KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAGIAN V)

Karena tiga kakak saya sudah di SMP, maka anak yang paling besar yang selalu ada di rumah ialah kakak saya yang perempuan. Tentu dia tidak bisa pergi ke hutan atau pergi memancing. Tugasnya membantu ibu saya di rumah. Tugas yang terasa sangat memberatkan bagi saya dan kakak saya itu ialah mengisi air, baik untuk mandi, mencuci maupun untuk keperluan minum. Kampung Sekip seperti telah saya ceritakan adalag kawasan bekas penambangan timah yang telah direklamasi. Sedalam apapun kita sanggup menggali sumur, yang akan dijumpai hanyalah pasir belaka, bercampur bahan-bahan logam bekas penambangan timah. Air yang didapat dari sumur itu berwarna kemerahan dan nampak berkarat karena kadar mineral yang tinggi. Air seperti itu, dipakai untuk mandipun tak layak.

Di dekat rumah kami sebenarnya ada tiga saluran air ledeng yang disediakan untuk umum. Namun aliran airnya kecil sekali, sementara yang membutuhkan air cukup banyak. Antrian begitu panjang. Saya dan kakak saya Yusniar biasa menunggu berjam-jam agar kaleng kami terisi air. Kalau sudah terisi, kami memikul kaleng air itu sekitar 200-300 meter ke rumah kami, dengan menggunakan kayu. Saya masih kecil sekali, baru berumur 5-6 tahun. Kakak saya juga perempuan. Apa boleh buat kami berdua harus memikul air. Yusron ketika itu masih terlalu kecil berumur 3-4 tahun. Dia belum bisa bekerja apa-apa. Setiap hari kerjanya menangis dan mengamuk. Bukan sekali dua, tempayan yang sudah kami isi air minum dengan susah payah, dituangkannya kembali.

Kesulitan air itu benar-benar kami rasakan ketika kemarau panjang menerpa kami. Kalau kemarau sudah berlangsung empat bulan, maka air ledeng putus samasekali. Sumur-sumur yang masih berair, cukup jauh letaknya. Sumur itupun dimiliki keluarga-keluarga, namun mereka berbaik hati kepada warga kampung yang lain untuk mandi dan mengambil air dari sumurnya. Saya dan kakak saya harus pergi mandi jauh sekali sambil membawa kaleng, yang ketika pulang kami pikul berdua untuk keperluan di rumah. Ayah saya juga mandi di sana dan membawa dua kaleng yang dipikulnya kiri-kanan menggunakan kayu. Kami berjalan mungkin sekitar setengah kilometer untuk mendapatkan air. Kadang-kadang saya harus bolak-balik dua atau tiga kali memikul air dari sumur hingga ke rumah. Kami mandi di dekat sumur itu memakai celana tanpa baju. Kadang-kadang saja kami mandi pakai sabun. Sabun yang kami pakai itu bukan pula sabun mandi, tetapi sabun cuci batangan. Saya masih ingat, kami menyebut sabun itu “sabun cap tangan”. Di zaman itu tak ada warung menjual sabun mandi di kampung. Sabun mandi ada di jual di Pasar Lipat Kajang, tetapi harganya terasa mahal sekali. Kami tak sanggup membelinya. Shampoo juga belum ada di zaman itu. Kami mencuci rambut yang kotor kena debu sehabis main bola, juga menggunakan sabun cap tangan itu. Rambut kami keras bagai bulu landak.

Kalau kemarau sudah berlangsung enam bulan, Kampung Sekip itu sudah seperti Gurun Sahara. Pepohonan menguning dan rerumputuan mengering. Kami melihat hutan mulai terbakar dari kejauhan. Perusahaan timah membagi-bagikan air melalui mobil tanki, tetapi hanya untuk pegawai sfat dan kompleks pegawai rendahan. Orang-orang kampung seperti kami harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan air. Sumur-sumur tetangga mulai kering. Walau digali lagi, tetap saja airnya tak kunjung keluar. Kalau keadaan sudah demikian, hanya ada dua sumur yang airnya relatif banyak. Satu sumur milik Kik Endam dan satu lagi sumur di halaman kosong yang kami sebut Lahan Kik Deraham. Beliau mantan lurah Kampung Lalang di zaman kolonial dan sudah meninggal.

Di dua tempat ini saja kami mendapatkan air untuk mandi dan minum. Memikul air dari dua tempat ini ke rumah kami di Kampung Sekip, sungguh-sungguh merupakan pekerjaan yang amat berat. Bahu saya sebelah kanan, terasa hampir miring karena memikul air. Saya tak sanggup memikul air di bahu kiri. Suatu hari saya pernah menggunakan sepeda untuk mengangkut air. Sepeda itu saya tuntun saja. Dua kaleng air berada di belakang. Namun apa daya, sepeda itu terjungkit karena tidak seimbang. Airpun tumpah. Saya kembali lagi ke sumur mengisi air.

Ada satu peristiwa yang masih berkaitan dengan air, yakni tahun 1963. Ketika itu saya sudah sekolah kelas I SD. Kemarau sudah berlangsung lebih dari lima bulan. Sumur dan danau sudah kering semua. Di sumur yang masih berair, orang menimba air sampai malam, menunggu mata air mengalir lagi. Kami mendengar telah terjadi adu mulut di sumur itu karena ada beberapa orang yang dinilai serakah mengambil air dan tak memikirkan keadaan orang lain. Adu mulut seperti ini kalau dibiarkan berlama-lama, bisa-bisa menimbulkan keributan. Maka datanglah beberapa orang ke rumah kami. Mereka bilang pada ayah saya: “Pak Naib – demikian mereka biasa memanggil ayah saya — kemarau sudah terlalu panjang. Bisa-bisa orang kampung berkelahi gara-gara berebut air. Menurut pendapat kami, kini sudah saatnya Pak Naib memimpin sembahyang minta hujan”. Ayah saya nampak berpikir. “Bagaimana Pak Naib” tanya mereka sekali lagi. Ayah saya akhirnya setuju. Dia akan memimpin umat Islam sembahyang istisqa. Tempat sembahyangpun disepakati: di Lapangan Kurban, Kampung Arab. Orang-orang yang datang ke rumah kami itu, akan mempersiapkan upacara sembahyang minta hujan itu.

Keesokan harinya orang beramai-ramai datang ke Lapangan Kurban. Mereka yang datang bukan hanya umat Islam, tetapi juga umat Konghucu dan warga Suku Laut yang menganut animisme. Berbagai jenis binatang seperti sapi, kambing, anjing, kucing dan ayam juga dibawa ke lapangan, baik dikurung maupun diikat di lapangan. Saya hanya berpikir binatang-binatang itu akan diajak sembahyang minta hujan juga. Di dekat lapangan ada sekelompok orang duduk-duduk sambil mengolok-olok dan mentertawakan orang yang akan sembahyang. Mereka rupanya anggota Pemuda Rakyat, organisasi pemuda PKI. Sekelompok pelajar Sekolah Tehnik melintasi mereka dan meneriaki mereka agar jangan mengolok-olok orang yang ingin sembahyang. Mereka minta izin kepala sekolah Ki Agus Hamzah untuk meninggalkan kelas untuk mengikuti sembahyang itu. Engku Hamzah – demikian beliau biasa dipanggil – yang tersohor karena disiplin, mengizinkan murid-murid pergi sembahyang. Namun Engku Hamzah tidak turun ke lapangan. Beliau hanya menitip salam kepada Pak Naib yang akan memimpin sembahyang itu.

Ayah saya datang mengayuh sepeda sambil membawa tas kulit yang sudah lusuh. Di dalam tas lusuh itu ada sehelai jubah putih. Beliau melewati sekelompok anggota Pemuda Rakyat itu dengan perasaan yang tidak enak. Ketika ayah saya lewat, anggota Pemuda Rakyat itu diam saja. Mereka tak berani mengolok-olok, seperti dilakukannya kepada orang lain. Ayah saya memimpin sembahyang Zuhur di lapangan itu dengan mengenakan jubah putih dan berpeci hitam. Udara panas terik bagai gurun pasir. Langit begitu cerah, tak nampak awan yang menutup sinar matahari. Sehabis sembahyang Zuhur, maka sembahyang minta hujan segera dimulai. Saya sembahyang di saf di belakang ayah saya. Saya mendengar suaranya tenang membacakan takbir hingga mengucapkan salam, pertanda sembahyang minta hujan telah selesai.

Sehabis sembahyang itu, beliau memimpin doa yang diaminkan oleh semua jemaah, penganut Konghucu dan semua warga suku Laut. Saya melihat sekujur tubuh ayah saya gemetar memanjatkan doa sambil menitikkan air mata. Semua jemaah terharu dan tenggelam dalam kekhusyukan. Akhirnya kuasa Allah Ta’ala datang juga. Hanya kurang dari sepuluh menit selepas doa dipanjatkan, awan hitam tiba-tiba datang. Orang berteriak di lapangan, awan hitam itu tiba-tiba menitikkan hujan rintik-rintik. Tidak lama, hanya beberapa menit saja. Namun cukup membasahi kepala jemaah di lapangan. Ayah saya langsung sujud syukur dan diikuti oleh sebagian jamaah. Mereka bersalaman dan memeluk ayah saya yang nampak sangat terharu. Hujan siang itu memang hanya sebentar. Tetapi keesokan harinya hujan datang menderu-deru membasahi seluruh kota.

Share:

Facebook
Twitter
WhatsApp
Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.A., M.Soc.Sc., Ph.D.

Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.A., M.Soc.Sc., Ph.D.

“Sistem yang baik akan memaksa orang jahat menjadi orang baik dan, sebaliknya, sistem yang tidak baik akan memaksa orang baik menjadi tidak baik.”

Berita Terbaru

Di sela agenda kunjungan kerja di Korea Selatan akhir September lalu, saya berdiskusi hangat dengan Dubes RI untuk Korea Selatan, Pak Cecep Herawan, mengenai fungsi diplomasi dan pelindungan WNI. Salut atas komitmen KBRI Seoul yang terus mengoptimalkan layanan konsuler, legalisasi dokumen, advokasi ketenagakerjaan, hingga program "Rumah Kita" bagi warga yang jauh dari ibu kota. Sebuah dedikasi penting dalam memastikan jaminan hukum dan kehadiran negara bagi seluruh masyarakat Indonesia di Negeri Ginseng.

...

154 6
Naskah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sejatinya bukanlah sebuah produk peradilan ataupun undang-undang, melainkan sebuah putusan luhur dari para pemuda Indonesia. 

Kongres pemuda saat itu membuktikan bahwa tekad dan putusan yang lahir dari para pemuda menjadi fondasi utama berdirinya negara kita tercinta.

Senang sekali bisa hadir di tengah civitas akademika di Kampus Universitas Indonesia dalam Peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun 2026 ini. Semoga semangat dan putusan visioner para pemuda pendahulu kita terus menginspirasi generasi muda hari ini untuk terus menjaga, merawat, dan memajukan Indonesia.

#SumpahPemuda #SumpahPemuda2026 #UniversitasIndonesia #YusrilIhzaMahendra #profyusril

...

486 14
INFORMASI HOAKS!

Beredar flyer undangan konferensi pers mengatasnamakan Kemenko Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan dengan narasi agenda audiensi pemberhentian Wakil Presiden.

Kami tegaskan bahwa informasi dan flyer tersebut adalah HOAKS / PALSU. 

Kemenko Kumham Imipas ataupun Menko Yusril Ihza Mahendra tidak pernah mengeluarkan undangan atau mengadakan agenda tersebut.

Masyarakat diimbau untuk tidak percaya, tidak membagikan ulang, dan selalu menyaring informasi sebelum disebarkan. 

Laporkan dan abaikan setiap konten palsu yang berpotensi menyesatkan publik.

#Klarifikasi #Hoax #kemenkokumhamimipas #profyim #AntiHoaks

...

2319 85
Menerima audiensi dan silaturahmi dari jajaran pengurus Kadin Indonesia yang dipimpin oleh Pak Anindya Bakrie (22/10).

Kami membahas urgensi revisi UU Kadin yang sudah berjalan hampir 4 dekade. Dunia usaha berkembang pesat, dan landasan hukumnya harus selaras agar mampu memberikan kepastian, perlindungan, serta ruang gerak bagi para pelaku usaha dari skala mikro hingga besar.

Pemerintah berkomitmen menyelesaikan penyusunan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) untuk mengawal pembahasan RUU Kadin bersama DPR RI. Kepastian hukum yang kokoh adalah kunci agar perekonomian nasional terus tumbuh berdaya saing.

#YusrilIhzaMahendra #profyusril #kadinindonesia #duniausaha #hukum

...

1275 41
Bernostalgia sejenak sambil berdiskusi bersama rekan-rekan Kohati PB HMI dalam Kohati Diplomacy Forum.

Dulu waktu pertama kali masuk kampus UI, sempat diajak gabung berbagai organisasi, tapi karena darah Masyumi mengalir dari Ayah, pilihannya tentu jatuh ke HMI.

Senang melihat semangat kritis, energi positif, dan potensi besar dari para kader HMI-Wati hari ini. Teruslah menjadi pelopor gagasan dan agen perubahan untuk Indonesia yang lebih baik.  

#YusrilIhzaMahendra #profyusril #KohatiDiplomacyForum #Kohati #HMI

...

2185 34
Tahun 1989, saya sebenarnya sudah diterima di Cornell University, AS. Namun, karena kendala beasiswa, Allah menunjukkan jalan lain melalui Universiti Sains Malaysia (USM).

Proses akademik di USM menjadi salah satu pengalaman berharga. Surat rekomendasi doktoral saya saat itu didukung dan ditandatangani langsung oleh dua tokoh besar: Bapak Mohammad Natsir (mantan Perdana Menteri RI 1950) dan Prof. Dr. Sutan Takdir Alisjahbana.

Perjalanan riset perbandingan politik masyarakat Muslim antara Indonesia dan Pakistan ini membuah hasil kelulusan cum laude pada tahun 1992. Disertasinya diterbitkan oleh LIPI pada 1995 dan menjadi buku perbandingan politik terbaik kala itu.

Semoga cerita ini bisa menjadi penyemangat bagi generasi muda. Jangan pernah berhenti menimba ilmu dan percayalah bahwa setiap ilmu yang kita peroleh akan memberi manfaat besar bagi diri kita sendiri, bagi bangsa dan juga negara.

#YusrilIhzaMahendra #Pendidikan #MotivasiBelajar #universitisainsmalaysia #indonesiamalaysia

...

1070 31
Kembali ke tempat perjalanan akademik dimulai. Setelah 33 tahun menyelesaikan pendidikan S3 di Universiti Sains Malaysia (USM) pada tahun 1993, tidak disangka pada tahun 2026 ini saya kembali dipanggil dan dianugerahi jabatan sebagai Adjunct Professor (Profesor Utama) dalam bidang Ilmu Politik.

Perjalanan ini mengingatkan saya pada komitmen awal ketika mendalami ilmu politik, hukum tata negara, hingga filsafat. Mengabdi dan mengajar bukan hanya tentang membagikan ilmu, tetapi juga bagaimana melihat dinamika konstitusi serta ketatanegaraan agar terus berkembang dan relevan dengan perkembangan zaman.

Semoga penganugerahan ini membawa keberkahan dan kontribusi nyata bagi dunia akademis serta kemajuan bangsa.

Dalam kesempatan tersebut, saya juga berkesempatan untuk memberikan orasi ilmiah. Video lengkap bisa disaksikan di chanel YouTube saya.

#YusrilIhzaMahendra #UniversitiSainsMalaysia #politics
#profYusril #indonesiamalaysia

...

3471 106