KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAGIAN IV)

Namun sesakti apapun dukun beraliran hitam ini, mereka takkan mampu menghadapi kesaktian Dukun Kampung. Walaupun Dukun Kampung itu tidak seberapa tinggi kemampuan ilmu ghaibnya, namun karena ilmu perdukunannya sejalan dengan agama Islam, dan dia diangkat masyarakat, maka kewibawaan dan kesaktiannya menjadi lebih mumpuni. Dukun Kampung memang harus menjaga agar praktek perdukunan beraliran sesat tidak mengganggu kemaslahatan masyarakat. Dukun Kampung juga harus mengatasi perang perdukunan antar berbagai dukun tidak resmi yang menjalankan praktek perdukunan di dalam masyarakat. Sebab, antar dukun dan orang-orang yang tidak mendapat julukandukun, namun memiliki kemampuan ilmu gaib, sering juga terjadi saling unjuk kesaktian di antara sesama mereka.

Masyarakat Belitung percaya, bahwa dukun beraliran hitam dapat menyebabkan seseorang menjadi sakit bahkan mati, atas permintaan orang lain dengan sejumlah imbalan. Dukun jenis ini biasanya berhubungan dengan makhluk-makhluk halus yang jahat, yang tergolong ke dalam kelompok iblis dan jin dari jenis tertentu yang berprilaku buruk. Masyarakat Belitung juga percaya bahwa jenis-jenis hantu tertentu dapat dipelihara oleh manusia. Makhluk halus yang dapat dipelihara ini pada umumnya bersifat jahat. Di zaman dahulu, ketika belum banyak bidan dan dokter kebidanan, orang kampung yang melahirkan biasa dibantu oleh pengguling, yakni wanita yang pekerjaannya membantu wanita hamil melahirkan. Sebagian wanita itu dipercaya mempunyai peliharaan makhluk halus yang dinamai pulong atau kedaong, yang dapat berujud seperti burung sebesar itik yang terbang di malam hari. Makhluk ini konon mampu membunuh manusia, dengan cara membuat korban kesurupan lebih dahulu.

Di zaman dahulu masyarakat juga percaya, bahwa seseorang dapat menjadi kaya dengan bantuan makhluk halus, melalui upacara nibak. Upacara itu dilakukan dengan memotong sebatang kayu di tempat tertentu di mana makhluk halus itu berdiam. Tentu ada perjanjian tertentu dengan makhluk itu. Bisa juga salah seorang anak mati atau cacat sebagai korban yang harus diserahkan kepada makhluk halus itu. Salah satu tempat yang dikenal luas oleh masyarakat untuk nibak di zaman dahulu, adalah di daerah Sungai Cerucuk, di daerah yang dipercaya sebagai lokasi Raja Berekor. Raja Berekor adalah setengah manusia setengah iblis, yang konon meminum darah dan memakan daging manusia. Legenda kerajaan ini, mungkin sudah lama sekali, sebelum masyarakat Belitung memeluk agama Islam. Tempat lain yang dipercaya berkaitan dengan makhluk halus yang jahat, namun dapat dimintai bantuan untuk aneka keperluan adalah Batu Buyong yang terletak di daerah Tanjung Kelumpang. Sebuah tempat yang dinamai Keramat, yang terletak tidak jauh dari Pantai Pengempangan, pada tahun 1960-an sering dikunjungi masyarakat untuk menunaikan nazar. Jika suatu niat atau cita-cita terkabul, mereka melepas kambing atau ayam di batu itu. Kakek saya, Haji Zainal Abidin bin Haji Ahmad mengatakan, batu itu semula menjorok ke air laut dan permukaannya datar, sehingga sering dipergunakan oleh seorang wali penyebar agama Islam untuk menunaikan sembahyang lima waktu. Kakek saya tidak ingat lagi siapa nama wali penyebar agama Islam itu, karena terjadi ratusan tahun yang lalu. Entah mengapa di kemudian hari, batu itu menjadi keramat tempat orang melepas nazar. Namun setelah memasuki dekade tahun 1970, saya tak pernah lagi menyaksikan masyarakat melepas nazar di kawasan batu itu.

Berbeda dengan tugas Dukun Kampung yang mengurusi makhluk-makhluk halus, Penghulu adalah seorang yang diangkat masyarakat untuk mengurusi masalah-masalah keagamaan. Urusannya tidak terbatas kepada masalah-masalah nikah, talak dan rujuk saja, tetapi menangani urusan keagamaan pada umumnya. Penghulu adalah imam dan pengelola masjid serta tanah-tanah wakaf seperti pekuburan. Tugas penghulu pula untuk membaca doa pada setiap upacara, termasuk kenduri yang begitu sering diadakan oleh setiap angggota masyarakat. Penghulu juga menangani pengurusan jenazah, mulai dari memandikan, mengkafani, memimpin sembahyang jenzaah, sampai membaca talqin di kuburan. Siapa saja yang diangkat menjadi penghulu, maka otomatis dia dianggap sebagai ulama yang mengetahui soal-soal keagamaan Islam. Dalam pergaulan saya dengan begitu banyak penghulu di Belitung, pengetahuan mereka mengenai agama tidaklah dapat dikatakan terlalu mendalam. Mereka memahami dasar-dasar akidah Islam, memahami kaidah-kaidah hukum kekeluargaan Islam, serta fasih membaca ayat-ayat al-Qur’an dan mampu menyampaikan khutbah dalam sembahyang Jum’at.

Seperti telah saya singgung sebelumnya, antara Penghulu dan Dukun Kampung telah tercapai harmoni dalam menjalankan tugas masing-masing. Harmoni itu dapat tercipta karena pemahaman keagamaan para penghulu dan masyarakat pada umumnya dapat digolongkan sebagai paham keagamaan tradisional, yang memang bersifat lentur dan akomodatif. Para penghulu itu semuanya mengakui mengikuti paham Ahlus Sunnah wal Jamaah, mengikuti paham akidah al-Asy’ari dan mengikuti mazhab Sjafii. Kitab fikih yang dijadikan pegangan para penghulu itu ialah Kitab Perukunan Melayu, karya Syeikh Arsyad al-Banjari, ulama terkemuka dari Kesultanan Banjar, Kalimantan Selatan pada abad ke 17.Sungguhpun para penghulu mengikuti paham Ahlus Sunnah wal Jama’ah, tidak ada penghulu yang menjadi anggota Nahdlatul Ulama, organisasi sosial keagamaan Islam yang berpusat di Jawa. Masyarakat Belitung pada umumnya menganggap Nahdatul Ulama identik dengan organisasi keagamaan kaum pendatang dari Madura dan Bawean. Di Belitung memang tak pernah ada lembaga pendidikan agama seperti pesantren di Jawa, Aceh dan Mandailing. Kultur yang membangun basis hubungan antara santri dengan kiyai seperti di Jawa, tidak terdapat dalam masyarakat Islam di Belitung.

Paham pembaharuan dalam Islam mulai masuk ke Belitung melalui anak-anak muda yang belajar agama di Sumatera Barat pada sekitar tahun 1924. Mereka yang bersekolah di Yogyakarta pada dekade ketiga abad ke 20, juga memperkenalkan paham pembaharuan Muhammadiyah. Kampung yang mula-mula sekali menyebarkan paham pembaharuan keagamaan ini adalah Batu Penyu di Kecamatan Gantung. Institut Manggar, sebuah sekolah beraliran modern yang memadukan sekolah bergaya Belanda dengan sekolah Islam modern, sedikit banyaknya mendorong pula tumbuhnya pemahaman keagamaan yang bercorak pembaharuan. Guru-guru sekolah itu, sebagian besar didatangkan dari Jawa dan Sumatera Barat. Guru-guru sekolah itu memperkenalkan pula paham nasionalisme, seperti disebarluaskan Ir. Sukarno di Jawa. Meskipun demikian, gerak kaum pembaharu ini tetap terbatas. Pengaruhnya tidak menyebar luas ke tengah-tengah masyarakat yang tetap mengikuti paham keagamaan tradisional, yang telah mencapai harmoni dengan unsur-unsur kepercayaan pra Islam. Harmoni itu nampaknya memberikan kestabilan kepada jiwa masyarakat.

Share:

Facebook
Twitter
WhatsApp
 Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc.

Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc.

“Sistem yang baik akan memaksa orang jahat menjadi orang baik dan, sebaliknya, sistem yang tidak baik akan memaksa orang baik menjadi tidak baik.”

Berita Terbaru

KLARIFIKASI & BANTAHAN

Pernyataan yang menyebutkan "Pedagang Kaca Dikroyok Saat Kericuhan, Yusril: Jangan Salahkan Ormas" adalah TIDAK BENAR / HOAKS. Menko Yusril Ihza Mahendra tidak pernah mengeluarkan pernyataan tersebut dalam kesempatan apa pun.
Masyarakat diimbau untuk selalu waspada dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi palsu yang disebarkan pihak tidak bertanggung jawab.
Mari bersama mewujudkan ruang digital yang sehat dengan selalu saring sebelum sharing.

#Klarifikasi #SaringSebelumSharing #BantahHoaks #Hoaks #YusrilIhzaMahendra

...

4047 142
Tanpa etik dan integritas, semua undang-undang dan lembaga hukum yang kita bangun tidak akan ada artinya.

Saat menyampaikan keynote speech pada Festival Layanan AHU Berdampak di Bandung kemarin (31/8), saya mengingatkan kembali bahwa keberhasilan penegakan hukum tidak cuma diukur dari canggihnya sistem atau lengkapnya lembaga dan regulasi. 

Regulasi dan lembaga hukum hanyalah wadah. Penentunya ada pada moralitas, integritas, dan etika orang-orang di dalamnya.

Mari pastikan transformasi layanan hukum tak sekadar modern dan canggih, tetapi juga kuat secara integritas dan etik demi menciptakan kemanfaatan yang riil bagi masyarakat.

#YusrilIhzaMahendra #profyim #KumhamImipas #ditjenahu #ethic

...

314 18
KLARIFIKASI: HOAKS! 🛑

Beredar sebuah gambar/kutipan palsu yang mencatut nama Prof. Yusril Ihza Mahendra (Menko Kumham Imipas) seolah-olah mengeluarkan pernyataan kontroversial terkait hukuman mati bagi koruptor.

Setelah ditelusuri, pernyataan tersebut sepenuhnya adalah BOHONG (HOAKS). Prof. Yusril tidak pernah mengucapkan kalimat sebagaimana yang dituduhkan dalam gambar di atas.

Mari kita hentikan penyebaran informasi palsu yang berpotensi menyesatkan publik. Selalu ingat prinsip saring sebelum sharing!

#Hoax #Klarifikasi #YusrilIhzaMahendra #SaringSebelumSharing #HukumIndonesia

...

10685 440
Menjaga kebugaran jasmani sekaligus merawat ketajaman gagasan untuk bangsa! 🇮🇩✨

Pagi ini, Minggu (23/8/2026), saya bersama rekan-rekan Keluarga Besar Himpunan Mahasiswa Islam (KB-HMI) berkumpul di Lapangan Biru Kementerian Hukum, Jakarta, dalam kegiatan Silaturahmi, Jalan Sehat, dan Diskusi Pembangunan Hukum.  

Suasana kebersamaan semakin hangat tatkala saya bersama Menteri Hukum Supratman Andi Agtas, Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko, Sesmenko Kumham Imipas R. Andika Dwi Prasetya, serta Deputi Bidang Koordinasi Hukum Nofli membaur bersama para pimpinan tinggi pratama dan segenap keluarga besar alumni HMI.

Mengambil titik start dan finish di Lapangan Biru Kementerian Hukum, kegiatan jalan sehat pagi tadi tidak hanya menjadi ajang mempererat tali persaudaraan lintas generasi, tetapi juga wadah strategis bertukar pandangan konstruktif seputar isu-isu pembangunan nasional dan pembenahan hukum di tanah air.  

Melalui silaturahmi yang terus terjaga, mari kita perkuat jejaring solidaritas dan kontribusi nyata untuk kemajuan Indonesia yang kita cintai.

#YusrilIhzaMahendra #profyim #KemenkoKumhamImipas #hmi #olahraga

...

728 19
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Hari ini, 17 Agustus 2026, tepat 81 tahun bangsa Indonesia memperingati Hari Kemerdekaannya, dengan tema “Indonesia Berdaulat Adil dan Makmur”.

81 tahun bukanlah usia yang singkat. Kemerdekaan ini diraih oleh para pejuang dengan darah dan air mata, melalui perjuangan, perundingan, dan diplomasi di dunia internasional, hingga memperoleh pengakuan seluruh dunia pada 27 Desember 1949.

Generasi pertama pendiri bangsa telah berpulang ke hadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mari kita doakan semoga arwah mereka diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa, diampuni segala kesalahannya, dan ditempatkan di Jannatun Na’im. 🤲

Perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan telah usai. Tugas selanjutnya adalah mengisi kemerdekaan: membangun bangsa agar meraih kemajuan, menghapuskan kemiskinan, keterbelakangan, dan ketertinggalan. Generasi sekarang dan generasi akan datang memikul tugas dan tanggung jawab yang berat demi mencapai Indonesia yang berdaulat, adil dan makmur tersebut.

Kepada generasi penerus bangsa, berjuanglah dengan sepenuh hati—menegakkan kedaulatan bangsa, membangun ekonomi dan sosial, agar kita berkembang menjadi bangsa yang maju, memiliki ketajaman ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kepekaan hati nurani. Bangsa yang tidak saja sejahtera secara sosial, tetapi juga makmur secara ekonomi, bersatu padu dari Sabang sampai Merauke tanpa perpecahan apa pun.

Jangan sedikit pun kita lengah dari setiap ancaman dan tantangan. Kita harus menjadikan Indonesia bangsa dan negara yang mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain di muka bumi ini. 💪

Dirgahayu Republik Indonesia! Merdeka! 🇮🇩

#hut81ri #indonesiaberdaulatadildanmakmur #merdeka #YusrilIhzaMahendra #MenkoKumhamImipas

...

1185 37