KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAGIAN IV)

Bagi pegawai negeri, satu-satunya fasilitas yang mereka nikmati hanyalah berobat gratis di Dinas Kesehatan Rakyat (DKR) yang kemudian disebut Puskesmas itu. Di DKR tidak ada dokter, yang ada hanya mantri saja dengan satu dua orang pembantunya. Tidak ada perawatan rawat inap di rumah sakit DKR itu.Kalau mereka berobat, apalagi harus dirawat inap di rumah sakit perusahaan timah, yang fasilitasnya sangat lengkap, mereka takkan mampu untuk membayarnya. Fasilitas hiburan samasekali tidak ada. Pegawai timah kelas atas dapat menonton di Societeit Belanda yang dirubah namanya menjadi Wisma Ria. Mereka bisa bermain tenis, bilyard, basket, volly ball dan berenang di kolam renang yang sangat bagus, yang dulunya dibangun Belanda. Pegawai rendahan masih bisa menonton di Wisma Krida, yang dibangun khusus untuk mereka. Untuk menonton gratis di tempat ini, setiap orang harus menunjukkan kartu bahwa mereka adalah pegawai timah. Pegawai negeri, petani dan nelayan tidak boleh menonton di situ, kecuali anak-anak bisa bebas menonton film untuk semua umur.

Meskipun Belitung kaya dari hasil timahnya dan menyumbang devisa cukup besar bagi negara, namun penduduk Belitung sebagian besar hidup dalam kemiskinan. Mereka hidup seperti kata pepatah: ibarat itik berenang di tengah dunau, tetapi mati kehausan. Ibarat ayam tinggal di lumbung padi, mati kelaparan. Ketika saya kecil antara tahun 1961-1967, gaji pegawai negeri sangatlah kecil. Sudah kecil, Pemerintah juga tidak sanggup membayar gaji setiap bulan. Seringkali pegawai negeri menerima rapel gaji setelah tiga empat bulan kemudian. Berbeda dengan pegawai perusahaan timah yang mendapat aneka ransum, pegawai negeri hanya mendapat jatah beras yang sangat rendah kualitasnya. Beras itu seringkali sudah banyak kutunya, bercampur batu, berbau apek dan mengapung ketika dicuci di dalam air.

Perekenonomian sangat sulit antara tahun 1961-1967 itu. Inflasi membubung tinggi. Di Jakarta rakyat sudah antri membeli beras dan minyak tanah. Apalagi, sejak tahun 1963, Presiden Sukarno mengumumkan konfrontasi dengan Malaysia. Belitung termasuk daerah garis pertahanan terdepan, berhadapan dengan negara tetangga itu. Orang Belitung yang mayoritas Melayu, juga dicurigai akan memihak Malaysia dalam konflik itu. Tentara yang ditempatkan di Belitung berasal dari Kodam Diponegoro. Sebagian besar tentara itu berasal dari suku Jawa. Orang Belitung tak sepenuhnya dapat memahami politik konfrontasi itu. Mereka sukar untuk membayangkan mengapa sesama Melayu, kita harus berperang. Ketidakmengertian itu semakin bertambah, karena dengan konfrontasi, kehidupan rakyat makin bertambah susah. Peta kekuatan politik di Belitung juga berubah. PKI makin bertambah kuat. Mereka berada pada garis terdepan mengkampanyekan Ganyang Malaysia, ganyang Pak Tengku — yang dimaksud adalah Tunku Abdul Rahman, Perdana Menteri pertama Malaysia.

Dalam situasi susah itu, para petani dan nelayan di Belitung benar-benar mengalami dampaknya. Tanah di Belitung tidak sesuai untuk menanam padi. Tak ada sawah di Belitung, karena tanahnya berpasir, sehingga air mudah menyerap ke dalam tanah. Satu-satunya cara menanam padi ialah berladang membuka hutan, dengan alat-alat tradisional, tanpa pupuk dan bibit unggul. Hasilnya, untuk makan satu keluarga saja jauh dari mencukupi. Petani Belitung yang tinggal di kampung-kampung jauh dari pusat kota, pada umumnya hanya menanam singkong, keladi, ubi jalar dan nenas. Kalau mereka menanam sayur, penduduk sangat sedikit. Sepuluh orang saja menanam bayam atau menanam cabai, maka pedagang di pasar sudah tidak sanggup menmpungnya. Harga segera jatuh. Kelapa yang banyak tumbuh di Belitung, hanya dipakai untuk keperluan memasak dan membuat minyak goreng. Hanya sedikit yang dijadikan kopra, yang diusahakan oleh pengusaha Cina. Rumah-rumah petani di kampung pada umumnya sangat sederhana. Tidak ada penerangan listrik, juga tidak ada saluran air minum.

Tidak semua kampung mempunyai Sekolah Dasar. SMP hanya ada di Tanjung Pandan, Manggar, Kelapa Kampit dan Gantung. Hanya ada dua SMA, satu SMA Negeri di Tanjung Pandan, dan satu SMA swasta di Manggar. Pendidikan anak petani yang tinggal di kampung sangat terbengkalai. Demikian juga pendidikan anak nelayan. Jarang-jarang anak nelayan masuk SMP, apalagi SMA. Ketika sudah besar sedikit, anak-anak nelayan akan turun melaut mengikuti jejak ayahnya. Sampai awal tahun 1970 hanya satu dua anak nelayan Bugis yang sekolah di SMP. Pendidikan anak-anak suku Bugis, Madura dan Bawean terbengkalai. Orang tua mereka, yang juga merantau sebagai orang kecil dan miskin, tidak mendorong anak-anak mereka untuk sekolah. Pendidikan anak-anak pegawai rendahan pegawai timah juga kurang berkembang. Di awal tahun 1970, baru ada satu orang Belitung menjadi Insinyur tamatan ITB dan kembali ke Belitung. Baru menjelang tahun 1970 banyak anak-anak Belitung melanjutkan pendidikan tinggi. Kebanyakan mereka kuliah di Bandung, Jakarta dan Yogyakarta. Anak-anak orang Belitung dari pegawai kelas atasan, sebenarnya mampu untuk melanjutkan kuliah. Namun, mungkin karena terbiasa hidup enak, semangat juang mereka tergolong rendah. Di kemudian hari, tak banyak anak-anak dari kalangan ini yang berhasil dalam pendidikan dan pekerjaan.

Share:

Facebook
Twitter
WhatsApp
Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.A., M.Soc.Sc., Ph.D.

Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.A., M.Soc.Sc., Ph.D.

“Sistem yang baik akan memaksa orang jahat menjadi orang baik dan, sebaliknya, sistem yang tidak baik akan memaksa orang baik menjadi tidak baik.”

Berita Terbaru

Di sela agenda kunjungan kerja di Korea Selatan akhir September lalu, saya berdiskusi hangat dengan Dubes RI untuk Korea Selatan, Pak Cecep Herawan, mengenai fungsi diplomasi dan pelindungan WNI. Salut atas komitmen KBRI Seoul yang terus mengoptimalkan layanan konsuler, legalisasi dokumen, advokasi ketenagakerjaan, hingga program "Rumah Kita" bagi warga yang jauh dari ibu kota. Sebuah dedikasi penting dalam memastikan jaminan hukum dan kehadiran negara bagi seluruh masyarakat Indonesia di Negeri Ginseng.

...

154 6
Naskah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sejatinya bukanlah sebuah produk peradilan ataupun undang-undang, melainkan sebuah putusan luhur dari para pemuda Indonesia. 

Kongres pemuda saat itu membuktikan bahwa tekad dan putusan yang lahir dari para pemuda menjadi fondasi utama berdirinya negara kita tercinta.

Senang sekali bisa hadir di tengah civitas akademika di Kampus Universitas Indonesia dalam Peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun 2026 ini. Semoga semangat dan putusan visioner para pemuda pendahulu kita terus menginspirasi generasi muda hari ini untuk terus menjaga, merawat, dan memajukan Indonesia.

#SumpahPemuda #SumpahPemuda2026 #UniversitasIndonesia #YusrilIhzaMahendra #profyusril

...

486 14
INFORMASI HOAKS!

Beredar flyer undangan konferensi pers mengatasnamakan Kemenko Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan dengan narasi agenda audiensi pemberhentian Wakil Presiden.

Kami tegaskan bahwa informasi dan flyer tersebut adalah HOAKS / PALSU. 

Kemenko Kumham Imipas ataupun Menko Yusril Ihza Mahendra tidak pernah mengeluarkan undangan atau mengadakan agenda tersebut.

Masyarakat diimbau untuk tidak percaya, tidak membagikan ulang, dan selalu menyaring informasi sebelum disebarkan. 

Laporkan dan abaikan setiap konten palsu yang berpotensi menyesatkan publik.

#Klarifikasi #Hoax #kemenkokumhamimipas #profyim #AntiHoaks

...

2319 85
Menerima audiensi dan silaturahmi dari jajaran pengurus Kadin Indonesia yang dipimpin oleh Pak Anindya Bakrie (22/10).

Kami membahas urgensi revisi UU Kadin yang sudah berjalan hampir 4 dekade. Dunia usaha berkembang pesat, dan landasan hukumnya harus selaras agar mampu memberikan kepastian, perlindungan, serta ruang gerak bagi para pelaku usaha dari skala mikro hingga besar.

Pemerintah berkomitmen menyelesaikan penyusunan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) untuk mengawal pembahasan RUU Kadin bersama DPR RI. Kepastian hukum yang kokoh adalah kunci agar perekonomian nasional terus tumbuh berdaya saing.

#YusrilIhzaMahendra #profyusril #kadinindonesia #duniausaha #hukum

...

1275 41
Bernostalgia sejenak sambil berdiskusi bersama rekan-rekan Kohati PB HMI dalam Kohati Diplomacy Forum.

Dulu waktu pertama kali masuk kampus UI, sempat diajak gabung berbagai organisasi, tapi karena darah Masyumi mengalir dari Ayah, pilihannya tentu jatuh ke HMI.

Senang melihat semangat kritis, energi positif, dan potensi besar dari para kader HMI-Wati hari ini. Teruslah menjadi pelopor gagasan dan agen perubahan untuk Indonesia yang lebih baik.  

#YusrilIhzaMahendra #profyusril #KohatiDiplomacyForum #Kohati #HMI

...

2185 34
Tahun 1989, saya sebenarnya sudah diterima di Cornell University, AS. Namun, karena kendala beasiswa, Allah menunjukkan jalan lain melalui Universiti Sains Malaysia (USM).

Proses akademik di USM menjadi salah satu pengalaman berharga. Surat rekomendasi doktoral saya saat itu didukung dan ditandatangani langsung oleh dua tokoh besar: Bapak Mohammad Natsir (mantan Perdana Menteri RI 1950) dan Prof. Dr. Sutan Takdir Alisjahbana.

Perjalanan riset perbandingan politik masyarakat Muslim antara Indonesia dan Pakistan ini membuah hasil kelulusan cum laude pada tahun 1992. Disertasinya diterbitkan oleh LIPI pada 1995 dan menjadi buku perbandingan politik terbaik kala itu.

Semoga cerita ini bisa menjadi penyemangat bagi generasi muda. Jangan pernah berhenti menimba ilmu dan percayalah bahwa setiap ilmu yang kita peroleh akan memberi manfaat besar bagi diri kita sendiri, bagi bangsa dan juga negara.

#YusrilIhzaMahendra #Pendidikan #MotivasiBelajar #universitisainsmalaysia #indonesiamalaysia

...

1070 31
Kembali ke tempat perjalanan akademik dimulai. Setelah 33 tahun menyelesaikan pendidikan S3 di Universiti Sains Malaysia (USM) pada tahun 1993, tidak disangka pada tahun 2026 ini saya kembali dipanggil dan dianugerahi jabatan sebagai Adjunct Professor (Profesor Utama) dalam bidang Ilmu Politik.

Perjalanan ini mengingatkan saya pada komitmen awal ketika mendalami ilmu politik, hukum tata negara, hingga filsafat. Mengabdi dan mengajar bukan hanya tentang membagikan ilmu, tetapi juga bagaimana melihat dinamika konstitusi serta ketatanegaraan agar terus berkembang dan relevan dengan perkembangan zaman.

Semoga penganugerahan ini membawa keberkahan dan kontribusi nyata bagi dunia akademis serta kemajuan bangsa.

Dalam kesempatan tersebut, saya juga berkesempatan untuk memberikan orasi ilmiah. Video lengkap bisa disaksikan di chanel YouTube saya.

#YusrilIhzaMahendra #UniversitiSainsMalaysia #politics
#profYusril #indonesiamalaysia

...

3471 106