tanjung Pandan,

Pikir-pikir bermain muda,

Buah mabuk jangan dimakan.

Berbeda dengan adik-adiknya seperti Moestar dan Abdullah, kakek saya tidak pernah mau bekerja di perusahaan timah Belanda. Beliau mengikuti jejak ayahnya. Karena beliau haji dan mendalami agama, maka beliau dianggap sebagai ulama dan ditokohkan oleh masyarakat serta sangat disegani. Beliaulah yang meneruskan tugas Haji Ahmad menjadi imam Masjid Kampung Lalang. Beliau tidak pernah mau membaca khutbah Jum’at menggunakan Bahasa Melayu. Khutbahnya selalu dibacakan dalam Bahasa Arab, walaupun tentu hanya sedikit jamaahnya yang mengerti. Namun pengajian yang beliau berikan, menggunakan bahasa Melayu. Konon di masa muda beliau memberikan khutbah dan pengajian sampai ke kampung-kampung yang jauh letaknya. Tidak jarang beliau menginap di kampung-kampung itu mengendarai sepeda melintasi hutan dan jalan setapak. Konon baru di tahun 1916 membangun jalan yang menghubungkan antar kota di Belitung. Baru sedikit yang diaspal, sisanya jalan tanah merah belaka. Saya juga melihat foto-foto mobil dan truk Belanda di Belitung, yang dibuat tahun 1916 itu.

Mata pencarian kakek saya itu sama saja dengan ayahnya Haji Ahmad. Beliau memiliki kebun kelapa di dekat muara Sungai Mirang. Beliau juga memiliki perahu untuk pergi memancing ikan di laut. Sama seperti Haji Ahmad, beliau juga membuat sero di pantai pengempangan. Ketika saya kecil, saya pernah ikut menangkap ikan di dalam sero itu. Pernah pula beberapa kali berjalan kaki dengan beliau pergi ke kebun nanas miliknya. Di kebun nanas yang luas itu, ada sebuah rumah kecil yang dibangunnya di atas air. Saya sering bermain di rumah itu sambil memasang pancing yang dikasi umpan cacing. Pancing umpan cacing itu digunakan untuk mendapatkan ikan Kemuring, untuk umpan memancing ikan yang lebih besar. Kadang-kadang pancing itu dimakan ikan gabus, yang membuat saya sangat gembira. Saya juga belajar membuat bubu untuk menangkap ikan, dan meletakkan bubu itu di antara pematang kolam tempat menanam kangkung dan genjer. Sering saya mendapat ikan yang terperangkap di dalam bubu itu. Namun pernah pula saya kaget setengah mati karena di dalam bubu itu ada ular piton (orang Belitung menyebutnya ular Saba) sepanjang kira-kira satu meter. Seperti saya ceritakan di bagian I, saya sangat sensitif dengan ular. Rasa sensitif itu tetap saya miliki sampai sekarang, kalau sesekali saya masuk hutan atau mendaki gunung.

nipahDi samping kebun nanas itu, kakek saya mempunyai pohon nipah yang banyak sekali jumlahnya. Nipah itu tumbuh di dalam air. Saya sering memetik buah nipah, yang rasanya manis mirip buah siwalan. Ada banyak pohon hutan, orang menyebutnya Daun Iding-Iding, yang pucuknya dapat dimasak, tumbuh disela-sela pohon nipah. Kakek saya memetik daun nipah itu dan menjalinnya menjadi atap untuk rumah. Saya tahu bagaimana caranya membuat atap dari daun nipah, karena saya belajar dengan kakek saya. Di kebun kakek saya juga, saya sering membantu beliau meraut lidi daun kelapa. Meraut lidi itu menggunakan pisau khusus, yang gagangnya panjang dan melengkung, terbuat dari kayu. Kami menyebut pisau itu “pisau raut”. Saya juga belajar membuat simpai, yakni anyaman rotan untuk mengikat lidi itu hingga menjadi kuat ketika dijadikan sapu lidi.Ada sapu lidi yang diberi gagang kayu untuk menyapu halaman. Ada pula yang tidak memakai gagang, ukurannya lebih kecil, untuk membersihkan rumah, termasuk untuk memukul-mukul kasur kapuk ketika dijemur di halaman rumah.

Tetapi kakek saya juga membuat sapu dari bahan sabut kelapa yang direndam di dalam air beberapa hari, kemudian dipukul-pukul sehingga yang tersisa adalah serat sabut kelapa itu. Serat itu kemudian dijemur sampai kering. Sabut kelapa yang kering itu kemudian diajalin dengan rotan dan diberi gagang kayu kir-kira satu meter panjangnya. Bentuk sapu itu sangat bagus dan enak digunakan untuk menyapu lantai rumah, baik lantai papan maupun lantai semen dan ubin. Saya suka menggunakan sapu sabut khas Belitung itu sampai sekarang. Ketika pulang ke Belitung, saya masih bisa membuat simpai dan menjalin sabut kelapa dengan rotan untuk dijadikan sapu itu. Demikianlah serba sedikit latar belakang kehidupan kakek saya dari pihak ayah. Dalam penglihatan saya kakek saya dari pihak ayah itu tidaklah miskin. Beliau hidup lumayan menurut ukuran orang kampung di zaman itu. Ada pula jenis sapu yang dibuat kakek saya menggunakan dahan pohon yang banyak ranggasnya dan daunnya kecil-kecil. Pohon itu dinamakan pohon sapu padang.

Share:

Facebook
Twitter
WhatsApp
 Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc.

Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc.

“Sistem yang baik akan memaksa orang jahat menjadi orang baik dan, sebaliknya, sistem yang tidak baik akan memaksa orang baik menjadi tidak baik.”

Berita Terbaru

Kembali ke tempat perjalanan akademik dimulai. Setelah 33 tahun menyelesaikan pendidikan S3 di Universiti Sains Malaysia (USM) pada tahun 1993, tidak disangka pada tahun 2026 ini saya kembali dipanggil dan dianugerahi jabatan sebagai Adjunct Professor (Profesor Utama) dalam bidang Ilmu Politik.

Perjalanan ini mengingatkan saya pada komitmen awal ketika mendalami ilmu politik, hukum tata negara, hingga filsafat. Mengabdi dan mengajar bukan hanya tentang membagikan ilmu, tetapi juga bagaimana melihat dinamika konstitusi serta ketatanegaraan agar terus berkembang dan relevan dengan perkembangan zaman.

Semoga penganugerahan ini membawa keberkahan dan kontribusi nyata bagi dunia akademis serta kemajuan bangsa.

Dalam kesempatan tersebut, saya juga berkesempatan untuk memberikan orasi ilmiah. Video lengkap bisa disaksikan di chanel YouTube saya.

#YusrilIhzaMahendra #UniversitiSainsMalaysia #politics
#profYusril #indonesiamalaysia

...

2954 97
Pemerintah mengambil langkah antisipatif dengan tidak memberikan izin pertunjukan dan visa bagi grup musik "Israel and New Breed" (Israel Houghton). Menko Yusril Ihza Mahendra menjelaskan dua pertimbangan utamanya adalah: 1. Faktor Keamanan Dalam Negeri: Mengantisipasi protes dan gelombang penolakan di masyarakat; 2. Politik Luar Negeri: Konsistensi Indonesia dalam mendukung perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina.

#YusrilIhzaMahendra #profYusril #IsraelHoughton #politics #palestine

...

764 482
Indonesia sangat menghargai kebebasan berseni, bermusik, hingga kegiatan ibadah keagamaan. Namun, kata Menko Yusril, kita perlu waspada ketika pertunjukan seni dimanfaatkan untuk memberikan dukungan politik tertentu (seperti isu Israel) yang bisa memicu reaksi politik di dalam negeri.

Dok. di Acara Pagi-Pagi Seru TvOne

#YusrilIhzaMahendra #profyusril #indonesia #SeniDanPolitik #israelhoughton

...

1296 654
Memperkuat pelindungan kekayaan intelektual dan kepastian hukum bagi para pelaku usaha di Indonesia dan Korea Selatan. 🇮🇩🇰🇷

Langkah nyata kolaborasi ini kami bahas langsung bersama Menteri Kekayaan Intelektual Korea Selatan, Kim Yong-sun, di Seoul—mulai dari penanganan barang palsu hingga efektivitas penegakan hukum di ranah online.

Kerja sama bukan sekadar kesepakatan di atas kertas, tapi tentang menghadirkan solusi dan manfaat nyata di lapangan. 🤝✨

#YusrilIhzaMahendra #MenkoKumhamImipas #KekayaanIntelektual #IndonesiaKorsel #Seoul

...

413 240
Kembali ke Masjid Al-Malik Khalid, Universiti Sains Malaysia (USM) di Penang, selalu membawa nostalgia tersendiri.  

Sejak pertama kali datang ke kampus ini dalam rangka mengambil gelar doktor ilmu politik pada tahun 1990—sekitar 36 tahun yang lalu, saya selalu salat Jumat di masjid ini.

Sebelum memberikan kuliah umum di almamater yang kali ini memberikan saya gelar Adjunct Professor esok hari (26/9), saya bersyukur bisa kembali menunaikan salat Jumat di sini.

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan keberkahan kepada kita semua di hari Jumat yang mulia ini. Amin YRA. 🕌✨  

#YusrilIhzaMahendra #USM #Penang #Nostalgia #JumatBerkah

...

874 330
Kemarin (15/9), saya meluangkan waktu untuk menjenguk sahabat lama saya, Adril Muchtar, yang sedang dirawat di salah satu rumah sakit di Jakarta Timur.

Persahabatan kami punya kenangan tersendiri. Selama 6 tahun di masa-masa perkuliahan tahun 1970-an, kami berbagi kamar yang sama di Asrama Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) Daksinapati, Rawamangun. 

Banyak suka dan duka yang kami lewati bersama sebagai kawan senasib sepenanggungan semasa jadi mahasiswa dulu.

Melihat semangat beliau hari ini sungguh membesarkan hati. Mari kita doakan bersama agar saudara kita, Adril Muchtar, segera diberikan kesembuhan, diangkat penyakitnya oleh Allah SWT, dan bisa beraktivitas kembali seperti sediakala. Aamiin YRA. 🤲🏼✨

#YusrilIhzaMahendra #Silaturahmi #SahabatLama #daksinapati #UI

...

5610 107