KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAGIAN III)

Meskipun Batjo tak pernah datang lagi ke rumah kakek saya, namun sesekali saya melihat isterinya, namanya Yem, datang menjual ikan kepada nenek saya dan nenek saya membelinya. Mungkin Yem tidak tahu suaminya pernah mau ditebas lehernya sama kakek saya, sebab dia berjualan ikan ke rumah kakek saya biasa-biasa saja, seperti tidak ada peristiwa mengerikan pernah terjadi. Ibu Yem itu, namanya Nek Hana. Beliau selalu berjualan cendol di pinggir pantai. Saya sering diberi cendol dan minum gratis di warungnya, kalau saya ada di pantai itu.

Sungguhpun kakek saya berwatak keras, namun beliau sangat baik dengan saudara-saudara dan keponakannya. Kebaikan kakek saya kepada kami cucu-cucunya, sungguh luar biasa. Ayah saya seperti telah saya ceritakan di Bagian II hidup miskin. Kakek sayalah yang banyak membiayai cucu-cucunya, termasuk membeli pakaian ketika menjelang lebaran. Kepada saya, kakek saya selalu memberikan nasehat agar saya menjadi orang baik. Saya ingat ketika saya kelas II SMA kakek saya mengatakan, bahwa suatu ketika saya akan jadi “orang besar”. Beliau menantap wajah saya dalam-dalam. Mungkin ada sedikit kemiripan wajah saya dengan beliau. Tetapi beliau mengatakan watak saya lebih mengikuti watak ayah saya, daripada watak beliau yang rada-rada aneh dan nampak seperti preman itu.

Saya hanya mengatakan kepada kakek saya, bahwa hidup ayah saya sangat miskin. Beliau nampak merenung dan berkata, ayah kamu itu orang terpandang dan disegani di daerah ini, walau hidupnya miskin. Apa gunanya jadi orang kaya, jika diremehkan dan dicemooh. Kakek mengatakan kepada saya agar jangan takut dengan kemiskinan. Beliau mendorong saya untuk pergi merantau, jika saya tamat SMA. Kamu tidak akan pernah jadi orang besar, jika kamu tinggal di Belitung selamanya. Demikian katanya. Nenek saya juga berkata “Kalau tidak berani menyeberang lautan, takkan pernah mendapatkan tanah tepi”. Sampai sekarang, saya terus mengingat apa yang beliau berdua katakan kepada saya.

Ketika saya sudah kuliah di Jakarta dan pulang ke kampung ketika liburan, kakek saya bertanya kepada saya, sekolah apa saya di Jakarta. Saya bilang, saya sekolah di Fakultas Hukum. Kakek saya nampak kaget. Beliau bilang, jadi nanti kamu akan jadi Mester in de Rechten (sarjana hukum). Saya katakan ya, kalau nanti saya sudah tamat. Kakek saya bilang, tidak apa-apa, kamu boleh jadi apa saja, asal jangan jadi polisi, jadi jaksa dan jadi sipir. Ketiga jenis pekerjaan itu, kata kakek saya, tidak bagus, karena selalu “berteman” dengan penjahat. Saya tidak ingin berpanjang kalam menjelaskan ketiga jenis pekerjaan itu kepada kakek saya. Saya tahu, hasilnya akan sia-sia, beliau tidak akan perduli. Kakek saya masih hidup, ketika saya menerima gelar sarjana hukum di tahun 1982. Beliau bertanya apakah saya akan jadi hakim. Saya bilang tidak. Hakim itu “teman” penjahat juga. Kakek saya tertawa.Benar juga, katanya.

Saya ingin menyudahi kisah tentang keluarga kakek dan nenek saya dari pihak ibu sampai di sini. Kisah selanjutnya, akan saya tulis di Bagian IV yang antara lain juga akan mengisahkan pergaulan saya dengan kakek dan nenek saya, Jama Sandon dan Hadiah itu. Ketika saya mulai tua seperti sekarang, saya sering bergurau dengan adik-adik saya. Kita ini, dari garis ayah adalah keturunan bangsawan dan ulama. Namun dari garis ibu, kita ini keturunan jin dan keturunan orang setengah preman. Apa boleh buat, semua itu takdir Allah Ta’ala yang harus kita terima. Ketika akan lahir ke dunia fana ini, kita tidak diberi kesempatan memilih untuk menjadi keturunan siapa. Namun, kita dapat belajar dari generasi sebelumnya. Apa yang baik, marilah kita teruskan. Apa yang buruk, marilah kita tinggalkan. Kita berdo’a ke hadirat Allah Ta’ala, mudah-mudahan kita tetap menjadi orang baik sepanjang hayat..

Wallahu’alam bissawab.

Share:

Facebook
Twitter
WhatsApp
 Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc.

Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc.

“Sistem yang baik akan memaksa orang jahat menjadi orang baik dan, sebaliknya, sistem yang tidak baik akan memaksa orang baik menjadi tidak baik.”

Berita Terbaru

Mewakili instansi serta segenap keluarga, saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idulfitri 1447 H. Taqabbalallahu minna waminkum, taqabbal ya Karim. Semoga seluruh amal ibadah kita di bulan Ramadan diterima oleh Allah SWT dan membimbing kita menjadi pribadi yang lebih bertakwa. Amin ya Rabbal’alamin.

#profyim #idulfitri #takwa #syawal #ramadan

...

2724 67
Hikmah Ramadan di Balik Peristiwa Bersejarah Dunia

Sejumlah peristiwa bersejarah terjadi di bulan Ramadan. Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, misalnya, bertepatan dengan 9 Ramadan 1367 Hijriyah.

Bangsa yang besar dibangun di atas mentalitas dan spiritualitas yang tinggi. Dengan itulah mereka mengatasi persoalan, menghadapi zaman.

Dengan bertakwa, manusia akan merasa dekat dengan Tuhan. Kedekatan dengan Tuhan akan membuat hatinya tenang. Secara mental, hal itu akan memberi kekuatan baginya untuk menaklukkan tantangan. Juga melakukan hal-hal penting baik bagi dirinya maupun lingkungannya.

Karena itulah umat Islam diperintahkan untuk berpuasa dengan tujuan akhir menjadi orang yang bertakwa. Hasil konkretnya: banyak peristiwa penting bagi peradaban umat manusia terjadi di bulan suci Ramadan.

#profyim #tausiyah #sejarah #ramadan #sejarahislam

...

550 25
Berbuat baik tidak selalu berbuah kebaikan pula. Perbuatan baik terkadang malah mendatangkan masalah dan bikin susah. 

Namun begitu, mengapa kita sebaiknya tetap berbuat baik? 

Melalui tausiyah khusus Ramadan bertajuk “Kalam Nurani”, Prof. Yusril menjelaskan alasan rasionalnya.

Selamat mengikuti, semoga dapat memperkaya khasanah keislaman kita.
_
#profyim #kalamnurani #tausiyah #ramadan #kebaikan

...

367 24
Bersama istri, Rika Kato Mahendra, dan putra kami, Ishmael Zacharias Mahendra, saya menghadiri acara buka puasa bersama yang diselenggarakan Kedutaan Besar Arab Saudi di The St. Regis, Jakarta, Selasa (24/2) kemarin.

Turut hadir sejumlah tamu kehormatan lain, di antaranya Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin, Gubernur Jakarta Pramono Anung dan Utusan Khusus PBB untuk Isu Air Retno Marsudi.

Dalam sambutannya, Duta Besar Arab Saudi Faisal Abdullah Al-Amudi menyampaikan rasa syukur serta penghargaan setinggi-tingginya atas persahabatan Indonesia dan Arab Saudi yang sudah terjalin erat begitu lama. Dan memang, acara berbuka puasa kemarin bukan sekadar perjamuan, melainkan juga ajang perbincangan hangat sebagai penguat hubungan antarnegara dan ukhuwah antarbangsa di bulan suci Ramadan.
_
#profyim #yimstory #yusrilihzamahendra #bukapuasa #ukhuwah

...

414 18
Dengan penuh syukur, saya haturkan banyak terima kasih atas perhatian, ucapan serta doa tulus yang begitu berlimpah pada acara tasyakuran hari ulang tahun ke-70 saya, 7 Februari 2026 yang lalu di Jakarta.

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa melimpahkan berkah, kesehatan, dan perlindungan bagi kita semua dalam pengabdian kepada bangsa dan negara. 

Di usia saya yang telah mencapai tujuh dekade pada 5 Februari 2026, tidak ada harapan yang lebih besar selain dapat mendedikasikan sisa usia untuk memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa dan negara.

Segala doa baik yang bapak, ibu, dan rekan-rekan sampaikan kiranya kembali menjadi kebaikan pula bagi saudara sekalian. Amin ya Rabbal’alamin.
_
#profyim #7dekadeYIM #yimstory #berkah #syukur

...

1201 46