KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAGIAN IV)

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,
Sebelum saya melanjutkan kisah kenang-kenangan hidup di masa kecil, saya merasa perlu untuk menjelaskan setting sosial masyarakat Belitung lebih dahulu. Pemahaman terhadap setting sosial ini sangat penting untuk memahami latar belakang kehidupan IMG_0004saya di masa kecil, dan pergaulan serta pergulatan kehidupan saya dengan masyarakat sekitar. Apa yang saya gambarkan ini seluruhnya didasarkan atas osbervasi dan pengalaman empiris saya yang terjadi di masa lalu. Pada bagian-bagian tertentu, saya mendiskusikannya dengan kakak dan adik saya. Observasi dan pengalaman empiris itu saya diskripsikan dan sekaligus saya analisis berdasarkan perspektif ilmu-ilmu sosial dari masa sekarang. Tentu hasilnya masih jauh dari sempurna. Saya mencoba mendekati masalah ini dengan menggabungkan pendekatan sejarah dan antropologi. Mudah-mudahan deskripsi dan analisis ini tidak melenceng dari realitas yang sesungguhnya ada dalam kehidupan masyarakat Belitung antara tahun 1961-1975.

Saya lahir dan menetap di Belitung selama sembilan belas tahun. Ketika itu Belitung hanya terdiri dari satu kabupaten — yakni Kabupaten Belitung–dengan Tanjung Pandan sebagai ibukotanya. Kabupaten Belitung terdiri atas tiga kecamatan, yakni Kecamatan Tanjung Pandan, Kecamatan Manggar, Kecamatan Gantung dan Kecamatan Membalong. Kabupaten Belitung berada di wilayah Provinsi Sumatera Selatan, dengan ibukota Palembang. Di zaman kolonial, Belitung bersama-sama dengan Bangka, pulau di sebelahnya, adalah suatu keresidenan.Residen Bangka Belitung beribukotakan Pangkal Pinang. Di Belitung ada seorang Asisten Residen berkedudukan di Tanjung Pandan. Di zaman kolonial, Belitung dibagi ke dalam beberapa wilayah setingkat kecamatan di masa sekarang, yang dipimpin oleh seorang Demang. Asisten Residen dijabat orang Belanda. Namun para demang dijabat oleh orang pribumi bergelar Ki Agus,yang menunjukkan bahwa mereka adalah bangsawan yang diwarisi dari Kesultanan Palembang di masa lalu. Belitung pernah menjadi koloni Inggris pada awal abad 19, bersamaan dengan Bencoolen atau Bengkulu sekarang ini. Namun pada tahun 1816, Belanda menukar Belitung dengan Singapura, berdasarkan perjanjian kedua negara. Sejak itu, Belanda menguasai Belitung dan Inggris menguasai Singapura.

Di zaman kemerdekaan, sebagaimana daerah-daerah lain, Belitung otomatis menjadi wilayah negara kesatuan Republik Indonesia. Pada akhir tahun 1949, Bangka Belitung pernah menjadi “satuan negara yang berdiri sendiri” sebagai salah satu dari 16 negara bagian Republik Indonesia Serikat (RIS). Setelah kita kembali lagi ke susunan negara kesatuan pada tahun 1950, Belitung menjadi kabupaten di bawah Provinsi Sumatra Selatan. Sejak tahun 1956, masyarakat Bangka Belitung memperjuangkan pembentukan provinsi sendiri, terlepas dari Sumatera Selatan. Perjuangan itu memakan waktu yang cukup panjang, setelah semua bekas keresidenan di Sumatera bagian Selatan menjadi provinsi tersendiri, yakni Keresidenan Palembang (Sumatera Selatan), Lampung, Jambi dan Bengkulu. Upaya itu baru terujud tahun 2000 bersamaan dengan pembentukan Provinsi Banten. Sejak itu Pulau Belitung dibagi menjadi dua kabupaten, yakni Kabupaten Belitung beribukotakan Tanjung Pandan, dan Kabupaten Belitung Timur dengan Manggar sebagai ibukotanya. Pemekaran kabupaten ini diikuti pula oleh pemekaran kecamatan dan desa. Kota tempat saya lahir dan dibesarkan, yang semula hanyalah kota kecamatan, kini telah berubah menjadi ibukota kabupaten.

Saya tidak dapat mengetahui dengan pasti sejak kapan Pulau Belitung itu dihuni manusia. Kebanyakan orang Belitung, termasuk saya sendiri, kalau diurut silsilahnya, maka pada generasi keempat diatasnya, kebanyakan adalah kaum pendatang. Penduduk Belitung membagi dirinya dalam dua kelompok, pertama kelompok mayoritas yang dari sudut budaya dan bahasa dapat dikelompokkan sebagaiIMG_0003 orang Melayu. Kesamaan kultural dengan masyarakat Melayu Riau dan Johor di Semenanjung Malaya, sangat terasa. Kelompok kedua, yang lebih sedikit jumlahnya adalah kelompok Suku Lalut atau suku Sawang, yang mendiami daerah pantai. Postur tubuh dan wajah kedua kelompok ini sangat kentara. Suku Laut mempunyai postur tubuh yang lebih besar, lebih kekar dengan kulit warna coklat kemerahan. Suku Laut terdapat pula di Kepualauan Riau. Legenda-legenda Suku Laut menyebutkan bahwa nenek moyang mereka adalah Lanun, atau bajak laut berasal dari Pulau Mindanao di Philipina. Di sekitar Belitung memang ada sebuah pulau yang bernama Mendanau. Apakah ada hubungannya dengan Mindanao di Philipina, saya belum pernah menelaahnya. Dari pengamatan saya yang hanya sepintas, memang terdapat kesamaan postur tubuh, warna kulit, serta bahasa dan berbagai jenis kesenian antara Suku Laut dengan penduduk asli Mindanao di Philipina.

Orang Melayu Belitung beragama Islam dan bertutur bahasa mendekati bahasa Kepualauan Riau dan Bahasa Johor. Bagaimana sikap keagamaan masyarakat Belitung, akan saya uraikan dalam paragraf-paragraf di bawah nanti. Sementara orang Laut menganut agama asli, semacam animisme. Orang Laut menggunakan Bahasa Melayu Tua. Jumlah suku Laut kini kian sedikit, karena pertumbuhan mereka sangat jarang. Sebagian besar orang Laut juga telah membaur dengan orang Melayu dan memeluk agama Islam. Orang Melayu Belitung membedakan dirinya ke dalam dua kategori, yakni Orang Pesisir dan Orang Darat. Orang Pesisir tinggal di sekitar pantai, dan Orang Darat tinggal di daerah pedalaman. Dalam perkembangan masyarakat Belitung, Orang Pesisir lebih mudah beradaptasi dengan perkembangan baru. Sementara Orang Darat relatif lebih lambat. Saya menggunakan istilah Orang Pesisir dan Orang Darat ini dalam bentuk yang netral, tidak menganggap budaya yang satu lebih tinggi dari yang lain.

Share:

Facebook
Twitter
WhatsApp
Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.A., M.Soc.Sc., Ph.D.

Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.A., M.Soc.Sc., Ph.D.

“Sistem yang baik akan memaksa orang jahat menjadi orang baik dan, sebaliknya, sistem yang tidak baik akan memaksa orang baik menjadi tidak baik.”

Berita Terbaru

Di sela agenda kunjungan kerja di Korea Selatan akhir September lalu, saya berdiskusi hangat dengan Dubes RI untuk Korea Selatan, Pak Cecep Herawan, mengenai fungsi diplomasi dan pelindungan WNI. Salut atas komitmen KBRI Seoul yang terus mengoptimalkan layanan konsuler, legalisasi dokumen, advokasi ketenagakerjaan, hingga program "Rumah Kita" bagi warga yang jauh dari ibu kota. Sebuah dedikasi penting dalam memastikan jaminan hukum dan kehadiran negara bagi seluruh masyarakat Indonesia di Negeri Ginseng.

...

154 6
Naskah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sejatinya bukanlah sebuah produk peradilan ataupun undang-undang, melainkan sebuah putusan luhur dari para pemuda Indonesia. 

Kongres pemuda saat itu membuktikan bahwa tekad dan putusan yang lahir dari para pemuda menjadi fondasi utama berdirinya negara kita tercinta.

Senang sekali bisa hadir di tengah civitas akademika di Kampus Universitas Indonesia dalam Peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun 2026 ini. Semoga semangat dan putusan visioner para pemuda pendahulu kita terus menginspirasi generasi muda hari ini untuk terus menjaga, merawat, dan memajukan Indonesia.

#SumpahPemuda #SumpahPemuda2026 #UniversitasIndonesia #YusrilIhzaMahendra #profyusril

...

486 14
INFORMASI HOAKS!

Beredar flyer undangan konferensi pers mengatasnamakan Kemenko Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan dengan narasi agenda audiensi pemberhentian Wakil Presiden.

Kami tegaskan bahwa informasi dan flyer tersebut adalah HOAKS / PALSU. 

Kemenko Kumham Imipas ataupun Menko Yusril Ihza Mahendra tidak pernah mengeluarkan undangan atau mengadakan agenda tersebut.

Masyarakat diimbau untuk tidak percaya, tidak membagikan ulang, dan selalu menyaring informasi sebelum disebarkan. 

Laporkan dan abaikan setiap konten palsu yang berpotensi menyesatkan publik.

#Klarifikasi #Hoax #kemenkokumhamimipas #profyim #AntiHoaks

...

2319 85
Menerima audiensi dan silaturahmi dari jajaran pengurus Kadin Indonesia yang dipimpin oleh Pak Anindya Bakrie (22/10).

Kami membahas urgensi revisi UU Kadin yang sudah berjalan hampir 4 dekade. Dunia usaha berkembang pesat, dan landasan hukumnya harus selaras agar mampu memberikan kepastian, perlindungan, serta ruang gerak bagi para pelaku usaha dari skala mikro hingga besar.

Pemerintah berkomitmen menyelesaikan penyusunan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) untuk mengawal pembahasan RUU Kadin bersama DPR RI. Kepastian hukum yang kokoh adalah kunci agar perekonomian nasional terus tumbuh berdaya saing.

#YusrilIhzaMahendra #profyusril #kadinindonesia #duniausaha #hukum

...

1275 41
Bernostalgia sejenak sambil berdiskusi bersama rekan-rekan Kohati PB HMI dalam Kohati Diplomacy Forum.

Dulu waktu pertama kali masuk kampus UI, sempat diajak gabung berbagai organisasi, tapi karena darah Masyumi mengalir dari Ayah, pilihannya tentu jatuh ke HMI.

Senang melihat semangat kritis, energi positif, dan potensi besar dari para kader HMI-Wati hari ini. Teruslah menjadi pelopor gagasan dan agen perubahan untuk Indonesia yang lebih baik.  

#YusrilIhzaMahendra #profyusril #KohatiDiplomacyForum #Kohati #HMI

...

2185 34
Tahun 1989, saya sebenarnya sudah diterima di Cornell University, AS. Namun, karena kendala beasiswa, Allah menunjukkan jalan lain melalui Universiti Sains Malaysia (USM).

Proses akademik di USM menjadi salah satu pengalaman berharga. Surat rekomendasi doktoral saya saat itu didukung dan ditandatangani langsung oleh dua tokoh besar: Bapak Mohammad Natsir (mantan Perdana Menteri RI 1950) dan Prof. Dr. Sutan Takdir Alisjahbana.

Perjalanan riset perbandingan politik masyarakat Muslim antara Indonesia dan Pakistan ini membuah hasil kelulusan cum laude pada tahun 1992. Disertasinya diterbitkan oleh LIPI pada 1995 dan menjadi buku perbandingan politik terbaik kala itu.

Semoga cerita ini bisa menjadi penyemangat bagi generasi muda. Jangan pernah berhenti menimba ilmu dan percayalah bahwa setiap ilmu yang kita peroleh akan memberi manfaat besar bagi diri kita sendiri, bagi bangsa dan juga negara.

#YusrilIhzaMahendra #Pendidikan #MotivasiBelajar #universitisainsmalaysia #indonesiamalaysia

...

1070 31
Kembali ke tempat perjalanan akademik dimulai. Setelah 33 tahun menyelesaikan pendidikan S3 di Universiti Sains Malaysia (USM) pada tahun 1993, tidak disangka pada tahun 2026 ini saya kembali dipanggil dan dianugerahi jabatan sebagai Adjunct Professor (Profesor Utama) dalam bidang Ilmu Politik.

Perjalanan ini mengingatkan saya pada komitmen awal ketika mendalami ilmu politik, hukum tata negara, hingga filsafat. Mengabdi dan mengajar bukan hanya tentang membagikan ilmu, tetapi juga bagaimana melihat dinamika konstitusi serta ketatanegaraan agar terus berkembang dan relevan dengan perkembangan zaman.

Semoga penganugerahan ini membawa keberkahan dan kontribusi nyata bagi dunia akademis serta kemajuan bangsa.

Dalam kesempatan tersebut, saya juga berkesempatan untuk memberikan orasi ilmiah. Video lengkap bisa disaksikan di chanel YouTube saya.

#YusrilIhzaMahendra #UniversitiSainsMalaysia #politics
#profYusril #indonesiamalaysia

...

3471 106