KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAGIAN IV)

Kedatangan orang-orang Cina dalam jumlah yang lebih besar ke Belitung terkait dengan penambangan timah. Orang Belitung nampaknya tidak sanggup bekerja menggunakan cangkul untuk menggali timah. Pekerjaan yang berat itu dilakukan oleh tenaga kerja dari daratan Tiongkok, yang sengaja didatangkan oleh pengusaha penambangan timah orang Belanda. Kaum pedagang Cina, dan keturunan pekerja tambang dari Cina itu, kemudian beralih profesi membangun usaha perdagangan di lokasi-lokasi strategis. Maka berdirilah Pasar Tanjung Pandan dan Pasar Lipat Kajang di Manggar menjadi kawasan pemukiman Cina. Kawasan pasar yang sama juga berdiri di Gantung dan Kelapa Kampit. Pada tahun 1960, saya masih menyaksikan hanya ada satu dua orang Cina membuka toko di kampung-kampung orang Belitung. Namun orang Cina yang membuka kebun menanam sayur sambil memelihara babi, juga tidak sedikit jumlahnya. Jumlah orang Cina yang miskin di Belitung relatif banyak. Tidak benar jika ada anggapan kalau Cina pasti kaya. Orang Cina yang menjadi kuli mengaspal jalan atau menjadi kuli bangunan, adalah pemandangan biasa di Belitung.

Sejak masyarakat Cina membangun lokasi perdagangan itu, penduduk Pulau Belitung terbagi ke dalam tiga kelompok, yakni orang Belanda yang menempati daerah elit dan tertata rapi dengan fasilitas modern, orang Cina yang pada umumnya tinggal di daerah pasar, dan orang “pribumi” Belitung yang menempati kampung-kampung, baik di kota maupun di daerah pedalaman. Oleh Belanda, Suku Laut diberi pemukiman tersendiri. Tenaga mereka dibutuhkan Belanda untuk menjadi kuli menjahit terpal untuk dijadikan karung penampung timah, dan mengangkat barang-barang di pelabuhan. Suku-suku pendatang yang lain, terutama orang Bawean, pada umumnya bekerja sebagai pegawai rendahan di perusahaan timah. Sebagian lagi bekerja sebagai pegawai rendahan pemerintah kolonial. Sebagian mereka sengaja didatangkan untuk menjadi pelayan rumah tangga di rumah-rumah orang Belanda, dan di mes-mes yang mereka bangun. Namun orang Bugis, mayoritas tetap bekerja sebagai nelayan. Orang Madura kebanyakan juga tetap menjadi petani sambil memelihara sapi. Suku-suku pendatang ini pada umumnya membaur dengan penduduk pribumi Belitung. Anak keturunan mereka, seperti telah saya katakan, pada umumnya telah merasa menjadi orang Belitung.

Meskipun Belitung dihuni oleh suku dan bangsa berbilang kaum, namun dalam sejarah tidak pernah terjadi konflik antar sesama mereka. Konflik antar pribadi tentu bisa saja terjadi, namun konflik IMG_0007yang melibatkan suku bangsa tidak pernah tercatat dalam sejarah. Antara kaum pribumi dengan masyarakat Cina juga tidak pernah terjadi konflik. Perkawinan antara orang pribumi dengan orang Cina adalah hal yang relatif biasa. Orang pribumi menerimanya selama orang Cina itu mau memeluk agama Islam. Sesama masyarakat Cina memang pernah terjadi konflik pada tahun 1914, yang dikenal dengan sebutan Perang Ho Po. Perang ini sesungguhnya adalah kerusuhan internal masyarakat Cina akibat konflik yang terjadi di negeri leluhur, khususnya antara kaum nasionalis dan pendukung kaisar Cina yang terakhir dari Dinasti Ching. Memang pemicu konflik hanyalah gara-gara salah paham dalam upacara keagamaan dalam menghormati arwah leluhur. Namun akar konflik yang sesungguhnya bersifat politik.

Sampai kita merdeka hingga pertengahan tahun 1960-an, kebanyakan masyarakat Cina di Belitung masih berstatus warganegara asing. Sebagian mengaku warganegara RRC dan sebagian mengaku warganegara Taiwan. Saya masih menyaksikan sampai awal tahun 1970, di depan rumah warga Cina dipasang papan yang menyebutkan nama kepala keluarga dan status kewarganegaraannya. Sebagian besar orang-orang Cina itu menjadi WNI melalui proses naturalisasi yang dipercepat pada tahun 1980an. Sejak itu makin banyak anak-anak masyarakat Cina yang bersekolah, bahkan masuk ke perguruan tinggi. Sebelumnya, mereka memang mempunyai sekolah sendiri. Namun semua sekolah Cina ditutup setelah kita memasuki era Orde Baru. Orang Cina di Belitung pada era tahun 1960-an, nampak kurang perduli dengan pendidikan. Baru sejak awal tahun 1970, beberapa anak Cina bersekolah di SMA Perguruan Islam Belitung, sebelumnya sedikit sekali.

Setelah Belanda meninggalkan Belitung dan NV GMB (Gemeenschappelijke Mijnbouwmaatschappij Billiton) dinasionalisasi oleh Pemerintah RI tahun 1958, maka pemukiman elit eks Belanda ditempati oleh pegawai kelas pimpinan atau pegawai staf perusahaan timah. NV GMB adalah perusahaan swasta yang dimiliki oleh kaum kerabat Ratu Belanda. Perusahaan ini sampai sekarang masih hidup, dan setelah merger dengan Brookenhill dari Australia, berubah nama menjadi BHP Billiton, dan kini menjadi salah satu perusahaan tambang terbesar di dunia. Karena itu tidak mengherankan jika prilaku pegawai perusahaan timah Belanda itu menampakkan unsur feodalisme. Setelah dinasionalisasi, perusahaan timah ini beberapa kali berganti nama. Mula-mula PPTB (Perusahaan Tambang Timah Belitung), kemudian beralih menjadi PN Tambang Timah dan terakhir menjadi PT Timah.

Kompleks elit penigalan NV GMB itu tidak banyak berubah. Fasilitasnya tetap istimewa seperti halnya di zaman Belanda, bahkan semakin dilengkapi dan dipermodern. Perusahaan timah milik Pemerintah RI tetap meneruskan budaya feodal perusahaan milik keluarga Ratu Belanda itu dalam waktu yang relatif panjang. Di Manggar, kompleks elit itu ada di Bukit Samak, seperti telah saya ceritakan di Bagian II serial tulisan ini. Di Tanjung Pandan, kompleks itu berada di pinggir pantai Tanjung Pendam, yang diawali oleh Kompleks Perumahan Frederijk Cornelijs den Dekker sekitar tahun 1852. Kompleks yang lebih kecil terdapat juga di daerah Damar, kira-kira 10 km dari Manggar. Kompleks elit untuk pegawai pemerintahan kolonial berada di sekitar Wihelmina Park, yang terletak di sekitar Gedung Nasional di Tanjung Pandan sekarang ini. Hanya itu saja kompleks elit untuk pemerintahan, karena Asisten Residen Bangka Belitung beserta perangkat pemerintah daerahnya hanya ada di daerah itu.

Pegawai rendahan perusahaan timah dibuatkan kompleks perumahan tersendiri yang bangunannya sederhana, dengan fasilitas sederhana pula. Di zaman Belanda, telah ada Kampung Bandung, yang kemudian diperluas diberi nama Kampung Arab di Manggar. Saya tidak tahu mengapa kampung ini berubah nama menjadi Kampung Arab, sebab sepanjang pengetahuan saya tidak pernah ada masyarakat peranakan Arab bermukim di situ. Di Tanjung Pandan, kompleks serupa ada di Kampung Pilang dan Air Ketekok. Di daerah Gantung, Damar dan Kelapa Kampit, juga terdapat kompleks yang sama. Rumah untuk pegawai rendahan ini hanya terbuat dari kayu, berdinding papan dan beratap seng. Namun setiap rumah mendapat penerangan listrik dan saluran air minum gratis dari perusahaan timah. Sekolah Dasar milik perusahaan timah juga ada di setiap kompleks itu. Fasilitas sekolah itu tentu berbeda jauh dengan fasilitas sekolah untuk pegawai staf.

Share:

Facebook
Twitter
WhatsApp
Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.A., M.Soc.Sc., Ph.D.

Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.A., M.Soc.Sc., Ph.D.

“Sistem yang baik akan memaksa orang jahat menjadi orang baik dan, sebaliknya, sistem yang tidak baik akan memaksa orang baik menjadi tidak baik.”

Berita Terbaru

Di sela agenda kunjungan kerja di Korea Selatan akhir September lalu, saya berdiskusi hangat dengan Dubes RI untuk Korea Selatan, Pak Cecep Herawan, mengenai fungsi diplomasi dan pelindungan WNI. Salut atas komitmen KBRI Seoul yang terus mengoptimalkan layanan konsuler, legalisasi dokumen, advokasi ketenagakerjaan, hingga program "Rumah Kita" bagi warga yang jauh dari ibu kota. Sebuah dedikasi penting dalam memastikan jaminan hukum dan kehadiran negara bagi seluruh masyarakat Indonesia di Negeri Ginseng.

...

154 6
Naskah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sejatinya bukanlah sebuah produk peradilan ataupun undang-undang, melainkan sebuah putusan luhur dari para pemuda Indonesia. 

Kongres pemuda saat itu membuktikan bahwa tekad dan putusan yang lahir dari para pemuda menjadi fondasi utama berdirinya negara kita tercinta.

Senang sekali bisa hadir di tengah civitas akademika di Kampus Universitas Indonesia dalam Peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun 2026 ini. Semoga semangat dan putusan visioner para pemuda pendahulu kita terus menginspirasi generasi muda hari ini untuk terus menjaga, merawat, dan memajukan Indonesia.

#SumpahPemuda #SumpahPemuda2026 #UniversitasIndonesia #YusrilIhzaMahendra #profyusril

...

486 14
INFORMASI HOAKS!

Beredar flyer undangan konferensi pers mengatasnamakan Kemenko Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan dengan narasi agenda audiensi pemberhentian Wakil Presiden.

Kami tegaskan bahwa informasi dan flyer tersebut adalah HOAKS / PALSU. 

Kemenko Kumham Imipas ataupun Menko Yusril Ihza Mahendra tidak pernah mengeluarkan undangan atau mengadakan agenda tersebut.

Masyarakat diimbau untuk tidak percaya, tidak membagikan ulang, dan selalu menyaring informasi sebelum disebarkan. 

Laporkan dan abaikan setiap konten palsu yang berpotensi menyesatkan publik.

#Klarifikasi #Hoax #kemenkokumhamimipas #profyim #AntiHoaks

...

2319 85
Menerima audiensi dan silaturahmi dari jajaran pengurus Kadin Indonesia yang dipimpin oleh Pak Anindya Bakrie (22/10).

Kami membahas urgensi revisi UU Kadin yang sudah berjalan hampir 4 dekade. Dunia usaha berkembang pesat, dan landasan hukumnya harus selaras agar mampu memberikan kepastian, perlindungan, serta ruang gerak bagi para pelaku usaha dari skala mikro hingga besar.

Pemerintah berkomitmen menyelesaikan penyusunan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) untuk mengawal pembahasan RUU Kadin bersama DPR RI. Kepastian hukum yang kokoh adalah kunci agar perekonomian nasional terus tumbuh berdaya saing.

#YusrilIhzaMahendra #profyusril #kadinindonesia #duniausaha #hukum

...

1275 41
Bernostalgia sejenak sambil berdiskusi bersama rekan-rekan Kohati PB HMI dalam Kohati Diplomacy Forum.

Dulu waktu pertama kali masuk kampus UI, sempat diajak gabung berbagai organisasi, tapi karena darah Masyumi mengalir dari Ayah, pilihannya tentu jatuh ke HMI.

Senang melihat semangat kritis, energi positif, dan potensi besar dari para kader HMI-Wati hari ini. Teruslah menjadi pelopor gagasan dan agen perubahan untuk Indonesia yang lebih baik.  

#YusrilIhzaMahendra #profyusril #KohatiDiplomacyForum #Kohati #HMI

...

2185 34
Tahun 1989, saya sebenarnya sudah diterima di Cornell University, AS. Namun, karena kendala beasiswa, Allah menunjukkan jalan lain melalui Universiti Sains Malaysia (USM).

Proses akademik di USM menjadi salah satu pengalaman berharga. Surat rekomendasi doktoral saya saat itu didukung dan ditandatangani langsung oleh dua tokoh besar: Bapak Mohammad Natsir (mantan Perdana Menteri RI 1950) dan Prof. Dr. Sutan Takdir Alisjahbana.

Perjalanan riset perbandingan politik masyarakat Muslim antara Indonesia dan Pakistan ini membuah hasil kelulusan cum laude pada tahun 1992. Disertasinya diterbitkan oleh LIPI pada 1995 dan menjadi buku perbandingan politik terbaik kala itu.

Semoga cerita ini bisa menjadi penyemangat bagi generasi muda. Jangan pernah berhenti menimba ilmu dan percayalah bahwa setiap ilmu yang kita peroleh akan memberi manfaat besar bagi diri kita sendiri, bagi bangsa dan juga negara.

#YusrilIhzaMahendra #Pendidikan #MotivasiBelajar #universitisainsmalaysia #indonesiamalaysia

...

1070 31
Kembali ke tempat perjalanan akademik dimulai. Setelah 33 tahun menyelesaikan pendidikan S3 di Universiti Sains Malaysia (USM) pada tahun 1993, tidak disangka pada tahun 2026 ini saya kembali dipanggil dan dianugerahi jabatan sebagai Adjunct Professor (Profesor Utama) dalam bidang Ilmu Politik.

Perjalanan ini mengingatkan saya pada komitmen awal ketika mendalami ilmu politik, hukum tata negara, hingga filsafat. Mengabdi dan mengajar bukan hanya tentang membagikan ilmu, tetapi juga bagaimana melihat dinamika konstitusi serta ketatanegaraan agar terus berkembang dan relevan dengan perkembangan zaman.

Semoga penganugerahan ini membawa keberkahan dan kontribusi nyata bagi dunia akademis serta kemajuan bangsa.

Dalam kesempatan tersebut, saya juga berkesempatan untuk memberikan orasi ilmiah. Video lengkap bisa disaksikan di chanel YouTube saya.

#YusrilIhzaMahendra #UniversitiSainsMalaysia #politics
#profYusril #indonesiamalaysia

...

3471 106