KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAGIAN V)

Sebelum kami tersesat di dalam hutan itu, perasaan kami memang terasa tidak enak, ketika bertemu seorang laki-laki setengah tua sendirian di dalam hutan. Kami menegur lelaki setengah tua yang membawa parang di pinggangnya. Tetapi laki-laki itu tidak menjawab dan segera berlalu. Kami tidak mengenal orang itu, dia pasti bukan orang kampung kami. Kalau orang kampung kami, kami kenal semua. Minan teman saya mengatakan laki-laki itu adalah Sebayak, yakni manusia jadi-jadian yang sering muncul di dalam hutan. Tetapi saya tak percaya. Saya melihat lelaki itu biasa-biasa saja. Tidak ada prilaku aneh padanya. Minan tetap yakin, kami tersesat karena mata kami telah dibuat keliru pandang oleh Sebayak itu. Namun saya tetap tak percaya. Saya merasa, kami tersesat di dalam hutan karena hujan lebat dan cuaca menjadi gelap sehingga kami kehilangan arah. Belakangan saya baru mengerti. Kami rupanya masuk terlalu jauh ke dalam Rimba, demikian kami menyebut hutan itu, dari Janting tempat kami masuk hingga mendekati Ngarawan, kampung lain yang terletak di jalan raya antara Manggar dan Gantung. Mungkin laki-laki yang kami temui di dalam rimba itu berasal dari Kampung Ngarawan, sehingga kami tidak mengenalnya.

Kegemaran saya keluar masuk hutan itu berlangsung kira-kira enam tahun lamanya. Saya mulai jarang melakukannya ketika saya masuk SMP. Saya pernah menapak tilas perjalanan saya di masa lalu itu tiga puluh tahun kemudian. Ternyata rute yang saya lalui menunju hutan itu jauh sekali. Padahal waktu itu saya menempuhnya berjalan kaki tanpa alas kaki. Jarak antara Kampung Sekep dengan Muara Sungai Mirang (lihat foto di atas), misalnya tidak kurang dari 10 km. Di waktu kecil, rupanya saya biasa berjalan kaki membawa parang, ambong, joran pancing dan ketapel menempuh jarak sekitar 20 km pulang pergi tanpa alas kaki, tanpa merasa lelah. Pengalaman keluar masuk hutan itu membuat saya lebih berani menghadapi marabahaya. Saya mengenal dan hafal nama-nama berbagai jenis kayu di dalam hutan. Saya dapat menggunakan rotan, akar kayu dan bahkan daun ilalang untuk dijadikan tali pengikat kayu-kayu. Perasaan juga menjadi begitu tajam dan sensitif terhadap binatang buas, khususnya ular dan buaya. Saya juga mengenal nama-nama makhluk halus yang dipercaya masyarakat Belitung sebagai makhluk penghuni hutan belantara.

Teman saya bernama Minan itu sungguh banyak jasanya mengajari saya berkelana di hutan belantara. Dia cukup pintar di sekolah. Sayang, ayahnya Ismail Bugis dan pamannya Bujang Atim, terlalu memanjakannya. Ketika kami tamat SD saya mengajak Minan masuk SMP. Tetapi dia tidak mau, walau pamannya Bujang – yang benar-benar bujang karena tak pernah kawin seumur hidupnya– sanggup membayar biaya sekolahnya. Bujang bekerja sebagai sekretaris Lurah Daeng Semaong. Setelah tamat SD saya jarang bertemu Minan. Saya dengar dia menjadi nelayan. Minan wafat tiga tahun yang lalu karena menderita sakit TBC, ketika umurnya 49 tahun. Hidupnya sangat miskin. Dia tetap menjadi nelayan sambil menanam lada di daerah Gantung. Kalau saya teringat dengan teman saya itu, hati saya sering merasa sedih.

Kisah Kenang-Kenangan Di Masa Kecil ini, masih akan saya lanjutkan ketika saya mulai akrab dengan laut pada Bagian VI nanti. Saya juga akan bercerita bagaimana saya membantu ibu saya membuat minyak kelapa. Dari kegiatan membeli kelapa karena disuruh ibu saya, saya pernah mempunyai professi memanjat pohon kelapa dengan mendapat upah kelapa juga. Di Sumatra Barat dan di Malaysia, pekerjaan itu dilakukan beruk, hewan sebangsa monyet. Namun dalam hidup saya di masa kecil, saya pernah melakukan pekerjaan yang menjadi profesi beruk itu, demi mempertahankan kelangsungan hidup dan membantu keluarga yang hidup dalam kemiskinan. Insya Allah, saya diberi kesempatan untuk meneruskan kisah ini selanjutnya.

Wallahu’alam bissawab

Share:

Facebook
Twitter
WhatsApp
 Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc.

Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc.

“Sistem yang baik akan memaksa orang jahat menjadi orang baik dan, sebaliknya, sistem yang tidak baik akan memaksa orang baik menjadi tidak baik.”

Berita Terbaru

KLARIFIKASI & BANTAHAN

Pernyataan yang menyebutkan "Pedagang Kaca Dikroyok Saat Kericuhan, Yusril: Jangan Salahkan Ormas" adalah TIDAK BENAR / HOAKS. Menko Yusril Ihza Mahendra tidak pernah mengeluarkan pernyataan tersebut dalam kesempatan apa pun.
Masyarakat diimbau untuk selalu waspada dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi palsu yang disebarkan pihak tidak bertanggung jawab.
Mari bersama mewujudkan ruang digital yang sehat dengan selalu saring sebelum sharing.

#Klarifikasi #SaringSebelumSharing #BantahHoaks #Hoaks #YusrilIhzaMahendra

...

4047 142
Tanpa etik dan integritas, semua undang-undang dan lembaga hukum yang kita bangun tidak akan ada artinya.

Saat menyampaikan keynote speech pada Festival Layanan AHU Berdampak di Bandung kemarin (31/8), saya mengingatkan kembali bahwa keberhasilan penegakan hukum tidak cuma diukur dari canggihnya sistem atau lengkapnya lembaga dan regulasi. 

Regulasi dan lembaga hukum hanyalah wadah. Penentunya ada pada moralitas, integritas, dan etika orang-orang di dalamnya.

Mari pastikan transformasi layanan hukum tak sekadar modern dan canggih, tetapi juga kuat secara integritas dan etik demi menciptakan kemanfaatan yang riil bagi masyarakat.

#YusrilIhzaMahendra #profyim #KumhamImipas #ditjenahu #ethic

...

314 18
KLARIFIKASI: HOAKS! 🛑

Beredar sebuah gambar/kutipan palsu yang mencatut nama Prof. Yusril Ihza Mahendra (Menko Kumham Imipas) seolah-olah mengeluarkan pernyataan kontroversial terkait hukuman mati bagi koruptor.

Setelah ditelusuri, pernyataan tersebut sepenuhnya adalah BOHONG (HOAKS). Prof. Yusril tidak pernah mengucapkan kalimat sebagaimana yang dituduhkan dalam gambar di atas.

Mari kita hentikan penyebaran informasi palsu yang berpotensi menyesatkan publik. Selalu ingat prinsip saring sebelum sharing!

#Hoax #Klarifikasi #YusrilIhzaMahendra #SaringSebelumSharing #HukumIndonesia

...

10685 440
Menjaga kebugaran jasmani sekaligus merawat ketajaman gagasan untuk bangsa! 🇮🇩✨

Pagi ini, Minggu (23/8/2026), saya bersama rekan-rekan Keluarga Besar Himpunan Mahasiswa Islam (KB-HMI) berkumpul di Lapangan Biru Kementerian Hukum, Jakarta, dalam kegiatan Silaturahmi, Jalan Sehat, dan Diskusi Pembangunan Hukum.  

Suasana kebersamaan semakin hangat tatkala saya bersama Menteri Hukum Supratman Andi Agtas, Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko, Sesmenko Kumham Imipas R. Andika Dwi Prasetya, serta Deputi Bidang Koordinasi Hukum Nofli membaur bersama para pimpinan tinggi pratama dan segenap keluarga besar alumni HMI.

Mengambil titik start dan finish di Lapangan Biru Kementerian Hukum, kegiatan jalan sehat pagi tadi tidak hanya menjadi ajang mempererat tali persaudaraan lintas generasi, tetapi juga wadah strategis bertukar pandangan konstruktif seputar isu-isu pembangunan nasional dan pembenahan hukum di tanah air.  

Melalui silaturahmi yang terus terjaga, mari kita perkuat jejaring solidaritas dan kontribusi nyata untuk kemajuan Indonesia yang kita cintai.

#YusrilIhzaMahendra #profyim #KemenkoKumhamImipas #hmi #olahraga

...

728 19
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Hari ini, 17 Agustus 2026, tepat 81 tahun bangsa Indonesia memperingati Hari Kemerdekaannya, dengan tema “Indonesia Berdaulat Adil dan Makmur”.

81 tahun bukanlah usia yang singkat. Kemerdekaan ini diraih oleh para pejuang dengan darah dan air mata, melalui perjuangan, perundingan, dan diplomasi di dunia internasional, hingga memperoleh pengakuan seluruh dunia pada 27 Desember 1949.

Generasi pertama pendiri bangsa telah berpulang ke hadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mari kita doakan semoga arwah mereka diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa, diampuni segala kesalahannya, dan ditempatkan di Jannatun Na’im. 🤲

Perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan telah usai. Tugas selanjutnya adalah mengisi kemerdekaan: membangun bangsa agar meraih kemajuan, menghapuskan kemiskinan, keterbelakangan, dan ketertinggalan. Generasi sekarang dan generasi akan datang memikul tugas dan tanggung jawab yang berat demi mencapai Indonesia yang berdaulat, adil dan makmur tersebut.

Kepada generasi penerus bangsa, berjuanglah dengan sepenuh hati—menegakkan kedaulatan bangsa, membangun ekonomi dan sosial, agar kita berkembang menjadi bangsa yang maju, memiliki ketajaman ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kepekaan hati nurani. Bangsa yang tidak saja sejahtera secara sosial, tetapi juga makmur secara ekonomi, bersatu padu dari Sabang sampai Merauke tanpa perpecahan apa pun.

Jangan sedikit pun kita lengah dari setiap ancaman dan tantangan. Kita harus menjadikan Indonesia bangsa dan negara yang mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain di muka bumi ini. 💪

Dirgahayu Republik Indonesia! Merdeka! 🇮🇩

#hut81ri #indonesiaberdaulatadildanmakmur #merdeka #YusrilIhzaMahendra #MenkoKumhamImipas

...

1185 37