KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAGIAN V)

Simbol PKI memang tidak banyak di pasang di arena pameran itu. Namun gambar roda gigi, simbol serikat buruh, gambar Stalin, Lenin dan Mao Tse Tung dipajang besar-besar. Ayah saya sadar bahwa PKI mulai berhasil memanfaatkan kaum buruh di Belitung, yang memang diperlakukan kurang adil oleh kebijakan perusahaan timah. Perasaan sebagai kaum proletar dan tertindas sedikit banyaknya mendapatkan simpati, walau sebagian besar pegawai rendahan perusahaan timah itu, tidaklah memahami seluk beluk ideologi Komunisme. Ayah saya sangat khawatir dengan perkembangan ini. Saya juga mulai menyadari, keluarga kami mulai mengalami tekanan dan intimidasi karena sikap ayah saya yang begitu keras terhadap Komunisme. Baiklah, saya tinggalkan dulu cerita politik ini, untuk kembali lagi mengisahkan kehidupan keluarga kami.

Seperti telah saya ceritakan di Bagian IV, pegawai negeri seperti ayah saya, kadang-kadang menerima gaji, kadang-kadang tidak. Ada kalanya gaji itu baru dibayar tiga empat bulan kemudian, dengan cara membayar rapel sekaligus. Jatah beraspun kadang-kadang dapat, kadang-kadang harus dirapel juga. Bagi keluarga miskin dan sederhana seperti keluarga kami, ada beras saja di rumah telah membuat kami tenang. Tidak perlu ada gula dan yang lain-lain keperluan sehari-hari. Kalau lauk pauk, kami bisa makan seadanya. Tetapi kalau beras sudah tidak ada, entah apa lagi yang akan di makan. Sembilan anak yang harus diberi makan tiap hari, bukan tanggungjawab yang ringan. Kalau beras di rumah sudah tidak ada, ibu saya menyuruh saya meminta beras kepada nenek. Saya harus berjalan kaki, kira-kira satu kilometer dan pulang membawa beras dua-tiga kilo di dalam karung terbuat dari daun pandan. Saya masih begitu kecil, baru berumur lima tahun, tidak kuat membawa beras lebih daripada itu dngan berjalan kaki terseok-seok.

Agar beras itu dapat dimakan cukup untuk keluarga kami, ada kalanya ibu saya berinisiatif mencampur beras itu dengan singkong yang dipotong kecil-kecil. Pernah pula beras itu di campur dengan jagung atau kacang hijau. Pernah pula dicampur dengan bulgur, yang dinegeri asalnya, benda itu hanya untuk makanan bebek. Kami menyebutnya “nasi randau”, artinya nasi yang ditanak dengan cara mencampurnya dengan bahan makanan lain, agar menjadi banyak. Saya masih ingat berminggu-minggu lamanya, ibu saya harus menjatahi anak-anak makan nasi. Nasi yang ditanak satu periuk, dijatah ibu saya menggunakan mangkok sehingga nasi itu tercetak di dalam pinggan, seperti rumah makan Padang menyajikan nasi ramas. Semuanya dibagi rata, demikian juga lauknya dijatah pula. Kalau beras jatah pegawai negeri telah tiba, kami cukup puas dan bahagia. Saya sering menemani ayah atau kakak saya mengambil beras dalam karung goni satu kwintal yang berat sekali. Beras segoni itu diletakkan di sepeda, yang praktis tidak bisa dinaiki, hanya dituntun saja hingga sampai ke rumah. Namun beras jatah yang membuat kami sekeluarga merasa tenang itu, sesungguhnya bukanlah apa-apa bagi orang berada.

Beras jatah pegawai negeri itu jauh lebih rendah kualitasnya dibanding beras jatah yang dibagikan kepada pegawai rendahan perusahaan timah, apalagi dibandingkan dengan jatah yang dibagikan kepada pegawai staf. Beras jatah pegawai negeri itu, seringkali berbau apek, banyak batu dan bercampur kutu. Ibu saya harus meletakkan beras itu di dalam tampah dan membuang batu, padi yang masih berkulit dan kutu-kutunya sekaligus. Baru beras itu dicuci. Tak jarang beras yang dicuci itu mengapung di atas permukaan air, pertanda beras itu sudah terlalu lama di simpan di gudang beras pemerintah. Kalau beras jatah yang dibagikan secara rapel tiga bulan, maka beras di rumah kami banyak sekali. Kalau keadaan seperti itu, seringkali tetangga kami, istri nelayan Bugis dan Bawean datang ke rumah kami ingin menukar ikan dengan beras. Kelihatannya tukar-menukar itu tanpa memperhitungkan harga. Semua dilakukan berdasar prinsip kekeluargaan. Nasib nelayan dengan nasib pegawai negeri di zaman itu sama saja. Mereka berada dalam strata yang sama dalam masyarakat Belitung.

Betapapun jatah beras pegawai negeri itu begitu rendah kualitasnya, namun bagi belayan, petani dan pekerja swasta lainnya, keadaannya jauh lebih buruk. Saya melihat keluarga nelayan tetangga saya, namanya Muhammad – biasa dipanggil Mamak – anak-anaknya hanya dikasi makan singkong. Ibunya menggulai ikan banyak sekali. Dalam kuah ikan itu dimasukkan singkong rebus, yang tentu enak sekali dimakan bagi keluarga nelayan miskin. Anak Mamak, namanya Usman, adalah teman saya bermain sepak bola. Saya sering bermain di rumahnya yang dekat dengan lapangan bola Kampung Sekep. Suatu hari ketika kami bermain di pantai, saya mendengar cerita Rahmat yang usianya lebih tua dari saya. Rahmat ngobrol dengan kakak saya Yusfi, tentang kesusahan hidup keluarganya. Ayah Rahmat, adalah orang Betawi, namanya Sarmili. Orang kampung sering memanggilnya Babe (sebutan ayah dalam bahasa Betawi). Rumah mereka tak jauh dari Pantai Pengempangan. Sehari-hari Pak Sarmili bekerja membuat kursi dan lemari dari kayu.

Rahmat bercerita, alangkah susah bagi ayahnya menjual kursi, karena tidak ada yang mau membeli. Suatu ketika, ada kursi yang terjual. Ibu Rahmat membeli beras, yang ketika dimasak nasinya sudah berbau apek. Namun apa boleh buat, Rahmat dan adik-dan adik-adiknya yang masih kecil harus makan nasi apek itu. Mendengar cerita Rahmat, saya sadar bahwa masih banyak keluarga yang hidup jauh lebih miskin dibanding keluarga saya yang sudah miskin. Untuk membantu keluarga, Rahmat yang sudah agak besar bersama Rusli dan Jaya adiknya, sehari-hari ada di pantai membantu nelayan mengangkat perahu. Yusfi juga melakukan hal yang sama. Saya ke pantai megikuti kakak saya itu. Rahmat suka membakar ikan di tepi pantai menggunakan sabut dan pelepah kelapa. Kami memakannya nikmat sekali.

Untuk keperluan lauk-pauk sehari-hari, ayah saya tak selalu sanggup membeli ikan ke pasar, apalagi membeli daging sapi, yang sangat mahal harganya. Kakak saya, Yusfi, kadang-kadang pegi memasang pancing di sebuah danau bekas timah yang sudah tersambung ke pantai di Kampung Bakau, dekat Kampung Sekep. Kami menyebut danau bekas penambangan timah itu dengan istilah Kulong. Kadang-kadang dia dapat ikan yang cukup besar, yang membuat kami dapat makan dengan lauk yang lumayan. Ketika saya berumur 5-6 tahun saya sering mengikuti Yusfi mencari timung dan keremut – sejenis keong kecil – di sela-sela pohon nipah dan pohon bakau, dipinggir sungai. Perjalanan itu sebenarnya berisiko juga karena bisa-bisa kami bertemu buaya yang di Belitung terkenal karena ganasnya. Tidak jauh dari pohon-pohon nipah itu, kami mencari daun iding-iding, sejenis tanaman rawa yang daunnya dapat dimakan. Kami juga dapat memetik kangkung yang tumbuh liar di rawa-rawa, atau mencari pucuk pohon pakis hutan untuk dimasak.

Yusfi memang piawai berjalan si semak-semak, rawa-rawa dan hutan belantara. Dia juga piawai memasang panjing di laut dan di sungai, atau memasang banjor untuk menangkap ikan air tawar di danau-danau. Ketika umur 5-6 tahun itu saya banyak berguru dengannya bagaimana caranya melintasi rawa, sungai dan keluar masuk hutan belantara dengan selamat. Kalau musim hujan, saya berdua dengannya sering pergi ke danau memancing ikan gabus. Sebelum memancing gabus, kami harus memancing ikan Kemuring yang ukurannya lebih kecil untuk dijadikan umpan memancing gabus. Ikan kemuring mudah saja dipancing menggunakan umpan nasi atau singkong rebus.

Share:

Facebook
Twitter
WhatsApp
 Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc.

Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc.

“Sistem yang baik akan memaksa orang jahat menjadi orang baik dan, sebaliknya, sistem yang tidak baik akan memaksa orang baik menjadi tidak baik.”

Berita Terbaru

Senang sekali sore kemarin bisa hadir langsung di Satrio One, Mega Kuningan, menyaksikan pagelaran Summer Dance yang diikuti oleh anak-anak dan generasi muda kita.

Ini merupakan salah satu wadah kreasi yang luar biasa, tempat anak-anak kita bisa mengekspresikan rasa seni dan potensi terbaik mereka. 

Mari kita bersama-sama menghormati, mengapresiasi, dan memberikan dukungan penuh kepada anak-anak kita agar mereka terus maju dan tumbuh menjadi generasi yang hebat di masa depan. 🇮🇩✨

#YusrilIhzaMahendra #profyusril  #summerdance #generasimuda #kreativitasanak

...

1536 14
"Filsafat mengajari saya melihat sesuatu secara menyeluruh, secara integral."

Alhamdulillah, sebuah perjalanan panjang dalam mendalami ilmu akhirnya menapaki babak baru. Di hadapan para penguji di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, saya telah mempertahankan disertasi doktor mengenai filsafat politik tokoh bangsa, Mohammad Natsir.

Membedah gagasan beliau mengenai teistik demokrasi memberikan refleksi mendalam bahwa negara tidak boleh absen dalam pembinaan etika warga negaranya. Manusia memiliki insting, namun tanpa bimbingan moral yang kuat, tatanan masyarakat akan rapuh.

Kelulusan dengan yudisium Sangat Memuaskan ini merupakan amanah akademis untuk terus berpikir utuh demi kemaslahatan bangsa. Terima kasih yang tak terhingga kepada keluarga, kolega, dan sahabat sekalian atas doa serta dukungannya.

#YusrilIhzaMahendra #profyusril #FilsafatUI #MohammadNatsir #UniversitasIndonesia

...

5144 104
Ujian terbuka promosi Doktor Ilmu Filsafat saya di Universitas Indonesia, Kamis, 2 Juli 2026, diberitakan salah satunya oleh Headline News Metro TV.

Bagi saya, pencapaian akademis ini bukan sekadar gelar seremonial, melainkan sebuah refleksi penting dan komitmen nyata yang akan terus melandasi tugas-tugas saya di dalam pemerintahan.

Melalui pendekatan filsafat, saya ingin menegaskan kembali bahwa analisis terhadap masalah hukum tidak boleh kaku, murni tekstual, atau hitam-di-atas-putih belaka. Menghadirkan norma hukum yang adil dan kebijakan negara yang berpihak pada rakyat membutuhkan pemahaman yang holistik—kita harus peka membaca pergolakan sosiologis, dinamika politik, serta mengeksplorasi landasan filosofis mengapa sebuah aturan itu dilahirkan.

Disertasi saya yang mengkaji kembali pemikiran Mohammad Natsir membuktikan hal tersebut: bahwa moralitas dan etika peradaban harus menjadi jangkar utama dalam menjaga tegaknya hukum dan demokrasi di Indonesia.

Filsafat telah membuka ruang berpikir yang lebih integral, mendorong kita untuk melihat apa yang kerap kali luput dari pandangan biasa. InsyaAllah, perspektif ini akan terus menjadi kompas bagi saya dalam mengemban amanah sebagai penyelenggara negara, sekaligus dalam membimbing generasi penerus di dunia akademis.

Terima kasih atas segala dukungan, kritik yang membangun, dan doa tulus dari seluruh masyarakat Indonesia. Mari bersama-sama merawat nalar dan moralitas demi kemajuan bangsa. 🇮🇩

#YusrilIhzaMahendra #profyusril #HeadlineNews #UniversitasIndonesia #Filsafat

...

1698 26
Alhamdulillahil’alim. Di tengah padatnya kesibukan, sebuah babak baru dalam perjalanan intelektual akhirnya berhasil saya rampungkan.

Kemarin, Kamis, 2 Juli 2026, saya berkesempatan untuk mempertahankan disertasi “Penafsiran Kembali Pemikiran Mohammad Natsir tentang Relasi Islam dengan Negara: Sebuah Telaah Filsafat dengan Pendekatan Hermeneutika Fenomenologis-Eksistensial” dalam sidang promosi doktor di Balai Sidang Universitas Indonesia.

Secara resmi, saya dinyatakan lulus dan meraih gelar Doktor dalam bidang Ilmu Pengetahuan Budaya, Program Studi Ilmu Filsafat, dengan yudisium Sangat Memuaskan.

Perjalanan akademis ini bukan sekadar tentang penambahan gelar di depan nama, melainkan sebuah ikhtiar mendalam untuk terus menggali esensi pemikiran, mempertajam analisis filsafat, dan memberikan kontribusi yang berarti bagi kekayaan ilmu pengetahuan di Tanah Air.

Terima kasih yang mendalam saya sampaikan kepada tim penguji, keluarga tercinta, serta seluruh rekan dan sahabat yang telah memberikan doa, dukungan, serta ruang diskusi yang hangat sepanjang proses ini. Semoga ilmu yang diraih dapat membawa kemaslahatan bagi bangsa dan negara.

#YusrilIhzaMahendra #UniversitasIndonesia #DoktorFilsafat #Akademisi #IlmuFilsafat

...

11012 198
Langkah saya kembali tertuju pada kesunyian Karet Bivak, menemui sebuah nama yang tidak pernah selesai saya pelajari: H. Mohammad Natsir. Di sela hari-hari terakhir menjelang ujian disertasi doktor filsafat saya di Universitas Indonesia, video ini merekam sebuah momen pulang—saat seorang murid kembali duduk di hadapan gurunya, melepas sejenak segala atribut akademik.

Bagi saya, membedah pemikiran Pak Natsir tentang Islam, negara, dan demokrasi melalui pendekatan filsafat bukan sekadar mengejar gelar doktoral ketiga. Ini adalah ikhtiar batin untuk merawat ingatan kita bersama bahwa Indonesia pernah dibesarkan oleh gagasan-gagasan yang megah sekaligus teduh.

Lewat momen khidmat ini, kita diingatkan kembali pada warisan terbesar beliau yang melintasi zaman: keteladanan. Sejarah mencatat betapa tajamnya perbedaan sikap politik Pak Natsir dengan para tokoh sezamannya, namun di luar ruang sidang, mereka adalah sahabat erat yang saling menghormati dan duduk bersama demi Indonesia.

Di tengah riuhnya panggung politik hari ini, kesantunan dan kedewasaan berpikir seperti itulah yang sangat kita rindukan. Di depan pusara ini, sebuah pesan sunyi kembali menegaskan: boleh saja kita berbeda pandangan, namun menjaga keutuhan Indonesia adalah kewajiban yang utama.

#YusrilIhzaMahendra #profyusril #mnatsir #filsafat #negarawan

...

936 7