KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAGIAN V)

Jarang-jarang mobil dan sepeda motor masuk ke Kampung Sekep. Sebab itu, kalau ada mobil dan sepeda motor datang ke kampung ini, maka benda itu menjadi tontonan menarik bagi anak-anak kampung, termasuk saya. Sebaliknya kalau ada motor gandeng, yakni motor Harley ukuran besar dengan tambahan untuk menangkut penumpang, semua anak-anak akan sembunyi dan mengintip dari celah-celah dinding rumah yang umumnya terbuat dari kulit kayu itu. Motor jenis itu adalah motor polisi warisan polisi kolonial yang masih dipakai di zaman merdeka. Suaranya menggelegar. Kalau motor itu masuk kampung, pasti ada orang yang sedang dicari polisi. Polisi biasanya mencari Semokel, istilah setempat yang berasal dari Bahasa Belanda untuk menyebut komplotan penyelundup bijih timah. Saya sendiri hanya tahu bentuk motor yang kelihatan menakutkan itu sebagai hasil mengintip dari balik dinding. Ketakutan itu makin bertambah, karena motor itu dikendarai polisi berseragam dinas dan membawa pistol berukuran besar di pinggangnya. Kumis polisi itu melintang. Polisi itu berasal dari Jawa. Semua anak-anak di kampung takut melihatnya.

Rumah ayah saya itu terletak di sudut perempatan jalan di Kampung Sekep. Bentuknya panggung yang sederhana. Seluruh bangunan terbuat dari kayu, dengan sebagian beratap sirap dan sebagiannya lagi beratapkan daun nipah. Tidak ada langit-langit di rumah itu. Seluruh dinding rumah itu terbuat dari kulit kayu belangir. Lantainya juga terbuat dari papan yang panjangnya tidak sama, menandakan papan itu papan bekas pakai di bangunan lain, entah dari mana. Lantai papan itupun tidaklah rapat, sehingga kami dapat mengintip ada beberapa ekor biawak sering bermain di bawah rumah kami. Kalau malam hari, anak-anak yang masih kecil juga sering membuang air kecil melalui celah-celah lantai papan yang mengangai itu. Rumah orang di kampung memang tidak mempunyai kamar mandi dan kakus di dalam rumah seperti rumah orang modern. Tempat buang hajat besar terletak jauh di belakang rumah, dalam bentuk bangunan kecil berdinding daun kelapa. Anak-anak buang hajat seenaknya saja di semak-semak rerumpunan pohon Keremunting di belakang rumah. Habis buang hajat, pantatnya sering bentol-bentol digigit nyamuk.

Rumah ayah saya itu terdiri dari tiga bagian. Bagian depan untuk duduk-duduk dan menerima tamu. Bagian tengah untuk tidur, makan dan ruang keluarga. Bagian belakang untuk dapur dan meletakkan tempayan air, serta rak untuk meletakkan piring mangkuk dan alat memasak lainnya. Di rumah ini hanya ada satu kamar tidur, tempat kedua orang tua kami tidur bersama adik yang paling kecil. Tidak ada ranjang atau tempat tidur di kamar itu. Mereka semua tidur di lantai di atas kasur kapuk yang sederhana dan ditutupi kelambu. Anak-anak yang lain – yang ketika itu jumlahnya sudah sembilan orang — tidur di luar kamar beralaskan tikar pandan di atas lantai. Tidak ada kasur dan kelambu. Hanya ada bantal yang terbuat dari kapuk dibungkus kain belacu tanpa sarung. Saya pernah berinisiatif membuat kasur dari karung goni bekas membawa beras dan diisi serbuk kayu. Namun kasur aneh dan ajaib itu hanya mendatangkan rasa gatal kalau ditiduri. Akhirnya kasur itu kami buang saja. Warna bantal itupun sudah tidak karuan, karena selain untuk tidur, sering pula dipakai anak-anak untuk bermain. Sering pula bantal yang sudah kusam itu robek dan dijahit ibu saya dengan benang, agar kapuknya tidak keluar. Kami menyebut kapuk dengan istilah kabu-kabu.

Meskipun rumah ini sederhana, namun rumah ini memiliki penerangan listrik sebesar 450 Watt. Listrik di Manggar seperti telah saya ceritakan pada bagian terdahulu, sudah ada sejak tahun 1916. Belanda membangun Elekriek Centraal (EC) yang terbesar di Asia Tenggara di kota Manggar untuk keperluan pertambangan dan industri, perbengkelan dan perkapalan. Rumah-rumah nelayan di sekitar rumah kami, tidak ada penerangan listriknya. Kalaulah ada barang yang boleh dibilang mewah di rumah itu, tidak lebih dari sebuah radio listrik merek Philips dan sebuah mesin jahit manual merek Singer. Radio listrik itu adalah barang bekas yang dibeli ayah saya dari salah seorang temannya. Sementara mesin jahit adalah kepunyaan ibu saya sebagai hadiah dari kakek. Mesin jahit itu hanya dipergunakan ibu saya menjahit baju anak-anaknya menjelang lebaran. Ayah saya tidak mampu membelikan bahan baju di luar menjelang hari raya. Itupun membeli bahan yang murah, dan sering-sering kain belacu polos berwarna krem. Sepanjang penglihatan saya, mesin jahit itu lebih banyak digunakan untuk menambal baju dan celana yang koyak, agar dapat dipakai lagi. Sekali dua, mesin jahit itu digunakan untuk mengecilkan baju bekas yang dibeli nenek saya agar pas di badan anak-anak yang masih kecil.

Nenek saya membeli baju bekas itu dari seorang perempuan Cina yang sehari-hari spesialis pedagang keliling pakaian bekas. Kami memanggil wanita Cina setengah tua itu Nyonya Kuncu. Konon, di masa muda, dia salah seorang anggota grup kakek saya, Jama Sandon, bermain judi. Karena itu, dia nampak akrab dengan kakek saya. Nyonya Kuncu mengumpulkan baju bekas itu dari Rumah Gedong, istilah khas untuk menyebut kompleks pegawai staf perusahaan timah di Bukit Samak. Sebagian lagi berasal dari kalangan masyarakat Cina di Pasar Lipat Kajang. Orang kampung mustahil akan menjual baju bekas. Mereka, termasuk keluarga kami, adalah konsumennya. Anak-anak tetangga yang lain, seringkali memakai baju bekas yang ukurannya kebesaran. Celananya juga sering kedodoran. Ibu mereka tak punya mesin jahit untuk mengecilkan baju dan celana bekas itu, seperti dilakukan ibu saya.

Adapun radio listrik milik ayah saya itu, suaranya sayup-sayup sampai. Kadang-kadang terdengar, kadang-kadang tidak. Suara stroring radio bekas itu kadangkala lebih nyaring daripada masuk dan lagu yang diperdengarkannya. Radio itupun tidak pernah berhenti rusak, walau sudah berulangkali diservis oleh Hamim, tetangga di sebelah rumah kakek saya. Di zaman itu, radio yang mampu ditangkap siarannya ialah RII belaka, dari Jakarta, Medan, Palembang dan Pekanbaru. Radio Makassar suaranya sayup-sayup sampai. Di zaman itu belum ada radio swasta. Antene radio itu harus dipasang tinggi-tinggi. Mula-mula di pasang di atap rumah. Setelah itu dipasang lagi di puncak tiang kayu. Mungkin tingginya sekitar 15 meter. Namun suaranya tetap saja tidak berubah.

Share:

Facebook
Twitter
WhatsApp
 Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc.

Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc.

“Sistem yang baik akan memaksa orang jahat menjadi orang baik dan, sebaliknya, sistem yang tidak baik akan memaksa orang baik menjadi tidak baik.”

Berita Terbaru

Senang sekali sore kemarin bisa hadir langsung di Satrio One, Mega Kuningan, menyaksikan pagelaran Summer Dance yang diikuti oleh anak-anak dan generasi muda kita.

Ini merupakan salah satu wadah kreasi yang luar biasa, tempat anak-anak kita bisa mengekspresikan rasa seni dan potensi terbaik mereka. 

Mari kita bersama-sama menghormati, mengapresiasi, dan memberikan dukungan penuh kepada anak-anak kita agar mereka terus maju dan tumbuh menjadi generasi yang hebat di masa depan. 🇮🇩✨

#YusrilIhzaMahendra #profyusril  #summerdance #generasimuda #kreativitasanak

...

1536 14
"Filsafat mengajari saya melihat sesuatu secara menyeluruh, secara integral."

Alhamdulillah, sebuah perjalanan panjang dalam mendalami ilmu akhirnya menapaki babak baru. Di hadapan para penguji di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, saya telah mempertahankan disertasi doktor mengenai filsafat politik tokoh bangsa, Mohammad Natsir.

Membedah gagasan beliau mengenai teistik demokrasi memberikan refleksi mendalam bahwa negara tidak boleh absen dalam pembinaan etika warga negaranya. Manusia memiliki insting, namun tanpa bimbingan moral yang kuat, tatanan masyarakat akan rapuh.

Kelulusan dengan yudisium Sangat Memuaskan ini merupakan amanah akademis untuk terus berpikir utuh demi kemaslahatan bangsa. Terima kasih yang tak terhingga kepada keluarga, kolega, dan sahabat sekalian atas doa serta dukungannya.

#YusrilIhzaMahendra #profyusril #FilsafatUI #MohammadNatsir #UniversitasIndonesia

...

5144 104
Ujian terbuka promosi Doktor Ilmu Filsafat saya di Universitas Indonesia, Kamis, 2 Juli 2026, diberitakan salah satunya oleh Headline News Metro TV.

Bagi saya, pencapaian akademis ini bukan sekadar gelar seremonial, melainkan sebuah refleksi penting dan komitmen nyata yang akan terus melandasi tugas-tugas saya di dalam pemerintahan.

Melalui pendekatan filsafat, saya ingin menegaskan kembali bahwa analisis terhadap masalah hukum tidak boleh kaku, murni tekstual, atau hitam-di-atas-putih belaka. Menghadirkan norma hukum yang adil dan kebijakan negara yang berpihak pada rakyat membutuhkan pemahaman yang holistik—kita harus peka membaca pergolakan sosiologis, dinamika politik, serta mengeksplorasi landasan filosofis mengapa sebuah aturan itu dilahirkan.

Disertasi saya yang mengkaji kembali pemikiran Mohammad Natsir membuktikan hal tersebut: bahwa moralitas dan etika peradaban harus menjadi jangkar utama dalam menjaga tegaknya hukum dan demokrasi di Indonesia.

Filsafat telah membuka ruang berpikir yang lebih integral, mendorong kita untuk melihat apa yang kerap kali luput dari pandangan biasa. InsyaAllah, perspektif ini akan terus menjadi kompas bagi saya dalam mengemban amanah sebagai penyelenggara negara, sekaligus dalam membimbing generasi penerus di dunia akademis.

Terima kasih atas segala dukungan, kritik yang membangun, dan doa tulus dari seluruh masyarakat Indonesia. Mari bersama-sama merawat nalar dan moralitas demi kemajuan bangsa. 🇮🇩

#YusrilIhzaMahendra #profyusril #HeadlineNews #UniversitasIndonesia #Filsafat

...

1698 26
Alhamdulillahil’alim. Di tengah padatnya kesibukan, sebuah babak baru dalam perjalanan intelektual akhirnya berhasil saya rampungkan.

Kemarin, Kamis, 2 Juli 2026, saya berkesempatan untuk mempertahankan disertasi “Penafsiran Kembali Pemikiran Mohammad Natsir tentang Relasi Islam dengan Negara: Sebuah Telaah Filsafat dengan Pendekatan Hermeneutika Fenomenologis-Eksistensial” dalam sidang promosi doktor di Balai Sidang Universitas Indonesia.

Secara resmi, saya dinyatakan lulus dan meraih gelar Doktor dalam bidang Ilmu Pengetahuan Budaya, Program Studi Ilmu Filsafat, dengan yudisium Sangat Memuaskan.

Perjalanan akademis ini bukan sekadar tentang penambahan gelar di depan nama, melainkan sebuah ikhtiar mendalam untuk terus menggali esensi pemikiran, mempertajam analisis filsafat, dan memberikan kontribusi yang berarti bagi kekayaan ilmu pengetahuan di Tanah Air.

Terima kasih yang mendalam saya sampaikan kepada tim penguji, keluarga tercinta, serta seluruh rekan dan sahabat yang telah memberikan doa, dukungan, serta ruang diskusi yang hangat sepanjang proses ini. Semoga ilmu yang diraih dapat membawa kemaslahatan bagi bangsa dan negara.

#YusrilIhzaMahendra #UniversitasIndonesia #DoktorFilsafat #Akademisi #IlmuFilsafat

...

11012 198
Langkah saya kembali tertuju pada kesunyian Karet Bivak, menemui sebuah nama yang tidak pernah selesai saya pelajari: H. Mohammad Natsir. Di sela hari-hari terakhir menjelang ujian disertasi doktor filsafat saya di Universitas Indonesia, video ini merekam sebuah momen pulang—saat seorang murid kembali duduk di hadapan gurunya, melepas sejenak segala atribut akademik.

Bagi saya, membedah pemikiran Pak Natsir tentang Islam, negara, dan demokrasi melalui pendekatan filsafat bukan sekadar mengejar gelar doktoral ketiga. Ini adalah ikhtiar batin untuk merawat ingatan kita bersama bahwa Indonesia pernah dibesarkan oleh gagasan-gagasan yang megah sekaligus teduh.

Lewat momen khidmat ini, kita diingatkan kembali pada warisan terbesar beliau yang melintasi zaman: keteladanan. Sejarah mencatat betapa tajamnya perbedaan sikap politik Pak Natsir dengan para tokoh sezamannya, namun di luar ruang sidang, mereka adalah sahabat erat yang saling menghormati dan duduk bersama demi Indonesia.

Di tengah riuhnya panggung politik hari ini, kesantunan dan kedewasaan berpikir seperti itulah yang sangat kita rindukan. Di depan pusara ini, sebuah pesan sunyi kembali menegaskan: boleh saja kita berbeda pandangan, namun menjaga keutuhan Indonesia adalah kewajiban yang utama.

#YusrilIhzaMahendra #profyusril #mnatsir #filsafat #negarawan

...

936 7